NovelToon NovelToon
Aku Istri Kedua Yang Dibuang… 3 Tahun Kemudian, Mereka Berlutut Di Hadapanku

Aku Istri Kedua Yang Dibuang… 3 Tahun Kemudian, Mereka Berlutut Di Hadapanku

Status: sedang berlangsung
Genre:Balas Dendam / Romansa Fantasi / Crazy Rich/Konglomerat
Popularitas:1.3k
Nilai: 5
Nama Author: Elvandem Putra

Dibuang. Dihina. Dilupakan.
Sebagai istri kedua, aku tak pernah lebih dari bayangan—alat politik yang bisa disingkirkan kapan saja.
Saat mereka mengusirku dalam keadaan hancur, tidak ada satu pun yang tahu… aku membawa sesuatu yang akan mengubah segalanya.
Tiga tahun berlalu.
Aku kembali—bukan sebagai wanita yang sama.
Bukan sebagai istri yang menangis memohon.
Tapi sebagai ratu yang bahkan takdir pun tak berani sentuh.
Sekarang, satu per satu mereka datang…
dengan lutut menyentuh tanah.
Memohon ampun.
Sayangnya…
aku sudah lupa bagaimana cara memaafkan
Mengingat alur cerita yang dramatis, saya telah membuat sampul yang menonjolkan elemen pemberdayaan, transformasi, dan pembalasan. Anda akan melihat visual yang menunjukkan perubahan drastis pada protagonis, dari sosok yang teraniaya menjadi wanita yang kuat dan mandiri, serta momen emosional saat karakter lain 'berlutut' di hadapannya..

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvandem Putra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

YANG TERSISA HANYA BERTAHAN

Tidak ada yang menungguku di luar gerbang.

Tidak kereta.

Tidak pelayan.

Tidak tujuan.

Hanya jalan panjang yang gelap… dan hujan yang tidak berhenti.

Langkah kakiku terasa ringan.

Bukan karena aku kuat.

Tapi karena tidak ada lagi yang tersisa untuk dipertahankan.

Aku berjalan tanpa arah.

Tanpa rencana.

Tanpa… masa depan.

Hari pertama terasa seperti mimpi buruk.

Hari kedua… lebih buruk.

Hari ketiga… aku berhenti menghitung.

Kelaparan bukan lagi rasa sakit.

Itu menjadi sesuatu yang konstan.

Seperti bayangan yang selalu ada.

Aku mencuri.

Aku berbohong.

Aku melakukan hal-hal yang dulu bahkan tidak pernah terpikirkan.

Dan yang paling menakutkan…

aku tidak merasa bersalah.

Suatu malam, aku menemukan tempat berlindung.

Reruntuhan tua di tengah hutan.

Sepi.

Dingin.

Dan entah kenapa… terasa hidup.

Aku masuk tanpa ragu.

Tidak ada yang tersisa untuk ditakuti.

Di dalamnya, udara terasa berbeda.

Lebih berat.

Lebih… dalam.

Seolah setiap napas yang kuambil bukan hanya udara.

Tapi sesuatu yang lebih tua dari itu.

Aku melangkah perlahan.

Dan kemudian… aku melihatnya.

Sesuatu yang tidak seharusnya ada di dunia ini.

Aku tidak langsung mendekat.

Untuk pertama kalinya sejak aku keluar dari istana…

langkah kakiku ragu.

Bukan karena takut.

Tapi karena sesuatu di dalam diriku—

sesuatu yang bahkan belum sepenuhnya kupahami—

memintaku untuk berhenti.

Benda itu berada di tengah ruangan.

Tertanam di lantai batu yang retak, seolah sudah ada di sana jauh sebelum tempat ini runtuh.

Bentuknya tidak sempurna.

Bukan lingkaran.

Bukan juga persegi.

Lebih seperti… sesuatu yang tidak ingin dimengerti.

Permukaannya gelap, tapi bukan warna hitam biasa.

Itu lebih seperti… ketiadaan cahaya.

Dan anehnya—

aku tidak bisa mengalihkan pandangan darinya.

Langkahku maju.

Satu.

Pelan.

Dua.

Udara berubah semakin berat.

Setiap tarikan napas terasa lebih dalam…

lebih lambat…

seolah waktu di tempat ini tidak berjalan seperti di luar.

“Ini… apa…”

Suaraku terdengar asing.

Terlalu kecil untuk ruang sebesar ini.

Terlalu lemah… dibandingkan sesuatu yang ada di hadapanku.

Aku berhenti hanya beberapa langkah darinya.

Dan di saat itulah—

aku menyadari sesuatu.

Benda itu… bergerak.

Bukan secara fisik.

Bukan seperti makhluk hidup.

Tapi lebih seperti… berdenyut.

Pelan.

Teratur.

Seperti jantung.

Deg.

Deg.

Deg.

Aku membeku.

Karena tanpa sadar—

detak itu mulai menyamai detak jantungku.

Deg.

Deg.

Deg.

“Tidak…”

Aku mundur setengah langkah.

Tapi tubuhku terasa berat.

Seolah lantai di bawah kakiku menahanku.

Seolah tempat ini… tidak ingin aku pergi.

“Kau datang.”

Aku langsung menoleh.

Tidak ada siapa pun.

Hanya reruntuhan.

Hanya bayangan.

Hanya… aku.

Napas tercekat.

“Itu… siapa?”

Tidak ada jawaban.

Tapi suara itu masih ada.

Bukan di telingaku.

Di dalam kepalaku.

“Terlambat… tapi tidak masalah.”

Jantungku berdetak lebih cepat.

Bukan karena takut.

Tapi karena sesuatu yang lain.

Sesuatu yang lebih dalam.

Lebih gelap.

“Apa kau… berbicara denganku?”

Diam.

Lalu—

“Siapa lagi?”

Tanganku mengepal.

Aku seharusnya lari.

Aku tahu itu.

Siapa pun yang waras akan langsung berbalik dan pergi.

Tapi aku…

tidak bergerak.

Karena untuk pertama kalinya—

ada sesuatu yang melihatku.

Bukan sebagai istri.

Bukan sebagai beban.

Bukan sebagai sesuatu yang bisa dibuang.

Tapi sebagai… sesuatu yang dipilih.

“Kenapa aku?” tanyaku pelan.

Sunyi sejenak.

Lebih sunyi dari sebelumnya.

Lalu suara itu kembali—

lebih dekat.

Lebih jelas.

“Karena kau kosong.”

Mataku melebar.

Kosong.

Kata itu—

terasa terlalu tepat.

“Tidak ada yang tersisa untuk diambil darimu.”

“Tidak ada yang akan hancur jika kau berubah.”

Aku tertawa pelan.

Kering.

Tanpa emosi.

“Jadi… itu alasanmu?”

“Itu alasanmu bertahan.”

Langkah kakiku bergerak lagi.

Kali ini tanpa ragu.

Perlahan… aku mendekat.

Sampai hanya satu langkah yang tersisa di antara aku dan benda itu.

“Kalau aku menerima ini…”

Aku berhenti.

Menatap permukaan gelap yang seolah menatap balik padaku.

“…apa yang akan terjadi padaku?”

Tidak ada jawaban langsung.

Hanya—

keheningan yang terasa… menunggu.

“Kau tidak akan kembali.”

Aku tersenyum.

Pelan.

Hampir tidak terlihat.

“Bagus.”

Tanganku terangkat.

Tidak gemetar.

Tidak ragu.

Karena aku sudah tidak punya apa pun untuk kembali.

Dan saat ujung jariku menyentuh permukaan itu—

dunia… retak.

Tidak ada suara.

Tidak ada cahaya.

Hanya—

sesuatu yang masuk.

Ke dalam tubuhku.

Ke dalam pikiranku.

Ke dalam… sesuatu yang bahkan tidak punya nama.

Rasa sakit datang terlambat.

Tapi ketika datang—

itu menghancurkan segalanya.

Aku jatuh ke lantai.

Tubuhku kejang.

Napas terputus.

Mataku terbuka lebar—

tapi tidak melihat apa pun.

“Terima.”

“Berhenti—”

“Biarkan.”

“Ini—terlalu—”

“Kau bisa.”

Suaraku menghilang.

Tubuhku tidak lagi milikku.

Pikiranku… mulai pecah.

Kenangan.

Wajah.

Suara.

Semua yang pernah menjadi “aku”—

mulai terkoyak.

Dan anehnya…

aku tidak berusaha menahannya.

Karena jauh di dalam—

aku tahu.

Aku tidak ingin kembali menjadi orang itu lagi.

Rasa sakit itu mencapai puncaknya—

lalu—

tiba-tiba—

hilang.

Sunyi.

Total.

Dalam kegelapan itu—

aku berdiri.

Atau mungkin… sesuatu dalam diriku yang berdiri.

“Akhirnya…”

Aku membuka mata.

Perlahan.

Dunia kembali.

Reruntuhan itu.

Udara dingin.

Tubuhku—

masih di sana.

Tapi semuanya… berbeda.

Aku menarik napas.

Dalam.

Tenang.

Dan untuk pertama kalinya sejak aku diusir—

aku tidak merasa kosong.

Aku merasa…

penuh.

Sesuatu di dalamku bergerak.

Pelan.

Seperti baru bangun dari tidur panjang.

Aku menunduk.

Menatap tanganku.

Masih sama.

Tapi tidak benar-benar sama.

Senyum kecil muncul di bibirku.

“Jadi ini…”

Aku mengangkat kepala.

Tatapanku dingin.

Dalam.

Dan… asing.

“…aku yang baru.”

1
Rosma mossely
Bagus.
Tetap semangat berkarya Thor
Elvandem Putra: terima kasih kak
total 2 replies
Rosma mossely
Awal yang menarik.
Semangat berkarya Thor.
Elvandem Putra: @rosma mossely

terima kasih kak.
Dukunganmu Semangatku💪😍
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!