Elfa adalah seorang gadis 17 tahun, dia siswi berprestasi di sekolah, Elfa sangat cantik, pintar dan polos. Hanya satu kekurangannya dia bukan anak orang kaya. Dia hidup bersama ibunya yang hanya seorang tukang cuci. Elfa masuk ke sekolah itu melalui jalur beasiswa.
Elfa bukan hanya pintar dan cantik tapi dia adalah kekasih seorang Aditya siswa paling tampan di sekolah dan idola semua siswi.
Elfa terlalu mencintai Aditya, ia akan melakukan apa saja untuk Aditya. Hingga satu malam dengan kata sebagai bukti cinta. Elfa menyerahkan kesuciannya kepada Aditya.
Dari kejadian satu malam itu , Elfa hamil anak Aditya. Ia mengatakan pada Aditya tentang kehamilannya tapi Aditya memaksa Elfa mengugurkan kandungannya.
"Gugurkan kandunganmu, jangan berharap aku akan bertanggung jawab. Kau sadar? Kita ibarat langit dan bumi. tidak akan mungkin bersatu" Ucap Aditya
Seluruh tubuh Elfa bergetar "aku bersumpah ....!!! kau tak akan pernah mendengar suara tangisan bayi dalam hidup mu "
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Elvy Anggreny, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 07
"Tidak ada hubungan apa sayang, sumpah apa ...?" Suara chelsea membuatnya terkejut. Aditya kehilangan kata. Dia tepat berdiri di belakang Aditya.
Aditya tersentak, ia hampir saja menjatuhkan ponsel dalam genggamannya. Ia berbalik mendapati Chelsea sedang menatapnya dengan tatapan menyelidik.
"Bukan siapa-siapa sayang" Elak Aditya, ia memaksa tersenyum
" Maksudku, aku hanya berpikir semua yang terjadi. Beberapa kali kehilangan calon anak kita. Aku berharap ini tidak ada hubungannya dengan dokter. Aku sedikit berpikir apakah mereka melakukan kesalahan, Bukan mereka telah di sumpah ?"
Chelsea diam, matanya yang terlihat redup menatap Aditya, ada keraguan dalam tatapannya.
"Aku juga kesal pada diriku sendiri karena tidak bisa melakukan apapun untukmu sayang " Aditya mendekat, Chelsea terus menatap Aditya, seolah-olah sedang mencari celah di wajah suaminya. Namun ia terlalu sangat lelah untuk bertanya-tanya.Tubuhnya seakan-akan kehilangan kekuatan untuk mencari tau lebih dalam.
"Sayang, ayo makan, tubuh kamu butuh nutrisi. Ayo turun, temani aku makan. Aku juga tidak berselera makan tanpa di temani kamu sayang" Kali ini Chelsea ikut, walaupun Aditya melakukan itu karena ingin mengelak.
Chelsea berjalan dengan langkah yang lebar. Mereka berjalan bersama menuruni tangga. Tak ada jemari yang saling bertaut, hal yang biasa mereka lakukan. Di ruang makan, suasana semakin mencekam. Terasa sunyi, seperti berada di sebuah pemakaman, hanya denting suara sendok yang beradu dengan piring.
"Dit, kamu tidak menyembunyikan sesuatu? Ada apa sebenarnya". Tanya Chelsea " Kamu bilang, kamu tidak berselera makan kalau tidak ditemani, sejak tadi aku perhatikan kamu hanya mengaduk aduk makanan kamu. Kamu ada masalah di tempat kerja?"
Aditya meraih gelas yang berisi air dan meminumnya,mencoba menghilangkan sesuatu dalam dirinya. Dia tau, dia terlihat gugup tapi Aditya berusaha menampakkan ketenangan.
"Hanya masalah kecil "
"Masalah kecil ? Tapi bisa membuat kamu terlihat gelisah,kamu tidak tenang, Dit "
"Ini hanya masalah proyek di desa Mekar, beberapa pengerja bangunan mogok kerja karena keterlambatan pembayaran upah mereka "
"Apakah ini yang membuat kamu tidak konsentrasi?" Chelsea mencoba mencari kejujuran di mata Aditya.
"Ya sayang "
"Makanlah Dit, aku akan minta bantuan ayah kalau proyek itu kekurangan dana"
"Ah..tidak.. tidak sayang, Aku sudah mengatasinya. Tidak perlu minta bantuan ayah "
Hening sejenak, hanya sesaat saja, Chelsea berpikir suaminya sedang menutupi sesuatu " Baik, asal tidak membuat kamu kepikiran Dit, aku tidak mau kamu sakit. Aku butuh kamu di sini"
Aditya menatap Chelsea " Semua baik baik saja sayang, apapun itu aku selalu ada untukmu "
____
"Fa...apa yang kau lakukan, kenapa? Jawab aku..jawab. Kau hanya noda dalam hidupku. Kau bukan siapa-siapa. Elfa... Aku menyuruhmu pergi, bukan untuk menghantui hidup. ..ahh..jangan.. jangan..."
Chelsea terkejut.."Adit.. Aditya...hei.. sayang sadar lah..Kamu kenapa sampai berkeringat seperti ini?"
Aditya terkejut.....
"Say... sayang, kenapa ? Apa kamu butuh sesuatu?" Aditya merasakan detak jantungnya memukul mukul dadanya. Dia bermimpi dan mimpi itu terasa..
"Siapa Elfa, Dit ?"
Sekali lagi Aditya terkejut, dan pertanyaan Chelsea seakan-akan menghantam dinding rahasia yang telah ia sembunyikan bertahun tahun. Nama yang tidak pernah ia sebut. Kenapa harus ia dengar hari ini.
"Elfa..!?" Aditya tersenyum kaku.
Aditya berusaha memasang topeng ketenangan. Berusaha keras menunjukkan bahwa nama itu bukan apa-apa. Hanya sebuah nama. Bukan siapa-siapa . Itu hanya secuil noda yang telah ia singkirkan.
"Entahlah, aku tidak tahu. kamu menyebutkan nama itu, ada apa sayang?" Aditya bertanya mencoba senatural mungkin.
Chelsea menatapnya lama, mencoba mencari kebohongan di mata Aditya "Kamu menyebut nama itu di mimpimu dan mengatakan kamu hanya noda kecil, kamu sangat ketakutan "
Aditya terpaku, perkataan Chelsea membuatnya tak berkutik " Tidak ..... Tidak, tidak ada seorangpun yang tahu. Aku tidak ingin nama itu merusak keutuhan rumah tanggaku. Aku mencintai Chelsea " Batin Aditya
"Itu hanya mimpi sayang, aku tidak mengenal nama itu. Ayo tidur kembali. Mungkin ini efek obat tidur dan efek lelah " Aditya menarik nafas panjang, dengan sangat lembut Aditya membimbing istrinya berbaring " Jangan di pikirkan lagi "
Aditya membelai lembut rambut istrinya menenangkan sampai nafas Chelsea terdengar teratur. Aditya bergerak perlahan-lahan. Ia menunggu beberapa menit, setelah ia yakin Chelsea kembali terlelap kedalam mimpi. Ia meninggalkan kamar.
Aditya melangkah keluar kamar dengan langkah yang nyaris tak terdengar. Melewati setiap ruangan menuju ruang kerjanya.
Begitu ia masuk kedalam ruangan dan mengunci dari dalam. Ia duduk diam selama beberapa menit. Ia berjalan berlahan ke arah jendela berdiri menatap cahaya lampu dari beberapa rumah
"Kau akan merangkak di bawah kakiku " Mimpi itu begitu nyata, suara tawa bayi dan tangan bayi yang ingin menarik tangannya.
"Elfa..." Suaranya bergetar saat menyebut nama itu " benarkah semua karena dia ?"
Aditya tidak percaya dengan sumpah orang miskin, baginya itu hanya bualan saja. Tatapannya kosong. Ia melangkah menuju meja kerjanya, layar monitor menjadi penerang dalam ruangan itu. Aditya masih merasakan suara tawa bayi itu dalam mimpinya, itu terasa sangat nyata.
Selama tiga belas tahun ia berhasil membangun tembok menutupi semua " Tatapan itu, itu tatapan kebencian " Aditya ingat tatapan yang baru saja ia lihat dalam mimpi itu bukan tatapan seseorang yang pernah memujanya. " Tidak....itu hanya mimpi" Ucapnya lirih.
"Kau tidak akan pernah mendengar suara bayi seumur hidupmu "
"Ahh sial.... Kenapa kata kata itu selalu ada dalam kepalaku "
Aditya membuka laci meja kerjanya, Meraih amplop coklat, bukan amplop berisi uang tapi amplop itu berisi kertas kertas yang di tulis oleh seseorang dengan penuh cinta, kertas yang selalu ia temukan setiap pagi dalam laci meja belajarnya.
"Selamat pagi sayang"
"Aku mencintaimu"
"Selamat ulang tahun sayang"
Aditya terpaku menatap tulisan itu
Aditya memijat pelipisnya, kenapa di setiap kehamilan chelsea, ini harus terjadi? empat kali keguguran. Aditya menatap kertas itu." Ini tidak ada kaitannya dengannya "
Chelsea merasakan tempat tidur di sampingnya kosong " kemana dia ?"
Ia menelusuri ruangan yang kosong, chelsea melihat ada cahaya dari ruang kerja Aditya.
Tok..tok..tok...
"Sayang, kamu di dalam?"
Aditya terkejut, dengan gerakan sangat cepat ia menutup laci meja kerjanya.
"Kenapa bangun?"
"Aku haus, kamu tidak ada di kamar, aku mencari kamu. ini sudah larut malam Dit"
"Aku sedang mengerjakan pekerjaan yang harus selesai besok. Ini keuntungannya sangat besar sayang " Satu kebohongan Aditya lagi untuk menutupi satu rahasia kelamnya.
Chelsea menatap Aditya, sebuah senyum samar nampak terlihat dalam ruangan yang sedikit gelap " Untuk apa kamu menumpuk harta, percuma kita tinggal di rumah megah dan mewah. Kalau di dalamnya tak ada pewarisnya "
Jantung Aditya berdegup sangat kencang, Aditya membeku. Lidahnya terasa keluh seolah olah oksigen dalam ruangan itu tersedot habis tak tersisa.
Matanya mengerjab liar, kata kata Chelsea seperti hantaman keras tepat di ulu hatinya.
Ya.. untuk apa harta ini...?
"Kita akan terus mencoba sayang, kita akan mencoba segala cara "
"Mencoba segala cara ? Tapi aku mulai lelah Dit ?"
"Sayang....." Kalimat Aditya menggantung.
Aditya melihat tatapan Chelsea mulai layu dan kering, tak ada lagi semangat untuk mencoba. Aditya tahu, Chelsea tidak lelah meminta kepada Tuhan. Suara tangisan setiap malam menjadi penyempurna doa doanya. Mempertanyakan kepada Tuhan, adakah dosa yang telah ia lakukan sehingga Tuhan tidak mengizinkan rahimnya menjadi tempat satu mahluk bertahan di sana..
Chelsea menangis untuk dosa yang tidak pernah ia tahu.
"Sebanyak apapun harta yang kita kumpulkan itu tidak akan bisa mengubah keadaan kita Dit. Rumah ini seperti tempat pemakaman"
"Sayang...." Tiba-tiba suara tangis Chelsea terdengar pilu dan sangat menyayat hati. Aditya dan Chelsea masih berdiri di depan pintu ruang kerja Aditya. Seolah-olah tidak ada akhirnya mereka meratapi takdir yang begitu kejam.
"Anak kita, satu persatu mereka hilang dari tubuh ini. Aku hanya melihat darah. Anak ku.... "
Aditya tak mampu menjawab, ia hanya memeluk tubuh Chelsea yang begitu ringkih.
"Aku terlalu penasaran, ada apa dengan tubuh ini? Tak ada yang salah. Tubuhku sehat, aku memiliki rahim yang sehat, bahkan bayi juga sehat tapi kenapa.. kenapa, semua yang terlihat sempurna justru..itu...itu.."
"Sayang... "Bisik Aditya parau
Chelsea menatap Aditya " Tenanglah, kita sudah bicarakan ini bukan? Kita masih muda, Kita masih bisa berusaha. Mungkin mereka bukan rezeki kita. Kamu pun butuh istirahat. Dan kita akan mencoba lagi"
.
.
.
Next.....
anakmu tak kan mnerima mu.
apalagi km ingin dia mati dulu.
Chelsea kl km gk cerai dng Aditya mk km selamanya tak akn punya anak.
CPT cerai sebelum terlambat km tambh ngenes. hidup dng laki biadap, tega mmbunuh darah daging nya sendiri.