NovelToon NovelToon
KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

KATA BUMI : Penguasa Diatas Penguasa

Status: tamat
Genre:Action / Romantis / Tamat
Popularitas:96
Nilai: 5
Nama Author: maulidiyahdiyah

Dentang waktu yang terus berputar, menyisakan kesunyian di gelap malam. Deru nafas yang memburu buatnya lupa akan kelamnya dunia.

Sunyi bukan sepi yang melanda, luka bukan duka yang datang. Un All Neat Each Time !
...

Derap langkah kaki di sudut kasino.
"Hei bung!, serahkan dia padaku, i'm sure you quiet". Sarkasnya
"Oh,

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon maulidiyahdiyah, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Darren dan Diksa

‘TING’

Suara notifikasi pesan berulang kali datang dari ponsel yang sengaja kusimpan di saku celana, biarkanlah aku mengabaikan itu karena aku tahu tidak semuanya bisa kulakukan dalam satu waktu. Aku membelokkan Ninja R3 ke sebuah Coffeeshop terbesar di Ibu Kota, kemudian aku masuk ke dalam Cofffeeshop terbesar dan terkenal itu.

“Selamat datang kak”. Ucap karyawan pada setiap pelanggan yang datang, hal itu termasuk dalam penilaian bisnis, sebagai pelanggan aku meresponnya singkat dengan senyuman. Kemudian kaki panjangku melangkah ke tempat pemesanan di coffeeshop.

“Selamat datang, kakak ingin memesan apa?”. Ucap karyawan coffeeshop.

“Americano enam shot”. Singkatku dengan ekspresi harianku yaitu ‘datar’. Namun di tempat pemesanan sebelahku ada seseorang yang membuat hancur mood yang dibangun oleh Kenny dan Gavin tadi.

“Kak Espresso dua”. Pesan seorang pria di sebelahku yang mana pria itulah yang pergi bersama Elisia di supermarket kala itu, aku selalu fokus menatapnya sampai tak sadar jikalau aku di panggil oleh Si Karyawan.

“Oh, iya maaf”. Sahutku sebelum berbalik menuju meja yang di sediakan.

Aku memilih tempat ini karena view danau buatan yang indah serta interiornya memanjakan mata, cocok untuk kaum-kaum yang tengah bingung akan arah.

“Halo, kita bertemu lagi”. Tiba-tiba pria tadi duduk di hadapanku tanpa seizinku.

“Kak ini tempat orang”. Tukas pria lain yang kuduga sebagai adiknya. Dia semakin membuatku kesal, saking kesalnya aku menenggak enam shot Americano tadi hingga tandas, detik berikutnya kutaruh gelas di meja dengan keras sampai mengeuarkan suara yang mampu mengundang perhatian.

“Apa tidak ada tempat lain?”. Tanyaku yang mengandung kata mengusir secara halus tanpa menatap wajahnya yang membuatku kesal.

“Lihatlah sendiri”. Tangkasnya yang spontan kulakukan, kedua netraku menyapu pandangan ke seluruh penjuru Coffeeeshop, yah nyatanya memang penuh.

“Kalau begitu pergilah”. Aku hanya mengasal menyuruhnya pergi walaupun aku berharap dia melakukan itu.

“Memangnya kamu siapa menyuruhku pergi, pemilik Coffeeshop, bukan kan”. Cibir pria tersebut. Karena dia memancingku maka aku akan menunjukkan sisi ugal-ugalanku, tidak baik mereka membuatku seperti ini. Kuraih ponsel mencari kontak Kadek disana.

‘KADEK IS CALLING ROOM’

‘Ada perlu apa tuan muda?, penyelidikan yang itu belum menunjukkan tanda berhasil’. Panik Kadel di seberang sana.

‘Beli Coffeeshop Grey paling besar di Ibu Kota’. Entengku.

‘Yang benar saja...’. Belum usai Kadek memprotes aku sudah menyangkalnya balik.

‘Jangan membantah’. Sergahku yang kemudian langsung kuakhiri telfonnya.

“Bagaimana Coffeeshop Grey ini milikku”. Aku menyodorkan ponsel yang terlihat surat akuisi dari E.C Group milik Pradipta. Pria itu terkekeh.

“Kita belum saling mengenal”. Ucap pria itu.

“Yah baiklah, kita perkenalan”. Timpalku diiringi seringai.

“Aku Darren”. Pria itu mengangkat sebelah alisnya seraya menjulurkan tangannya.

“Kaisar Bumantara”. Tukasku tanpa menyebutkan marga Pradipta yang tersemat diantara Kaisar dan Bumantara, kemudian aku menjabat tangannya dengan senang hati.

“Wow, kau putra bungsu keluarga Bumantara”. Sahutnya, aku terpikir satu hal, sepertinya Darren ini bukan orang semberangan lebih baik aku waspada dengannya.

‘PROK, PROK’

Dengan wajah menyebalkan ia malah bertepuk tangan, tentu saja hal itu semakin membuatku kesal.

“Kalau begitu perkenalkan ini adikku Diksa Alkena dan namaku Darren Faraday”. Imbuh Darren. Entahlah, spontan aku tertawa kecil mendengar nama mereka, sebab ‘Alkena’ adalah salah satu materi kimia organik sedangkan Faraday adalah nama dari salah satu hukum dalam fisika.

“Keluargamu berpendidikan”. Gumamku samar, atensiku teralih kala mendengar notifikasi dari ponsel yang mana datang dari aplikasi instagram.

‘@DIKSYOU IS FOLLOWING YOU’

“Ini kamu”. Ucapku kepada Diksa yang tengah bermain game Mobile Legends Bang-bang.

“Iya, anggap saja pertemanan”. Lagi-lagi Darren yang menanggapi, kulirik Darren sinis, apa dia memang mencoba memprovokasiku?.

“Pergi kalian”. Sergahku yang sudah sangat kesal dibuatnya.

“Ayolah, izinkan kami duduk disini”. Bujuk Darren sembari menenggak Espresso hingga tandas. Aku menatap penuh tanya, kuamati tiap gerak-geriknya, kuingat caranya mengekspresikan diri. “Dia tidak berbahaya, hanya saja sulit ditebak”. Batinku diiringi kekehan.

Satu menit kami bertiga terdiam sampai aku memecahkan kecanggungan dengan menyodorkan unlimited card yang berisi kisaran 371 trillion sebagai uang jajanku.

“Boleh duduk disini...”. Darren terkekeh mendengar ucapanku yang belum usai.

“Dengan syarat pesankan aku Americano sebelas shot”. Lanjutku sembari mengisyaratkan mata menunjuk unlimited card tadi.

“Sialan”. Umpat Darren sebelum akhirnya beranjak berdiri dari kursi untuk memesan kopi lagi.

Usai Darren beranjak aku mengalihkan pandangan dan menghela nafas selega-leganya. Harusnya segelas kafein ini mampu merelaksasikan pikiranku dan mengistirahatkan saraf-sarafku, namun semua berubah hanya karena bertemu dengan Darren.

Kembali aku menyapu pandangan ke seluruh penjuru Coffeeshop Grey itu yang kini sudah menjadi milikku, hingga netraku tertuju kepada Diksa yang masih setia dengan benda pipih di tangannya.

“Kamu fakultas apa?”. Tanyaku kepada Diksa, sebab ia sedang mengenakan jas almamater Maldiv’s International University.

“Humaniora”. Celetuknya entah mengasal ataupun tidak, hal itu membuatku berkerut.

“Humaniora tapi sangat cuek”. Lanjutku.

“Karena aku keren”. Lagi-lagi ia menyeletuk asal bahkan diluar ekspektasiku. “Dasar asal bunyi”. Gumamku.

“Semester?”.

“Five”.

“Oh, kita satu angkatan”. Timpalku.

‘TAK’

Tiba-tiba segelas Americano berada di hadapanku, siapa lagi kalau bukan Darren yang kusuruh tadi. Aku biadab, oh maaf aku tidak peduli, karena itu konsekuensi dari merusak mood baikku.

“Sudah kuturuti permintaanmu, kini aku ingin bertanya”. Ucap Darren lugas.

Aku berkerut, apa mungkin hanya perasaanku saja jikalau nada bicaranya Darren berubah, kini beralih terkesan dingin dan tegas.

“Apa urusanmu mengincar Elisia?”. Spontan aku tertawa dengan cibiran tang tersirat di tawa itu.

Kini aku tahu, dia sangat menyayangi Elisia sebagai kekasihnya.

“Aku tidak mengincarnya”. Sahutku santai.

Hening sejenak usai aku meyahutinya sampai aku beranjak berdiri.

“Miliki saja dia, aku memang mencintainya namun aku tidak memaksa kehendaknya. Aku cukup senang melihat dia bahagia meski seluruh isi dunia ini terasa menertawakanku”. Ujarku panjang sebelum melenggang pergi dari hadapan mereka berdua, bodohnya tanpa sadar aku mengatakan mencintai Elisia.

Sungguh perasaanku diporak-porandakan olehnya yang hanya lewat sekejap.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!