Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9 — Nama di Dalam Kontrak
“Ulangi lokasinya.”
Suara Leon tetap datar dan tenang, namun tangan kirinya mencengkeram stang motor dengan sangat kuat hingga sarung tangannya mengeluarkan bunyi gesekan. Motor hitamnya melambat secara drastis di jalanan kosong Distrik 4 yang dipenuhi lampu neon yang memudar.
Di ujung saluran earpiece, Gray menghela napas panjang. “Kau mendengarnya dengan benar, Leon. Aku sudah melakukan pengecekan silang tiga kali.”
Leon menghentikan motornya tepat di depan lampu lalu lintas yang berkedip kuning, menandakan jam-jam sunyi di kota Valmere sudah dimulai. “Berikan koordinat tepatnya sekali lagi.”
Gray membacakan serangkaian angka koordinat yang sangat familiar bagi Leon. “Titik nolnya adalah klinik kecil di sektor utara Distrik 6.”
Leon menatap lurus ke aspal jalanan di depannya, matanya memicing di balik visor helm. “Nama tempatnya di dalam file kontrak.”
Gray menarik napas pendek melalui mikrofonnya. “Klinik Arden. Pemiliknya terdaftar sebagai target pengambilan.”
Sunyi menyelimuti sambungan mereka selama beberapa detik. Lampu lalu lintas berubah menjadi hijau, namun Leon tetap tidak bergerak dari posisinya.
“Kau yakin datanya tidak tertukar dengan kontrak lain?” Leon bertanya lagi.
“Koordinatnya presisi berdasarkan enkripsi militer yang digunakan klien,” Gray menegaskan. “Tidak ada ruang untuk kesalahan lokasi.”
Leon akhirnya memutar gas motornya perlahan, membiarkan mesinnya meraung kecil sebelum meluncur kembali ke jalan utama. “Detail lengkap kontraknya.”
Gray mulai mengetik sesuatu, suara keyboard-nya terdengar seperti rentetan senjata mesin di telinga Leon. “Objektif utama adalah mengambil paket biologis berlabel A-Project. Instruksinya sangat eksplisit: paket harus diambil dalam kondisi stabil.”
Leon bertanya lagi dengan nada yang lebih rendah. “Bagaimana dengan subjek yang memegang paket tersebut?”
Gray membaca baris kalimat berikutnya di layarnya. “Jika subjek melakukan perlawanan atau mencoba menghancurkan paket, eliminasi total diperbolehkan dan sangat dianjurkan untuk mencegah kebocoran informasi.”
Leon menunggu, ia tahu ada bagian yang lebih personal dari ini. “Nama subjeknya.”
Suara keyboard Gray berhenti seketika. “Nama subjek tercantum di halaman kedua protokol tambahan.”
“Baca,” perintah Leon pendek.
Gray berbicara dengan suara yang sangat pelan, hampir menyerupai bisikan yang penuh penyesalan. “Subjek bernama Alice Arden. Dokter yang menjahit perutmu dua malam yang lalu.”
Motor Leon tiba-tiba melambat dan berhenti di tepi jalan yang gelap, tepat di bawah bayangan jembatan layang yang kusam. Lampu kota memantul di visor helmnya, menciptakan bayangan aneh di wajahnya yang tersembunyi.
“Kau mengenalnya secara personal sekarang, bukan?” Gray bertanya, ada nada penasaran sekaligus peringatan dalam suaranya.
Leon tidak menjawab. Pikirannya melayang kembali ke keheningan klinik itu, aroma antiseptik, dan cara wanita itu mengikat perban dengan sangat hati-hati.
“Dia bukan sekadar dokter pasar gelap biasa, Leon,” Gray menambahkan dengan nada yang lebih analitis. “Wajar jika database kota tidak mengenalinya. Dia adalah hantu yang dicari oleh raksasa.”
Leon mematikan mesin motornya sepenuhnya. Suara bising kota yang jauh tiba-tiba terasa sangat asing bagi indra pendengarannya. “Isi paket yang mereka cari. Apa itu?”
Gray membuka file terenkripsi berikutnya dengan susah payah. “Data teknisnya tidak lengkap, tapi paket itu disebut sebagai formula biologis hasil laboratorium tingkat tinggi.”
Leon menunggu penjelasan lebih lanjut.
“Paket itu diduga merupakan sisa-sisa terakhir dari sebuah proyek bioteknologi yang seharusnya sudah hancur lima tahun lalu dalam ledakan besar di sektor korporat,” Gray menjelaskan.
Leon berkata datar. “Jenis formula apa?”
“Sesuatu yang berhubungan dengan regenerasi selular atau manipulasi genetik,” jawab Gray. “Itulah kenapa luka tembakmu sembuh sangat cepat, Leon. Aku curiga dia memberimu dosis kecil tanpa kau sadari saat membersihkan lukamu.”
Leon memandang ke arah jalanan kosong yang basah. “Siapa klien yang membayar untuk kontrak ini?”
Gray menjawab tanpa keraguan sedikit pun, suaranya terdengar sangat serius. “Helix. Mereka yang mengirim Marcus Hale ke kereta itu, dan sekarang mereka mengirimmu ke klinik tersebut.”
Sunyi kembali menguasai mereka. “Berapa nilai pembayarannya?”
Gray menyebutkan angka di layarnya dengan nada tak percaya. “Tujuh juta dollar. Tunai setelah paket terverifikasi di titik pertemuan.”
Leon tetap tidak memberikan reaksi emosional. Baginya, angka itu hanyalah statistik risiko. “Dua kali lipat dari nilai kontrak terbesar yang pernah kita ambil.”
“Karena targetnya sangat berharga bagi Helix,” Gray memperingatkan. “Atau karena mereka tahu bahwa mengambil sesuatu dari Alice Arden bisa menjadi hal terakhir yang akan kau lakukan.”
Leon mengenakan kembali helmnya yang sempat ia angkat sedikit. Mesin motor dinyalakan dengan sekali tekan.
“Kau akan mengambil kontrak itu?” Gray bertanya dengan hati-hati.
Leon tidak menjawab secara langsung. Ia memacu motornya kembali ke jalan, memotong jalur lalu lintas dengan agresif. Beberapa menit kemudian, ia sudah kembali memasuki wilayah Distrik 6 yang kumuh.
Gang-gang sempit yang ia lalui tampak jauh lebih mengancam malam ini. Lampu jalan yang berkedip terasa seperti hitungan mundur bagi Leon. Asap rokok dari kedai pinggiran dan bau selokan yang menyengat bercampur menjadi satu di udara yang dingin.
Leon memarkir motornya di ujung gang yang sama, tempat bayangan gudang menutupinya dengan sempurna. Klinik kecil itu masih menyala, lampunya memancarkan kehangatan yang kontras dengan niat yang dibawa Leon malam ini.
Ia berdiri selama beberapa detik di depan pintu, menatap bayangan yang bergerak di balik tirai jendela.
“Kau sudah berada di lokasi,” Gray melaporkan melalui monitor satelitnya. “Aku bisa melihat motormu terdeteksi di radar.”
“Ya,” jawab Leon singkat.
“Kau ingin aku membacakan ulang protokol eliminasinya?” Gray bertanya, mencoba memastikan mentalitas Leon.
Leon menatap pintu klinik yang terbuat dari kayu tua yang sudah mulai melapuk. “Tidak perlu.”
Gray menunggu instruksi selanjutnya.
“Aku hanya ingin melihat sesuatu sebelum aku memutuskan,” kata Leon sambil melangkah mendekati pintu.
Ia melihat melalui celah kecil di jendela. Di dalam, wanita itu—Alice—sedang menata botol-botol obat di atas meja kerjanya. Gerakannya tenang, tidak menunjukkan sedikitpun tanda bahwa ia sedang menyimpan sesuatu yang bernilai tujuh juta dollar atau bahwa nyawanya sedang berada di ujung tanduk.
“Leon,” suara Gray memanggil lagi. “Kontrak ini memiliki batas waktu yang sangat ketat. Tim kedua akan dikirim jika kau tidak memberikan konfirmasi dalam satu jam.”
Leon tidak memedulikan peringatan itu. Ia mengetuk pintu kayu itu dengan pola yang biasa ia gunakan. Tiga kali ketukan pendek yang kini terasa jauh lebih berat bagi tangannya.
Beberapa detik kemudian, pintu terbuka. Alice berdiri di sana dengan ekspresi lelah yang sama, namun ada sedikit kilatan pengenalan di matanya saat melihat Leon. “Kau lagi. Apa ada jahitan yang lepas?”
Leon berdiri diam, menatap mata Alice yang jernih namun penuh misteri. “Boleh aku masuk?”
Alice melirik jam dinding tua di dalam kliniknya. “Ini hampir tengah malam. Aku baru saja akan menutup tempat ini.”
“Aku tidak akan lama,” kata Leon.
Alice membuka pintu lebih lebar, memberikan isyarat agar Leon masuk. “Kau terluka lagi? Atau hanya ingin memastikan aku masih ada di sini?”
Leon melangkah masuk ke dalam ruangan yang harum antiseptik itu. Pintu ditutup, dan sunyi kembali menguasai mereka. “Aku tidak terluka.”
Alice menyilangkan tangan di depan dada, menatap Leon dengan penuh selidik. “Lalu, apa alasanmu kali ini? Kau benar-benar kehabisan alasan untuk datang ke sini, bukan?”
Leon menatap sekeliling ruangan kecil itu sekali lagi. Rak obat, meja pemeriksaan, lampu putih yang berdengung. Semuanya tampak begitu normal, begitu manusiawi, jauh dari dunia gelap Helix yang penuh dengan penghianatan.
“Aku hanya lewat,” jawab Leon pada akhirnya.
Alice tertawa kecil, suara tawanya terdengar lebih renyah malam ini. “Kau benar-benar kurir yang buruk dalam membuat alasan.”
Leon tidak membantah. Ia membiarkan Alice kembali ke meja kerjanya sementara ia tetap berdiri di tengah ruangan.
“Kau ingin aku memeriksa luka itu untuk terakhir kalinya agar kau bisa tidur tenang?” tanya Alice tanpa melihat ke arahnya.
“Tidak perlu,” kata Leon.
Alice berhenti menata botolnya dan menatap Leon. “Kalau begitu, kau datang ke sini hanya untuk berdiri seperti patung?”
Leon terdiam, matanya menatap langsung ke mata Alice. “Dokter.”
“Ya?”
“Namamu siapa?” tanya Leon dengan suara rendah.
Alice terlihat sedikit terkejut, ia terdiam sejenak seolah-olah sedang menimbang apakah ia harus memberikan jawaban jujur atau sebuah identitas palsu. Akhirnya, ia menjawab dengan sederhana. “Alice.”
Leon mengangguk pelan, memproses nama itu dengan informasi yang diberikan Gray di earpiece. “Baik, Alice.”
Alice memperhatikannya dengan lebih seksama sekarang. “Sekarang giliranku. Kau sudah beberapa kali datang ke klinikku dan aku baru saja memberitahumu namaku.” Ia menatap tajam ke arah Leon. “Setidaknya beri aku sesuatu untuk memanggilmu selain 'pria pendiam' atau 'hey'.”
Leon menatapnya selama beberapa detik sebelum akhirnya menjawab. “Leon.”
Alice mengangguk kecil. “Baik, Leon. Sekarang kita bukan lagi orang asing yang hanya bertemu untuk urusan peluru.”
Ia kembali fokus pada catatannya, namun suasana di ruangan itu berubah menjadi lebih berat. Alice berkata tanpa mengangkat kepalanya, “Ada sesuatu yang mengganggumu malam ini, Leon. Aku bisa merasakannya dari cara kau bernapas.”
“Apa yang kau rasakan?” tanya Leon.
Alice meletakkan penanya dan menatap Leon dengan pandangan yang tenang. “Kau terlihat seperti seseorang yang sedang memegang beban yang sangat berat, atau seseorang yang sedang mencoba memutuskan apakah ia harus melakukan sesuatu yang buruk atau sesuatu yang sangat buruk.”
Sunyi menyelimuti ruangan kecil itu. Leon tidak bergerak dari tempatnya.
“Seberapa buruk?” tanya Alice dengan nada yang hampir tidak terdengar, menatap langsung ke mata Leon seolah ia tahu apa yang sedang direncanakan di luar sana.