NovelToon NovelToon
Rumah Murah Di Desa Arwah

Rumah Murah Di Desa Arwah

Status: sedang berlangsung
Genre:Rumahhantu / Horor / Misteri
Popularitas:928
Nilai: 5
Nama Author: Na-Hyun

Niatnya mencari kontrakan murah.
Yang didapat justru desa yang dipenuhi hantu.

Endric belum sempat beradaptasi, sudah diajak berbicara oleh pocong. Ia juga belum sempat kabur, tetapi jalan di desa itu terus berputar tanpa arah. Belum sempat bersantai, namanya malah sudah masuk dalam daftar tumbal.

Di desa itu, aturan hidupnya sederhana, jangan pernah keluar malam, jangan menjawab saat dipanggil, dan jangan bersikap terlalu akrab dengan warga karena belum tentu mereka manusia.

Untungnya, Endric memiliki “teman”. Sayangnya, temannya adalah pocong.

Sekarang pilihannya hanya dua, kabur, yang hampir pasti gagal, atau bertahan sambil berpura-pura waras di desa paling tidak normal yang pernah ia temui.

Dan yang jadi masalahnya, besok malam adalah gilirannya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Na-Hyun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Kuku Ningsih

Wanita itu tersenyum sambil menangis. Matanya merah, tetapi bibirnya terangkat aneh. Kepalanya masih dalam posisi tidak wajar, sedikit miring seperti sendinya sudah lama rusak.

Endric membeku. Refleksnya ingin mundur, tetapi kakinya seperti tertahan di tanah.

“Gue salah tempat,” bisiknya pelan.

“Gak juga,” jawab wanita itu lembut. “Semua yang dipanggil pasti ke sini.”

Endric menelan ludah. “Ndhul...” bisiknya.

“Gue di sini,” jawab Gandhul pelan dari sampingnya.

Endric melirik sedikit. “Ini aman, kan?”

Gandhul diam sebentar. “Tergantung.”

Endric langsung menutup mata sejenak. “Jawaban lo selalu bikin gue makin tenang, sumpah.”

Wanita itu tertawa kecil. Suara tawanya bercampur dengan isak, aneh dan tidak sinkron. “Kamu lucu juga,” katanya.

Endric memaksakan senyum.

“Iya, makasih. Bisa gak kita skip bagian seremnya?”

Wanita itu memiringkan kepala sedikit lagi. Kini hampir tidak masuk akal. “Kamu takut?”

“Gak,” jawab Endric cepat.

“Bohong.”

“Iya, bohong.”

Wanita itu tertawa lagi, kali ini lebih ringan. “Akhirnya jujur juga.”

Endric menghela napas. “Oke. Lo siapa?”

Wanita itu berhenti tertawa. Ekspresinya berubah, lebih tenang.

“Namaku Ningsih.”

“Endric,” jawab Endric singkat.

“Aku tahu.”

Endric langsung menegang. “Semua di sini tahu nama gue, ya?”

Ningsih mengangguk pelan. “Kalau sudah dipanggil, namamu bukan milikmu lagi.”

Endric mengernyit. “Bahasanya kenapa harus serem begitu, sih...”

Gandhul tertawa kecil. “Itu Sudah biasa.”

Endric meliriknya kesal. “Lo diam dulu.” Ia kembali menatap Ningsih. “Lo tadi bilang semua yang dipanggil ke sini. Kenapa?”

Ningsih menunduk. Tangannya memainkan tanah di bawahnya.

“Karena di sini... Tempat kami dulu terakhir kali berharap.”

Endric diam. “Harap apa?”

Ningsih tidak langsung menjawab. Ia mengangkat kepala pelan, matanya menatap Endric dalam.

“Bisa Keluar.”

Endric merasakan sesuatu menusuk di dadanya. “Lo juga dulu mau kabur?”

Ningsih tersenyum tipis. “Iya.”

“Terus?”

Ningsih tertawa kecil, pendek dan kosong. “Gagal.”

Endric menghela napas panjang. “Semua gagal, ya...”

“Yang berhasil gak pernah kembali."

Endric menatapnya. “Berarti ada yang berhasil?”

Ningsih mengangguk pelan. “Ada.”

Endric langsung mendekat sedikit. “Gimana caranya?”

Gandhul berbisik, “Pelan, rek.”

Endric tidak peduli. “Bodo ... Gue harus tahu.”

Ningsih menatapnya lama, sangat lama, lalu berkata pelan, “Jangan memilih cara itu.” Endric langsung diam. “Itu bukan cara yang tepat.”

Endric mengusap wajahnya frustasi. “Tapi gue sudah dipilih, Ning”

Ningsih menggeleng. “Belum.”

Endric mengernyit. “Gue sudah dapat kertas. Sudah dipanggil.”

Ningsih mengangguk. “Itu undangan.”

“Bedanya?”

Ningsih menatapnya lebih serius. “Dipanggil belum tentu dipilih.”

Endric membeku. Gandhul juga ikut diam.

“Jelasin,” kata Endric pelan.

Ningsih menarik napas, walau sebenarnya tidak perlu. “Setiap sebulan sekali ... desa ini butuh satu.”

“Satu apa?”

Ningsih tidak langsung menjawab, hanya menatapnya.

Endric mengangkat tangan. “Oke. Gue ngerti. Lanjut.”

Ningsih melanjutkan, “Yang dipanggil dikumpulkan. Dilihat. Dipilih.”

Endric menelan ludah. “Dilihat apanya?”

Ningsih tersenyum tipis. “Yang paling... cocok.”

Endric tertawa kecil, tegang. “Cocok buat mati?”

Ningsih tidak membalas. Diamnya sudah cukup sebagai jawaban. Endric menghela napas panjang.

“Oke. Berarti gue masih punya kesempatan.”

“Sedikit,” kata Gandhul.

“Lo diam,” balas Endric cepat.

Ningsih menatap mereka berdua. “Dia temanmu?”

Endric mengangguk. “Iya. Walau nyebelin.”

Gandhul langsung protes. “Eh, gue bantu lo, ya.”

“Bantu, tapi nyebelin.”

Ningsih tersenyum. Untuk pertama kalinya, senyum itu terasa lebih manusia. “Bagus kalau kamu gak sendiri.”

Endric mengangguk pelan. “Gue juga berharap begitu.”

Beberapa detik hening. Angin di dalam hutan bergerak pelan, tetapi tidak ada suara daun. Semua tetap terasa tidak alami.

“Gue harus ngapain malam ini?” tanya Endric.

Ningsih menatapnya. “Jangan sok siap.”

Endric mengernyit. “Apaan?”

“Yang sok siap biasanya dipilih.”

Endric memijat pelipisnya. “Logika macam apa ini...”

“Desa ini gak pakai logika,” kata Gandhul.

Endric mendecak. “Oke. Jangan terlihat siap. Terus?”

Ningsih berpikir sebentar. “Jangan terlihat takut.”

Endric langsung menatapnya datar. “Terus gue harus jadi apa? Robot?”

Ningsih tertawa kecil. “Kalau kamu terlalu takut, mereka tertarik.”

Endric menarik napas panjang. “Dan kalau gue santai?”

“Kadang mereka bosan.”

Endric menatap Gandhul. “Ini kayak lagi audisi, cok.”

“Ya memang,” jawab Gandhul.

Endric kembali ke Ningsih. “Ada lagi?”

Ningsih diam, lalu berkata pelan, “Kalau ada yang menawarkan kamu sesuatu, jangan di ambil.”

Endric langsung ingat. Tawaran untuk tinggal selamanya. Ia mengangguk.

“Noted.”

Ningsih menunduk lagi. Tangannya kembali mengaduk tanah.

“Dan satu lagi...”

Endric menunggu.

Ningsih mengangkat kepala. Matanya kini lebih kosong. “Kalau kamu lihat aku lagi, jangan mendekat.”

Endric mengernyit. “Kenapa?”

Ningsih tersenyum, tetapi kali ini ada sesuatu yang berbeda, lebih gelap.

“Karena mungkin itu bukan aku.”

Endric merinding. “Oke. Gue gak suka bagian itu.”

Gandhul mengangguk. “Gue juga.”

Tiba-tiba suasana berubah. Angin berhenti. Sunyi menjadi lebih berat.

Ningsih langsung menegang. Kepalanya menoleh ke arah dalam hutan.

“Mereka datang,” bisiknya.

Endric langsung waspada. “Siapa?”

Ningsih tidak menjawab. Ia berdiri dengan gerakan cepat, tidak seperti tadi.

“Pergi,” katanya. “Sekarang.”

Endric mundur satu langkah. “Kenapa?”

Ningsih menatapnya tajam. “Kalau kamu ketemu mereka di sini, kamu langsung dipilih.”

Endric tidak butuh penjelasan kedua. “Cabut, Ndhul.”

“Gas.”

Mereka langsung berbalik, berjalan cepat, lalu semakin cepat. Endric hampir berlari. Namun sebelum keluar dari hutan, Endric mendengar sesuatu.

Suara langkah menyerbu dari belakang.

Serempak.

Endric menoleh sekilas, lalu langsung membeku.

Di antara pepohonan, beberapa sosok berdiri. Wajahnya tidak jelas, tetapi bentuknya tidak manusia. Terlalu tinggi, terlalu kurus.

Dan semuanya menatap ke arah Endric.

“Ndhul,” bisiknya.

“Jangan lihat,” jawab Gandhul cepat.

Endric langsung menoleh ke depan lagi. “Gue udah lihat.”

“Makanya jangan dilihat!”

Langkah di belakang semakin dekat, cepat, dan tidak wajar. Endric mulai berlari.

“ANJIR, INI BENERAN DIKEJAR!”

“YA LARI LAH!”

Mereka keluar dari batas hutan. Cahaya langsung menyambut. Dan langkah itu berhenti mendadak.

Endric berhenti beberapa meter dari batas. Napasnya terengah. Ia menoleh pelan. Tidak ada apa-apa. Hutan kembali diam, seolah tidak pernah ada siapa pun.

Endric jatuh terduduk di tanah. “Gue hampir mati lagi.”

Gandhul mengangguk. “Betul.”

Endric menatapnya. “Gue baru sehari di sini.”

“Ya cepat Beradaptasi.”

Endric tertawa lelah. “Keren. Gue bangga sama diri gue.”

Gandhul ikut tertawa. Namun tawa itu berhenti saat Endric melihat sesuatu di tangannya. Tanah yang tadi ia pegang. Ada sesuatu di dalamnya.

Kecil.

Putih.

Endric mengerutkan kening, lalu membersihkan tanah itu pelan. Wajahnya langsung berubah. Itu bukan batu, Bukan pula kayu.

Itu potongan kuku manusia. Masih ada sedikit darah di ujungnya. Endric langsung menjatuhkannya.

“Ini dari mana?”

Gandhul menatap tanah itu, diam, lalu berkata pelan, “Lo gak sadar tadi... Ningsih pegang tangan lo?”

Endric pun terbengong.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!