"Baiklah, kalau kamu memang tetap ingin mempertahankan janin itu," ucap Bu Esta dengan tatapan tertuju pada perut Raline yang masih rata. Suaranya terdengar tegas dan tajam, membuat Raline menunduk takut.
"Kai akan menikahi kamu, tapi..." kalimatnya terjeda sejenak, sehingga Raline dan orang tuanya menatap wanita itu, menunggu kelanjutannya. "Setelah anak itu lahir, saya akan mengambilnya dan memberikannya pada orang lain. Kamu boleh terus melanjutkan hidupmu, dan Kai... dia akan melanjutkan studi ke Inggris tanpa harus mempertahankan pernikahannya denganmu."
*****
Cek visual karakternya di Ig @lisdaarustandy
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Lisdaa Rustandy, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ajakan bertemu
Esoknya...
Raline keluar dari kamar dengan langkah cepat sembari menutup mulut, menuju kamar mandi, berusaha menahan mual yang sejak tadi sudah terasa.
Begitu sampai di kamar mandi, ia langsung memutar keran hingga air mengalir lalu mulai memuntahkan isi perutnya yang masih kosong.
"Huekkk!"
Gadis itu membungkuk di depan wastafel sambil berpegangan pada kedua sisinya.
Perutnya terasa melilit, kosong tapi seperti diperas dari dalam. Tenggorokannya perih karena hanya cairan asam yang keluar.
"Huekkk… uhuk uhuk!" Raline terbatuk kecil, air matanya menetes tanpa bisa ditahan.
Ia membuka keran lebih besar, membiarkan suara gemericik air menutupi bunyi muntahnya. Tangannya gemetar saat meraih gelas di dekat wastafel, berkumur cepat sebelum kembali membungkuk karena gelombang mual berikutnya datang lagi.
Beberapa menit kemudian, tubuhnya melemas. Raline bersandar pada dinding kamar mandi, napasnya tersengal.
"Tiap pagi hari ngerasain ini..." gumamnya lirih. "Untung hari ini Bapak dan Ibu gak di rumah. Kalo mereka ada di rumah, pasti mereka curiga."
Tangannya refleks menyentuh perutnya yang masih rata. Sentuhan itu membuat dadanya terasa sesak. Bukan hanya karena mualnya yang harus ia rasakan setiap pagi, tapi karena pikiran yang sejak kemarin tak berhenti berputar.
Ia menatap bayangannya di cermin. Wajahnya pucat, mata sembab karena kurang tidur. Rambutnya berantakan, menempel di pipi yang basah oleh keringat dan air mata.
"Aku harus gimana..." bisiknya pelan.
"Cepat atau lambat, perutku bakal membesar. Gak bisa lagi sembunyiin kehamilan dari siapapun."
Bayangan percakapannya dengan Kaisar kemarin terlintas lagi. Ekspresi tak percaya itu. Nada suaranya yang seolah ini cuma kesalahan kecil yang bisa disapu begitu saja.
Dan penolakan untuk menikahinya. Semua itu membuatnya sesak, seolah tak ada harapan lagi untuknya.
Raline menutup mata sejenak.
Bukan cuma mual yang membuatnya lemah pagi ini. Tapi rasa takut.
Takut pada omongan orang. Takut pada orang tuanya. Takut kalau Kaisar tidak akan benar-benar bertanggung jawab.
Perutnya kembali berkontraksi ringan. Ia menelan ludah, berusaha menenangkan diri.
"Oke… tenang, Raline. Tarik napas dulu," ucapnya pada diri sendiri.
Ia menarik napas panjang, lalu mengembuskannya perlahan. Rasa mual perlahan hilang. Raline segera berkumur-kumur untuk menghilangkan rasa asam yang masih tertinggal.
Ia lalu mencuci mukanya. Setelah itu, ia keluar dari kamar mandi dan kembali ke kamar.
Keadaan rumah sepi. Orang tua Raline sudah pergi ke toko kelontong mereka seperti biasa. Sementara Farhan, kakaknya, pergi bekerja sebagai dosen di salah satu universitas di daerah lain. Yang membuatnya hanya bisa pulang sebulan sekali untuk menghemat waktu dan biaya.
Setiap hari Minggu, Raline akan sendirian di rumah jika ia tak memiliki kegiatan. Terkadang ia akan menyusul orang tuanya ke toko kelontong mereka dan ikut menjaga. Atau ia akan pergi keluar untuk latihan voli bersama tim sekolahnya.
Tapi hari ini, Raline memilih tetap di rumah. Jangankan untuk melakukan berbagai aktivitas yang biasa dilakukannya, bahkan untuk melangkah keluar saja rasanya ragu.
Ia terlalu takut orang-orang menyadari perubahan pada dirinya, meski sebenarnya belum ada perubahan yang signifikan.
Raline tak mau nama baik orang tuanya tercemar karena perbuatannya.
Apalagi, kedua orang tuanya dikenal sebagai orang yang alim oleh warga sekitar. Hal itu semakin membuat Raline takut.
Raline duduk di tepi ranjangnya sembari mengusap perut. Kini, sudah tak terasa mual lagi.
Ia menghela napas lega, berusaha menenangkan dirinya sendiri.
'Ding!'
Ponselnya berbunyi, tanda pesan masuk.
Raline menoleh sejenak pada benda pipih yang tergeletak di atas meja belajar.
Dengan malas ia bangkit dan mengambilnya, untuk memeriksa pesan dari siapa yang masuk.
Matanya langsung terbuka lebar saat pesan yang masuk itu rupanya dari Kaisar.
[Lin, bisa kita ketemu?] Bunyi pesan itu.
Raline tidak langsung membalas. Sejenak ia hanya diam membaca kalimat yang diketik oleh Kaisar.
'Ding!'
Pesan baru masuk lagi, masih dari Kaisar.
[Kalo bisa, gue tunggu lo di danau pinggir kota, yang pernah kita datangi waktu ada tugas sekolah. Today and now.]
Raline kembali membaca isi pesan itu tanpa sesegera mungkin mengetik balasan.
Ia masih bertanya-tanya, untuk apa Kaisar mengajaknya bertemu?
Ya, memang. Obrolan mereka kemarin terjeda oleh kehadiran Nana, tapi apa sebenarnya yang ingin Kaisar katakan selain menolak menikahinya seperti kemarin?
"Iyain atau tolak aja?" Ia bertanya pada dirinya sendiri.
Raline sempat berpikir beberapa saat untuk memutuskan.
Hingga akhirnya ia mengetik balasan untuk Kaisar.
[Oke.]
Hanya itu.
Singkat, padat, dan jelas.
Raline tak menambahkan kalimat lain. Ia terlalu malas untuk mengetik banyak-banyak kalimat. Itu saja menurutnya sudah cukup.
Setelah itu, ia meletakkan ponselnya lalu bersiap-siap.
Meski tak banyak berharap dari Kaisar, tapi ia akan tetap menemuinya untuk bisa lebih banyak berbicara dengannya dan menemukan jalan keluar terbaik selain menikah.
*****
bacanya Brebes mili
bagus ini cerita😍
next ya