yaseer, seorang anak yang hidup di negara konflik. keluarga petani zaitun, namun dia bermimpi untuk mengembangkan usaha orangtuanya dewasa kelak. Namun, karena konflik semakin parah, semua usahanya perlahan runtuh. hingga ketika konflik berhenti, yaseer berusaha sekuat tenaga nya beserta keluarga nya untuk membangun kembali. tapi tiba-tiba hantaman rudal dari penjajah meluluh lantakkan bahan utama usahanya. hingga akhirnya menghancurkan usahanya tak bersisa. akan kah yaseer bangkit kembali atau tamat dengan keadaan fustasi berat? yuk kita simak
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ummi Adzkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
kacang zaitun
Buk...buk... Srek .. Srek..
Pluk..pluk...
Berjatuhan lah biji-biji zaitun ke atas rumput.
"huft... Kenapa Lah pohon zaitun yang ini tinggi banget.. uhh... " keluh yaseer sambil memunguti biji zaitun yang dia ambil.
Yaseer adalah seorang anak berusia 8 tahun yang hidup di desa kecil di kota Nablus, Palestina. Anak ke 3 dari 4 bersaudara. Kakak pertamanya, bernama Abbas al'aliy berusia 12 tahun. Kakak ke2 nya bernama Haniya berusia 10tahun, dan adiknya yang bungsu bernama Abia berusia 5tahun. Babanya bernama Ali dan Ummi nya bernama Laila.
Yaseer tinggal di sebuah desa kecil di lembah Gunung Gerizim. panorama indah untuk melihat sunset dan sunrise bagi sebagian orang. Kebun-kebun zaitun terhampar luas dan menghasilkan banyak buah setiap panen nya.
Yaseer sendiri sudah beberapa kali mengikuti sang ummi untuk memanen zaitun. Walau tubuhnya kecil, tapi dia tak pernah menolak jika umminya mengajaknya untuk memanen buah zaitun. Lelah memang, tapi namanya anak-anak, senang aja di ajak berpetualang di alam. Apalagi di temani sama ummi. "asal sama ummi, Yaseer senang aja mi" begitu katanya kalo ditanya 'cape ga' sama ummi nya.
"ummi.... Ini udah terkumpul, ada wadah lagi ga?" teriak Yaseer pada umminya yang berjarak 10meter dari nya berada.
"ada, itu ada karung kecil, masukin ke situ aja ya. Karung nya ada di dalam tas perbekalan. Hati-hati jangan sampai tumpah air minumnya nya" kata ummi, sambil menunjuk tas tempat bekal yang di taruh nya tadi.
"ok ummi, insyaallah" teriak Yaseer sambil berlari ke arah tas bekal berada.
gedebug.. ugh...
"ugh.. Sakit...." rintihnya. Kakinya tersangkut rumput yang saling bertaut membuatnya terjatuh diatas rumput tipis.
" hati hati Yaseer......" teriak ummi. Oh rupanya ummi memperhatikan Yaseer yang berlari, ternyata benar aja, jatuh kan, batin sang ummi.
"cck.... Anak itu.. Ga bisa apa jalan aja gitu, ga usah lari-lari. Ga kabur juga itu tas" gumam ummi sambil menghampiri Yaseer.
"innalilah... tuh kan jatuh, kenapa tidak hati-hati, masih sakit?" tanya ummi sambil mencoba menarik tubuh supaya berdiri.
" hehe... Ga kok ummi, udah ga sakit, cuma ini celana nya jadi kotor kena tanah" ringis Yaseer sambil mengibas celananya yang kotor.
"Alhamdulillah... Ya udah ga apa-apa, lain kali hati - hati. Disini banyak rumput!" peringat ummi.
"iya ummi maaf... Hehe.." jawab Yaseer sambil garuk -garuk kepala yang ga gatal.
"ya sudah, sana lanjutin apa yang mau kamu kerjain tadi" perintah ummi lembut, " setelah ini kita pulang ya, sudah mendekati waktu Dzuhur" peringat ummi sambil menyeka keringat di kening nya.
"baik ummi" kata Yaseer bergegas.
setelah selesai mengumpulkan zaitun di karung dengan rapi, Yaseer dan umminya beranjak pulang dengan membawa masing-masing karung kecil berisi zaitun yang mereka petik. Zaitun ini nantinya akan diolah menjadi minyak. cara mengolah zaitun secara tradisional melibatkan pemetikan manual, pembersihan, dan penghancuran menjadi pasta menggunakan lesung batu atau alat berat. Pasta tersebut kemudian diperas menggunakan tikar tradisional (pengepresan dingin) untuk memisahkan minyak dari ampas dan air, yang kemudian diendapkan untuk mendapatkan minyak zaitun murni. Proses yang panjang.
*****
" Yaseer kamu bebersih, kemudian wudlu dan bersiap kemasjid!" arahan ummi pada Yaseer ketika masuk ke dalam rumah.
" kak Abbas kemana mi? Belum pulang dari pasar dia?" tanya Yaseer sambil celingukan di dapur.
" ummi juga belum tau. Kan ummi dari tadi sama kamu. Kamu kira ummi cenayang apa, yang bisa tau keberadaan orang dimana aja hmm....?" jawab ummi sambil membereskan karung-karung zaitun yang mereka bawa tadi. Yang nantinya, buah yang lumayan banyak itu akan mulai di olah oleh babanya ketika pulang dari mengajar nanti. Dan juga akan dibantu oleh kakaknya, Abbas.
Begitulah tugas mereka sehari-hari. Yasir dan ummi nya bertugas memetik buah zaitun di kebun yang mereka punya. Kebun kecil yang mereka miliki, itupun ada beberapa pohon zaitun yang sudah di rusak oleh para penjajah.
Tak hanya milik mereka saja yang dirusak. Banyak dari kebun milik tetangganya yang juga tak luput dari pengrusakan yang secara tiba-tiba itu. Namun belum begitu parah, hanya beberapa pohon saja yang dirusak itupun karena buah nya yang sangat lebat.
****
" Baba, apa kita ga bisa ikut produksi di pabrik yang di ujung desa itu?" tanya Abbas pada babanya ketika sedang mengolah zaitun.
" Punya kita hanya sedikit, masih bisa diolah sendiri, lagi pula ikut di pabrik kan kita harus bayar, mending uang nya buat kita beli gandum atau buat nambah modal usaha jualan kita" jelas baba sambil terus memutar lesung pembuat pasta zaitun.
"iya sih. Tapi apa kita ga bisa nambah kebun lagi, biar hasil panen kita makin banyak" kritis Abbas.
"Iya, insyaallah nanti kita coba tanam lagi ya zaitun yang baru untuk mengganti zaitun yang sudah rusak dan mati" terang baba dengan sabar.
Mereka berdua terus bekerja memutar lesung batu bundar itu hingga buah zaitun yang kecil-kecil itu menjadi pasta.
"oya gimana tadi hasil penjualan kue kita?" tanya baba tiba-tiba.
"Alhamdulillah habis terus ba, kayaknya ummi harus nambah produksi deh. Kue buatan ummi itu ada khasnya, lebih gimana gitu ya kata yang pelanggan kita tu,... " jawab Abbas sambil sedikit berfikir mengingat -ingat testimoni para pelanggan nya.
Kanafeh, itulah jenis kue yang di jual oleh Abbas. Kue ini adalah primadona kuliner Nablus. Berbeda dengan knafeh daerah lain, Knafeh Nablus menggunakan keju Nabulsi yang putih, sedikit asin, dan lembut, lalu disiram sirup gula manis (qatir) dan dihiasi parutan pistacio.
"Assalamualaikum baba.. Kaka.." sapa Yaseer ketika masuk ke dalam rumah.
" Wa'alaikumussalam Yaseer... " jawab ke duanya.
" Masyaallah putra baba yang ganteng nya kaya cucu Nabi Yusuf, udah berapa juz hafalan nya, nambah berapa surat lagi dari terakhir setoran ke baba?" tanya baba antusias begitu melihat putra ke-3nya yang baru pulang dari mengaji di masjid.
" Ooh.. Alhamdulillah baba... Yaseer udah nambah 3 surah. Kata ustadz Yazid, bacaan Yaseer makin bagus. udah bisa jadi Imam sholat Asar" kata Yaseer dengan bangga.
" Heh sholat asar itu bacaan nya sir bukan jahr, kamu kira kayak sholat magrib apa!" sekak kak Abbas iri.
" yey si Abang kanafeh.. Aku juga tau kalee kalo sholat asar itu siir.. Becanda dikit aja ngegas... Santai aja si bang. Jangan serius-serius hidup tuh. Nanti lupa ketawa jadi kanebo kering baru tau rasa.." jawab Yaseer pura-pura nyolot.
Baba hanya geleng-geleng kepala. "ni anak kalo udah kumpul rumah ga mungkin kayak kuburan. Pasti kayak taman kanak-kanak " gumam nya.
" Sshuuut.... Yakfii... Cukup.. Kalo diteruskan nanti baba jadikan penambah rasa pasta zaitun mau kalian?" tegas baba berlagak marah.
'Baba ini, ga marah aja muka nya tegas, apalagi kalo marah. Wah bisa 11 12 sama Hitler ' pikir Yaseer.
" hehehe.... Ngga ba.. Santai.. Kita becanda doang ko. Ya kan bang?" tanya Yaseer butuh validasi.
" bodo amat..!!" runtuk Abbas.
" ba, ini pasta nya udah siap semua kan ya?" tunjuk Yaseer pada wadah besar tempat pasta di kumpulkan.
" iya Alhamdulillah sudah semua, tinggal kita pres, da jadilah minyak" jelas baba.
" coba zaitun itu buah nya besar-besar ya kayak semangka. Jadi kita cepet kaya. Hasilnya pasti lebih banyak" kata Yaseer sok bijak.
" Alah.. kalo besar - besar. Gimana kamu bawa nya kerumah? Mau kamu gelundungin gitu dari bukit itu sampe ke rumah?" celetuk Abbas pada Yaseer.
" kalo bisa itu lebih bagus. Nnti kita buat rute dari bukit sampe rumah gitu. Biar aku sama ummi ga cape bawa -bawa di panggul-panggul. Kita gelundungin aja. Dah... Sampe deh.. " jawab nya santai...
" Iya. Trus kami ngegiling buat pastanya pake alat sebesar apa? Lagian bakal sekeras apa coba kalo zaitun sebesar semangka" runtuk Abbas ga habis pikir
" ya atuh lagian. Biji zaitun pohonyya tinggi tapi buahnya ga lebih besar dari daun nya. Jadi kayak kacang Zaitun, kalo bisa langsung di makan, ku makanlah sudah di kebun tadi.." keluh nya.
" Sudah. Ini qodarullah.. selalu ada hikmah di setiap ciptaan Allah. Kita sepatutnya selalu bersyukur masih bisa hidup aman di situasi seperti sekarang ini"
" dapat kata dari mana kamu, kacang zaitun.. ?"
happy reading 💪
happy Ied Mubarak
komen baik nya ditunggu ya.