"Jangan pakai namaku untuk karakter mati tragis, Elodie!"
Peringatan Blair diabaikan. Ia justru terbangun sebagai Charlotte Lauren Blair, istri durhaka dan ibu kejam dalam novel sahabatnya. Di naskah asli, ia akan mati mengenaskan dikhianati selingkuhannya, Andreas.
Misi Blair hanya satu: Batalkan Kematian!
Namun, rencananya terhambat oleh suaminya, Ralph Liam Alexander. CEO dingin yang ditakuti dunia itu selalu menatapnya tajam. Tapi tunggu... kenapa Blair bisa mendengar suara hati suaminya yang sangat berisik?
Liam (Dingin): "Jangan harap kau bisa bercerai dariku!"
Suara Hati Liam (Bucin): [Tolong jangan pergi... Aku mencintaimu sampai mau gila. Satu langkah kau menjauh, aku akan mengurungmu di kamar selamanya!]
Ternyata, sang "Monster" adalah simp kelas berat yang takut kehilangan dirinya! Bisakah Blair mengubah alur tragis ini, meluluhkan hati putranya yang membencinya, dan bertahan dari obsesi gila sang suami?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26: Busa Sabun dan Ciuman yang Tercuri
"Jangan menekan spons itu seolah kau sedang mengamplas aspal, Liam. Itu piring kristal pemberian kolega bisnismu, bukan ban cadangan Bentley-mu."
Suaraku memecah keheningan dapur mansion yang temaram. Jam dinding sudah menunjukkan pukul sebelas malam. Bi Inah dan para pelayan lainnya sudah lama masuk ke paviliun belakang, menyisakan kami berdua di bawah lampu gantung warm white yang memberikan kesan intim pada wastafel marmer ini.
Liam tersentak, wajahnya yang biasanya kaku dan berwibawa kini tampak sangat lucu dengan bercak busa sabun di hidungnya. Ia sudah melepas jas dan dasinya, menggulung lengan kemeja putih mahalnya hingga ke siku, dan mengenakan celemek bunga-bunga milik Bi Inah yang tampak sangat konyol membungkus tubuh atletisnya.
[Sial... ini jauh lebih sulit daripada menegosiasikan kontrak triliunan rupiah dengan investor Jepang. Kenapa piring ini terasa sangat licin? Dan kenapa Blair hanya diam di sana? Apa dia sedang menertawakanku? Tidak apa-apa... asalkan dia tidak pergi, aku rela mencuci seluruh piring di Bekasi!]
"Aku tahu! Aku hanya... aku sedang melakukan uji ketahanan pada material piring ini," sahut Liam kaku, mencoba menyembunyikan rasa malunya dengan nada bicara ala CEO yang angkuh.
Aku tidak bisa lagi menahan tawa renyahku. Aku melangkah mendekat, berdiri tepat di sampingnya hingga aroma sabun lemon bercampur dengan parfum sandalwood maskulin miliknya menyeruak masuk ke indra penciumanku.
"Sini, biar aku tunjukkan cara yang benar," ucapku lembut. Aku mengambil tangannya yang berlumuran busa, membimbing jari-jarinya yang panjang dan kasar untuk menggosok permukaan piring dengan gerakan memutar yang pelan.
Liam mematung. Napasnya tertahan saat merasakan sentuhan tanganku di atas punggung tangannya. Aku bisa merasakan suhu tubuhnya meningkat drastis.
[Tangannya... sangat lembut. Kenapa jantungku berdetak sekeras ini hanya karena mencuci piring? Blair, kau benar-benar menyihirku. Aku ingin momen ini berhenti di sini. Hanya ada aku, kau, dan busa sabun ini. Persetan dengan dunia luar yang berisik.]
"Pelan-pelan saja, Liam. Seperti ini..." bisikku, mendongak menatapnya.
Saat aku menatapnya, aku menyadari bahwa Liam tidak lagi melihat ke arah wastafel. Matanya yang hitam pekat meredup, menatapku dengan intensitas yang seolah-olah ingin menelanku bulat-bulat. Sorot matanya penuh dengan pemujaan, rasa bersalah, dan gairah yang sudah lama ia pendam.
"Sudah mengerti?" tanyaku pelan, suaraku tiba-tiba terasa serak.
"Belum... aku butuh instruksi yang lebih... personal," bisik Liam parau.
Tangannya yang basah dan berbusa tidak lagi memegang piring. Ia justru memutar tubuhnya, memerangkapku di antara wastafel dan tubuhnya yang kekar. Kehangatan dari dadanya yang bidang menekan dadaku, membuat napasku memburu.
Liam menundukkan kepalanya, menyisakan jarak hanya beberapa milimeter di antara bibir kami. Ujung hidungnya bersentuhan dengan hidungku, sebuah gestur yang sangat intim hingga aku bisa merasakan detak jantungnya yang liar di balik kemeja tipis itu.
"Blair... aku minta maaf untuk segalanya," gumamnya, suaranya bergetar penuh emosi. "Jangan pernah tinggalkan aku lagi."
Sebelum aku sempat menjawab, Liam meniadakan jarak itu. Ia menciumku. Awalnya lembut, seolah-olah ia takut aku akan hancur jika ia menekan terlalu keras. Namun, saat aku membalas ciumannya dan melingkarkan tanganku di lehernya, ciuman itu berubah menjadi penuh tuntutan. Penuh dengan rasa lapar yang terakumulasi selama bertahun-tahun pengabaian.
Busa sabun yang menempel di tangannya kini mengotori bagian belakang blazerku, tapi aku tidak peduli. Duniku saat ini hanyalah rasa manis dari bibir Liam dan pelukannya yang posesif.
[DIA MEMBALASKU! Blair benar-benar menciumku! Oh Tuhan, aku merasa seperti baru saja memenangkan seluruh dunia. Aku tidak akan membiarkan siapa pun memisahkan kita lagi. Tidak siapa pun!]
Baru saja gairah kami mencapai puncaknya, sebuah suara pekikan nyaring merobek suasana romantis itu seperti pisau tajam.
"RALPH! APA-APAAN INI?!"
Kami tersentak dan melepaskan diri secara refleks. Lily berdiri di ambang pintu dapur dengan wajah yang memerah padam, matanya melotot seolah baru saja melihat penampakan hantu paling menyeramkan. Di belakangnya, Adeline berdiri dengan wajah yang sengaja dibuat tampak terluka dan terpukul.
"Mama..." Liam berdehem kaku, mencoba merapikan kemejanya yang berantakan sambil menutupi tubuhku dengan badannya yang lebar.
"Membantu istrimu mencuci piring? Dengan celemek pelayan?! Dan bermesraan di tempat kotor seperti ini?!" Lily melesat maju, suaranya meninggi satu oktav. "Kau adalah CEO Alexander Group, Ralph! Di mana harga dirimu?! Ini pasti ulahmu, kan, Blair? Kau sengaja mempermalukan putraku dengan pekerjaan rendahan ini!"
Aku hanya tersenyum tipis, mengambil kain lap kering untuk membersihkan sisa busa di tanganku. "Seorang pria sejati tahu cara bertanggung jawab atas kesalahannya, Nyonya Lily. Dan bagi Liam, mencuci piring adalah penebusan kecil dibandingkan rasa sakit yang saya rasakan karena tamu kesayangan Anda."
"Kau... kau jalang yang licik!" Lily berteriak, lalu beralih pada Liam. "Ralph, ikut Mama ke ruang tengah sekarang! Kita harus bicara serius tentang kelakuan istrimu ini!"
Lily menarik lengan Liam dengan kasar. Liam menoleh padaku dengan tatapan yang sangat bersalah, namun ia tidak bisa melawan saat ibunya mulai berakting sesak napas.
"Masuklah, Liam. Urus 'tamu' dan ibumu," ucapku dingin, kembali pada mode tarik-ulurku.
Saat mereka pergi, aku melihat Adeline tersenyum sinis ke arahku sebelum berbalik mengikuti Lily. Namun, di balik bayangan lorong, aku melihat Lily berbisik pada pengawalnya.
"Besok pagi, panggil media. Katakan pada mereka aku punya laporan medis tentang ketidakstabilan mental Blair Alexander. Jika dia ingin bermain sebagai nyonya rumah, aku akan memastikannya berakhir di rumah sakit jiwa."
Aku terdiam di dapur yang kini sunyi. Elodie benar-benar memainkan kartu terakhirnya melalui Lily. Mereka ingin melabeliku sebagai wanita gila agar Liam dipaksa memberikan hak asuh Axelle dan hartanya.
"Mainkan saja kartumu, Elodie," gumamku sambil menatap piring kristal yang kini bersih berkilau. "Mari kita lihat, siapa yang akan benar-benar gila pada akhirnya."
semoga bisa menghibur semuanya...
mending kalian berdua pergi biar Liam nyesek/Right Bah!/