NovelToon NovelToon
Life After Marriage With Zidan

Life After Marriage With Zidan

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Nikahmuda / Persahabatan
Popularitas:4.5k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Shakira Naomi hanya ingin lulus kuliah tataboga dengan tenang. Namun, mimpinya terusik saat ia dipaksa menikah dengan Zidan Ardiansyah, sahabat masa kecilnya yang paling tengil dan tidak bisa diam.
Bagi Shakira, pernikahan ini adalah bencana. Bagi Zidan, ini adalah kesempatan emas untuk memenangkan hati gadis yang selama ini ia puja secara ugal-ugalan. Di antara sekat guling dan aturan "aku-kamu" yang dipaksakan, mampukah Zidan meruntuhkan tembok dingin Shakira? Atau justru status "sahabat jadi suami" ini malah merusak segalanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Lima Menit Pengisi Daya

Motor besar Zidan menderu halus saat memasuki area parkir depan Fakultas Pariwisata dan Perhotelan. Sesuai janjinya, Zidan tidak berulah dengan knalpot bising, namun tetap saja sosoknya yang tinggi tegap dengan jaket denim di atas motor gahar itu menarik perhatian mahasiswi yang sedang berlalu-lalang.

Shakira segera turun dari boncengan, merapikan rok kulotnya yang sedikit kusut. Baru saja tangannya terangkat hendak melepas pengait helm, jemari Zidan yang lebih besar sudah mendahuluinya. Dengan gerakan yang sangat telaten, Zidan menarik tali helm itu dan membukanya pelan, seolah sedang menangani barang pecah belah yang sangat berharga.

"Semangat belajarnya ya, Istriku," ucap Zidan. Suaranya rendah, matanya menatap lekat ke manik mata Shakira.

"Iya," jawab Shakira singkat. Jantungnya mulai melakukan maraton kecil. Ia segera mengambil tasnya dari gantungan motor. "Ngapain masih di sini? Balik sana ke bengkel. Bobby sama Indra pasti udah nyariin."

Zidan tidak segera menghidupkan mesin motornya. Ia justru menyandarkan tubuhnya ke jok motor, melipat tangan di depan dada sambil terus menatap Shakira dengan senyum tipis yang sulit diartikan.

"Nggak. Kamu belum kasih aku amunisi," cetus Zidan.

Shakira mengernyitkan dahi, merasa jengah karena beberapa pasang mata mulai melirik ke arah mereka. "Amunisi apa lagi sih, Zidan? Tadi pagi kan udah makan nasi goreng udang dua piring. Kurang kenyang?"

Zidan tidak menjawab dengan kata-kata. Ia menegakkan tubuhnya, melirik ke kiri dan ke kanan dengan waspada, memastikan tidak ada dosen atau kerumunan mahasiswa yang terlalu dekat dengan posisi mereka saat ini. Merasa aman, Zidan tiba-tiba melangkah maju dan menarik pergelangan tangan Shakira.

Hup.

Dalam satu gerakan mantap, Zidan menarik Shakira ke dalam pelukannya. Wajah Shakira tertanam di dada bidang Zidan yang terbalut jaket denim beraroma parfum maskulin bercampur sedikit bau matahari.

"Zidan! Lepasin! Ini di kampus!" bisik Shakira dengan suara panik yang tertahan. Ia berusaha meronta, tapi dekapan Zidan justru mengunci gerakannya dengan lembut namun kuat.

"Bentar, Sayang. Aku mau recharge energi. Lima menit deh," gumam Zidan. Ia menyandarkan dagunya di puncak kepala Shakira, memejamkan mata seolah dunia di sekitar mereka baru saja berhenti berputar. "Pagi ini antrean servis berat semua. Aku butuh amunisi biar nggak tumbang di bengkel."

Shakira tertegun. Kalimat Zidan yang biasanya penuh candaan kali ini terdengar sangat jujur dan sedikit... lelah. Perlahan, rontaan Shakira mereda. Ia diam mematung di dalam pelukan suaminya. Tangannya masih kaku di samping tubuh, tidak membalas pelukan itu, tapi ia juga tidak lagi menolak.

Ada rasa hangat yang menjalar dari dada Zidan ke tubuhnya. Untuk pertama kalinya di tempat umum, Shakira membiarkan tembok 'Garis Khatulistiwa' itu runtuh total. Selama lima menit itu, ia hanya bisa mendengar detak jantung Zidan yang berdegup stabil dan mencium aroma tubuh suaminya yang entah sejak kapan mulai terasa menenangkan.

Sementara itu, di balik pilar besar gedung fakultas yang hanya berjarak beberapa meter, Nina berdiri dengan mata membelalak dan mulut tertutup tangan. Ia menonton adegan "drama Korea live" itu dengan perasaan campur aduk antara gemas dan iri.

Tiba-tiba, dua mahasiswa laki-laki dari jurusan perhotelan berjalan mendekat, berniat melewati jalan di samping pilar tersebut menuju parkiran.

"Heh! Jangan lewat dulu!" bisik Nina setengah berteriak sambil merentangkan tangannya, menghalangi jalan mereka.

"Ada apa sih, Nin? Sewot amat," tanya salah satu mahasiswa itu bingung.

"Tuh... lo liat!" Nina menunjuk dengan dagunya ke arah motor Zidan. "Ada adegan eksklusif. Jangan diganggu, kasihan mereka lagi recharging cinta."

Mahasiswa itu melongokkan kepala, lalu berdehem canggung saat melihat Shakira yang biasanya galak ternyata sedang anteng dipeluk oleh seorang cowok garang. "Wah, itu suaminya si 'Dewi Dapur' ya? Gila, mesra amat siang bolong begini."

"Makanya, jangan jadi pengganggu. Lewat jalan lain sana!" usir Nina galak, meski ia sendiri tidak berhenti mengintip.

Kembali ke parkiran, Zidan akhirnya melonggarkan pelukannya. Ia menatap wajah Shakira yang sekarang merah padam seperti udang rebus yang tadi pagi ia masak.

"Udah? Udah lima menit?" tanya Shakira pelan, suaranya hampir tidak terdengar.

Zidan mengecek jam tangannya. "Pas lima menit. Battery full. Makasih ya, Amunisi tercinta."

Zidan mencubit hidung Shakira gemas sebelum memakai helmnya kembali. "Nanti sore aku jemput lagi. Jangan telat, jangan keluyuran sama cowok lain. Inget, energi aku cuma bisa diisi ulang sama kamu."

"Iya, bawel! Sana pergi!" Shakira mengibaskan tangannya, mengusir Zidan meski hatinya terasa hangat.

Zidan menghidupkan mesin motornya, memberikan jempol ke arah Shakira, lalu melesat pergi meninggalkan area kampus. Shakira menarik napas panjang, mencoba menetralkan degup jantungnya sebelum berbalik menuju koridor.

Namun, baru saja ia melangkah tiga kali, Nina sudah muncul di depannya dengan wajah super menyebalkan.

"Ehem! Yang habis recharge energi, mukanya cerah amat ya?" goda Nina sambil menaik-turunkan alisnya.

"Nina! Lo liat?" tanya Shakira panik.

"Liat dari awal sampai Zidan pergi. Sumpah ya, Ra, kalau gue jadi lo, gue nggak bakal mau lepas dari pelukan itu. Zidan vibes-nya protective banget tahu nggak!"

"Apa sih, Nin! Dia itu cuma capek kerja, makanya manja," bela Shakira, berusaha menutupi rasa baper-nya.

"Halah, alasan! Capek kerja kok nyarinya pelukan istri, bukan minum jamu," Nina merangkul bahu Shakira, menuntunnya masuk ke dalam gedung. "Udah deh, akuin aja kalau lo udah mulai cinta sama abang bengkel itu."

Shakira terdiam, ia menatap ke arah gerbang kampus tempat motor Zidan tadi menghilang. Cinta? Ia belum berani menyebutnya begitu. Tapi satu hal yang pasti, pelukan lima menit tadi terasa jauh lebih mengenyangkan daripada nasi goreng udang manapun yang pernah ia buat.

"Cinta atau nggak, yang jelas guling di kamar tetap nggak boleh lewat!" gumam Shakira pelan.

"Hah? Guling apaan?" tanya Nina bingung.

"Bukan apa-apa! Ayo cepet ke lab, nanti telat!"

Shakira mempercepat langkahnya, mencoba menyembunyikan senyum yang sedari tadi ingin merekah. Di balik judesnya, ada bagian dari dirinya yang mulai merindukan "amunisi" lima menit itu lagi, bahkan sebelum Zidan sampai di bengkelnya.

***

Zidan masih berlutut di samping motor sport merah yang sedang ia bongkar bagian blok mesinnya. Tangan kanannya memegang kunci pas, sementara tangan kirinya memutar baut dengan gerakan ritmis. Namun, ada yang aneh. Mata Zidan tidak sepenuhnya fokus pada mesin. Bibirnya melengkung membentuk senyum lebar yang terlihat sangat... mencurigakan. Berkali-kali ia menggelengkan kepalanya perlahan, lalu kembali terkekeh kecil seolah sedang menonton komedi putar di dalam pikirannya sendiri.

"Dan... Lo sehat?" celetuk Bobby yang berdiri tak jauh darinya, sedang membersihkan sisa tumpahan oli di lantai.

Zidan tidak menyahut. Ia malah mengelap keringat di dahi dengan punggung tangan yang kotor, meninggalkan noda hitam tambahan di pelipisnya, tapi senyum itu tetap tidak pudar. Ia teringat bagaimana kaku dan pasrahnya tubuh Shakira dalam dekapannya di parkiran kampus tadi. Wangi sampo herbal itu seolah masih menyangkut di kerah jaket denimnya.

"Zidan! Woy! Sadar, Bos!" Bobby menepuk bahu Zidan dengan cukup keras sampai kunci pas di tangan Zidan hampir terlepas.

"Apa sih! Ganggu aja lo!" semprot Zidan, akhirnya menoleh dengan tatapan galak yang dipaksakan. "Lagi fokus nih, jangan bikin gue salah pasang baut."

"Fokus apaan? Dari tadi gue perhatiin lo cuma muter-muter baut yang itu-itu aja tapi sambil senyum-senyum najis," Bobby bergidik ngeri. "Lagian ngapain senyum-senyum begitu? Kesambet setan penunggu pohon mangga depan lo?"

Zidan meletakkan kunci pasnya ke lantai semen dengan bunyi denting yang nyaring. Ia duduk bersila di samping motor, menyeka tangan olinya ke lap kotor, lalu menatap Bobby dengan wajah penuh kemenangan.

"Gue abis dapet amunisi dari Shakira," ucap Zidan bangga. Suaranya terdengar sangat puas, seolah ia baru saja memenangkan lotre milyaran rupiah.

"Amunisi apaan? Dibawain ayam geprek lagi? Mana? Bagi gue dong, laper nih," sahut Indra yang tiba-tiba muncul dari balik lemari alat-alat teknik sambil membawa obeng.

Zidan mendengus remeh. "Makanan mulu otak lo, Ndra. Ini lebih dari sekadar makanan. Ini amunisi batin, pengisi daya jiwa raga gue."

"Maksud lo?" tanya Indra bingung.

"Tadi... pas gue anter ke kampus," Zidan menjeda kalimatnya, sengaja membuat dua sahabatnya penasaran. Ia kembali terkekeh sambil membayangkan wajah Shakira yang memerah. "Gue peluk dia. Lima menit. Di depan fakultasnya."

Hening sejenak.

Bobby dan Indra saling berpandangan selama beberapa detik, lalu mereka kompak meledak dalam tawa yang sangat keras sampai-sampai pelanggan yang baru masuk ke bengkel sempat menoleh keheranan.

"Hahahaha! Sumpah, Dan? Lo meluk dia di kampus?" Bobby memegangi perutnya yang kram. "Si Shakira yang judesnya minta ampun itu? Yang kalau ngomong suka bikin kuping panas? Lo peluk di depan umum?"

"Iya. Kenapa? Istri gue ini," jawab Zidan santai.

"Terus reaksinya gimana? Lo nggak digampar pake tas kuliahnya?" tanya Indra penasaran.

"Enggak dong. Dia diem aja. Kayak patung manekin, tapi gue tau dia nikmatin. Jantungnya aja deg-degan kenceng banget pas nempel di dada gue," Zidan menepuk dadanya sendiri dengan bangga. "Duh, Ndra... Bob... gue ngerasa tenaga gue sekarang kayak motor bore-up dua ratus cc. Mau disuruh turun mesin sepuluh motor juga ayo!"

"Bener-bener ya, radiasi bucin lo ini udah masuk tahap stadium empat," Bobby menggeleng-gelengkan kepala. "Tapi jujur ya, gue nggak nyangka Shakira mau lo gituin di kampus. Biasanya kan dia gengsian parah."

"Itu namanya pesona mekanik ganteng, Bob. Gue mah punya cara sendiri buat naklukin singa betina kayak dia," Zidan kembali memegang baut mesinnya, kali ini dengan semangat yang berkali-kali lipat. "Makanya, lo berdua buruan cari pacar atau nikah gih. Biar kerja nggak cuma cari duit, tapi cari amunisi juga."

"Dih, sombong banget pengantin baru satu ini," cibir Indra. "Tadi pagi aja lo masih ngeluh punggung pegal gara-gara tidur kehalang guling."

Zidan mendadak terhenti. Senyumnya sedikit menciut. "Sialan lo, diingetin soal guling. Tapi nggak apa-apa, pelukan lima menit tadi udah cukup buat ngeruntuhin pengaruh guling itu di otak gue."

"Tapi hati-hati lo, Dan," celetuk Bobby sambil kembali ke motor yang ia kerjakan. "Biasanya habis adegan manis begini, nanti pas lo jemput dia, judesnya balik lagi dua kali lipat buat nutupin malunya."

"Nah, bener tuh kata Bobby," Indra menimpali. "Gue jamin, nanti pas lo jemput, dia bakal bilang: 'Ngapain lo ke sini? Berisik tau motornya!'"

Zidan tertawa keras, sepertinya tidak peduli dengan peringatan teman-temannya. "Bodo amat. Mau dia judes, mau dia galak, yang penting tadi dia udah nempel di sini lima menit. Itu modal gue buat kerja sampe sore nanti."

"Eh, Dan, itu bautnya udah kenceng banget, jangan diputer terus nanti patah!" teriak Bobby saat melihat Zidan kembali memutar baut dengan tenaga ekstra saking semangatnya.

"Ops, sori. Terlalu bertenaga gue!" Zidan nyengir tanpa dosa.

Sepanjang siang itu, suasana di bengkel terasa berbeda. Zidan bekerja dengan siulan riang, sesekali bersenandung kecil lagu-lagu romantis yang sangat tidak cocok dengan penampilannya yang penuh oli. Bobby dan Indra hanya bisa saling lirik dan menghela napas panjang. Mereka tahu, bos mereka ini sudah benar-benar tenggelam dalam pesona istrinya sendiri.

"Bob," bisik Indra.

"Apa?"

"Besok-besok kalau Zidan mau nganter bini, kita kunciin aja di bengkel. Bahaya, energinya kalau abis di-recharge begini bikin dia kerja kayak mesin penghancur," ujar Indra sambil menunjuk ke arah Zidan yang sedang mengangkat ban motor besar dengan santainya.

"Setuju. Radiasi bucinnya merusak ketenangan jomblo kayak kita," balas Bobby.

Zidan tidak mempedulikan ocehan mereka. Di pikirannya sekarang hanya ada satu hal: bagaimana cara mendapatkan "amunisi" sepuluh menit saat ia menjemput Shakira nanti sore. Sambil memasang bagian mesin terakhir, ia kembali tersenyum sendiri, membayangkan wajah galak Shakira yang selalu gagal menyembunyikan rasa sukanya.

"Tunggu aku nanti sore ya, Sayang. Siap-siap dapet kejutan amunisi ronde kedua," gumam Zidan sangat pelan, nyaris tak terdengar di antara bunyi denting alat-alat bengkel.

1
Nurminah
jarang2 makan favorit di novel pempek Palembang kapal selam pulok asli ini bibik ni wong palembang
tinggal daerah mano nyo Thor
di palembang jugo soalnyo
Nurminah: si ajudan kan sdh baca
total 8 replies
apiii
suka bngt sama dua bucin mas karat ini❤️
Rita Rita
bener bener si mas suami kejar setoran 🤭🤣🤣🤣
apiii
eps yg bikin senyum" sendiri 🤭
Rita Rita
apakah mas karatan dan istri sedang bikin adonan debay 🤔🤭🤣
apiii
aduh mas karatan🤣
Rita Rita
semangat boss,,, terus dapet asupan wkwkwk 🤭🤣🤣
apiii
wkwkwk
apiii
wah bisa bisa besok pagi di bengkel gimna ya
Rita Rita
akhirnya si mas karatan go' unboxing kalo go public udah 🤭🤣 asyik, guling udah kadaluarsa,,,
apiii
Lucu bngt pasangan baut karatan ini wkwk btw bisa kali thor triple up🤭
Nadhira Ramadhani: menyala otakku nanti kalo triple haha
total 1 replies
Rita Rita
si mas suami udah ada visual nya,, kasih visual kuntilanak cantik dong Thor,,,
Nadhira Ramadhani: ada saran?
total 1 replies
apiii
kiw kiww ada yg mulai bucin nih🤣
Rita Rita
cieee yg mau kencan 🤭🤣🤣 mas karatan dengan mbak Kunti cantik,, semoga lancar ya,,
apiii
doain ya aku lolos bab 1 bimbingan skripsi
Rita Rita
sangat contrast pasutri muda dengan panggilan sayang,,, mas karatan dan kuntilanak cantik 🤭🤣😍
Nadhira Ramadhani: POV: genz kalo nikah kak🤣
total 1 replies
apiii
semangat up nya thor aki tunggu tiap hari thor semangattt❤️
apiii
lucu bangt pasangan ini asli❤️
Rita Rita
sabar si mas suami jadi membawa bahagia,,,
Rita Rita
🤣🤣🤣 si mas Zidan udah terinfeksi rabies bucin, makanya senyum sendiri luar kendali 🤭🤣🤣🤣
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!