NovelToon NovelToon
Satu Menit Sebelum Mahkota

Satu Menit Sebelum Mahkota

Status: sedang berlangsung
Genre:Perjodohan / Cinta Istana/Kuno / Cinta Terlarang
Popularitas:871
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

Arlo Valerius muak menjadi pangeran. Baginya, mahkota adalah beban dan perjodohannya dengan Putri Helena adalah penjara. Namun, di Sayap Utara istana yang berdebu, ia menemukan dunianya: Kalea Elara, gadis tukang cat yang bicaranya setajam silet.

Di antara debu kapur dan rahasia istana, Arlo belajar tentang kejujuran yang tak pernah ada di balik gaun sutra. Namun, saat Helena mulai mengancam nyawa Kalea, Arlo harus memilih: Tetap menjadi pangeran yang sempurna, atau meruntuhkan tahtanya demi gadis yang ia cintai.

Satu menit sebelum penobatan, Arlo memilih untuk kehilangan segalanya demi satu detik kenyataan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 17

Beberapa orang menghabiskan seluruh hidup mereka hanya untuk mengejar sebuah nama yang bisa dituliskan dengan tinta emas di atas perkamen sejarah. Mereka rela menukar jam tidur, kejujuran, bahkan harga diri hanya agar dunia mengenali mereka melalui deretan gelar yang panjang dan berdentang saat diucapkan. Namun, ada satu hal yang sering kali mereka lupakan; bahwa semakin banyak kata yang ditambahkan di depan nama kita, semakin sedikit ruang yang tersisa bagi diri kita yang sebenarnya untuk bernapas. Gelar adalah pakaian yang bagus, namun ia tidak pernah dirancang untuk membuat pemakainya merasa nyaman. Ia dirancang agar orang lain merasa silau, sementara pemakainya perlahan-lahan menghilang di balik lipatan kainnya yang berat.

Arlo berdiri di tengah ruangannya di Menara Barat, menatap seberkas cahaya yang jatuh miring di atas lantai batu yang retak. Cahaya itu tidak membawa kehangatan, hanya membawa partikel debu yang menari-nari dalam kesunyian yang mencekik. Arlo tidak lagi mengenakan kemeja sutra putih yang ia pakai saat di altar. Ia mengenakan kemeja katun kasar pemberian Cedric—kemeja yang biasanya dipakai oleh para pembantu di gudang bawah tanah. Rasanya gatal di kulit, jahat di beberapa sisi, namun entah kenapa, Arlo merasa kemeja ini jauh lebih jujur daripada segala sutra yang pernah menyentuh tubuhnya.

Ia mengangkat tangan kanannya, menatap cincin segel kerajaan yang masih melingkar di jari manisnya. Emas murni dengan ukiran singa yang sedang mengaum. Cincin itu adalah otoritas. Cincin itu adalah suara Aethelgard. Dan hari ini, cincin itu akan menjadi benda terakhir yang ia lepaskan.

Langkah kaki terdengar mendekat. Bukan satu orang, tapi banyak. Suara denting baju zirah yang berat dan langkah kaki yang diseret menunjukkan bahwa ini bukan kunjungan biasa. Arlo menarik napas panjang, merasakan udara dingin masuk ke paru-parunya. Ia tidak duduk. Ia berdiri tegak tepat di tengah ruangan, membelakangi jendela, membiarkan bayangannya memanjang hingga menyentuh pintu besi.

Klek. Srak. Braak.

Pintu terbuka lebar. Lord Cedric masuk lebih dulu, wajahnya tampak lebih tua sepuluh tahun dalam semalam. Di belakangnya berdiri empat orang pengawal elit kerajaan dengan jubah hitam, dan di tengah-tengah mereka stands Jenderal Marcus. Sang Jenderal tidak membawa pedang di tangannya, melainkan sebuah nampan perak yang ditutupi kain beludru hitam.

"Yang Mulia," suara Marcus terdengar pecah, ada nada duka yang mendalam di sana.

Arlo menatap Marcus datar. "Tidak perlu memanggilku begitu lagi, Marcus. Kita berdua tahu kenapa kau di sini."

Marcus menelan ludah, ia maju selangkah. Tangannya yang biasanya kokoh saat memegang kendali kuda kini sedikit gemetar saat ia memegang nampan perak itu. "Atas perintah Raja Valerius, sesuai dengan dekrit darurat yang dikeluarkan pagi ini... saya diperintahkan untuk mengambil kembali segala atribut kerajaan yang melekat pada diri Anda."

Arlo tidak menjawab dengan kata-kata. Ia hanya mengulurkan tangan kirinya, lalu dengan gerakan perlahan, ia melepas emblem perak yang tersemat di kerah kemejanya. Ia meletakkan benda itu di atas nampan perak Marcus dengan bunyi klenting yang kecil namun terasa seperti ledakan di ruangan yang sunyi itu.

Selanjutnya, Arlo meraba ikat pinggang kulitnya yang memiliki gesper berbentuk lambang kerajaan. Ia melepaskannya, menggulungnya, dan meletakkannya di samping emblem tadi. Para pengawal di belakang Marcus hanya bisa menunduk, tidak berani menatap mata Arlo yang tetap tenang namun sangat tajam.

Terakhir, Arlo menatap cincin di jari manisnya. Ia memutar cincin itu perlahan. Ada bekas kemerahan di kulitnya karena cincin itu sudah bertahun-tahun tidak pernah dilepaskan. Dengan satu sentakan kecil, cincin itu terlepas. Arlo menggenggamnya sejenak, merasakan dinginnya emas di telapak tangannya, sebelum akhirnya ia menjatuhkannya ke atas nampan.

"Selesai," bisik Arlo.

Marcus menatap nampan itu dengan pandangan hamba. Atribut-atribut itu kini hanya tumpukan logam mati. "Dengan ini, gelar Putra Mahkota Aethelgard secara resmi dicabut. Anda bukan lagi ahli waris tahta. Anda bukan lagi pelindung wilayah utara. Anda... Anda adalah Arlo, putra Valerius, warga biasa dari kerajaan ini."

"Terima kasih, Marcus," Arlo memberikan anggukan kecil.

"Yang Mulia—maksud saya, Arlo..." Marcus ingin mengatakan sesuatu, namun ia segera mengatupkan bibirnya rapat-rapat saat melihat Lord Cedric memberikan isyarat agar dia diam. Marcus berbalik dan segera keluar dari ruangan, seolah-olah ia tidak sanggup berlama-lama melihat kehancuran pria yang selama ini ia latih untuk menjadi raja.

Kini tinggal Arlo dan Cedric di dalam ruangan. Cedric tidak segera pergi. Ia mendekati Arlo, tangannya yang keriput merogoh sesuatu dari balik saku jubahnya. Sebuah bungkusan kecil berisi roti gandum dan sepotong keju.

"Raja memerintahkan untuk membatasi jatah makan Anda, Arlo," bisik Cedric, matanya berkaca-kaca. "Tapi saya tahu, seorang pria yang sedang bertarung butuh tenaga lebih dari sekadar air."

Arlo menerima bungkusan itu, jemarinya menyentuh tangan Cedric yang gemetar. "Apa yang terjadi di luar sana, Cedric? Bagaimana reaksi rakyat tentang dekrit itu?"

Cedric menarik napas panjang, ia melirik ke arah pintu untuk memastikan para pengawal sudah menjauh. "Gejolak, Arlo. Benar-benar gejolak. Para pekerja di Sayap Utara menolak untuk kembali bekerja jika Anda tidak dibebaskan. Mereka membawa salinan dekrit yang Anda bacakan di altar dan menempelnya di setiap gerbang kota. Raja mencoba mencabutnya, tapi Dewan Penasihat sedang berdebat sengit. Rakyat mulai melihat Anda sebagai pelindung mereka, bukan sebagai penguasa mereka."

Arlo tertegun. Ia tidak menyangka dampaknya akan secepat ini. "Dan Helena?"

"Putri Helena sudah meninggalkan istana satu jam yang lalu," jawab Cedric pelan. "Dia pergi tanpa pamit pada Raja. Kabarnya, dia sangat terhina. Jenderal Marcus khawatir Vandellia akan mengirimkan ultimatum perang dalam waktu dekat. Istana ini sekarang seperti tong mesiu yang siap meledak."

Arlo berjalan menuju jendela, menatap ke bawah. Meskipun dari sini ia tidak bisa melihat jalanan kota, ia bisa mendengar sayup-sayup suara keramaian yang tidak biasa. Bukan suara sorak-sorai pesta, melainkan suara teriakan massa yang sedang menuntut sesuatu.

"Kau harus berhati-hati, Cedric," ucap Arlo tanpa menoleh. "Membantuku sekarang adalah pengkhianatan di mata Ayah."

"Saya sudah terlalu tua untuk takut pada hukuman, Arlo," Cedric tersenyum sedih. "Saya hanya ingin melihat satu kali saja dalam hidup saya, seorang Valerius yang lebih mencintai rakyatnya daripada tahtanya. Dan Anda sudah menunjukkannya."

Cedric membungkuk dalam, sebuah penghormatan yang terasa jauh lebih tulus daripada semua penghormatan yang Arlo terima selama dua puluh tahun terakhir. "Saya akan mencoba mencari kabar tentang kapal itu. Jika kapal itu sudah sampai di Solandis, saya akan memberitahu Anda."

Begitu Cedric keluar dan pintu besi kembali terkunci, Arlo duduk di lantai batu. Ia membuka bungkusan roti dari Cedric, mengunyahnya pelan. Rasanya hambar, namun setiap kunyahan terasa seperti energi yang mengalir ke seluruh tubuhnya. Ia menatap telapak tangannya yang kini tidak lagi memakai cincin. Rasanya ringan. Benar-benar ringan.

Ia berdiri, berjalan menuju dinding yang penuh dengan goresan retakan. Ia mengambil batu kecil, lalu menarik satu garis melintang yang sangat tebal di atas semua gambar retakan yang pernah ia buat. Garis itu membelah singa, membelah mahkota, dan membelah menara.

Ini bukan lagi tentang retakan. Ini adalah kehancuran yang disengaja.

Arlo menghabiskan siang itu dengan memperhatikan pergerakan matahari. Ia belajar bagaimana bayangan tiang jendela bergerak inci demi inci di atas lantai. Ia belajar mendengar suara burung-burung yang hinggap di balkon luar. Ia menyadari bahwa selama ini, ia terlalu sibuk melihat dunia dari atas tahta hingga ia lupa bagaimana cara melihat dunia dari tempat di mana kakinya benar-benar berpijak.

Sore hari, suasana di luar semakin panas. Arlo mendengar suara denting lonceng peringatan dari arah barak prajurit. Sepertinya ada kerusuhan kecil di pasar kota. Ayahnya pasti sedang mengerahkan pasukan untuk membubarkan massa. Arlo mengepalkan tangannya. Ia ingin berada di sana. Ia ingin berdiri di depan rakyatnya dan mengatakan bahwa tanah itu benar-benar milik mereka.

Namun, ia tahu ia tidak bisa melakukan itu sekarang. Ia harus menunggu.

Tiba-tiba, ia mendengar suara sesuatu yang menghantam kaca jendela menaranya. Bukan ketukan, tapi sesuatu yang lebih keras. Prak!

Arlo segera berlari menuju jendela. Di sana, di ambang jendela batu, terdapat sebuah batu kecil yang dibalut dengan secarik kain kusam—kain yang sangat ia kenali. Kain pelapis dari Sayap Utara.

Arlo membuka ikatannya dengan tangan bergetar. Di dalam kain itu, terdapat setitik noda cat biru tua—warna yang pernah ia sarankan pada Kalea di pertemuan pertama mereka. Dan ada sebuah tulisan pendek di sana, ditulis dengan arang yang kasar:

"Kami tidak akan membiarkan singa kami dikurung selamanya. Tunggu saat tembok ini bergetar."

Arlo memeluk kain itu ke dadanya. Napasnya memburu. Itu adalah pesan dari para pekerja Sayap Utara. Mereka tidak hanya menerima dekritnya, mereka sedang merencanakan sesuatu. Arlo tertawa kecil, air mata keharuan menggenang di sudut matanya. Ia menyadari bahwa dengan memberikan tanah itu pada mereka, ia tidak hanya memberikan kebebasan bagi para pekerja, tapi ia juga baru saja menciptakan pasukan paling setia yang pernah dimiliki oleh Aethelgard.

Malam mulai turun, namun kali ini Aethelgard tidak tenang. Obor-obor di jalanan kota tampak lebih banyak dari biasanya. Suara nyanyian rakyat terdengar sampai ke atas menara, sebuah lagu perjuangan yang liriknya belum pernah Arlo dengar sebelumnya.

Arlo berbaring di tempat tidur kasarnya. Ia menggenggam koin perunggu Kalea di tangan kanan, dan kain noda cat biru di tangan kiri. Ia merasa seperti seorang prajurit yang sedang bersiap untuk pertempuran terakhir. Ia tidak lagi peduli dengan gelar Putra Mahkota yang hilang. Ia tidak lagi peduli dengan kemarahan Raja.

Ia hanya peduli pada satu hal: saat tembok menara ini akhirnya bergetar, ia akan keluar sebagai Arlo, pria yang mencintai seorang tukang cat, dan ia akan memastikan tidak akan ada lagi retakan yang disembunyikan di bawah lapisan cat mahal.

Di kejauhan, di tengah lautan yang gelap, sebuah kapal mungkin sedang menurunkan layarnya di Pelabuhan Solandis. Arlo memejamkan mata, membayangkan Kalea sedang menatap bulan yang sama.

"Duniaku sedang runtuh, Kalea," bisik Arlo di tengah kegelapan menara. "Dan aku tidak sabar untuk melihat apa yang ada di balik puing-puingnya."

Retakan itu kini telah berubah menjadi gempa yang menggetarkan seluruh fondasi Aethelgard. Dan di dalam Menara Barat, sang pangeran yang telah menanggalkan mahkotanya tersenyum, menyambut datangnya badai yang akan membebaskannya.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!