Mati di puncak gunung Goma justru terbangun di dasar neraka sebagai tengkorak rapuh tanpa daging. Demi kembali ke panti asuhan tempat ia dibesarkan Goma mulai membantai iblis dan memangsa tubuh mereka. Setiap nyawa yang ia telan menumbuhkan otot serta kulit baru di atas tulangnya. Ini bukan hanya tentang bertahan hidup namun tentang pendakian berdarah dari dasar jurang menuju singgasana para dewa yang telah menghina takdirnya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon By Magus, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Tarian Tombak Dan Tulang Hitam
Episode 11
Udara di sekitar pilar pilar tulang terasa sangat kaku seolah olah waktu baru saja berhenti berputar. Aku menatap tajam ke arah tiga mahluk bertopeng kayu yang kini mulai mengelilingiku dengan sangat rapi. Ketiga Silent Watchers ini tidak mengeluarkan suara langkah kaki sedikit pun saat mereka bergerak di atas batuan obsidian yang licin. Mereka seperti bayangan yang menyelinap di antara celah cahaya ungu langit Gehenna yang redup. Aku bisa merasakan getaran energi yang saling terhubung di antara mereka melalui syaraf perasa ku yang baru saja meningkat tajam setelah aku memiliki jantung esensi yang berdetak dengan kuat.
Dug... dug... dug...
Jantungku berdetak dengan irama yang tenang namun penuh dengan tenaga. Aku menarik napas dalam dalam merasakan aliran energi neraka memenuhi kantong paru paru semu ku. Sebagai seorang pendaki aku diajarkan untuk tidak pernah panik saat berada di posisi yang terjepit. Panik hanya akan membuat ototmu menjadi kaku dan pikiranmu menjadi tumpul. Aku melihat ke arah tombak tombak hitam mereka yang mulai berpendar dengan aura kegelapan yang sangat dingin.
"Aku tidak ingin membuang tenaga untuk membunuh kalian jika kalian bersedia memberikan kepingan jiwa sebagai akses masuk ke kota itu," ucapku dengan nada suara yang rendah namun penuh dengan getaran otoritas yang menekan.
Mahluk yang berada di tengah tertawa kecil namun suaranya terdengar sangat kering layaknya gesekan kertas tua. "Kepingan jiwa hanya diberikan kepada mereka yang memiliki darah bangsawan atau mereka yang menjadi budak resmi kota ini. Kau hanyalah mahluk liar yang mencuri esensi mahluk lain untuk membangun daging palsu mu. Kau tidak pantas melangkah di atas tanah obsidian ini."
Begitu kalimat itu selesai diucapkan mahluk di sebelah kananku melesat maju dengan kecepatan yang sangat luar biasa. Ia menusukkan tombak panjangnya ke arah jantungku. Gerakannya sangat efisien tanpa ada tenaga yang terbuang percuma.
[ SISTEM: SERANGAN TERDETEKSI DARI ARAH KANAN ]
[ SISTEM: ANALISIS KECEPATAN: 80 METER PER DETIK ]
[ SISTEM: REKOMENDASI: GUNAKAN LENGAN KIRI BLACK IRON UNTUK MENANGKIS ]
Aku tidak menghindar. Aku justru melangkah maju satu langkah menggunakan kaki bawahku yang sudah memiliki otot betis yang sangat kuat. Aku mengangkat tangan kiriku yang sudah dilapisi oleh logam Black Iron untuk menyambut mata tombak mahluk tersebut.
TINGG!
Suara dentuman logam yang sangat nyaring bergema di seluruh lembah pilar tulang tersebut. Percikan api berwarna ungu memercik saat mata tombak itu menghantam kulit abu abuku yang menutupi tulang Black Iron. Tanganku tidak bergeser sedikit pun namun mahluk itu terdorong ke belakang karena kekuatan tolakan ku yang sangat besar. Aku bisa merasakan bagaimana partikel logam di dalam tulangku meredam seluruh getaran serangan tersebut sehingga otot ototku tidak mengalami cedera.
"Logam Black Iron... bagaimana mungkin seekor mahluk liar bisa memiliki integritas tulang sekeras itu," gumam mahluk di sebelah kiri dengan nada yang sangat terkejut.
Dua mahluk lainnya tidak menunggu lama. Mereka menyerang secara bersamaan dari arah depan dan belakang. Mereka bergerak dalam sinkronisasi yang sangat sempurna seolah olah mereka adalah satu mahluk dengan banyak tangan. Tombak mereka mengincar leher dan paha bawahku.
Satu tarikan satu dorongan. Jaga titik berat badan di bagian perut.
Aku menggunakan teknik keseimbangan pendaki untuk memutar tubuhku di atas permukaan obsidian yang licin. Aku melakukan gerakan pivot yang sangat cepat menggunakan kaki kananku sebagai poros. Tangan kananku yang sangat berotot mencengkeram batang tombak mahluk yang menyerang dari depan kemudian menariknya dengan kekuatan yang sangat besar menuju ke arah mahluk yang menyerang dari belakang.
BRAKK!
Kedua mahluk itu bertabrakan satu sama lain karena tidak sempat menghentikan momentum serangan mereka sendiri. Aku tidak memberikan mereka kesempatan untuk memulihkan diri. Aku melesat maju menggunakan kemampuan Burst Dash yang membuat gerakanku terlihat seperti kilatan bayangan abu abu.
"Mati kau!"
Aku melayangkan pukulan tangan kiri ke arah wajah mahluk yang berada di depanku. Pukulan ini bukan sekadar pukulan biasa namun aku memfokuskan seluruh energi jantungku ke arah ujung tinjuku yang sudah sekeras batu meteorit.
BOOM!
Topeng kayu mahluk itu hancur berkeping keping memperlihatkan wajah aslinya yang berupa gumpalan daging hitam tanpa mata yang berdenyut dengan energi ungu. Pukulan ku menembus kepalanya hingga menghancurkan pusat jiwanya yang ada di dalam sana. Mahluk itu langsung lemas dan jatuh ke tanah tidak bernyawa lagi.
[ SISTEM: TARGET DIELIMINASI ]
[ SISTEM: MENGEKSTRAKSI KEPINGAN JIWA SILENT WATCHERS ]
[ SISTEM: ENERGI ESENSI TERSEDIA UNTUK DISERAP ]
Dua mahluk lainnya menjerit dengan suara melengking yang sangat memilukan. Karena hubungan jiwa mereka yang terhubung kematian salah satu dari mereka memberikan rasa sakit yang luar biasa kepada dua lainnya. Mereka berlutut sambil memegang kepala mereka yang mulai mengeluarkan asap hitam.
"Goma cepat makan esensi mahluk itu sebelum hubungan jiwanya terputus. Jika kau berhasil menyerapnya sekarang kau bisa mendapatkan akses langsung ke ingatan kolektif mereka tentang kota itu!" teriak Kharis dari balik batu besar tempatnya bersembunyi.
Aku tidak ragu lagi. Aku menghampiri mayat mahluk yang baru saja ku bunuh. Aku merobek bagian dadanya menggunakan kuku kuku hitamku yang tajam. Di dalam dadanya terdapat sebuah permata kecil berwarna ungu tua yang berdenyut redup. Itulah kepingan jiwa yang mereka bicarakan. Tanpa rasa jijik aku memasukkan permata itu ke dalam mulutku kemudian menelannya bulat bulat.
Glek.
Rasanya sangat dingin seolah olah aku baru saja menelan sebongkah es abadi dari puncak gunung paling tinggi. Rasa dingin itu merambat menuju otakku menciptakan kilatan kilatan gambar yang tidak beraturan. Aku melihat peta jalan di dalam Kota Oksidian aku melihat wajah penguasa kota tersebut dan aku melihat cara kerja gerbang energi yang melindungi kota tersebut.
[ SISTEM: ASIMILASI KEPINGAN JIWA: 40 % ]
[ SISTEM: MEMULAI PROSES PENYEMPURNAAN JARINGAN SARAF OTAK ]
[ SISTEM: ANDA TELAH MEMPEROLEH IDENTITAS ESENSI: PRAJURIT RENDAH KOTA ]
Dua mahluk yang tersisa mulai berdiri kembali. Namun kali ini aura mereka berubah. Mereka tidak lagi menyerang secara membabi buta. Mereka menatapku dengan tatapan yang penuh dengan ketakutan serta rasa hormat yang terpaksa. Hubungan jiwa mereka yang hancur membuat kekuatan mereka menurun drastis.
"Kau... kau telah menelan saudara kami. Kau bukan lagi mahluk liar biasa. Kau sekarang adalah bagian dari sistem kota ini secara paksa. Kami tidak bisa lagi menyerang mu tanpa perintah dari atasan," ucap mahluk yang paling besar dengan suara yang bergetar.
Aku berdiri tegak sambil membersihkan sisa cairan hitam di tanganku. Aku merasakan adanya perubahan pada energi di sekelilingku. Sekarang dinding energi ungu yang melindungi kota di kejauhan tidak lagi terasa seperti ancaman bagiku. Sebaliknya aku merasa seolah olah dinding itu memanggilku untuk pulang.
"Baguslah kalau begitu. Sekarang tunjukkan padaku jalan tercepat menuju gerbang utama. Aku tidak ingin membuang waktu lebih lama lagi di luar sini," perintahku dengan nada bicara yang tidak menerima bantahan.
Kharis terbang mendekat kemudian hinggap di bahuku. Ia menatap dua prajurit yang tersisa dengan bangga seolah olah ia adalah bagian dari kemenanganku. "Sudah kubilang bukan Tuan Pendaki ini sangat mahir dalam memanjat apa pun termasuk memanjat kasta kekuatan di dunia bawah ini."
Kedua Silent Watchers itu akhirnya menundukkan kepala mereka kemudian berjalan di depanku untuk memandu jalan. Mereka tidak lagi membawa tombak mereka dalam posisi menyerang melainkan dalam posisi siaga sebagai pengawal. Aku berjalan di belakang mereka dengan langkah kaki yang sangat mantap. Setiap langkahku di atas obsidian sekarang menghasilkan suara dentuman yang solid menunjukkan bahwa berat badanku sekarang sudah setara dengan mahluk mahluk kelas menengah di wilayah ini.
Ibu Widya selangkah lagi aku akan masuk ke dalam peradaban neraka ini. Aku akan mencari semua jawaban yang ku butuhkan di sana. Dan aku akan memastikan bahwa saat aku kembali ke Bumi aku memiliki kekuatan yang cukup untuk melindungi panti asuhan kita selamanya.
Aku memandang ke arah Kota Oksidian yang kini terlihat semakin dekat. Bangunan bangunan tulang hitam itu menjulang tinggi ke langit seolah olah mereka sedang menantang keberadaan para dewa di atas sana. Aku mengepalkan tangan kiriku yang kini memiliki integritas logam Black Iron. Aku merasa seolah olah tubuhku sedang bersiap untuk menghadapi tantangan yang jauh lebih besar di dalam kota itu nanti.
[ SISTEM: STATUS TUBUH: 70 % MANUSIAWI ]
[ SISTEM: SINKRONISASI JIWA: 45 % ]
[ SISTEM: TUJUAN SELANJUTNYA: MEMASUKI KOTA OKSIDIAN DAN MENCARI PETA DIMENSI ]
Jantungku berdetak dengan penuh semangat. Ini adalah pendakian yang berbeda dari yang pernah kulakukan di Bumi. Ini adalah pendakian menuju puncak kekuasaan yang sesungguhnya. Dan aku Goma tidak akan pernah berhenti sampai aku bisa melihat seluruh semesta ini dari titik yang paling tinggi.
Kami terus berjalan menyusuri lorong lorong pilar tulang yang sunyi. Langit ungu Gehenna mulai mengeluarkan cahaya yang lebih terang menandakan pergantian siklus energi di wilayah tengah. Aku menarik napas dalam dalam merasakan sensasi energi murni yang mulai memenuhi seluruh jaringan dagingku. Aku siap untuk babak baru dalam hidupku yang penuh dengan darah dan evolusi ini.