NovelToon NovelToon
DUDUK BERDUA

DUDUK BERDUA

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Cintapertama / Teen
Popularitas:601
Nilai: 5
Nama Author: BiMO33

"Gue gak akan pergi," jawab Angga akhirnya. Suaranya tegas. Pasti. Tidak ada keraguan. "Itu cuma mimpi. Gue di sini. Nyata. Dan gue gak kemana-mana."

Adea menghela napas lega. Matanya yang tadinya tegang mulai mengendur.

"Janji?"

"Janji."

"Sumpah?"

Angga tersenyum kecil. "Sumpah pake kucing."

Adea menoleh ke bawah. Cumi sedang duduk manis di samping kursinya, menatap bolak-balik antara Angga dan Adea.

"Cumi jadi saksinya," ucap Angga.

"Meong," sahut Cumi, seolah mengiyakan.

Emang boleh sahabat jadi cinta? Emang boleh sahabat tapi tinggal se atap? Emang boleh manja-manjaan ke 'sahabat'..... Emang boleh~

Ikut cerita dua anomali ini yaaa~~~~

Intip dikit gpp lahhh~ kalo betah ya tinggal, kalo nggk ya skip ajaaaa~~~~~

Happy Reading ^^

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BiMO33, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 29: Gereja, Minggu

Hari minggu. Gereja.

Lonceng berbunyi tiga kali dari menara gereja tua di pusat kota Mataram. Suaranya menggema di antara pepohonan rindang yang mengelilingi halaman gereja, mengundang umat yang datang dari berbagai arah. Ada yang berjalan kaki, ada yang naik motor, ada juga yang diantar mobil.

Langit cerah. Matahari pagi bersinar hangat, tidak terlalu panas. Angin bertiup pelan membawa aroma bunga dari taman kecil di samping gereja.

Seorang pria berdiri di dekat pintu masuk.

Tinggi. Jaket kulit hitam, meski ke gereja, ia tetap memakai jaket kulit kesayangannya. Rambutnya sedikit panjang, hampir menutup mata, disisir rapi ke belakang. Wajahnya tegas, tapi matanya lembut.

Alvito Tegar Prangga.

Ia berdiri dengan satu tangan di saku celana, tangan lainnya memegang sebuah buku lirik kecil berwarna biru. Matanya sesekali menatap jalan, sesekali menatap ponsel.

Menunggu.

Seorang gadis berlari kecil dari arah parkiran.

Rambut panjangnya diikat dua kepang rapi, diberi pita putih di ujungnya. Gaun putih selutut dengan lengan panjang sederhana, tapi membuatnya terlihat seperti bidadari kecil yang tersesat di dunia manusia. Wajahnya segar tanpa riasan berlebihan, hanya lip tint tipis di bibir dan sedikit bedak di pipi.

Sepatu kets putihnya berlari cepat di aspal halaman gereja.

"Adea, pelan-pelan! Nanti jatuh!" teriak Angga dari kejauhan.

"Nggak bakal jatuh, doain!" balas Adea sambil terus berlari.

Dan tepat di depan pintu gereja, di antara umat lain yang mulai masuk, Adea berhenti tepat di depan Angga. Napasnya terengah-engah, pipinya merona, matanya berbinar.

"Lo telat lima menit," ucap Angga datar.

"Macet."

"Gereja macet?"

"Ya, kan. Banyak orang ke gereja."

Angga menghela napas. Ia mengulurkan tangan bukan untuk digenggam, tapi untuk merapikan pita di rambut Adea yang hampir terlepas karena berlari.

"Awas aja kalo sampe lepas di dalem," bisiknya.

"Hehe."

Mereka masuk ke dalam gereja berdua. Bahu hampir bersentuhan. Langkah mereka seirama. Dan dari belakang, beberapa umat yang melihat mereka tersenyum kecil melihat sepasang anak muda yang begitu polos, begitu hangat, begitu... cocok.

 

Di dalam gereja.

Udara sejuk. Cahaya matahari masuk melalui jendela kaca patri berwarna-warni, jatuh ke lantai marmer membentuk pola-pola indah. Lilin-lilin kecil menyala di altar, menciptakan suasana khusyuk yang membuat siapa pun yang masuk otomatis menundukkan kepala.

Angga dan Adea duduk di bangku kayu panjang di baris ketiga dari belakang. Bukan karena tidak mau di depan, tapi karena Adea suka melihat jendela kaca patri dari kejauhan.

"Lihat tuh, Angga," bisik Adea sambil menunjuk ke arah jendela. "Warnanya cantik banget."

"Udah sering lo liat."

"Tiap minggu beda. Tergantung cahaya mataharinya."

Angga tidak menjawab. Tapi matanya mengikuti telunjuk Adea, lalu jatuh ke wajah gadis itu yang sedang menatap kaca patri dengan mata berbinar.

Bukan kaca patri yang cantik, pikir Angga. Tapi lo.

Ibadah dimulai.

Pemimpin pujian berdiri di depan mimbar, membuka dengan lagu yang familiar di telinga mereka. Lembaran buku lirik biru di tangan Angga terbuka di halaman 12. Adea meminjam satu bukunya karena ia lupa membawa.

"Gue pinjem ya," bisik Adea.

"Iya."

"Makasih."

"Udah, nyanyi."

Adea tersenyum. Ia membuka buku itu, ikut bernyanyi dengan suara kecil, tidak terlalu bagus, kadang fals di nada tinggi, tapi Angga tidak pernah bosan mendengarnya.

Di sela-sela lagu, Adea sesekali menoleh ke Angga. Hanya untuk memastikan pria itu masih di sampingnya.

Angga selalu ada. Menyanyikan lagu yang sama, membaca ayat yang sama, menunduk berdoa di waktu yang sama.

Seperti biasa.

Tapi tidak seperti biasa.

Karena hari ini, ketika tangan mereka bersentuhan di bangku kayu itu, siku Adea menyentuh lengan Angga, tidak ada yang menarik tangan. Tidak ada yang bergeser memberi jarak.

Mereka membiarkan sentuhan itu ada.

Sebagai rahasia kecil di antara mereka berdua.

 

Khotbah.

Pastor berdiri di mimbar dengan jubah putihnya. Suaranya tenang, dalam, membawa pesan tentang kasih. Tentang mengasihi sesama. Tentang mengasihi tanpa syarat.

"Kasih sejati tidak pernah meminta imbalan," ucap pastor. "Ia memberi karena ia ingin memberi. Ia hadir karena ia ingin hadir. Ia bertahan karena ia memilih untuk bertahan, bukan karena kewajiban."

Adea menunduk. Jari-jarinya bermain-main dengan ujung rok.

Angga menatapnya dari samping.

"Dan sering kali," lanjut pastor, "kita tidak menyadari bahwa orang yang paling kita cintai adalah orang yang paling dekat dengan kita. Orang yang setiap hari kita lihat. Orang yang setiap hari kita sapa. Orang yang mungkin sudah lama ada di samping kita, tapi kita baru menyadarinya ketika kita hampir kehilangan mereka."

Adea menggigit bibir bawahnya.

Pikirannya melayang ke beberapa hari lalu. Ke pintu yang terkunci. Ke Angga yang mengetuk dari luar. Ke ketakutan bahwa ia akan kehilangan pria itu.

Padahal ia belum pernah memilikinya.

Padahal ia belum pernah mengaku.

Adea menarik napas panjang. Matanya sedikit berkaca-kaca.

Tiba-tiba, sebuah tangan besar menggenggam tangannya di bawah bangku.

Adea menoleh.

Angga menatap lurus ke depan, ke arah pastor. Wajahnya datar seperti tidak terjadi apa-apa. Tapi di bawah bangku kayu itu, jari-jarinya yang kasar menggenggam jari-jari mungil Adea erat-erat.

Tidak melepaskan.

Adea tersenyum. Ia membalas genggaman itu. Jari-jari kecilnya menyelip di sela-sela jari besar Angga, mengunci.

Mereka berdua duduk seperti itu sampai khotbah selesai.

Tangan bergandengan di bawah bangku.

Rahasia kecil yang hanya mereka berdua tahu.

 

Selesai ibadah.

Umat mulai keluar dari gereja. Ada yang saling bersalaman, ada yang mengobrol di halaman, ada yang anak-anak berlarian mengejar burung di taman.

Angga dan Adea keluar paling akhir. Tidak karena sengaja, tapi karena Adea mampir ke toilet sebentar.

Ketika Adea keluar dari toilet, ia melihat Angga berdiri di dekat pintu samping, dekat taman kecil dengan air mancur. Pria itu sedang berbicara dengan seorang wanita paruh baya yang rambutnya sudah memutih, posturnya sedikit membungkuk, tapi matanya tajam dan penuh kewibawaan.

"Bibi Era?" Adea berjalan mendekat dengan langkah cepat.

Bibi Era menoleh. Matanya langsung berbinar begitu melihat Adea.

"Dea! Cantik sekali kamu hari ini!" Bibi Era membuka tangannya, dan Adea langsung berhambur ke pelukan wanita itu.

"Bibi kapan datang ke Lombok? Kok nggak bilang-bilang?" tanya Adea dengan suara ceria bercampur haru.

"Baru sampai tadi pagi. Langsung ke gereja. Nggak sempat bilang." Bibi Era mengelus rambut Adea. "Kangen sama kamu, Dea."

"Dea kangen juga, Bi~"

Angga berdiri di samping mereka berdua, tersenyum kecil. Bibi Era menatapnya bergantian.

"Angga, kamu baik-baik saja?"

"Baik, Bi."

"Kamu kurusan."

"Berat badan stabil, Bi."

"Bohong. Pipi kamu tuh kempis." Bibi Era mencubit pipi Angga tanpa rasa takut, tanpa sungkan. Seperti ia mencubit cucunya sendiri. "Adea, kamu kasih makan dia nggak sih?"

"Kasih kok, Bi! Malah kebanyakan!"

"Tapi dia kurusan."

"Ya itu metabolisme dia cepet."

Bibi Era menghela napas. "Kalian ini. Sama-sama susah diatur."

Angga dan Adea saling pandang. Lalu tertawa kecil bersamaan.

Bibi Era mengamati mereka berdua. Matanya yang tajam menangkap sesuatu, cara Angga berdiri sedikit lebih dekat dari biasanya ke arah Adea, cara Adea tanpa sadar menyentuh lengan Angga saat tertawa, cara mereka saling menatap ketika mengira tidak ada yang melihat.

Bibi Era tersenyum.

Tapi ia tidak mengatakan apa-apa.

 

Di halaman gereja.

Mereka bertiga berjalan menuju tempat parkir. Bibi Era di tengah, Angga di kiri, Adea di kanan.

"Bibi nginep di mana?" tanya Adea.

"Di hotel dekat pantai. Cuma dua hari, Bi. Besok lusa Bibi balik ke Surabaya."

"Kok cepet banget?"

"Ada acara arisan keluarga. Nggak bisa ditinggal." Bibi Era menepuk tangan Adea. "Tapi Bibi seneng liat kamu sehat. Kulit kamu bersih. Rambut kamu panjang. Kamu rajin minum susu nggak?"

"Rajin, Bi. Angga selalu beliin."

Bibi Era menoleh ke Angga. "Kamu baik ya, Angga. Ngerawat Adea."

"Udah tanggung jawab gue, Bi."

"Bukan tanggung jawab. Itu pilihan." Bibi Era tersenyum. "Dan kamu memilih pilihan yang baik."

Angga tidak menjawab. Ia hanya menunduk, tersenyum kecil.

Sampai di parkiran, Bibi Era berbalik menghadap mereka berdua.

"Dea, kamu jaga diri ya. Jangan telat-telat lagi kuliahnya. Bibi dulu juga kuliah kedokteran, tahu rasanya susah. Tapi kamu harus semangat."

"Iya, Bi."

"Angga."

"Ya, Bi."

"Jaga Adea. Tapi jangan terlalu dijaga. Kasih dia ruang. Kasih dia kesempatan untuk jadi diri sendiri."

Angga menatap Bibi Era. Wanita tua itu tersenyum. Senyum yang penuh makna.

"Bibi titip Adea sama kamu."

"Bibi tenang aja. Adea aman sama gue."

Bibi Era mengangguk. Lalu ia menepuk pundak Angga, mencium kening Adea, dan berjalan menuju mobil sewaan yang sudah menunggu.

Adea melambai sampai mobil itu hilang di tikungan.

"Angga."

"Hmm."

"Bibi tahu."

"Tahu apa?"

"Tahu kalau kita..."

Adea tidak melanjutkan kalimat. Ia hanya tersenyum.

Angga meraih helm biru dari stang motor. "Naik. Kita pulang."

"Makan dulu di jalan, yuk. Bibi ngasih uang."

"Uang dari Bibi?"

"Iya. Buat beli makan siang."

"Ya udah. Naik."

Adea melompat naik ke jok belakang, memeluk Angga erat. Dan ketika motor melaju meninggalkan halaman gereja, ia menunduk sedikit, mengecup punggung Angga di sela-sela jaket kulit yang terbuka.

"Cepetan, Dea. Nanti jatuh."

"Nggak bakal. Gue pegang erat."

"Pegangnya jangan di baju. Peluk gue."

"Iyaaa~"

Adea memeluk lebih erat. Wajahnya mengubur di punggung Angga. Dan di dalam hati kecilnya, ia berdoa. Bukan doa di gereja tadi, tapi doa sederhana.

Untuk cinta yang tidak pernah ia sadari selama ini.

Terima kasih. Untuk hari ini. Untuk Angga. Untuk Tuhan yang luar biasa baik. Untuk diriku sendiri, yang telah se-jauh ini bertahan... Terimakasih~

---

Bersambung...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!