"Keadilan di kota ini tidak ditegakkan, melainkan diperdebatkan dengan nyawa."
Bagi Dr. Saraswati, detektif psikolog jenius, semua kejahatan pasti tunduk pada logika dan akal sehat. Hingga "Sang Pembebas" muncul—pembunuh berantai misterius yang membantai para elit korup tanpa jejak, hanya menyisakan teka-teki berdarah yang mengejek hukum.
Di mata publik yang tertindas, pembunuh ini adalah pahlawan. Di mata hukum, ia monster anarkis.
Alih-alih bersembunyi, Sang Pembebas justru mengincar Saraswati. Melalui teror pesan chat rahasia, ia mengajak sang detektif bermain kucing-kucingan mematikan, menguliti trauma masa lalunya satu per satu.
Untuk menangkap entitas di luar nalar ini, Saraswati dihadapkan pada pilihan fatal: mempertahankan kewarasannya dan kalah, atau melepaskan logikanya untuk menyelami kegelapan pikiran sang pembunuh.
Siapa yang memburu, dan siapa yang sebenarnya sedang diburu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon MUXDHIS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 35 ALIENASI DIGITAL DAN PENJARA PIKIRAN
[07:00 AM] SATU HARI SEBELUM MALAM GALA — LABORATORIUM FORENSIK, MENARA AEGIS
Cahaya putih steril dari lampu operasi menyinari tabung baja perangkat Helios yang tergeletak di atas meja perakitan. Tabung itu—yang hanya beberapa jam lalu nyaris meratakan Sektor 3 menjadi abu termobarik—kini telah dilucuti dari lapisan pelindung luarnya oleh lengan-lengan robot presisi tinggi.
Dr. Saraswati berdiri di seberang meja, mengawasi Dr. Viktor yang sedang mencondongkan wajahnya ke arah sirkuit internal perangkat tersebut. Kepala insinyur AI Aegis Vanguard itu tampak kelelahan, matanya merah karena kurang tidur, namun ambisi teknokratisnya memaksanya untuk terus bekerja.
Saraswati menyilangkan lengannya, menyembunyikan detak jantungnya yang berpacu. Di dalam ruang sempit sirkuit gelombang mikro Helios itu, ia telah menanamkan modifikasi perangkat keras—sebuah data siphon (penyedot data) yang dirancang untuk meretas arsitektur Panopticon begitu Viktor menghubungkan perangkat ini ke server utama Aegis.
Ini adalah momen paling rentan dalam War of Position yang sedang ia mainkan. Jika Viktor, dengan keahlian komputasionalnya, menyadari ada anomali pada papan sirkuit itu sebelum menghubungkannya, penyamaran Saraswati akan hancur seketika.
"Ini aneh," gumam Viktor, menyesuaikan kacamata pembesarnya. "Sistem pemicu termobariknya sangat primitif, tipikal rakitan pasar gelap. Tapi modul gelombang mikronya... sirkuit ini memiliki kapasitas bandwidth yang jauh melebihi kebutuhan sebuah detonator."
Ujung obeng mikro Viktor bergerak mendekati kabel modifikasi yang dipasang Saraswati semalam.
Saraswati tidak boleh menggunakan kekerasan fisik. Ia harus menggunakan senjata utamanya: psikologi. Sigmund Freud mengajarkan bahwa setiap individu yang narsistik akan selalu mengutamakan validasi atas Ego-nya dibandingkan dengan realitas objektif. Saraswati harus memanipulasi Ego Viktor.
"Itu karena Kala bukan sekadar pembuat bom, Viktor," sela Saraswati dengan nada suara yang memancarkan kekaguman palsu terhadap sang insinyur. "Dia adalah seorang psikopat megalomaniak. Menurut analisis Freudian-ku, Kala tidak hanya ingin meledakkan truk itu. Dia ingin ledakan itu direkam, dianalisis, dan disiarkan. Dia menggunakan bandwidth besar karena dia mungkin memasang pemancar video mikroskopis di dalam sana untuk menikmati pertunjukannya dari jauh. Tapi, tentu saja, arsitektur firewall Aegis yang kau bangun akan langsung membakar protokol transmisi murahan semacam itu begitu perangkat ini terhubung ke server karantina kita, bukan?"
Mendengar karya ciptaannya (firewall Aegis) dipuji secara tidak langsung oleh konsultan utama Orion, dada Viktor sedikit membusung. Ego-nya memakan umpan itu dengan sempurna.
"Tentu saja, Dokter," Viktor mendengus sombong, menjauhkan obengnya dari sirkuit modifikasi Saraswati. "Protokol karantina yang kurancang akan menetralisir segala bentuk transmisi outbound dari perangkat ini secara otomatis. Mari kita unduh log memorinya untuk melihat di mana Kala merakit benda ini."
Viktor mengambil kabel optik dari konsol Aegis dan menancapkannya ke port data Helios.
Layar monitor raksasa di dinding laboratorium berkedip, memunculkan barisan kode ekstraksi data. Di saat yang bersamaan, di dalam saku jas Saraswati, ponsel burner rahasianya bergetar pelan sebanyak tiga kali.
Sinyal itu mengonfirmasi bahwa data siphon telah aktif. Alih-alih Aegis yang mengekstrak informasi dari bom Kala, perangkat modifikasi Saraswati sedang menyedot seluruh cetak biru arsitektur (source code) Proyek Panopticon dari dalam server Viktor, lalu mengirimkannya ke peladen independen milik jaringan Dr. Aria di bawah tanah.
Saraswati menarik napas panjang, meredam kelegaannya. Kuda Troya telah berhasil menembus benteng Troy.
[10:30 AM] ALIENASI DIGITAL DAN KOMPLEKS INDUSTRI PSIKIATRI
Dua jam kemudian, Saraswati duduk sendirian di ruang kerjanya di lantai 85. Layar komputernya terhubung melalui jaringan terenkripsi ke server bawah tanah Dr. Aria, menampilkan cetak biru asli Proyek Panopticon yang baru saja ia curi.
Sambil meminum kopi hitamnya, Saraswati membedah ribuan baris kode tersebut. Semakin dalam ia menyelam ke dalam arsitektur AI tersebut, semakin pekat hawa Das Unheimliche—kengerian yang teramat sangat—menyelimuti ruangannya.
Dalam teori Marxis tradisional, Karl Marx mengkritik kapitalisme karena merampas nilai lebih (surplus value) dari keringat buruh fisik. Namun, data yang terpampang di layar Saraswati menunjukkan sebuah mutasi kapitalisme yang jauh lebih mengerikan: Alienasi Digital (Digital Alienation).
Aegis Vanguard tidak lagi hanya memeras keringat kaum proletar, mereka memeras kesadaran manusia. Panopticon dirancang untuk membaca setiap ketakutan, setiap trauma masa lalu (berdasarkan konsep psikoanalisis Freud), dan setiap pencarian internet yang dilakukan oleh warga metropolis. AI ini secara harfiah mereifikasi (membendakan) kondisi psikologis manusia menjadi komoditas algoritma.
Tetapi ada satu berkas direktori rahasia di dalam source code itu yang disembunyikan bahkan dari Dr. Viktor. Sebuah direktori yang hanya bisa diakses oleh Orion, berlabel: FASE NOL: REKALIBRASI KLINIS.
Menggunakan kemampuan deduksi logikanya, Saraswati memecahkan enkripsi dasar direktori tersebut. Layar menampilkan manifes ribuan nama warga sipil, sebagian besar dari Sektor 3 dan Sektor 8. Status mereka ditandai dengan satu kata: Diproses.
"Ke mana kau membawa orang-orang ini, Orion?" gumam Saraswati pada dirinya sendiri.
Ia membuka log geolokasi dari nama-nama tersebut. Semua titik koordinat mereka berhenti pada satu fasilitas medis yang terdaftar sebagai aset anak perusahaan Aegis: Klinik Rehabilitasi Harmoni, yang terletak di pinggiran Sektor 1.
Filsuf Antonio Gramsci pernah menulis bahwa hegemoni negara dipertahankan tidak hanya melalui kepolisian, tetapi juga melalui institusi sipil seperti rumah sakit dan sekolah. Apa yang dilihat Saraswati di layar ini adalah perwujudan dari "Kompleks Industri Kesehatan Mental" (Mental Health Industrial Complex)—sebuah sistem di mana psikiatri dan diagnosis medis dipersenjatai oleh kapitalisme korporat untuk membungkam para pembangkang.
Orion tidak menunggu Malam Gala untuk memulai pembersihan. Ia sudah mulai menculik orang-orang yang algoritma Panopticon anggap "rentan untuk memberontak" berdalih sebagai pasien gangguan jiwa.
Saraswati mematikan komputernya. Ia tidak bisa hanya menganalisis dari menara gading ini. Eksistensialisme menuntut tindakan empiris. Ia harus melihat sendiri apa yang dilakukan sang Leviathan di Klinik Harmoni.
[13:00 PM] KLINIK HARMONI DAN PENJARA PIKIRAN
Mobil dinas Saraswati tiba di pelataran Klinik Rehabilitasi Harmoni. Bangunan itu tampak seperti fasilitas kesehatan modern yang damai—dikelilingi taman hijau buatan, dicat dengan warna putih dan biru pastel yang menenangkan. Namun, bagi Saraswati, fasad ini lebih mengerikan daripada penjara beton Benteng Utara.
Karena ia memegang lencana "Konsultan Psikiatri Utama", para penjaga di lobi tidak menanyakan tujuannya. Mereka mengira Saraswati datang untuk melakukan inspeksi rutin.
Saraswati menyusuri lorong-lorong fasilitas tersebut. Suasana di dalam klinik sangat hening. Terlalu hening. Tidak ada suara percakapan, tidak ada langkah kaki terburu-buru, bahkan tidak ada suara mesin medis yang berbunyi nyaring.
Ia tiba di depan sebuah ruangan berdinding kaca lebar bertuliskan Ruang Terapi Kognitif.
Saraswati mendekati kaca itu dan melihat ke dalam. Jantungnya serasa berhenti berdetak.
Di dalam ruangan yang menyerupai aula besar itu, duduk puluhan orang di atas kursi-kursi berlengan. Mereka adalah para buruh pabrik, mekanik, dan warga sipil biasa. Mereka semua mengenakan seragam putih bersih. Mereka sedang menonton sebuah tayangan relaksasi di layar televisi raksasa.
Namun, postur tubuh mereka sama sekali tidak normal. Mereka duduk dengan punggung tegak namun otot-otot yang benar-benar lemas. Mata mereka kosong, tidak berkedip, menatap layar dengan ketiadaan jiwa yang mutlak. Air liur menetes dari beberapa sudut bibir pasien, tanpa mereka sadari.
Mereka masih hidup secara biologis, namun eksistensi kemanusiaan mereka telah dimatikan.
"Lobotomia kimiawi," bisik Saraswati, tangannya menyentuh kaca dingin tersebut.
Ini bukan pembunuhan fisik, ini adalah pemusnahan ontologis. Orion telah menggunakan neurotoksin dosis rendah—turunan dari gas saraf yang ia rencanakan di ballroom sebulan lalu—untuk memutus koneksi sinapsis di korteks prefrontal mereka. Penderitaan mereka, trauma mereka, amarah kelas (class rage) mereka... semuanya telah dihapus. Tapi bersamaan dengan itu, kemampuan mereka untuk mencintai, berharap, dan memberontak juga ikut musnah.
Di sinilah teologi negatif Ibnu Arabi dipelintir menjadi senjata teror. Para pasien ini telah dimasukkan ke dalam Barzakh abadi—sebuah ruang di mana mereka terperangkap di antara kehidupan dan kematian, menjadi "sisa nol" yang sesungguhnya di mata sistem.
"Luar biasa, bukan, Dokter?"
Saraswati memutar tubuhnya dengan cepat, tangannya secara refleks bergerak ke arah pinggang sebelum ia menekan kembali instingnya.
Orion berdiri di ujung lorong, berjalan menghampirinya dengan senyum kepuasan yang elegan. Sang tiran mengenakan jas abu-abu terang, tampak seperti seorang malaikat maut yang puas dengan hasil panennya.
"Aku tidak menyangka kau akan melakukan tur inspeksi ke fasilitas bawahanku tanpa memberitahuku, Saraswati," ucap Orion, berdiri di sampingnya dan menatap ke dalam ruang kaca tersebut. "Tapi aku senang kau ada di sini. Kau sedang melihat cetak biru masa depan kita."
Saraswati mengendalikan setiap otot mikro di wajahnya untuk tidak memancarkan rasa jijik. "Kau melakukan lobotomi massal, Orion. Kau mengubah mereka menjadi cangkang kosong."
"Cangkang kosong tidak merasakan sakit, Saraswati," jawab Orion dengan logika utilitaris yang sangat bengkok. Ia memandang para pasien itu layaknya seorang seniman memandang patungnya. "Kau tahu apa masalah utama dari kelas pekerja ini? Mereka terlalu banyak mengingat. Repetition compulsion yang sering kau bicarakan itu. Mereka mengingat rasa lapar, mereka mengingat penindasan, dan ingatan itu membuahkan anarki. Apa yang kulakukan di sini adalah sebuah tindakan belas kasih. Aku melepaskan mereka dari penderitaan eksistensial mereka."
"Kau tidak melepaskan penderitaan mereka," bantah Saraswati, membedah sesat pikir Orion dengan argumentasi filsafat yang tajam. "Kau hanya menyingkirkan kehendak bebas mereka. Simone de Beauvoir berkata bahwa tanpa kebebasan untuk bertindak, manusia hanyalah sebuah benda (immanence). Kau mereduksi mereka menjadi benda, Orion. Kau memutus kodrat mereka sebagai manusia!"
Orion menoleh, menatap Saraswati dengan tatapan yang memancarkan dominasi mutlak.
"Kemanusiaan adalah penyakit yang menyebabkan dunia ini terbakar, Dokter!" desis Orion, mematahkan topeng kesopanannya untuk sesaat. "Lihatlah Kala! Lihatlah kekacauan yang ia bawa! Manusia yang diberi kehendak bebas hanya akan memilih untuk menghancurkan satu sama lain. Aegis Vanguard akan menghapus kebebasan itu, agar peradaban ini bisa bertahan selamanya."
Orion menunjuk ke arah kaca. "Malam Gala besok, Panopticon akan diluncurkan secara penuh. Sistem ini akan menyiarkan frekuensi subliminal ke seluruh layar gawai, televisi, dan monitor di kota ini. Frekuensi yang tidak akan membuat mereka gila seperti rencana Kala, melainkan frekuensi yang akan membuat mereka... patuh. Orang-orang di ruangan ini adalah prototipenya. Lusa, dua puluh juta warga metropolis akan tersenyum dan patuh pada setiap perintah kita. Tidak akan ada lagi kejahatan, karena tidak akan ada lagi pikiran."
Kenyataan itu menghantam Saraswati seperti gelombang pasang. Panopticon bukan hanya mesin pengawas, Panopticon adalah mesin pencuci otak massal. Orion sedang membangun sebuah dystopia di mana setiap individu akan menjadi budak yang tersenyum, teralienasi secara permanen dari kesadaran mereka sendiri.
"Ini adalah Tanzih yang murni," bisik Saraswati tanpa sadar.
"Tepat sekali, Dokter. Keteraturan yang absolut dan suci," Orion menyetujui, menyalahartikan gumaman Saraswati sebagai bentuk kekaguman. "Kembalilah ke Menara. Siapkan dirimu untuk Malam Gala. Kau dan aku akan berdiri di panggung yang sama saat dunia ini dilahirkan kembali."
Orion menepuk bahu Saraswati pelan, lalu berjalan pergi menyusuri lorong klinik, meninggalkan sang detektif yang masih mematung di depan dinding kaca.
[16:00 PM] PESAN DARI SANG ANARKIS
Saraswati tidak segera kembali ke mobilnya. Ia mencari sebuah toilet kosong di dalam klinik, mengunci pintunya dari dalam, dan menyalakan keran air untuk menyamarkan suara. Ia harus menghubungi Maya.
Ia mengeluarkan ponsel burner-nya dan membuka saluran komunikasi enkripsi.
"Maya," bisik Saraswati. "Panopticon bukan hanya AI pengawas. Ini adalah mesin lobotomi massal. Orion akan menyiarkan gelombang neuro-supresan (penekan saraf) besok malam saat Gala berlangsung. Kita tidak bisa hanya meretasnya. Kita harus menghancurkan seluruh menara transmisinya dari dalam saat acara berlangsung."
Tidak ada jawaban dari seberang selama beberapa detik. Hanya terdengar suara gemerisik radio.
Kemudian, sebuah suara laki-laki yang sangat familiar dan menyeramkan terdengar dari ponsel tersebut.
"Maya sedang tidak bisa mengangkat teleponmu, Saras."
Jantung Saraswati serasa berhenti. Itu adalah suara Kala.
"Kala..." desis Saraswati, kengerian kembali menyergap rasionalitasnya. "Apa yang kau lakukan pada Maya?!"
Terdengar suara batuk basah dari seberang. "Maya mengkhianatiku, Saras. Dia mencoba membunuhku di sungai pembuangan Sektor 3 semalam agar aku tidak kembali ke kota. Tapi dia lupa bahwa aku telah merangkul ketiadaan. Sesuatu yang telah mati tidak bisa dibunuh dua kali."
Saraswati mencengkeram tepi wastafel. Dinamika Aristoteles vs Nietzsche sedang mencapai puncaknya. Maya, yang mewakili revolusi yang rasional dan memiliki tujuan, telah dikalahkan oleh Kala, sang avatar kehancuran Dionysian murni yang menolak segala bentuk kompromi.
"Orion berpikir dia bisa mengurung jiwa manusia di dalam kotak kacanya besok malam," lanjut Kala, suaranya dipenuhi oleh euforia kematian. "Dan kau berpikir kau bisa menghentikannya dengan meretas mesinnya. Kalian berdua terlalu sombong. Aku telah menyusup kembali ke dalam kota ini, Saras. Dan besok malam, di Malam Gala itu... aku tidak akan datang untuk meretas sistemnya."
"Kala, jangan lakukan sesuatu yang bodoh," ancam Saraswati, mencoba menemukan titik jangkar di dalam psikologi pria itu. "Jika kau menyerang Gala itu dengan kekerasan fisik, pasukan penjaga elit Aegis akan menembakmu menjadi serpihan daging!"
"Aku mengharapkan itu, Saras," Kala tertawa pelan. Tawa seorang pria yang telah sepenuhnya menyerahkan dirinya pada kegilaan dan Amor Fati. "Aku akan datang ke sana untuk membakar dewa kalian di hadapan para pemujanya. Malam Gala besok tidak akan menjadi peluncuran Panopticon. Itu akan menjadi altar pengorbanan kita bersama."
Panggilan itu terputus. Bunyi tut... tut... tut... menggema di dalam telinga Saraswati, memudar ke dalam suara air keran yang mengalir.
Saraswati menundukkan kepalanya, menatap pusaran air yang menghilang ke dalam saluran pembuangan.
Papan catur itu telah disusun, namun bidak-bidaknya telah hidup dan bergerak dengan kehendak mereka sendiri. Besok malam, di ruang Grand Ballroom Menara Aegis, tiga kekuatan absolut akan berbenturan tanpa sisa:
Orion dengan sistem Panopticon-nya yang akan melumpuhkan kesadaran manusia. Kala dengan agresi fisik radikalnya yang akan membantai semua orang di ruangan itu. Dan Saraswati, sang Subjek eksistensialis, yang berdiri di tengah-tengah jepitan neraka tersebut, membawa anomali logika yang bisa menghancurkan kedua Leviathan itu—jika ia bisa bertahan hidup cukup lama untuk menekan tombolnya.
Malam Gala akhirnya tiba, dan kota metropolis ini tidak akan pernah sama lagi.