"Menikahimu adalah ibadah terpanjang yang pernah aku ikrarkan. Namun, mengapa kini aku merasa sedang menyembah kehampaan di rumah yang tak lagi bertuan?"
Sepuluh tahun lamanya, Hana percaya bahwa kesetiaan adalah fondasi tunggal yang akan menjaga atap rumah tangganya tetap kokoh. Ia telah memberikan segalanya—masa mudanya, impian-impiannya, hingga seluruh napasnya hanya untuk melayani Aris, suaminya. Bagi Hana, rumah mereka adalah "Surga" kecil yang ia bangun dengan tetesan keringat dan doa-doa di setiap sujud malamnya.
Namun, perlahan "Surga" itu mulai terasa dingin. Aris, pria yang dulu selalu pulang dengan senyum hangat, kini berubah menjadi sosok asing yang membawa aroma parfum yang tak pernah Hana kenali. Tatapan matanya yang dulu penuh cinta, kini kosong dan seolah menembus tubuh Hana seakan ia adalah bayangan yang tak kasat mata.
Petaka itu dimulai saat sebuah nama dari masa lalu Aris kembali muncul. Aris tidak hanya lupa jalan pulang ke pelukan Hana, ia mulai "melupakan" sel
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 9: Racun di Balik Keanggunan
Pagi di apartemen Maya biasanya tenang, namun tidak bagi Hana. Sejak tulisannya meledak di platform digital, tidurnya tak lagi nyenyak—bukan karena sedih, melainkan karena adrenalin yang terus memompa jantungnya. Setiap kali ia menutup mata, barisan kalimat baru seolah menari-nari minta segera dituangkan.
Namun, ketenangan itu pecah saat bel pintu apartemen berbunyi dengan kasar dan berulang-ulang sekitar pukul 09.00 pagi. Maya sedang keluar untuk urusan sidang, meninggalkan Hana sendirian dengan laptopnya.
Hana mengintip melalui lubang intip pintu. Jantungnya mencelos. Di sana, berdiri seorang wanita yang tampak sangat berbeda dari pertemuan terakhir mereka di studio. Citra. Tidak ada lagi setelan jumpsuit mewah atau tatanan rambut yang sempurna. Ia mengenakan kacamata hitam besar, namun rahangnya yang mengeras menunjukkan kemarahan yang meluap.
Hana membuka pintu, namun ia tetap memasang rantai pengaman. "Ada apa lagi, Citra?"
"Buka pintunya, Hana! Kita perlu bicara!" teriak Citra. Suaranya melengking, menarik perhatian beberapa penghuni apartemen yang kebetulan lewat di lorong.
Hana menghela napas, ia melepaskan rantai dan membiarkan wanita itu masuk. Ia tidak ingin keributan di depan pintu Maya. Begitu masuk, Citra langsung melempar tas tangannya ke sofa dengan kasar.
"Puas kamu sekarang?!" Citra menjerit, ia membuka kacamata hitamnya, memperlihatkan mata yang sembab dan penuh amarah. "Kantorku disegel sementara karena masalah pajak yang tiba-tiba diusut. Klien-klien besarku memutus kontrak karena gosip murahan yang kamu sebar itu! Kamu menghancurkan karier yang aku bangun sepuluh tahun, Hana!"
Hana berdiri dengan tenang di dekat meja makan. Ia menatap Citra dengan tatapan datar, seolah sedang melihat naskah drama yang buruk. "Gosip murahan? Aku tidak pernah menyebut namamu, Citra. Aku hanya menceritakan tentang seorang desainer yang lupa bahwa pria yang memberinya hadiah adalah suami orang. Kalau orang-orang menghubungkannya denganmu, mungkin karena jejakmu memang terlalu mencolok."
"Kamu pikir kamu suci?!" Citra melangkah mendekat, telunjuknya mengarah tepat ke wajah Hana. "Kamu hanya wanita rumahan yang tidak tahu apa-apa! Aris bersamaku karena dia merasa hidup! Kamu hanya beban baginya! Dan sekarang, kamu menggunakan cara kotor dengan menulis cerita fiksi untuk menjatuhkan kami? Itu pengecut!"
"Pengecut?" Hana tertawa kecil, suara tawanya terdengar dingin. "Pengecut adalah wanita yang masuk ke rumah tangga orang lain lewat pintu belakang. Pengecut adalah pria yang memberikan mawar pada istrinya untuk menutupi bau parfum wanita lain. Aku hanya memberikan cermin pada kalian. Kalau kalian merasa buruk saat melihat cermin itu, jangan salahkan cerminnya. Salahkan wajah kalian sendiri."
Citra terengah-engah, wajahnya memerah. Ia mengeluarkan ponselnya dan membantingnya ke meja di depan Hana. "Lihat ini! Pesan-pesan dari Aris! Dia bilang dia akan menceraikanmu! Dia bilang dia membencimu! Dia hanya bertahan karena ibunya yang kolot itu!"
Hana melirik ponsel itu sekilas. Ia melihat barisan pesan mesra dari Aris untuk Citra. Hatinya memang berdenyut perih, namun ia tidak hancur seperti dulu. Ia sudah mati rasa.
"Terima kasih sudah menunjukkannya padaku," ucap Hana pelan. "Ini akan menjadi bahan yang bagus untuk Bab 10. Tentang bagaimana seorang selingkuhan merasa bangga menjadi pilihan kedua, padahal dia hanyalah pelarian dari kebosanan."
"Kamu..." Citra kehilangan kata-kata. Ia tidak menyangka Hana akan sedingin ini. "Kamu pikir Aris akan membiarkanmu menang? Dia punya pengacara hebat. Dia akan mengambil segalanya darimu. Kamu akan keluar dari sini tanpa membawa sepeser pun!"
"Aku sudah keluar dari sana tanpa membawa apa-apa, Citra," balas Hana. "Dan lihat aku sekarang. Aku masih bernapas. Aku masih bisa menulis. Uang Aris mungkin bisa membeli jasamu, tapi uangnya tidak bisa membeli kata-kataku."
Citra tiba-tiba merubah taktiknya. Ia terduduk di sofa dan mulai terisak. Isakan yang terdengar sangat manipulatif. "Hana... tolong. Aku punya cicilan studio, aku punya karyawan. Kalau tulisan itu terus berlanjut, aku akan hancur total. Aku minta maaf. Aku akan tinggalkan Aris, aku janji. Tapi tolong hapus tulisan itu."
Hana menatap wanita di depannya. Ia melihat betapa rendahnya Citra saat ini. Kemarin ia begitu angkuh di studio, hari ini ia mengemis.
"Permintaan maafmu terlambat, Citra," ujar Hana. "Tulisan itu bukan lagi tentang kamu atau Aris. Tulisan itu adalah suara untuk ribuan wanita di luar sana yang dibungkam sepertiku. Aku tidak akan menghapusnya hanya karena kamu merasa tidak nyaman."
Citra mendongak, matanya yang tadi penuh air mata kini kembali menajam dengan kebencian. "Baik. Kalau itu mau kamu. Jangan salahkan aku kalau aku mulai membalas dengan cara yang sama. Aku tahu tentang masa lalumu, Hana. Aku tahu tentang tunanganmu yang dulu meninggalkanmu karena kamu tidak punya apa-apa. Aku akan buat orang-orang tahu bahwa kamu juga punya rahasia kelam."
Hana tertegun sejenak. Masa lalu itu... luka lama yang ia kubur dalam sebelum bertemu Aris. Bagaimana Citra bisa tahu? Pasti Aris yang menceritakannya di saat-saat intim mereka. Aris telah menjual semua rahasia Hana demi menyenangkan wanita ini.
"Silakan," tantang Hana, meski suaranya sedikit bergetar. "Ceritakan pada dunia. Karena perbedaannya adalah, aku tidak pernah mengkhianati siapa pun. Aku hanya seorang wanita yang mencoba bertahan hidup."
Citra menyambar tasnya dan berdiri. "Kita lihat saja siapa yang akan tertawa terakhir. Kamu baru saja memulai perang dengan orang yang salah, Hana."
Begitu pintu apartemen tertutup dengan bantingan keras, Hana jatuh terduduk di kursi. Seluruh tubuhnya gemetar hebat. Pengkhianatan Aris ternyata jauh lebih dalam dari yang ia bayangkan. Pria itu tidak hanya mengkhianati fisiknya, tapi juga mengkhianati jiwanya dengan memberikan rahasia terdalamnya pada Citra.
Ia teringat sepuluh tahun lalu, saat ia hampir menyerah pada hidup karena kegagalan cintanya yang pertama. Aris datang sebagai pahlawan, berjanji akan menjaganya dan menyembuhkan lukanya. Ternyata, Aris hanya menunggu waktu untuk membuka kembali luka itu dan menaburkan garam di atasnya.
Hana meraih laptopnya. Pukul 19.30 masih beberapa jam lagi, namun ia merasa harus menulis sekarang juga.
Ia menulis tentang 'Pengkhianatan dalam Pengkhianatan'. Tentang bagaimana seorang suami yang paling dipercaya ternyata adalah mata-mata bagi musuhnya sendiri. Ia menulis dengan air mata yang membasahi keyboard-nya, namun setiap kata yang keluar terasa seperti pembersihan.
Pukul 19.30 malam itu.
Aris sedang berada di sebuah bar hotel, mencoba melarikan diri dari teror telepon Citra dan omelan ibunya. Ia membuka aplikasi platform tempat Hana menulis. Bab 9 baru saja diunggah.
Saat membacanya, gelas di tangan Aris hampir terlepas. Di sana, Hana menceritakan tentang 'Pria yang Menjual Rahasia Istrinya'.
"Dia tahu di mana letak luka lamaku, karena dialah yang dulu membantu mengobatinya. Namun kini, dia memberikan peta menuju luka itu kepada wanita lain, agar wanita itu bisa menikamku tepat di tempat yang sama."
Aris merasa seperti ditelanjangi di depan ribuan orang. Komentar-komentar di bawah bab itu sangat pedas.
“Suami model begini harusnya dikirim ke laut saja! Menjual rahasia istri ke selingkuhan?! Rendah banget!”
“Fix, ini beneran ada di dunia nyata ya? Gila banget pelakornya sampe datangi istri sah!”
Ponsel Aris berdering. Kali ini dari Mama Sarah.
"Aris! Mama baru saja ditelepon oleh sepupumu di Surabaya! Katanya ceritamu ini sudah sampai ke grup WhatsApp keluarga besar! Semua orang bertanya-tanya apakah tokoh 'Mas A' itu kamu! Kamu benar-benar mempermalukan nama keluarga!"
"Ma, aku tidak tahu Hana akan senekat ini!" Aris membela diri dengan suara parau.
"Hentikan dia, Aris! Pakai uang, pakai pengacara, pakai apa saja! Mama tidak mau arisan Mama besok dipenuhi bisikan orang tentang anak Mama yang tidak becus mengurus istri!"
Aris mematikan ponselnya. Ia menenggak minumannya hingga habis. Ia merasa kehilangan segalanya. Cintanya pada Citra kini terasa seperti beban yang mencekik. Reputasinya hancur. Keluarganya malu. Dan Hana... Hana yang dulu selalu menunggunya dengan lembut, kini telah berubah menjadi badai yang siap menghancurkan hidupnya.
Aris teringat anting mutiara itu. Anting yang ia beli sebagai tanda 'kemenangan' atas keberhasilannya merenovasi kantor. Sekarang, anting itu hanyalah simbol kegagalannya sebagai seorang pria.
Kembali di apartemen, Hana selesai mengunggah bab tersebut. Ia merasa sangat lelah secara emosional. Ia berjalan ke dapur dan melihat Maya yang baru saja pulang.
"Dia datang ke sini?" tanya Maya sambil menaruh kunci mobilnya.
Hana mengangguk. "Dia mengancamku dengan masa laluku, May. Aris menceritakan semuanya padanya."
Maya mendekati Hana dan memegang bahunya. "Biarkan saja. Masa lalu tidak bisa melukaimu kecuali kamu mengizinkannya. Apa yang kamu lakukan malam ini melalui tulisanmu adalah pertahanan terbaik. Kamu sudah menunjukkan pada dunia siapa mereka sebenarnya."
Hana tersenyum lemah. "Aku tidak menyangka akan sejauh ini, May."
"Ini baru permulaan, Na," ujar Maya. "Tapi lihatlah, hari ini kamu tidak menunggu Aris pulang. Kamu tidak menangis di pojok meja makan. Kamu sedang melawan. Dan itu adalah progres yang luar biasa."
Hana menatap layar laptopnya yang masih menyala. Angka pembacanya terus naik. Puluhan ribu orang kini mengikuti perjalanannya. Mereka bukan hanya pembaca, mereka adalah saksi.
"Malam ini aku akan tidur dengan nyenyak, May," ucap Hana. "Untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun, aku merasa rumahku ada di dalam diriku sendiri, bukan pada pria yang telah menjual rahasia hidupku."