Seorang Raja Vampir yang kehilangan ratunya di medan perang, lalu menunggu 1000 tahun untuk menemukan reinkarnasi istrinya di dunia manusia. Namun ketika ia menemukannya kembali, sang ratu tidak lagi mengingat masa lalu mereka, sementara ancaman perang antara bangsa vampir dan manusia serigala kembali muncul.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Naomihanaaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 32 Gaung Perang dan Nafas yang terhenti
Malam yang seharusnya sunyi berubah menjadi gelisah di desa kecil yang terletak tidak jauh dari hutan, ketenangan yang biasanya terasa begitu akrab kini perlahan berubah menjadi sesuatu yang asing. Tidak ada hujan. Tidak ada angin kencang. Namun udara terasa berat, dingin, dan seolah menekan dada.
Getaran kecil mulai terasa di tanah halus Namun, cukup untuk membuat beberapa orang menghentikan aktivitas mereka.
—
Seorang pria tua yang duduk di beranda rumahnya mengangkat kepalanya perlahan. Matanya menatap ke arah hutan yang gelap, sementara tangannya berhenti bergerak.
“Ada yang tidak beres…” gumamnya.
—
Istrinya keluar dari dalam rumah.
“Ada apa?”
Pria itu tidak langsung menjawab Ia hanya menatap ke arah hutan lama seolah mencoba mendengar sesuatu yang jauh.
“Dengar…” katanya pelan.
Namun sebelum wanita itu sempat bereaksi—
DUAARR…!!
Suara itu menggema dalam menggetarkan.
Wanita itu terkejut.
“Itu suara apa?!”
Tidak jauh dari sana, suara anjing mulai menggonggong keras. Satu suara berubah menjadi banyak, lalu dalam hitungan detik seluruh desa dipenuhi suara gonggongan yang tidak biasa.
Tidak teratur.
Tidak berhenti seolah mereka merasakan sesuatu yang tidak terlihat.
Pintu-pintu rumah mulai terbuka lampu-lampu dinyalakan orang-orang keluar.
Seorang ibu yang menggendong anaknya berkata panik,
“Kenapa mereka ribut sekali…?”
Seorang pria menjawab,
“Aku juga tidak tahu… tapi ini tidak normal…”
Suara itu datang lagi lebih kuat.
BOOOOM!!
Tanah bergetar debu-debu halus jatuh dari atap rumah beberapa orang mundur ketakutan.
“Itu dari hutan!” teriak seorang pemuda.
Semua mata langsung tertuju ke arah yang sama.
—
Di kejauhan kilatan cahaya terlihat merah putih berkedip-kedip seperti sesuatu yang bertabrakan.
“Itu seperti… ledakan…” bisik seseorang.
Seorang wanita memeluk anaknya erat.
“Apa kita harus pergi dari sini…?”
“Pergi ke mana?!”
“Kita tidak tahu apa yang terjadi!”
Ketakutan mulai menyebar Perlahan tapi pasti Namun, di tengah kepanikan itu suara mesin kendaraan terdengar.
Sebuah mobil berhenti di ujung desa lampunya masih menyala beberapa warga menoleh.
“Siapa itu?”
Pintu mobil terbuka beberapa orang turun Mereka membawa tas besar, peralatan, dan mengenakan pakaian lapangan mereka beranggotakan 5 orang
“Itu orang kota…” bisik seseorang.
Seorang pria berkacamata melangkah maju tatapannya langsung tertuju ke arah hutan.
“Jadi… ini sumbernya…” gumamnya pelan.
Seorang warga mendekat dengan wajah curiga.
“Kalian siapa?”
Pria itu menjawab tenang,
“Kami peneliti hutan.”
Warga itu terdiam sejenak lalu berkata dengan nada tidak percaya,
“Peneliti? Bukankah beberapa hari lalu juga ada peneliti yang datang ke sini?”
Rombongan itu saling berpandangan.
“Peneliti lain?” tanya salah satu dari mereka.
“Iya,” jawab warga itu.
“Namanya Tuan Edward dia sudah berada didesa kami berminggu Minggu dan katanya juga akan meneliti Hutan seperti kalian dan dia masuk ke hutan… dan belum kembali sampai sekarang.”
Suasana menjadi sedikit hening.
Seorang wanita dari tim peneliti terlihat ragu.
"Apa dari tim kita ada anggota yang bernama Edward?"
Salah satu dari mereka. Menggeleng dengan cepat dan satunya lagi mencoba mengecek dibeberapa buku yang dibawanya
“Ini tidak bagus… mungkin kita harus menunggu.”
Namun pria berkacamata itu justru tersenyum tipis.
“Justru ini menarik dan aku sangat penasaran sekali seperti nya Hutan ini penuh dengan misteri,"
“Menarik?” sahut warga dengan nada tidak percaya.
“Orang-orang hilang di hutan, dan kau bilang menarik?” teriak salah satu warga desa
Namun Pria itu tetap tenang.
“Fenomena seperti ini jarang terjadi. Ledakan energi sebesar itu… bukan sesuatu yang biasa.”
"Dan Apalagi ada yang mengaku sebagai peneliti seperti kami apa kalian tidak menyadari tentang keanehan ini?" tambahnya
Seorang pria tua dari desa mendekat ia adalah sahabat dekat Kakek Alana
Wajahnya serius.
“Dengarkan aku… jangan masuk ke hutan malam ini.”
Peneliti itu menatapnya.
“Kenapa?”
Pria tua itu menggeleng.
“Aku tidak tahu apa yang ada di sana… tapi itu bukan sesuatu yang seharusnya diganggu.”
DUUUAAARRR!!!
Ledakan kembali terdengar lebih besar lebih dekat beberapa warga mundur ketakutan Namun, peneliti itu justru semakin fokus matanya menyipit seolah sedang menganalisis sesuatu.
“Kita akan masuk besok pagi,” katanya akhirnya.
Rekannya langsung menoleh.
“Kau serius?”
Ia mengangguk.
“Kita butuh cahaya. Kita juga harus melihat kondisi hutan dengan jelas.”
Seorang warga langsung berkata,
“Kalian tidak mengerti… hutan itu berbahaya!”
Namun pria itu menjawab tenang,
“Justru karena itu kami di sini.”
Perbedaan terlihat jelas warga desa diliputi ketakutan sementara para peneliti dipenuhi rasa ingin tahu.
Malam itu, tidak ada yang benar-benar bisa tidur beberapa warga memilih tetap terjaga duduk di depan rumah.
Mengawasi arah hutan setiap kali suara ledakan terdengar mereka terdiam menahan napas sementara di sisi lain desa para peneliti mulai menyiapkan peralatan mereka.
Peta hutan dibuka alat ukur dikeluarkan lampu senter diperiksa.
“Kita masuk dari jalur timur,” kata pria berkacamata itu.
“Jejak energi tampaknya berasal dari sana.”
“Dan kalau kita bertemu sesuatu?” tanya rekannya.
Ia terdiam sejenak lalu menjawab pelan,
“Kita dokumentasikan.”
Pagi hari datang dengan perlahan Kabut tipis menyelimuti desa Udara masih terasa dingin Namun suasana tetap tidak tenang Warga terlihat lelah kurang tidur wajah mereka penuh kekhawatiran beberapa dari mereka masih berkumpul membicarakan kejadian semalam.
“Suara itu tidak berhenti sampai tengah malam…”
“Seperti perang…”
“Jangan bilang ada makhluk di hutan…”
Namun tidak ada yang benar-benar tahu di sisi lain para peneliti bersia tas mereka sudah terisi penuh peralatan sudah siap pria berkacamata itu berdiri di depan tatapannya serius.
“Kita masuk sekarang,” katanya.
Seorang warga mencoba menghentikan mereka.
“Tolong… jangan lakukan ini…”
Namun mereka tetap berjalan Langkah mereka membawa mereka menuju hutan dan saat mereka mulai memasuki area pepohonan suasana langsung berubah udara terasa lebih dingin lebih lembap lebih berat tidak ada suara burung tidak ada suara serangga hutan itu terlalu sunyi.
Beberapa langkah ke dalam mereka mulai melihat sesuatu tanah yang retak pohon tumbang bekas luka di tanah seperti sesuatu pernah menghantamnya dengan kekuatan besar.
“Apa ini…?” bisik salah satu peneliti.
Pria berkacamata itu berjongkok menyentuh tanah.
“Ini bukan longsor…” katanya pelan.
Ia melihat sekeliling Pohon-pohon tidak hanya tumbang beberapa seperti… tercabik.
“Seperti ada sesuatu yang bertarung di sini…” gumamnya.
Semakin mereka masuk semakin jelas jejak kehancuran itu tanah hangus di beberapa tempat batu pecah jejak kaki besar yang tidak wajar seorang peneliti menelan ludah.
“Aku… tidak suka ini…”
Namun pria itu tetap berjalan.
“Terus maju,” katanya.
Mereka belum tahu bahwa mereka sedang berjalan menuju sesuatu yang jauh lebih berbahaya dari yang bisa mereka bayangkan.
Sementara itu jauh di dalam hutan perang masih berlangsung dan di dalam gua sebuah perubahan besar baru saja dimulai Perlahan mata Alana terbuka.