"Saya memilih dia sebagai istri bukan karena dia spesial, tapi karena kemungkinan memberontaknya lebih kecil. Dia lemah, ceroboh, dan bodoh. Dia tidak akan terlalu mempengaruhi hidup saya."
Itulah kata-kata yang Prabujangga lontarkan saat sang ayah terus mendesaknya untuk menikah. Diantara semua pilihan, Prabujangga memilih seorang gadis yang jauh lebih muda darinya.
Dia Kharisma, putri bungsu kesayangan di keluarganya. Terlalu dijaga, hingga tak pernah mengenal dunia luar sampai akhirnya harus menikah dengan Prabujangga yang tak lain adalah CEO dingin yang tak pernah menganggap cinta itu ada.
Prabujangga memilih Kharisma bukan karena cinta, tapi karena dia terlalu polos untuk memberontak.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Liaramanstra, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 13 : Tetap Memiliki Jatah Saya Malam Ini
Jarum jam menunjuk ke arah angka sepuluh ketika Prabujangga mendongak dari berkas-berkas yang menumpuk di mejanya. Aroma steril, bercampur dengan sedikit pengharum ruangan beraroma lavender yang menenangkan, Prabujangga agaknya tidak sefokus biasanya.
Dia terlalu banyak menoleh, terlalu banyak memberi kesempatan pada gangguan.
Bahkan ini sudah tiga jam setelah percakapannya dengan sang ayah di balkon, tapi belum ada tanda-tanda bahwa Kharisma akan menemuinya. Untuk sekedar meminta maaf atau paling tidak meyakinkannya bahwa dia benar-benar menyesal.
Jangan katakan jika ayahnya itu gagal mengatasi sikap keras kepala sang Mama.
Dua hari terakhir Prabujangga berhasil tidur dengan nyenyak. Menutup mata sebelum jam sembilan malam, dan terbangun tepat saat alarm berbunyi. Tapi hari ini, bahkan saat ia berusaha menutup mata meskipun tidak ada Kharisma di sampingnya, dia tidak bisa tidur. Itulah mengapa kini ia berada di ruang kerja menyesakkan ini.
Prabujangga meletakkan penanya di atas meja, bangkit dengan tangan dimasukkan ke dalam saku celana pendeknya yang kasual.
Dia melangkah, hendak memeriksa kamar untuk ketiga kalinya dalam satu jam hanya untuk melihat apakah Kharisma sudah kembali ke sana. Melihat apakah ayahnya berhasil mengatasi sang Mama.
Tapi saat Prabujangga melewati koridor atas yang memberikannya pemandangan langsung ke ruang tamu, langkahnya tiba-tiba terhenti.
Ekor matanya menangkap kilasan asing yang memaksa kepalanya untuk menoleh.
"Mama..."
Perempuan itu berada di sana.
Prabujangga terpaku, tangannya mencengkram pembatas, dan kepalanya tertunduk untuk melihat sosok yang terlelap di sofa ruang tamu.
"Saya menunggu, bolak-balik menuju kamar, tapi ternyata kamu berada di sana."
Prabujangga memperhatikan Kharisma yang terlelap dengan posisi meringkuk. Dia mengenakan gaun tidur berbahan tipis yang terlihat nyaman, menutupi setiap lekuk tubuh polos yang dua hari terakhir ini berhasil Prabujangga jamah.
Tapa ragu-ragu Prabujangga berbalik, menuruni tangga dengan langkah terukur namun tidak menciptakan suara. Kaus hitam polosnya kontras dengan pakaian formal yang selalu dikenakannya.
"Aku hanya rindu Mama."
Kata-kata yang Kharisma ucapkan siang tadi terputar kembali di kepala Prabujangga. Reaksi terkejut dan takut perempuan itu juga masih segar di ingatannya.
Apakah Kharisma benar-benar merajuk hanya karena hal sederhana sekarang?
Langkah Prabujangga memelan, dia berhenti tepat di depan tubuh kecil yang meringkuk tanpa selimut.
Jika biasanya Prabujangga melihat perempuan itu tidur setelah kesakitan karena ulahnya, mungkin ini pertama kalinya Prabujangga melihatnya tidur dengan kedamaian. Meskipun jelas kedinginan.
Prabujangga meraih remot AC dan sedikit meninggikan suhu ruangan.
"Bangun, kamu masih memiliki tempat tidur yang layak. Tidak usah bersikap dramatis dengan tidur di sofa."
Tapi ucapan dingin Prabujangga tidak disahuti sama sekali.
Dia lantas menekuk lutut, berjongkok hingga wajahnya setara dengan Kharisma yang sudah berkelana jauh di alam mimpi.
"Hidupmu memang sangat mudah. Saat saya tidak bisa tidur di atas sana, kamu justru terlelap nyaman di sini," gumamnya dengan nada tajam dan raut tidak suka.
Prabujangga menepuk pelan pipi Kharisma, mendapati gumaman tak nyaman dari sang empunya. Perempuan itu bergeser, membenamkan wajahnya pada bantal kecil agar tidak mendapati gangguan lagi.
"Memutuskan untuk bersikap menyebalkan, hm?"
Tidak menyerah, Prabujangga meraih belakang kepala Kharisma dengan gerakan tegas namun tidak kasar. Dia menarik kepala perempuan itu untuk menghadapnya lagi, meskipun yang ia dapati hanya bibir cemberut dan dahi berkerut protes dari perempuan itu.
"Mmm..."
Pegangan Prabujangga pada kepala Kharisma terlepas tiba-tiba saat istrinya itu bergerak membenamkan wajah di kausnya, menekan wajah pada perutnya yang keras untuk mencari kenyamanan.
Sensasi wajah Kharisma yang menggesek perutnya membuat Prabujangga menegang seketika. Otot-otot tubuhnya meregang tanpa terencana, dan tenggorokannya terasa kering tiba-tiba.
Ragu-ragu Prabujangga meletakkan tangannya pada rambut Kharisma, mengelusnya dengan gerakan kaku yang menggambarkan bagaimana asingnya momen ini untuknya.
"Kembali ke kamar dan berhenti bersikap seolah-olah saya mengusirmu seperti suami kejam di drama-drama televisi," celetuk Prabujangga, suaranya sedikit serak. "Jangan membuat saya terlihat seperti pria tidak bertanggungjawab."
Tapi Prabujangga tau bahwa Kharisma tidak mendengarkan. Istrinya itu terlalu pulas dalam tidurnya.
"Kamu membuat saya jengkel hari ini."
"Ungh..."
Kharisma mengeluarkan gumaman kaget yang mengantuk saat Prabujangga mengangkat tubuhnya. Tapi itu tidak bertahan lama, karena matanya kembali terpejam sedetik kemudian.
Tanpa tenaga Prabujangga menggendong Kharisma, mengangkat pinggang perempuan itu dan melingkarkan kakinya di pinggangnya. Prabujangga bisa merasakan hembusan hangat menerpa lehernya, serta kepala yang bersandar lembut di bahunya.
Dia seperti menggendong anak-anak jika seperti ini.
"Mas sedang apa..." Sebuah gumaman lolos dari bibir Kharisma, matanya setengah terbuka untuk menyadari apa yang sedang terjadi.
Prabujangga secara naluriah mengeratkan lengannya di sekitar perempuan itu, seakan-akan kesadaran Kharisma adalah ancaman. Dia berjaga-jaga, berjaga-jaga jika saja Kharisma berani coba-coba menjauh dari sentuhannya.
Prabujangga mendekatkan bibirnya pada telinga istrinya, tangannya meremas erat kain halus gaun tidur Kharisma.
"Saya tidak bisa tidur," ungkapnya, dengan suara yang merendah.
"Tidak bisa... tidur..." Kharisma mengangguk malas, masih setengah sadar. "Kenapa..."
"Karena saya tidak menyentuh kamu," balas Prabujangga, tangannya tanpa sadar mengelus pinggul Kharisma. "Karena selama dua hari ini saya bisa tidur nyenyak karena menyentuhmu. Jadi saat kamu bertingkah konyol seperti ini, saya kembali tidak bisa tidur."
Prabujangga bertutur tanpa berpikir, hanya ingin merespon asal pertanyaan istrinya yang mengantuk.
Tapi entah mengapa, itu terdengar cukup masuk akal.
Sebelum dua hari ini ia tidak pernah bisa tidur nyenyak, dan dengan adanya Kharisma ia mendapatkan tidur nyenyak yang selama ini ia cari-cari.
"Tapi kan kita sedang bertengkar, Mas..."
Begitu kekanak-kanakan Kharisma mengingatkan.
"Saya tidak peduli, hanya kamu saja yang beranggapan seperti itu," balas Prabujangga, membenarkan posisi Kharisma di gendongannya dan mulai melangkah. "Saya tetap memiliki jatah saya malam ini."
...***...
Suara dentum pelan dari pintu yang ditutup terdengar terlalu keras di ruangan yang sunyi. Prabujangga menendangnya, menutup kayu berat itu dengan tumitnya.
Dia melangkah ke arah ranjang, mematikan lampu, lalu merebahkan tubuh yang terlelap di pelukannya dengan hati-hati.
Cahaya menembus dari jendela kamar yang terbuka, membiarkan tirai tipis berhembus dan membawakan penerangan yang membuat kamar tidur gelap menjadi remang-remang.
Prabujangga memposisikan bantal di belakang kepala Kharisma, perlahan-lahan melepaskan lengannya dari pinggang perempuan itu.
"Tidak nyaman di sini..." Kharisma bergumam, kelopak mata yang berat membuat matanya terpaksa dipejamkan. "Aku tidur di sofa saja ya, Mas..."
Prabujangga bisa merasakan lengan Kharisma yang mengerat di lehernya, menolak untuk lepas.
Prabujangga menjadi jengkel sendiri mendengar ucapan istrinya itu. Terlalu kekanak-kanakan, terlalu menyusahkan.
"Kamu mengatakan hal seperti itu seakan-akan ranjang yang kamu tiduri sekarang ini adalah ranjang bekas rongsokan." Prabujangga menarik perlahan kepala Kharisma dari bahunya, memaksa agar mereka bicara empat mata. "Bukan ranjang ini yang terasa tidak nyaman, tapi kamu sedang merajuk dan bersikap kekanak-kanakan."
Prabujangga menepuk pelan pipi Kharisma, mendesak agar perempuan itu membuka mata. "Bangun, saya tidak suka dengan perempuan kekanak-kanakan dan suka merajuk seperti ini."
"Tidak ada yang merajuk..." balas Kharisma, suaranya nyaris tak terdengar karena nadanya berbisik. "Memang tidak nyaman."
Kharisma perlahan-lahan membuka matanya, langsung mendapati wajah Prabujangga yang terlalu dekat. Bahkan Prabujangga yakin bahwa Kharisma bisa merasakan napas hangatnya menerpa wajah perempuan itu.
"Kamu tidur di ranjang ini selama dua malam dan baru mengeluh tidak nyaman sekarang," ujar Prabujangga, sedikit menekankan kata-katanya. "Kamu kira saya bodoh untuk mengenali seseorang yang sedang mengada-ada?"
Prabujangga menarik kembali pinggang kecil Kharisma, menempelkan tubuh perempuan itu padanya. "Saya yang seharusnya merah di sini karena kamu sudah dengan lancang mengadukan hal pribadi kita kepada Mama. Ini sudah cukup membuktikan bahwa kamu kekanak-kanakan."
Bibir Kharisma berubah cemberut.
"Seharusnya kamu meminta maaf pada saya karena membuat saya repot-repot menjemputmu dan meninggalkan pekerjaan saya. Kamu tidak sepenting itu jika dibandingkan dengan berkas-berkas saya di kantor," imbuhnya.
"Kalau begitu kenapa dijemput?" Kharisma membalas, menghindari tatapan Prabujangga. "Jika aku tidak penting kenapa Mas repot-repot pergi ke rumahku dan membawaku kembali ke sini?"
Prabujangga mengeratkan lengannya, mampu merasakan Kharisma yang menggeliat ingin lepas.
Rasanya Prabujangga tidak bisa bicara lebih lama lagi dengan pembangkang kecil ini. Merasakan bahwa menikahi perempuan yang sepuluh tahun lebih muda darinya ternyata jauh lebih merepotkan dari apa yang ia kira.
"Karena kamu bisa saja mengadukan hal yang sama kepada orang tuamu seperti anak kecil yang tersakiti," Prabujangga berucap rendah. "Saya tidak bisa membiarkan kamu berbuat sejauh itu dan merusak rencana saya."
Prabujangga mendekatkan wajahnya, matanya tak lepas dari manik coklat indah Kharisma yang mengerjap penuh pemberontakan kecil.
Tepat saat bibir perempuan itu kembali terbuka untuk membalas, Prabujangga sudah lebih dulu meraup dan melumat dengan intensitas yang ganas, membungkam segala protes rajuk keras kepala Kharisma dalam ciuman yang merenggut udara.
Bersambung...