Di panggung, Laras adalah doa yang dipanjatkan lewat gerak tubuh. Setiap jengkal gerak Laras adalah perpaduan antara kesucian tradisi dan kelembutan yang menghanyutkan. Ia adalah bidadari yang dikagumi banyak mata, namun hatinya tetap tulus, tak tersentuh oleh gemerlap dunia yang fana.Di dunianya, Elang adalah hukum yang tak terbantahkan.Sebagai pemilik nightclub terbesar di ibu kota, Elang terbiasa dengan kegelapan, dentum musik yang memekakkan, dan kepatuhan mutlak. Baginya, hidup adalah tentang kendali. Ia dingin, tegas, dan tak pernah membiarkan apa pun lepas dari genggamannya.Dua dunia yang tak seharusnya bersinggungan itu bertabrakan saat Elang melihat Laras menari. Bagi orang lain, Laras adalah sebuah pertunjukan seni. Namun bagi Elang, Laras adalah kepemilikan.Elang tidak hanya ingin melihat Laras menari; ia ingin mengurung sang penari dalam dunianya yang gelap. Ia ingin menjadi satu-satunya pria yang menyaksikan setiap lekuk gemulai dan kerlingan mata Laras yang mematikan.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DearlyBoa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kebebasan yang Semu
Pagi di Sydney seharusnya menjadi penyemangat, namun bagi Laras, pantulan cahaya matahari yang berkilau di atas perairan Circular Quay hanya menambah rasa silau di kepalanya. Sebelum kaki jenjangnya melangkah keluar untuk latihan rutin di Opera House, ada satu ritual wajib yang tidak boleh terlewatkan: laporan suara kepada Sang Pemilik.
Laras duduk di tepi ranjang, menggenggam ponselnya yang terus bergetar. Nama "Elang" tertera di layar, seolah-olah pria itu sedang menatapnya langsung dari Jakarta.
"Halo, Elang," sapa Laras pelan.
"Bagaimana tidurmu, Sayang? Amy bilang kamu bangun sedikit terlambat hari ini. Apa kasurnya kurang nyaman? Atau suhu ruangannya terlalu dingin?" Suara Elang terdengar berat, otoriter, namun terselip nada kecemasan yang posesif.
"Semua baik, Elang. Aku hanya sedikit lelah karena latihan kemarin," jawab Laras, mencoba menjaga nadanya tetap stabil. "Elang... sebelum aku berangkat latihan siang nanti, bolehkah aku meminta sesuatu?"
Ada jeda sejenak di seberang telepon. Elang tidak suka kejutan, terutama jika itu menyangkut rencana yang sudah ia susun dengan presisi. "Katakan."
"Aku ingin pergi ke pusat perbelanjaan di Pitt Street Mall. Aku butuh beberapa pakaian santai dan... aku ingin melihat-lihat sendiri. Aku bosan hanya berada di antara apartemen dan ruang latihan," Laras memohon, suaranya mengandung nada putus asa yang halus.
Jawaban Elang datang secepat kilat. "Tidak, Laras. Itu terlalu berisiko. Pusat perbelanjaan di sana sangat ramai, banyak turis, dan keamanannya sulit dikontrol sepenuhnya oleh timku. Jika kamu butuh pakaian, katakan saja merek dan ukurannya. Aku akan menghubungi personal asisten di sana untuk mengirimkan sepuluh hingga dua puluh pilihan langsung ke apartemenmu siang ini. Kamu bisa memilihnya di dalam kamar dengan tenang."
Laras memejamkan mata, tangannya meremas sprei sutra di bawahnya. "Tapi aku ingin memilihnya sendiri, Elang! Aku ingin merasakan bagaimana rasanya masuk ke toko, menyentuh kainnya, dan mencoba di kamar ganti seperti orang normal. Aku tidak mau pakaian yang dipilihkan oleh asistenmu. Aku ingin pilihanku sendiri!"
"Larasati..." Suara Elang merendah, sebuah peringatan. "Aku melakukan ini agar kamu tidak lelah. Mengapa harus membuang energi berjalan di keramaian jika segalanya bisa didatangkan kepadamu?"
"Ini bukan soal energi, ini soal kebebasan!" Laras meledak kecil, sebuah tindakan yang jarang ia lakukan. "Sekali saja, Elang. Biarkan aku memilih bajuku sendiri tanpa harus menunggu persetujuanmu atas katalog yang dikirimkan. Aku merasa seperti boneka yang bahkan tidak tahu apa warna kesukaannya sendiri karena semua sudah kau tentukan!"
Di Jakarta, Elang yang sedang duduk di kursi kebesarannya, memijat pangkal hidungnya. Kepalanya mendadak berdenyut nyeri. Ia tidak mengerti mengapa Laras menjadi begitu keras kepala soal hal-hal sepele seperti belanja. Baginya, memberikan kemudahan adalah bentuk cinta, namun bagi Laras, itu adalah rantai.
"Kamu mulai menguji kesabaranku, Laras," gumam Elang, suaranya dingin. "Apakah udara Sydney membuatmu lupa siapa yang memastikanmu bisa berdiri di panggung itu?"
"Aku tidak lupa, Elang. Tapi aku juga manusia. Aku butuh udara yang tidak disaring oleh protokol keamananmu," suara Laras melemah, kini berganti menjadi isakan halus.
Mendengar suara tangis itu, Elang memejamkan mata rapat-rapat. Sakit kepalanya semakin menjadi-jadi. Ia benci saat Laras menangis, karena itu membuatnya merasa gagal sebagai pelindung, sekaligus membuatnya ingin semakin mengurung wanita itu agar tidak ada lagi hal yang bisa membuatnya sedih.
"Baiklah," ucap Elang akhirnya dengan nada terpaksa. "Hanya dua jam. Dan Amy harus berada tidak lebih dari satu meter di sampingmu. Dua pengawal lain akan berjaga di depan pintu setiap toko yang kamu masuki. Jika Amy merasa situasi tidak kondusif, kamu harus segera kembali ke apartemen tanpa bantahan. Mengerti?"
Laras menghapus air matanya, ada sedikit rasa kemenangan yang pahit di hatinya. "Terima kasih, Elang."
"Jaga dirimu. Aku akan memantau lokasimu melalui perangkat Amy," Elang menutup telepon tanpa menunggu jawaban.
*
Setelah sambungan terputus, Elang melempar ponselnya ke atas meja kerja yang terbuat dari kayu jati mahal. Ia menyandarkan punggungnya, menatap langit-langit ruang kerjanya yang tinggi. Sakit kepala itu tak kunjung hilang.
Ia tidak mengerti. Ia telah memberikan segalanya—berlian biru yang melingkar di jari Laras, pengakuan publik, perlindungan terbaik, bahkan karier internasional yang diimpikan jutaan orang. Namun, Laras seolah selalu mencari celah untuk memberontak, bahkan dalam hal sekecil memilih pakaian.
"Mengapa dia harus mengujiku seperti ini?" gumam Elang pada kesunyian. "Apakah dia tidak sadar betapa sulitnya aku menahan diri untuk tidak mengurungnya di sini, di ruang bawah tanah rumah ini, agar aku tidak perlu merasa cemas setiap detik?"
Bagi Elang, permintaan Laras untuk "bebas" adalah ancaman bagi kestabilan dunianya. Ia merasa seolah-olah jika ia memberikan satu inci kebebasan, Laras akan mengambil satu mil, dan akhirnya terbang menjauh dari jangkauan sayapnya.
***
Beberapa jam kemudian, Laras sudah berada di Westfield Sydney. Namun, apa yang ia bayangkan sebagai "belanja bebas" ternyata jauh dari kenyataan.
Amy berjalan tepat di sampingnya, matanya seperti radar yang memindai setiap orang yang lewat. Dua pengawal pria mengikuti beberapa langkah di belakang, menciptakan barikade tak kasat mata yang membuat pengunjung lain menepi karena merasa terintimidasi.
Laras masuk ke sebuah butik pakaian dalam dan baju tidur. Ia mencoba menyentuh kain sutra tipis yang tergantung di sana. Untuk sejenak, ia merasa senang bisa melihat warna-warna pastel yang indah. Namun, saat ia hendak mengambil sebuah gaun tidur berwarna putih tulang, ia merasakan tatapan Amy.
"Nona, gaun itu terlalu transparan. Tuan Elang memberikan catatan bahwa pakaian Anda tidak boleh terlalu mengekspos bagian tubuh secara berlebihan, bahkan di dalam kamar sekalipun, jika ada pelayan yang masuk," ucap Amy dengan suara datar namun tegas.
Laras menghela napas panjang, meletakkan kembali gaun itu. "Aku sedang memilih untuk diriku sendiri, Amy. Bukan untuk pelayan."
"Saya hanya menjalankan tugas, Nona. Saya tidak ingin Tuan marah saat melihat laporan belanja Anda nanti," Amy mengingatkan.
Laras terus berjalan, mencoba beberapa pakaian di kamar ganti. Namun, rasa senang itu segera menguap. Setiap kali ia keluar dari kamar ganti untuk melihat cermin besar di luar, ia tidak hanya melihat pantulan dirinya, tapi juga melihat Amy yang berdiri tegak dan dua pengawal yang berjaga di depan pintu kaca butik.
Orang-orang di sekitar mulai berbisik, penasaran siapa wanita yang dikawal seketat itu. Laras merasa seperti tontonan sirkus. Ia ingin merasa bebas, tapi kehadiran mereka justru mengingatkannya bahwa ia adalah "aset berharga" yang sedang dipamerkan sekaligus disembunyikan.
Setelah satu setengah jam, Laras akhirnya membeli dua gaun santai dan beberapa pakaian latihan yang ia pilih sendiri—walaupun harus melalui "sensor" halus dari Amy. Saat mereka berjalan kembali menuju mobil, Laras menghirup udara Sydney yang dingin.
Ia merasa menang karena berhasil keluar, namun ia juga merasa kalah karena menyadari bahwa ke mana pun ia pergi, bayangan Elang selalu ada. Elang mungkin berada ribuan kilometer jauhnya di Jakarta, namun melalui mata Amy dan perintah-perintah yang keluar dari ponselnya, Elang hadir di setiap langkah kaki Laras.
Saat masuk ke dalam SUV hitam, Laras menatap tas belanjaannya. Pakaian-pakaian itu kini terasa tidak terlalu istimewa. Ternyata, kebebasan yang ia perjuangkan tadi hanya sejauh tali kendali yang dipegang oleh Elang. Dan di Jakarta, Elang sedang menunggu laporan detail dari Amy, masih dengan sakit kepala yang sama, bertanya-tanya kapan Laras akan berhenti mencoba untuk terbang sendiri.