Lanjutan dari "Pesona Si Kembar (Ada Cerita Di Balik Gerbang Sekolah)"
Rachel dan Ronand menapaki jenjang pendidikan kuliah. Jurusan yang mereka ambil pun berbeda. Ronand dengan sifat serius dan sikap misteriusnya membuat banyak orang penasaran. Sedangkan Rachel, dengan gaya selengekannya namun selalu mencengangkan tentang prestasinya.
Di balik gerbang kampus, mereka mengukir cerita yang baru. Dimulai dari kekeluargaan, persahabatan, dan percintaan yang rumit. Semua akan menjadi satu padu dalam cerita ini.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon eli_wi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Hari Pertama
Woah... Gelbangnya sudah ditutup. Mika ndak boleh masuk ini. Lugi kali Mika mandi pagi hali,
Sesampainya di depan sekolah, gerbang sudah ditutup rapat. Tentu saja gerbang sudah ditutup karena Mika terlambat datang. Ini sudah jam setengah 9, padahal sekolah masuk pukul 8. Rachel dan Susan yang juga ikut dalam mobil itu menatap Rachel yang tampak bahagia.
Bukannya sedih karena tidak bisa sekolah, justru matanya berbinar cerah. Mika tampak sangat bahagia karena tidak harus berangkat sekolah. Sedangkan Mama Martha, ia langsung turun dari mobil. Mama Martha akan bernegosiasi dengan satpam sekolah cicitnya itu. Tentu saja Mika ingin protes pada Omanya itu. Padahal ia kan memang tidak suka sekolah.
"Nenet dayung tuh jangan paksa-paksa satpamnya buat buka gelbang dong. Mika ndak papa kok kalau ndak sekolah. Mika ndak bakalan nangis," seru Mika berbicara melalui kaca mobil yang terbuka.
"Bibit-bibit bad girlmu ada di diri Mika, Chel. Mana kalau mau sekolah, banyak sekali dramanya." bisik Susan yang merasa bahwa Mika ini adalah penerus dari Rachel.
"Biarkan saja. Biar kurcaci cadel menikmati masa kecilnya. Dibuat santai saja, yang penting prestasinya nomor satu. Dia jarang masuk aja, pialanya banyak lho." ucap Rachel menanggapi santai tentang Mika yang meniru kelakuannya.
"Kamu harus sekolah ya. Dua hari kemarin, kamu udah nggak berangkat. Sekarang kamu harus bisa masuk kelas, gimana pun caranya." ucap Mama Martha tak terima jika Mika hari ini membolos.
"Lempar aja Mika dari sini ke atas gerbang, Nenek gayung. Lempar sesuai arahan Achel. Siapa tahu nanti nyungsep ke selokan," seru Rachel memberikan ide.
Benar juga idemu, Rachel.
Mika langsung memelototkan matanya mendengar ide dari Rachel. Sedangkan Rachel dan Susan tampak menahan tawanya melihat raut wajah panik dari Mika. Padahal itu hanya candaan saja. Tidak mungkin juga mereka melempar Mika sampai ke atas gerbang hanya untuk sekolah. Mama Martha tampaknya tidak bisa meyakinkan satpam agar Mika dapat masuk ke dalam area sekolah. Kini Mika langsung keluar mobil dengan cepat agar ucapan Rachel tidak terjadi.
"Pak satpam, Mika mau pipis. Buka sebental saja. Habis itu Mika kelual lagi, ndak masuk sekolah." seru Rachel dengan wajah memelasnya memanggil satpam yang berjaga.
"Sudah aturannya ya, Dek Mika. Sekolah di sini harus disiplin, tidak boleh terlambat. Sekalinya terlambat, maka tidak boleh masuk." ucap satpam itu memberitahukan peraturan sekolah PAUD itu. Sekolah PAUD namun aturannya ketat sekali. Sengaja Janice memasukkan Mika ke sana agar anaknya disiplin dan bisa diatur.
"Tau, Pak satpam. Mika cuma mau pipis aja lho. Masa Mika yang sudah besal ini nanti ngompol di celana. Apa kata gebetan-gebetannya Mika kalau mereka ngelihat?" ucap Mika sambil memegang roknya seperti orang yang tengah kebelet. Satpam yang mendengarnya hanya bisa menghela nafasnya pelan.
Krek...
"Silahkan... Setelah itu nanti bisa keluar lagi. Ingat ya, tidak bisa masuk kelas." ucap satpam itu yang kemudian membuka sedikit gerbang.
Oke...
Mama Martha yang berdiri di depan pagar merasa aneh dengan alasan Mika. Bahkan kini Mika mengedipkan sebelah matanya dan mengibaskan tangannya, seakan tengah memberi kode pada Mama Martha. Namun Mama Martha tak paham kode itu.
"Apa sih?" tanya Mama Martha saat melihat Mika sudah di dalam area sekolah.
Nenet dayung gimana sih? Masa begitu saja ndak tahu,
Dek Mika, toiletnya bukan ke situ tapi di sana.
Kan Mika mau sekolah. Jangan dilalang dong,
Nenek gayung, ayo pulang. Mika udah berhasil masuk sekolah itu,
Eh...
Brumm... Brumm...
Astaga... Dikibulin bocah ternyata. Bodoh banget sih aku,
***
"Emangnya nggak papa itu Mika kita tinggal di sekolah? Kan sekolah itu tidak mengijinkan siswa terlambat," ucap Mama Martha yang tampak khawatir dengan Mika.
Seringkali Mama Martha kesal pada Janice yang memasukkan Mika ke sekolah dengan aturan dan kedisiplinan begitu ketat. Padahal anak itu masih sekolah PAUD, belum SD atau SMP. Setahunya, sekolah PAUD itu bisa dimaklumi jika siswanya terlambat. Pasalnya anak-anak seusia Mika itu lebih senang jika bermain. Namun Janice tak bisa dibantah, ini demi kebaikan Mika yang selama ini memang malas-malasan.
"Nggak papa. Kaya nggak tahu gimana Mika saja, Nenek gayung." ucap Rachel yang santai menanggapi Mika yang berada di sekolah saat ini.
"Nenek gayung santai saja. Aku udah kirim pesan ke Abang Onand biar bisa memantau Mika di sekolahnya," ucap Susan sambil memperlihatkan layar ponselnya.
"Syukur lah kalau begitu," ucap Mama Martha sedikit tenang. Ia yakin jika alat yang dikirim Ronand ke sekolah Mika pasti bisa untuk mengawasi gadis cilik itu.
Citt...
"Sudah sampai di kampus. Kuliah yang benar dan jangan sering bolos. Apalagi jurusan ini sesuai keinginan kalian. Yang serius," pesan Mama Martha pada Rachel dan Susan setelah mobil berhenti di depan gerbang kampus.
Siap, Nenek gayung.
Cup... Cup... Cup...
Astaga... Kalian berdua ngapain cium pipi Oma berulangkali? Masuk kampus sana,
Karena kita sayang Nenek gayung,
Sepertinya hidup Nyonya Martha semakin bahagia,
Benar, Ory. Ada mereka, hidupku jauh lebih berharga dan bahagia. Aku sedikit lebih tenang jika nanti dipanggil sang Maha Kuasa,
***
Lalala...
Dugh...
Awww...
Tiba-tiba saja ada seorang mahasiswa yang jatuh tepat di hadapan Rachel dan Susan. Keduanya mundur saat melihat orang itu tersungkur di hadapan mereka. Rachel langsung saja melihat ke arah sekitar, ternyata ada tiga orang mahasiswa yang membuat laki-laki itu jatuh.
"Minggir, kita ada urusan sama dia." ucap salah satu mahasiswa bernama Yudha Raheswara sambil mengibaskan tangannya agar Rachel dan Susan tak ikut campur.
"Apa sih? Ini lingkungan kampus, jangan sampai ada pembullyan. Di sini kita belajar dan bayar, jangan sampai menimbulkan ketidaknyamanan di antara para mahasiswa." seru Susan dengan tatapan sinisnya.
"Tapi dia nggak bayar," seru Yudha tak terima ada yang membela mahasiswa terjatuh itu. Arjuna Kawilara.
"Berarti dia kuliah di sini bayar pakai otak. Lagian dia juga nggak ngerugiin kalian kalau dapat beasiswa atau apa lah itu," ucap Rachel yang sebenarnya malas ikut campur tentang masalah mereka.
Namun pembullyan ini terjadi di depan mata mereka. Tak mungkin Rachel dan Susan tak membela. Lebih tepatnya bukan membela korban, hanya saja mereka tak mau ada kasus pembullyan di kampus. Apalagi keduanya sama sekali tak mengetahui permasalahan yang terjadi.
Jangan tertipu dengan wajah polos dan sok teraniayanya itu,
Dia tidak seperti yang kalian lihat,
Hati-hati,
Ayo cabut, guys.
Apa maksudnya itu, Ucan?
Nggak tahu. Ayo pergi, kok aku jadi merinding ya.
Kamu harus aku dapatkan,