Joshua Halim, anak ketua yayasan sekaligus cowok paling berkuasa di Seventeen International School, tiba-tiba menyatakan cinta, Yeri Marliana L. menolaknya tanpa ragu.
Penolakan itu melukai ego Joshua. Terlebih lagi, ia sedang berada di tengah taruhan dengan gengnya VOCAL (Vanguard Of Commanding Alpha Leaders), dan Joshua tidak pernah menerima kekalahan.
Sejak saat itu, ia terus mendekati Yeri dengan berbagai cara, memaksa jarak di antara mereka semakin sempit. Di sisi lain, Yeri justru harus menghadapi konsekuensinya: diincar, dijahili, dan dibully.
Tapi Yeri bukan tipe yang lemah. Ia melawan semuanya tanpa ampun. Namun keadaan berubah saat neneknya membutuhkan biaya operasi besar. Dalam kondisi terpojok, Joshua datang dengan tawaran yang tak bisa ia abaikan—ia akan menanggung seluruh biaya, asalkan Yeri mau menjadi pacarnya.
Dan di balik hubungan yang dimulai dari taruhan dan paksaan itu, satu hal mulai keluar dari kendali—perasaan yang seharusnya tidak pernah ada.
Story by Instagram & Tiktok @penulis_rain
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rain (angg_rainy), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 13
Hari sudah larut saat Yeri tiba di depan rumah, suasananya langsung bikin bulu kuduk berdiri. Rumah gelap total, nggak ada satu lampu pun yang nyala. Padahal sekarang udah hampir jam sebelas malam.
“Loh… kok gelap?” gumamnya, tapi rasa nggak enak langsung nusuk dadanya.
Dia buru-buru lari, ngebuka pagar setengah panik, terus masuk ke rumah. Begitu pintu kebuka, jantungnya langsung serasa jatuh.
“Nenek?!”
Nenek Widya tergeletak di lantai ruang tamu, tubuhnya miring, tangan masih memegang kain yang tadi dijahit. Yeri langsung ngehampirin, lututnya gemeteran.
“Nenek! Nek bangun! Nek!!” suara Yeri pecah, dia mengguncang pelan bahu neneknya, tapi nggak ada respon.
Air mata Yeri udah ngumpul di ujung mata. “Ya Tuhan… jangan sekarang… jangan begini.”
Dengan tangan gemeter, Yeri langsung ambil ponsel dan nelpon ambulans.
***
Ambulans berhenti tepat di depan UGD. Yeri turun duluan, napasnya masih nggak stabil. Dua petugas langsung nurunin nenek Widya di atas brankar, mendorongnya cepat masuk ke ruang gawat darurat.
“Nenek saya kenapa, Dok? Tolong selamatin nenek saya,” suara Yeri parau.
“Tenang mbak, kami bantu dulu ya,” jawab salah satu petugas sebelum masuk ke ruangan tertutup.
Yeri cuma bisa berdiri di luar, tangannya gemetar, matanya panas banget karena nahan nangis.
Beberapa menit kemudian, dokter keluar. Yeri langsung nyamperin.
“Dok, gimana nenek saya? Kenapa dia bisa pingsan?”
Dokter lepas masker sedikit, wajahnya serius tapi lembut.
“Nenek kamu mengalami syok jantung,” ujarnya pelan. “Tekanan darahnya turun drastis dan detak jantungnya sempat nggak stabil. Kami curiga ada penyakit lain juga, mungkin sudah berlangsung lama. Perlu pemeriksaan lanjutan untuk pastikan penyebab pastinya.”
Dunia Yeri langsung serasa runtuh. “Syok jantung? Tapi tadi pagi nenek masih masak buat saya, masih jahit…” suaranya serak.
Dokter menggeleng, “Kadang gejalanya nggak terlihat. Untuk saat ini, nenek kamu sudah kami stabilkan. Kami akan pindahkan ke ruang rawat untuk observasi lebih lanjut, sambil nunggu hasil tes.”
Yeri nutup mulutnya, air mata akhirnya jatuh. “Tolong rawat nenek saya, Dok… saya cuma punya nenek.”
Dokter menepuk bahunya. “Kami akan lakukan yang terbaik.”
Brankar nenek Widya digeser keluar dan dibawa ke lantai atas. Yeri jalan ngesot di sampingnya, matanya nggak lepas dari wajah neneknya yang pucat banget.
Setiap langkah menuju ruang rawat terasa berat. Rasanya tadi dia masih marah sama hidupnya, masih kesel sama semua yang terjadi hari ini.
Dan sekarang?
Yang ada cuma ketakutan kehilangan satu-satunya orang yang dia punya.
Begitu nenek dipindahkan ke ranjang ruang rawat, Yeri langsung duduk di kursi kecil di samping ranjang, menggenggam tangan neneknya yang dingin.
“Nek… jangan tinggalin Yeri ya…” bisiknya, suara pecah.
Lampu ruang rawat meredup, suara mesin medis pelan, dan Yeri cuma bisa nahan tangis sampai bahunya gemetar karena malam ini, hidupnya benar-benar berubah.
***
Pagi itu, Yeri terbangun karena merasakan sesuatu yang lembut mengusap rambutnya. Ia refleks membuka mata, dan langsung tercekat.
“Nenek?” suaranya bergetar.
Di depan matanya, Nenek Widya sudah sadar, meski wajahnya masih pucat dan tubuhnya tampak lemah. Senyum tipis muncul di bibir sang nenek.
“Kamu akhirnya tidur juga, Yeri… Semalaman kamu jagain Nenek, ya?”
Yeri langsung bangun dari posisi tidurnya di pinggir ranjang. Matanya memerah, hidungnya panas, dan air matanya mengalir begitu saja.
“Nek… kenapa nggak bilang kalau sering sesak? Kenapa nggak pernah cerita kalau sakit? Yeri kira Nenek cuma capek-capek biasa.”
Nenek Widya mengembuskan napas pelan. “Nenek nggak mau bikin kamu khawatir. Kamu udah kerja, udah bantu banyak. Nenek takut jadi beban.”
“Nek!” suara Yeri meninggi karena panik dan sedih. “Nenek bukan beban! Yeri cuma punya Nenek, tahu nggak? Kalau sampai kenapa-kenapa, Yeri harus gimana?”
Nenek Widya mengusap tangan cucunya, gemetaran, tapi hangat. “Maaf, Yeri. Nenek cuma nggak mau ngerepotin.”
Yeri menggigit bibir, menahan emosi. “Dokter bilang Nenek perlu pemeriksaan lanjut. Kalau perlu operasi, Yeri bakal cari uang. Yeri kerja apa aja, yang penting Nenek sehat.”
Sang nenek menggeleng pelan. “Nggak usah operasi-operasian. Nenek masih kuat. Lihat tuh, Nenek bisa bangun.”
Padahal kelihatan kalau Nenek bangun pun terlihat berat sekali.
“Nenek jangan ngeyel…” Yeri berbisik, suaranya lirih, penuh takut.
Setelah beberapa menit menenangkan diri, Yeri membantu neneknya makan bubur yang disiapkan perawat. Lalu memberikan obat, memastikan semuanya diminum. Begitu neneknya kembali tertidur, Yeri mengecek selimutnya tiga kali, memastikan tubuh sang nenek tetap hangat.
Baru setelah itu ia keluar dari ruang rawat. Napas panjang ia hembuskan begitu tiba di taman rumah sakit.
Kursi panjang di bawah pohon ketapang menjadi tempat ia menjatuhkan tubuhnya. Matahari pagi terasa hangat, tapi hatinya dingin dan berat.
Ia mengeluarkan ponselnya, membuka aplikasi lowongan kerja. Jempolnya bergerak cepat, tapi pikirannya penuh sesak.
“Nenek sakit. Harus rawat inap. Harus pemeriksaan tambahan. Kalau butuh operasi? Berapa ya biayanya?”
Yeri menggigit kuku, sebuah kebiasaan buruk yang muncul ketika ia gelisah.
Ia menggulir layar ponsel, mencari pekerjaan tambahan apa saja. Warung? Sudah. Shift malam di minimarket? Jadwalnya bentrok. Agen jualan online? Persaingan terlalu banyak.
Hingga matanya berhenti pada sebuah postingan.
[Lowongan Tutor Privat
Gaji dibayar harian setelah kelas selesai
Durasi mengajar: 1–2 jam
Range gaji: Rp500.000 – Rp1.000.000
Syarat: Kirim bukti sertifikasi kelayakan mengajar.]
Yeri membeku. “Ini… serius? Bukan scam?”
Ia membuka detailnya lagi. Bukan penipuan, bukan pula akun aneh. Profil pemilik lowongan jelas, lengkap dengan alamat dan nomor yang bisa diverifikasi.
“Serius gaji segini cuma buat dua jam?” Yeri mengerutkan kening. Pipinya memanas, jantungnya berdetak cepat.
Ia mulai menghitung-hitung dalam kepala. Lima ratus ribu setiap minggu. Kalau ia mengajar sebulan full saja, itu sudah 4 juta. Setahun? Bisa puluhan juta.
Napasnya tercekat. Dengan uang segitu, ia bisa bayar pemeriksaan nenek. Bisa beli obat. Bisa jaga-jaga kalau harus operasi. Bahkan bisa bantu bayar listrik rumah.
Tangannya gemetar saat memegang ponsel.
“Ya Tuhan… apa beneran ada kerjaan gampang begini?”
Namun seketika rasa ragu muncul. “Aku bisa nggak ya? Ngajar?”
Dia memang sering dapat nilai bagus, tapi jadi tutor? Menghadapi anak orang? Tanggung jawabnya juga segede itu?
Tapi bayangan Nenek Widya yang pucat dan hampir nggak bisa bernapas semalam membuat keraguannya perlahan runtuh.
Ia menelan ludah. “Nggak apa-apa. Aku coba dulu.”
Setengah mengisi data diri, ia membuka folder file, memilih file pdf raport terakhirnya. Nilainya memang bagus, bahkan sangat bagus. Selama ini ia nggak punya waktu pamer atau bangga, tapi kali ini ia bersyukur pernah belajar sepenuh hati.
Jemarinya melayang tepat di atas tombol send. Dadanya berdebar begitu keras, seolah ia sedang melakukan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar melamar pekerjaan.
”Tolong… semoga diterima,” ucap Yeri pelan, menutup mata.