NovelToon NovelToon
Dokter Meets Mafia

Dokter Meets Mafia

Status: sedang berlangsung
Genre:Romansa / Mafia / Dokter
Popularitas:8.6k
Nilai: 5
Nama Author: kikoaiko

Di balik jas putih yang bersih, seorang dokter muda bernama Evelyn Lavina hanya ingin menjalani hidup yang tenang, menyelamatkan nyawa dan melupakan masa lalunya yang kelam. Namun takdir mempertemukannya dengan seorang pria yang seharusnya tidak pernah ia kenal.

Enzo Bellucci, pria tampan dengan tatapan dingin yang disegani banyak orang. Di dunia bisnis, ia dikenal sebagai pengusaha sukses. Tetapi di balik itu, ada sisi gelap yang tidak diketahui banyak orang, di merupakan seorang pemimpin mafia yang berbahaya.

Pertemuan mereka bermula di sebuah jalan, ketika Evelyn hendak perjalanan pulang. Saat di lampu merah, tiba seorang laki-laki asing masuk kedalam mobilnya dengan luka tusuk di perutnya.


Evelyn yang seorang dokter akhirnya membawa pria tersebut ke rumah sakit untuk menyelamatkan nyawanya.


Sejak saat itu, hidup Evelyn berubah. Ia terjebak dalam dunia yang penuh rahasia, kekuasaan, dan bahaya.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon kikoaiko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Lampu-lampu rumah sakit mulai meredup, menandakan pergantian waktu menuju malam yang semakin larut. Suasana yang sejak tadi dipenuhi kepanikan kini perlahan berubah menjadi lebih tenang, meskipun jejak kelelahan masih jelas tergambar di wajah para tenaga medis.

Di salah satu lorong, Evelyn berdiri sambil merapikan pakaiannya. Bahunya terasa berat, bukan hanya karena fisik yang terkuras, tapi juga karena tekanan emosional yang ia tahan sejak menangani pasien demi pasien tanpa jeda. Keningnya sedikit berkerut, dan napasnya ia hembuskan perlahan, mencoba menenangkan diri.

"Eve, kamu sudah makan belum? Aku lihat dari tadi kamu sibuk," tanya Jihan yang tiba-tiba muncul di sampingnya.

Evelyn menoleh, sedikit terkejut, lalu tersenyum tipis. "Belum sempat, Han. Dari tadi banyak banget pasien yang harus aku tangani," keluhnya jujur. Suaranya terdengar lelah, bahkan lebih lelah dari yang ingin ia tunjukkan.

Jihan mengamati sahabatnya itu dengan tatapan penuh pengertian. Ia tahu betul bagaimana kerasnya Evelyn bekerja, apalagi saat kondisi darurat seperti tadi. Tanpa banyak kata, Jihan menepuk pelan bahu Evelyn, mencoba memberi sedikit semangat.

"Korban kecelakaan tadi memang lumayan banyak. Kami semua dokter juga pada sibuk menangani pasien," ujar Jihan. Ia lalu tersenyum hangat, "Tapi bersyukur sekarang sudah selesai."

Evelyn mengangguk pelan. Ia menoleh sekilas ke arah ruang perawatan, seolah memastikan semuanya benar-benar terkendali. Dalam hatinya, ia juga merasa lega. Tidak semua hari berakhir sebaik ini.

"Ayo ke kantin, kita makan malam dulu," lanjut Jihan sambil menarik ringan lengan Evelyn.

Evelyn sempat terdiam sejenak. Perutnya memang sudah terasa kosong sejak lama, tapi pikirannya masih tertinggal di ruang-ruang pasien yang tadi ia tangani. Namun akhirnya, ia mengangguk.

"Iya… mungkin aku memang butuh makan," jawabnya pelan.

Mereka berdua berjalan berdampingan menyusuri lorong rumah sakit yang kini lebih lengang. Langkah mereka terdengar pelan, seirama dengan suasana malam yang mulai sunyi. Sesekali, mereka berpapasan dengan perawat yang masih berjaga, saling melempar senyum lelah sebagai bentuk solidaritas tanpa kata.

Saat memasuki kantin, suasana berbeda langsung terasa. Tidak terlalu ramai, tapi cukup hidup dengan beberapa tenaga medis lain yang juga sedang mengisi tenaga. Aroma makanan hangat menyambut, membuat perut Evelyn semakin terasa perih.

Jihan langsung mengambil nampan, diikuti oleh Evelyn yang masih terlihat sedikit linglung. Ia seperti baru tersadar betapa laparnya dirinya saat melihat deretan makanan di hadapannya.

"Kamu harus makan yang banyak, Eve. Dari tadi kerja terus," ujar Jihan sambil memilih makanan.

Evelyn hanya tersenyum kecil. "Aku bahkan nggak sadar kalau sudah selapar ini," gumamnya.

Mereka pun duduk di salah satu meja di sudut kantin. Untuk beberapa saat, tidak ada percakapan. Hanya suara sendok dan garpu yang saling beradu dengan piring. Evelyn makan dengan perlahan, tapi pasti. Setiap suapan terasa seperti mengembalikan sedikit demi sedikit energinya yang hilang.

Namun di balik ketenangan itu, pikirannya masih berkelana.

Bayangan pasien-pasien yang ia tangani tadi terus terlintas. Wajah-wajah penuh luka, darah, dan ketakutan. Dan di antara semua itu… entah kenapa, sosok Enzo kembali muncul di benaknya.

Evelyn menghentikan makannya sejenak.

"Kenapa?" tanya Jihan, menyadari perubahan ekspresi sahabatnya.

Evelyn menggeleng pelan. "Nggak apa-apa… cuma kepikiran pasien tadi," jawabnya singkat, meskipun sebenarnya ada sesuatu yang lebih dari itu.

Jihan tidak memaksa. Ia hanya mengangguk, lalu tersenyum ringan. "Yang penting sekarang kamu istirahat dulu. Kita sudah melakukan yang terbaik hari ini."

Evelyn menatap Jihan sejenak, lalu tersenyum lebih tulus. "Iya… mungkin kamu benar."

Suasana kantin semakin tenang seiring waktu yang terus berjalan menuju larut malam. Hanya tersisa beberapa tenaga medis yang masih duduk sambil menikmati makan malam mereka dengan wajah lelah namun lega.

Evelyn dan Jihan duduk berhadapan di meja sudut. Mereka melanjutkan makan dengan perlahan, memasukkan makanan ke dalam mulut sambil sesekali berbincang ringan untuk mengusir penat.

"Bagaimana hubunganmu dengan Farhan?" tanya Jihan tiba-tiba, memecah jeda di antara mereka.

Evelyn yang sedang mengunyah sedikit terdiam. Pertanyaan itu membuat gerakannya melambat. Ia menelan makanannya terlebih dahulu sebelum menjawab, meskipun sorot matanya berubah sedikit redup.

"Sejak awal aku tidak memiliki hubungan apa-apa dengan dia," ucap Evelyn pelan. Ia menunduk menatap makanannya, seolah mencari sesuatu di sana. "Dia tidak menyukaiku… dia lebih menyukai dokter koas itu."

Nada suaranya terdengar datar, tapi ada sesuatu yang tersembunyi di baliknya, kekecewaan yang sudah lama ia pendam.

Farhan, dokter spesialis penyakit dalam di rumah sakit tempat Evelyn bekerja, memang sudah lama menarik perhatiannya. Sikapnya yang tenang, cara bicaranya yang dewasa, serta kepintarannya membuat Evelyn diam-diam menyimpan rasa. Namun sayangnya, perasaan itu hanya bertepuk sebelah tangan.

Jihan menghela napas pelan. Ia sudah menduga jawaban itu, tapi tetap saja tidak tega melihat sahabatnya harus merasakan hal seperti ini.

"Lebih baik kamu cari laki-laki lain aja," ujar Jihan sambil menatap Evelyn dengan serius. "Yang lebih tampan dari dokter Farhan. Tidak ada gunanya juga kamu menyukai laki-laki yang tidak menyukaimu."

Evelyn tersenyum tipis mendengar itu. Senyum yang lebih terasa sebagai bentuk penerimaan daripada kebahagiaan.

"Mudah buat kamu ngomong begitu," balasnya pelan, setengah bercanda, setengah jujur.

Jihan langsung menyikut ringan lengan Evelyn. "Ya memang harus begitu. Kamu itu cantik, pintar, dan baik. Banyak yang pasti lebih menghargai kamu dibanding dia."

Evelyn terdiam sejenak. Kata-kata itu sebenarnya menghangatkan hatinya, tapi tetap saja… perasaan tidak bisa diatur semudah itu.

Ia menghela napas panjang, lalu kembali mengambil sendoknya.

"Mungkin… aku cuma butuh waktu," gumamnya lirih.

Jihan mengangguk pelan. Ia tidak memaksa lagi. Baginya, yang terpenting Evelyn tidak terus terjebak dalam perasaan yang menyakitkan.

Mereka kembali melanjutkan makan malam itu. Obrolan pun berganti menjadi hal-hal ringan, sesekali diselingi tawa kecil yang akhirnya berhasil mencairkan suasana.

Namun di dalam hati Evelyn, ia tahu satu hal pasti, malam ini bukan hanya tentang rasa lelah karena pekerjaan, tapi juga tentang belajar melepaskan sesuatu yang sejak lama ia simpan sendiri.

1
Atik Marwati
keren....lanjut thor
Atik Marwati
keren thor seneng baca interaksi Enzo sama Evelyn ditambah jula...
Atik Marwati
musuh sesungguhnya yang tak bisa ditebak
Bu Dewi
lanjut kak😍😍😍
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣...dimakan mucang katanya👻👻👻👻
Atik Marwati
semangat Evelyn kamu akan dapatkan enzo😂
Atik Marwati
🤣🤣🤣🤣🤣 teryata drama
Abidin Ariawan
,,, cerita semacam ini,, gengster/mafia,, biasanya menghindari RS , bahkan punya dokter/tenaga medis sendiri meski ilegal,, untuk menghindari hukum/aparat,, apalagi bos nya lebih privat lagi,,, tp dicerita ini,,, terserah penulis siih
Atik Marwati
dia ketua mafia..
tapi sering kena tembak🧐🧐🧐
Atik Marwati
mohon maaf lahir dan batin
stela aza
dikit bener 🤦
Nia Nara
Thor lanjut dong..
Atik Marwati
dokter Evelyn kamu keren🥰🥰🥰
Atik Marwati
🤣🤣🤣 salah sendiri kabur kaburan..
Atik Marwati
kurang perhitungan Enzo di lawan
Atik Marwati
tar pasti tahu tahu Enzo udah ada di kamar rawatnya lagi🤣🤣
stela aza
lanjut thor up-nya double y
Atik Marwati
mau perang dia gak betah tidur lama lama😂😂
Atik Marwati
sudah ku duga🤭🤭🤭🤭
Atik Marwati
ditunggu kebucinan mafia enzo🧐🧐🧐🧐
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!