NovelToon NovelToon
Married By Accident

Married By Accident

Status: sedang berlangsung
Genre:Nikahmuda / Cinta Seiring Waktu / Teen
Popularitas:4.8k
Nilai: 5
Nama Author: Lisdaa Rustandy

"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Akad

"Saya terima nikah dan kawinnya, Raline Azkanara Syifa binti Bapak Umar Abdul Aziz, dengan mas kawin tersebut dibayar tunai!"

Kalimat itu terucap dengan jelas dari mulut Kaisar. Lancar tanpa hambatan, dan tanpa terbata sedikitpun. Ia benar-benar mengucapkannya dengan mantap, seolah ini adalah momen yang sudah sangat dinanti olehnya.

Kaisar sudah berlatih sejak Subuh agar bisa mengucapkannya dengan lancar di momen akad nikah ini. Ia hanya tak mau kalau harus mengulang kalimat yang sama berulang-ulang kali.

Tangan Kaisar yang berjabat dengan tangan Pak Umar, terasa semakin erat ketika mata mereka bertemu dalam momen yang berbeda.

Pak Ustadz yang menjadi pembimbing dalam prosesi itu melirik dua saksi yang dihadirkan oleh keluarga dua mempelai dan bertanya, "Bagaimana saksi? Sah?"

Keduanya mengangguk kompak. "SAH!"

"Alhamdulillah," bisik Pak Ustadz.

Ia lalu memimpin doa singkat yang terasa begitu berat di tengah kesunyian ruang tamu yang tidak terlalu luas itu.

Malam itu benar-benar jauh dari bayangan Raline. Tidak ada kebaya putih yang menjuntai indah, tidak ada siger Sunda yang dulu ia bayangkan akan menghiasi kepalanya ketika menikah, dan tidak ada riuh rendah keluarga yang memberikan selamat. Ia hanya mengenakan gamis putih sederhana dengan kerudung lebar yang ia gunakan untuk menyembunyikan wajah sembapnya.

Di sudut ruangan, Bu Esta menyaksikan pernikahan putranya dengan perasaan sesak. Ia tak menyangka putranya akan menikah di usia muda, dan memikul tanggungjawab besar terhadap anak orang yang kini menjadi istrinya.

Sementara Bu Dinar, ia hanya bisa menggenggam tangannya sendiri dengan air mata yang terus mengalir. Putri tercinta yang selalu membuatnya bangga, telah menjadi istri orang. Tapi yang menyedihkan adalah... putrinya terpaksa dinikahkan karena hamil.

Kesedihannya semakin lengkap saat menyadari tempat kosong di sisinya, yang seharusnya diisi oleh Farhan. Sang kakak benar-benar tidak muncul; ia memilih tak kembali ke rumah setelah mengetahui kebenaran tadi malam. Ia menolak melihat adiknya dinikahi oleh pria yang telah merusak masa depan mereka semua. Rasa kecewa Farhan menjadi luka tambahan yang menganga di hati Raline. Hingga membuat gadis mata gadis itu membengkak akibat terus menangis.

Setelah doa selesai, Kaisar bergeser mendekati Raline. Dengan tangan yang masih sedikit gemetar, ia menyentuh kening istrinya untuk membacakan doa dengan bimbingan Ustadz, sebuah simbol bahwa tanggung jawab penuh kini telah berpindah ke pundaknya.

Raline memejamkan mata, merasakan sentuhan itu bukan sebagai kebahagiaan, melainkan sebagai beban takdir yang harus ia pikul. Ketika ia mencium punggung tangan Kaisar untuk pertama kalinya sebagai istri, ia merasa beban di hatinya semakin berat.

Malam pernikahan yang seharusnya bermakna dan penuh kebahagiaan, justru terasa hampa. Orang-orang yang hadir malam ini hanya menyaksikan akad nikah tanpa cinta dari dua mempelai yang sama-sama terpaksa.

Namun meski demikian, mereka berharap dengan adanya pernikahan ini semua akan menjadi awal yang baik, walaupun tak berharap terlalu banyak.

Setelah semuanya selesai, Pak Ustadz dan dua saksi yang hadir pun pamit lebih dulu. Mereka keluar dari rumah itu, meninggalkan dua keluarga yang baru saja menjadi satu oleh pernikahan Kaisar dan Raline.

Di dalam rumah, suasana hening. Tak ada yang berbicara selama beberapa saat setelah tamu khusus pergi. Pak Umar duduk di samping istrinya, ekspresi wajahnya datar. Tak ada senyum kebahagiaan untuk pernikahan putrinya.

Bu Esta duduk di kursi lainnya, sibuk memainkan ponselnya, membalas beberapa pesan penting tentang pekerjaan. Itu juga ia lakukan untuk menghindari kecanggungan, sekaligus memberikan kesempatan bagi orang tua Raline untuk memulai pembicaraan lebih dulu.

Raline dan Kaisar duduk bersebelahan di kursi yang sama. Keduanya menundukkan kepala setelah sah menjadi suami istri secara siri.

Pak Umar menatap keduanya bergantian. Seolah tengah menyusun kata-kata yang akan ia ucapkan pada keduanya, sebelum mereka benar-benar pergi dari rumahnya.

"Ekhem!"

Pak Umar berdeham kecil, suaranya yang berat memecah kesunyian yang mencekam. Ia menegakkan punggung, menatap lurus ke arah Kaisar dengan tatapan yang masih menyimpan sisa-sisa badai kemarahan.

"Sekarang kalian sudah sah di mata agama. Tanggung jawab Raline sudah saya serahkan padamu, Kai," ucap Pak Umar dingin. Ia menjeda kalimatnya, lalu beralih menatap putri tunggalnya yang masih menunduk lesu.

"Sesuai kesepakatan, malam ini juga kalian harus pergi. Saya sudah siapkan semua keperluan Raline. Tapi ada satu hal yang harus kalian camkan baik-baik," Pak Umar merendahkan suaranya, namun penekanannya begitu tajam.

"Meskipun kini kalian sudah suami istri, selama kalian tinggal bersama di sana, saya minta kalian tidur di kamar terpisah. Jangan ada hubungan suami istri (s*ks) di antara kalian."

Kalimat itu membuat Kaisar dan Raline mendongak serentak, terkejut.

"Pernikahan ini dimulai dari sebuah lubang hitam perzinaan," lanjut Pak Umar, suaranya bergetar menahan perih. "Saya khawatir pernikahan dalam keadaan hamil ini ada sisi yang tidak sempurna, dan saya tidak ingin kalian menambah dosa di atas kesalahan yang sudah ada. Anggaplah ini sebagai masa taubat kalian sampai anak itu lahir. Jangan sekali-kali melanggar ini kalau kalian masih ingin saya anggap sebagai anak."

Kaisar menelan ludah, tapi ia mengangguk pelan namun pasti. "Saya mengerti, Pak. Saya janji akan menjaga batasan itu dan menghormati keputusan Bapak."

Raline hanya terdiam, air matanya kembali luruh. Ia merasa keputusasaan ayahnya adalah hukuman yang paling berat baginya.

Pak Umar kemudian berdiri, perlahan mendekati Raline. Melihat putrinya yang tampak begitu rapuh dalam balutan gamis putih sederhana, pertahanannya runtuh. Ia menarik Raline ke dalam pelukannya, Sebuah pelukan perpisahan yang menyesakkan dada.

"Pergilah, Nak," bisik Pak Umar di puncak kepala Raline. "Jaga dirimu dan janinmu. Bapak melepaskanmu bukan karena tidak sayang, tapi karena ini satu-satunya cara agar kita semua bisa bernapas kembali."

Raline terisak hebat di dada ayahnya, meremas kemeja Pak Umar seolah tak ingin dilepaskan dari satu-satunya tempat yang selama ini membuatnya merasa aman.

"Maafin Neng, Pak..." kata maaf kembali terucap dari mulut Raline. Seakan-akan kalimat itu tak akan pernah berhenti terucap setiap kali mereka bertemu.

Pak Umar mengusap kepala putrinya dengan penuh kasih. "Sudahlah... Bapak sudah memaafkan kamu. Berjanjilah untuk selalu baik-baik saja, agar Bapak tidak merasa gagal lagi sebagai ayah."

Raline mengangguk, meski tangisnya masih terdengar.

"Bapak akan sering menjenguk kamu nanti," kata Pak Umar, menenangkan. "Gak usah khawatir. Bapak tidak benar-benar membuangmu, Nak..."

"Bang Farhan..." ucap Raline disela isak tangisnya. "Bang Farhan membenciku, Pak..."

Pak Umar menggeleng sembari mengeratkan pelukannya. "Tidak, Nak. Abangmu tidak membencimu. Dia hanya kecewa dan terluka, sama seperti Bapak. Percayalah, nanti dia akan kembali dan memelukmu seperti biasa."

"Tapi sampai detik ini Bang Farhan gak pulang, Pak. Itu artinya dia benci aku."

"Tidak. Dia hanya belum siap menerima semua ini. Bapak mengenal baik kakakmu seperti apa. Bersabarlah menunggu sampai kakakmu bisa menerima semuanya."

Raline mengangguk lagi. Air matanya belum bisa berhenti mengalir. Pernikahan yang baru saja terjadi terasa seperti sebuah ikatan yang tidak akan menghasilkan kebahagiaan apapun baginya.

Apalagi Farhan yang tak hadir malam ini. Membuat Raline berpikir jauh lebih buruk dari sebelumnya.

Kaisar yang menyaksikan perpisahan singkat antara ayah dan anak itu, merasa dadanya sesak. Perasaan bersalah semakin besar. Ia merasa telah memisahkan ayah dan anaknya akibat perbuatannya.

Jika saja malam itu tak terjadi. Jika saja malam itu ia memilih berpasangan dengan teman lelakinya, mungkin semua ini tak akan terjadi.

Ia sadar sepenuhnya, godaan setan begitu kuat hingga membuatnya terjerumus dan menghancurkan kehidupan semua orang.

1
Nurul Hilmi
ganteng amat visual kai Thor,,, 😍
Nurul Hilmi
mulai... mulai... kai... lama lama ❤😘
Nurul Hilmi
lanjut Thor.
bacanya Brebes mili
Yantie Narnoe
lanjut...👍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
double up Thor
bagus ini cerita😍
Nurul Hilmi
lanjut thor
Nurul Hilmi
lelaki juga kaisar. gentle dan bertanggung jawab
deeRa
Lepas Dari Kai, kamu & anakmu harus bahagia ya Lin... 😊
deeRa
no comment, ikut alur nya saja😊
next ya
falea sezi
cpet cerai kalo. abis lahiran. ortu. kaisar. toxic
Nurul Hilmi
jangan kasih cinta buat kaisar lin. biar die nyesel😄
Lisdaa Rustandy: cinta akan hadir saat waktu terus berjalan. bahkan saya yg menikah tanpa cinta aja sekarang jadi bucin🤣
total 1 replies
Nurul Hilmi
anak jangan dikasih orang lain, tetep raline yang rawat...
deeRa
Ganbatee Lin💪😊
falea sezi
jangan mau pergi jauh dr situ besarin anak sendiri ibunya egois cucu kandung mau di buang dajjal bgt ne orang
deeRa
Nyesek ya jd raline, 🥺
ROSULA DARWATI
kasihan Raline
Melinda Cen
lanjut
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!