Sinopsis: Singa yang Menunduk pada Mawar
Habib Ghibran Fahreza Al-Husayn adalah sosok "Singa" yang dingin dan kaku, hingga sebuah tragedi merenggut nyawa adiknya, Azlan, tepat sebelum hari pernikahan. Terikat janji dan kehormatan, Ghibran terpaksa melangkah maju menggantikan posisi adiknya untuk menikahi Syarifah Aira, wanita yang seharusnya menjadi adik iparnya. Di bawah atap Pesantren Al-Husayn, Ghibran harus belajar menundukkan egonya demi memenangkan hati Aira, hingga ia memutuskan mengganti nama pesantrennya menjadi Salsabila sebagai bentuk pengabdian cinta.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bayang di balik sutra
Pagi itu, Pesantren Salsabila kedatangan tamu yang tak biasa. Sebuah mobil mewah berwarna perak terparkir rapi di depan kantor yayasan. Seorang pria muda dengan setelan jas modis berpotongan modern keluar dari sana, membawa sebuah proposal besar. Ia adalah Arkananta, seorang pengusaha tekstil muda dari Jakarta yang sedang mencari mitra untuk proyek busana muslimah berkelanjutan.
Di dalam kantor, Ghibran menerima Arkananta dengan wajah formalnya yang biasa. Namun, atmosfer di ruangan itu seketika berubah ketika Arkananta mulai membicarakan tentang butik Aira.
"Saya sudah melihat portofolio milik Nyonya Aira Salsabila," ujar Arkananta dengan senyum yang sedikit terlalu lebar menurut standar Ghibran. "Bakatnya luar biasa. Pola metofora alam yang ia gunakan sangat unik. Saya berniat menawarkan kerjasama eksklusif untuk memasarkan karyanya ke pasar Eropa. Tentu saja, saya perlu bertemu langsung dengan beliau untuk mendiskusikan detailnya... secara pribadi."
Ghibran menyandarkan punggungnya di kursi jati, matanya menyipit tajam. Ada desiran tak nyaman yang merayap di dadanya—rasa posesif yang selama ini jarang ia tunjukkan secara terbuka.
"Segala urusan bisnis butik Aira dikelola melalui administrasi yayasan ini, Tuan Arkan," sahut Ghibran, suaranya terdengar sedingin es di kutub utara. "Dan jika menyangkut pertemuan pribadi, saya rasa itu tidak perlu. Saya adalah suaminya, sekaligus kepala dewan penasihat butik tersebut. Anda bisa bicara pada saya."
Arkananta tampak sedikit terkejut dengan nada bicara Ghibran yang sangat protektif. "Tentu, saya mengerti. Namun, visi seorang desainer sering kali tidak bisa disampaikan oleh orang kedua, bukan?"
Belum sempat Ghibran menjawab, pintu kantor terbuka. Aira masuk membawa beberapa sampel kain baru tanpa menyadari ketegangan yang sedang terjadi.
"Kak, aku ingin menunjukkan hasil bordir—" Aira terhenti saat melihat ada tamu.
Arkananta segera berdiri dan mengulurkan tangan dengan sangat sopan—atau mungkin terlalu sopan. "Nyonya Aira, sebuah kehormatan bisa bertemu langsung dengan pemilik bakat hebat ini."
Aira menyambut uluran tangan itu sekilas dengan ramah, namun sebelum tangannya sempat berlama-lama, Ghibran sudah berdiri di sampingnya. Ia meletakkan tangannya di pinggang Aira dengan gerakan yang sangat tegas, menandakan wilayah kekuasaannya tanpa perlu banyak bicara.
"Aira, Tuan Arkan hanya mampir sebentar untuk menyerahkan proposal," ujar Ghibran dengan suara yang mendadak lembut namun mengandung perintah tersirat. "Azka akan mengurus detailnya nanti. Kamu ada janji dengan Zivanna di paviliun sekarang, kan?"
Aira mengerjap, sedikit bingung karena ia merasa tidak punya janji mendesak. Namun, melihat rahang Ghibran yang mengeras, ia segera mengerti. "Ah, iya. Benar. Maaf, Tuan Arkan, saya harus pergi dulu."
Begitu Aira keluar, Ghibran kembali menatap Arkananta. "Saya rasa proposal Anda cukup sampai di sini hari ini. Kami akan memberikan jawaban tertulis minggu depan."
Lampu Hijau untuk Si Pengantar Donat
Di paviliun belakang, suasana jauh lebih hangat. Azka sedang membantu Zivanna memindahkan beberapa kotak stok kain ke dalam lemari penyimpanan. Keringat membasahi dahi Azka, namun ia tampak sangat bersemangat.
"Mas Azka, istirahatlah dulu. Biar saya yang lanjutkan," ujar Zivanna sambil menyodorkan segelas air putih dingin.
Azka meneguk air itu hingga tandas, lalu menyeka bibirnya. "Hanya begini saja tidak akan membuatku pingsan, Ziva. Dulu saat latihan bela diri dengan Ghibran, aku pernah disuruh push-up di atas kerikil panas."
Zivanna tertawa kecil. "Kenapa Mas Azka betah sekali berteman dengan pria kaku seperti Mas Ghibran?"
"Karena di balik kekakuannya, dia punya hati yang besar. Dan sekarang..." Azka menatap Zivanna dengan tatapan yang tulus, "...aku juga menemukan alasan kenapa aku sangat betah berada di pesantren ini setiap hari."
Zivanna terdiam, tangannya yang sedang merapikan kain berhenti bergerak. Ia menatap Azka, mencari-cari apakah ada kebohongan di sana, namun ia hanya menemukan kesungguhan.
"Mas Azka... saya ini wanita dengan masa lalu yang rumit. Saya punya Rayyan, dan saya—"
"Ziva," potong Azka lembut. Ia memberanikan diri mendekat, namun tetap menjaga jarak yang sopan. "Masa lalu adalah halaman yang sudah tertutup. Aku tidak peduli siapa yang ada di sana sebelumnya. Yang aku peduli adalah siapa yang ada di depanku sekarang. Rayyan... aku menyayanginya seolah dia keponakanku sendiri. Dan ibunya... aku ingin menjaganya lebih dari sekadar staf butik."
Zivanna menunduk, matanya berkaca-kaca. Untuk pertama kalinya setelah sekian lama, ia merasa benar-benar berharga. Ia memberikan sebuah anggukan kecil, sebuah "lampu hijau" yang membuat hati Azka serasa ingin meledak kegirangan.
"Jadi... boleh aku datang lagi besok pagi membawa martabak telur kesukaanmu?" tanya Azka dengan cengiran lebarnya.
Zivanna tersenyum malu-malu. "Martabak telur boleh, Mas. Tapi jangan donat terus, nanti Rayyan bosan melihat warna-warni gulanya."
Posesif sang Singa
Malam harinya, Ghibran masih tampak sedikit gusar. Di dalam kamar, ia hanya diam sambil membaca buku, namun bukunya terbalik. Aira yang menyadari hal itu hanya bisa menahan tawa saat ia sedang memakai krim malam.
"Kak, bukunya menarik?" tanya Aira menggoda.
Ghibran tersentak, segera membenarkan posisi bukunya dengan wajah datar yang dipaksakan. "Lumayan."
Aira berjalan menghampiri, duduk di pangkuan Ghibran secara tiba-tiba—sebuah tindakan yang selalu berhasil meluluhkan pertahanan suaminya. Ia mengalungkan lengannya di leher Ghibran.
"Kakak cemburu pada Tuan Arkan tadi pagi?" bisik Aira di telinga Ghibran.
Ghibran mendesah pasrah, ia meletakkan bukunya dan memeluk pinggang Aira erat-erat. "Pria itu menatapmu seolah kau adalah berlian yang bisa dia beli, Aira. Aku tidak suka caranya memujimu. Kau adalah milikku, dan bakatmu bukan untuk dipermainkan oleh pengusaha flamboyan seperti dia."
Aira tertawa renyah, ia mencium ujung hidung Ghibran. "Kakak lucu sekali kalau sedang posesif begini. Tapi Kakak tenang saja, berlian ini sudah ada pemiliknya yang sah, yang sudah memegang kuncinya dengan sangat rapat."
Ghibran menatap mata Aira, rasa gusarnya seketika menguap digantikan oleh gelora kasih sayang. Ia menarik Aira lebih dekat, mencium bibir istrinya dengan penuh tuntutan—sebuah ciuman yang menandakan kepemilikan mutlak.
"Jangan pernah tersenyum pada pria lain seperti itu lagi, Salsabila," gumam Ghibran di sela ciuman mereka.
"Hanya untukmu, Kak. Hanya untukmu," sahut Aira lirih.
Malam itu, Ghibran memastikan bahwa istrinya benar-benar tahu siapa "Singa" yang sesungguhnya di rumah itu. Kelembutan dan gairah menyatu dalam simfoni cinta yang semakin dalam, mengukir janji baru di setiap sentuhan.
Happy reading sayang...
Baca juga cerita bebu yang lain...
Annyeong love...
jngan Bilang yaa punya Anak Di Luar Nikah 🤣😂😂