NovelToon NovelToon
10 Cara Melihat Hantu

10 Cara Melihat Hantu

Status: tamat
Genre:Horor / Misteri / Hantu / Tamat
Popularitas:762
Nilai: 5
Nama Author: Ilza_

10 Cara Melihat Hantu adalah kisah misteri yang menggabungkan rasa penasaran manusia terhadap dunia gaib dengan konsekuensi menakutkan yang tak terduga. Cerita ini berpusat pada seorang remaja bernama Alin yang menemukan sebuah buku tua berdebu berjudul sama—10 Cara Melihat Hantu—di sudut perpustakaan yang hampir terlupakan.
Awalnya, buku itu tampak seperti panduan biasa yang berisi sepuluh metode berbeda untuk membuka “mata batin” dan melihat makhluk tak kasatmata. Mulai dari ritual sederhana seperti menatap cermin di tengah malam, hingga cara yang lebih ekstrem seperti mengunjungi tempat angker seorang diri. Didorong oleh rasa ingin tahu, Alin mencoba satu per satu cara tersebut, tanpa menyadari bahwa setiap langkah yang ia ambil semakin menarik dirinya lebih dalam ke dunia yang seharusnya tidak ia sentuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ilza_, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 20: Detik yang Tertinggal

Tubuhnya kaku, seolah waktu berhenti hanya untuknya—atau mungkin, hanya dirinya yang tertinggal satu detik dari dunia yang terus berjalan.

Bayangan di cermin itu masih tersenyum.

Senyum yang tidak ia buat.

Senyum yang datang lebih dulu.

Raka menatapnya dengan napas tertahan. Ia mencoba mengangkat tangannya perlahan. Dalam pantulan, bayangannya mengikuti—tapi tetap terlambat. Selisih itu kecil, nyaris tak terlihat… namun cukup untuk membuat perbedaan yang mengerikan.

Seolah bayangan itu bukan lagi refleksi.

Melainkan sesuatu yang belajar menirunya.

“Atau… menggantikanku,” bisiknya.

Cermin tetap diam. Namun suasana di ruangan itu berubah.

Udara terasa lebih berat. Dingin merayap dari lantai, naik perlahan hingga ke tulang belakangnya.

Raka mundur satu langkah.

Bayangannya tidak langsung ikut.

Selisih satu detik itu kembali terjadi.

Dan dalam satu detik itu… bayangan itu bergerak sendiri.

Kepalanya miring sedikit. Senyumnya melebar.

Raka tersentak mundur lebih jauh.

“Tidak… ini tidak mungkin…”

Ia meraih ponselnya lagi, menyalakan senter, dan mengarahkannya ke cermin.

Cahaya itu memantul, menyilaukan mata sesaat. Tapi kali ini, tidak ada tangan yang muncul. Tidak ada bayangan lain.

Hanya dirinya.

Atau sesuatu yang menyerupainya.

“Apa kau masih di sana?” tanya

Raka, tanpa sadar.

Detik itu terasa panjang.

Sangat panjang.

Dan tepat setelah satu detik berlalu—

Bayangan itu mengangguk.

Raka menjatuhkan ponselnya.

Bunyi benda itu menghantam lantai terdengar nyaring, memecah kesunyian yang sudah rapuh. Ia mundur, napasnya tak beraturan.

“Kau… bukan aku…”

Bayangan itu mengangkat tangan.

Menempelkan telapak tangannya ke kaca.

Dan kali ini—tanpa menunggu—

Raka melihat sesuatu yang membuat darahnya membeku.

Telapak tangan itu… menekan keluar.

Seolah kaca itu bukan lagi penghalang.

Permukaannya beriak, seperti air.

Dan jari-jari bayangan itu mulai menembusnya.

Raka berbalik dan berlari.

Ia tidak peduli lagi dengan buku, dengan aturan, dengan semua hal yang telah membawanya ke sini.

Yang ia tahu hanya satu: ia harus keluar dari ruangan itu.

Pintu.

Ia harus mencapai pintu.

Tangannya meraih gagang, memutarnya dengan cepat, dan—

Terkunci.

“Tidak, tidak, tidak…” gumamnya panik.

Ia mencoba lagi. Menarik.

Mendorong. Menggedor.

Tidak bergerak.

Di belakangnya, terdengar suara retakan halus.

Bukan dari cermin kali ini.

Dari lantai.

Raka menoleh perlahan.

Bayangannya tidak lagi berada di cermin.

Ia berdiri di lantai.

Di belakang Raka.

Persis seperti manusia.

Namun tubuhnya sedikit lebih gelap. Garis-garisnya tidak stabil, seperti asap yang berusaha mempertahankan bentuk.

Dan matanya—

Kosong.

“Sekarang… aku bisa keluar,” suara itu terdengar. Sama seperti suara Raka. Namun tanpa emosi. Tanpa jiwa.

Raka menelan ludah.

“Kau… apa?”

“Aku adalah apa yang kau tinggalkan,” jawabnya. “Setiap ketakutan. Setiap penyesalan.

Setiap bagian dirimu yang kau sembunyikan… aku mengumpulkannya.”

Ia melangkah maju.

Raka mundur hingga punggungnya menempel ke pintu.

“Aku tidak butuh cermin lagi,” lanjutnya pelan. “Karena sekarang… aku punya tubuh.”

“Tidak…” Raka menggeleng. “Ini tidak nyata…”

Bayangan itu tersenyum.

“Kalau begitu, kenapa kau takut?”

Raka terdiam.

Pertanyaan itu menghantam lebih keras dari apa pun.

Karena ia tahu jawabannya.

Ia takut.

Sangat takut.

Dan bayangan itu tahu.

Dalam sekejap, sosok itu melesat maju.

Raka menjerit dan menutup wajahnya.

Namun tidak ada sentuhan.

Tidak ada rasa sakit.

Perlahan, ia membuka mata.

Sosok itu berhenti tepat di depannya.

Hanya beberapa centimeter.

Mereka saling menatap.

Untuk pertama kalinya, Raka melihat dirinya sendiri dari sudut pandang orang lain.

Dan itu… mengerikan.

“Aku tidak akan membunuhmu,” kata bayangan itu tiba-tiba.

Raka terkejut.

“Aku hanya akan… menggantikanmu.”

Jantung Raka berdegup

kencang.

“Apa maksudmu?”

Bayangan itu mendekat sedikit lagi, hingga wajah mereka hampir bersentuhan.

“Dunia ini hanya butuh satu dari kita.”

Raka mencoba bergerak, tapi tubuhnya terasa berat. Seperti terikat oleh sesuatu yang tak terlihat.

“Kau sudah membuka pintu,” lanjutnya. “Kau memberi jalan.

Sekarang… giliranmu untuk pergi.”

“Pergi ke mana?” bisik Raka.

Bayangan itu tidak langsung menjawab.

Sebaliknya, ia mengangkat tangan dan menunjuk ke arah cermin.

Raka menoleh.

Cermin itu kini berubah.

Bukan lagi refleksi ruangan.

Melainkan lorong panjang yang gelap.

Tanpa ujung.

Tanpa cahaya.

“Ke sana,” jawab bayangan itu pelan.

Raka menggeleng cepat.

“Tidak. Aku tidak mau.”

“Kau tidak punya pilihan.”

Tiba-tiba, tubuh Raka bergerak sendiri.

Langkahnya pelan, tapi pasti, menuju cermin itu.

“Berhenti…” bisiknya, berusaha melawan.

Namun sia-sia.

Setiap langkah terasa seperti ditarik oleh kekuatan yang tak bisa ia lihat.

Bayangan itu berjalan di sampingnya.

Tenang.

Seolah ini semua sudah direncanakan.

“Kau tahu,” katanya santai, “hidupmu akan lebih baik denganku di luar sana.”

Raka tidak menjawab.

Ia terlalu sibuk mencoba menghentikan tubuhnya sendiri.

“Tidak ada lagi rasa takut. Tidak ada lagi penyesalan. Aku akan menjadi versi terbaik dari dirimu.”

“Dengan mencurinya?” Raka akhirnya bersuara.

Bayangan itu tersenyum tipis.

“Dengan menyempurnakannya.”

Mereka kini berdiri tepat di depan cermin.

Lorong gelap itu terasa seperti memanggil.

Dingin.

Kosong.

Namun anehnya… familiar.

Raka menatapnya lama.

Ada sesuatu di dalam sana.

Sesuatu yang ia kenal.

Mungkin bagian dari dirinya yang memang sudah lama hilang.

“Masuk,” kata bayangan itu.

Raka menggeleng.

Namun tubuhnya melangkah.

Satu langkah lagi—

Dan tangannya menyentuh permukaan cermin.

Dingin.

Seperti menyentuh air yang mati.

Dalam sekejap, ingatan mulai bermunculan.

Semua kesalahan.

Semua ketakutan.

Semua momen yang ia ingin lupakan.

Dan di tengah semua itu, sebuah suara muncul.

Pelan.

Hampir tenggelam.

Namun cukup jelas.

“Raka… jangan…”

Ia membeku.

Suara itu—

Berbeda.

Bukan dari bayangan.

Bukan dari dalam kepalanya.

Melainkan dari luar.

Dari dunia nyata.

Raka menoleh.

Pintu yang tadi terkunci… kini terbuka sedikit.

Cahaya masuk dari celahnya.

Dan di sana, berdiri seseorang.

“Raka! Cepat keluar!”

Itu Dimas.

Yang asli.

Raka tertegun.

“Dimas…?”

Bayangan di sampingnya langsung berubah ekspresi.

Untuk pertama kalinya, ia terlihat marah.

“Jangan dengarkan dia,” desisnya.

Namun Raka sudah membuat keputusan.

Dengan sisa tenaga yang ia punya, ia menarik tangannya dari cermin.

Rasa sakit menjalar, seperti kulitnya terbakar.

Namun ia tidak peduli.

Ia berbalik dan berlari ke arah pintu.

Bayangan itu berteriak.

Suara yang tidak lagi terdengar manusia.

“KAU TIDAK BISA LARI!”

Tangan gelap mencoba meraih kakinya.

Namun cahaya dari luar semakin terang.

Dan saat Raka melompati ambang pintu—

Semuanya berhenti.

Sunyi.

Raka jatuh ke lantai, terengah-engah.

Dimas segera menariknya menjauh.

“Lo nggak apa-apa?” tanyanya panik.

Raka tidak langsung menjawab.

Ia menoleh ke belakang.

Pintu itu kini tertutup.

Rapat.

Seolah tidak pernah terbuka.

Dan dari baliknya… tidak ada suara.

Tidak ada apa-apa.

Namun jauh di dalam hatinya,

Raka tahu—

Sesuatu masih menunggunya.

Dan kali ini…

Ia tidak sendirian lagi.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!