Di balik kemewahan mansion Omerly, Zerya Clarissa Omerly hidup dalam dunia yang tak pernah memberinya hangat. Prestasi dihitung sebagai kewajiban, senyum dihargai sebagai topeng, dan setiap kata bisa menjadi kesalahan.
Hingga suatu malam di sebuah kafe, Zerya bertemu seorang pria yang bertolak belakang dengan dunianya—Javian Arka Talandra, CEO yang dingin namun misterius. Satu pertemuan itu membuat Javian merasakan sesuatu yang jarang ia rasakan di rumahnya yang hangat: rasa ingin tahu… dan rasa ingin melindungi.
Saat kedua keluarga bertemu dalam pertemuan bisnis, topeng Zerya mulai retak. Perlahan, Javian menyadari bahwa di balik penampilan sempurna, ada rahasia dan luka yang selama ini tersembunyi. Kini, di tengah intrik keluarga, ambisi, dan ekspektasi yang menekan, Zerya harus menemukan keberanian untuk menjadi dirinya sendiri—atau terus tersesat di bayangan rumahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cerrys_Aram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31: Predator di Balik Tirai
Gema tepuk tangan di aula RUPS terdengar seperti suara tembakan bagi Hendrick Vance saat ia digiring keluar oleh petugas keamanan bandara yang sudah menunggu di pintu samping. Tapi bagi Zerya, suara itu hanya kebisingan latar belakang.
Ia berdiri di puncak tangga gedung Talandra, menatap Javian yang berdiri di bawah sana. Matahari Jakarta yang terik membakar aspal, menciptakan fatamorgana di antara mereka. Javian tidak mendekat. Ia hanya berdiri di sana, separuh bayangannya tertutup oleh mobil polisi yang kini mesinnya sudah menyala.
Javian menatap Zerya lama, lalu ia tersenyum tipis—sebuah senyuman yang belum pernah Zerya lihat sebelumnya. Bukan senyum mentor, bukan senyum pemenang. Itu senyum seorang pria yang melihat mahakaryanya melampaui penciptanya.
Javian mendekat dua langkah, suaranya pelan namun tajam menembus kebisingan jurnalis. "Bagus," bisiknya, hampir tak terdengar oleh siapa pun kecuali Zerya. "Sekarang kamu jauh lebih berbahaya dariku, Zerya. Jangan biarkan mereka melihatmu gemetar saat aku tidak ada."
Zerya tidak membalas dengan kata-kata. Ia hanya mengangguk kecil, satu gerakan yang menyatakan bahwa ia menerima tongkat estafet itu. Javian masuk ke dalam mobil polisi—bukan sebagai tahanan, tapi sebagai aset vital negara yang harus dilindungi sebelum kesaksiannya di pengadilan internasional dimulai.
Saat SUV itu menjauh, Zerya merasa beban dunia benar-benar berpindah ke bahunya.
Tiga Jam Kemudian. Ruang CEO.
Zerya duduk di kursi besar yang dulu milik Javian. Ruangan itu sunyi, namun dinginnya AC tidak bisa meredam rasa panas di kepalanya. Di depannya, layar komputer menampilkan satu notifikasi merah yang masuk ke sistem enkripsi pribadi Javian yang kini ia pegang kuncinya.
Ada satu file yang tidak Javian buka saat RUPS tadi. Sebuah file bernama: "PROYEK OMEGA - PRAGUE 2018".
Zerya membukanya dengan tangan sedikit bergetar.
Isinya bukan hanya soal pencucian uang Hendrick. Di sana ada daftar nama pemegang saham rahasia Vanguard Atlantic yang identitasnya disembunyikan di balik belasan perusahaan cangkang di Cayman Islands.
Zerya men-scroll daftar itu hingga ke paling bawah. Matanya membelalak. Jantungnya seolah berhenti berdetak saat melihat satu nama yang seharusnya sudah mati, atau setidaknya, tidak mungkin ada di sana.
"ALDRIC OMERLY - 15% TRUSTEE SHARE."
"Papih..." bisik Zerya, suaranya tercekat di tenggorokan.
Aldric tidak hanya mengkhianati Zerya dengan mengirimnya ke Javian. Aldric adalah bagian dari konsorsium yang mencoba menghancurkan Talandra sejak awal. Penangkapannya di Paris hanya sebuah bidak yang dikorbankan agar dia bisa mengamati dari jauh bagaimana anak kandungnya menghancurkan musuh-musuhnya, sementara dia tetap memegang kendali atas modal utama.
Tiba-tiba, ponsel di meja bergetar. Nomor tidak dikenal.
Zerya mengangkatnya. Hening sejenak, hanya terdengar suara deru angin yang tenang di seberang sana.
"Kau melakukan pekerjaan yang hebat di RUPS tadi, Zerya," suara itu berat, berwibawa, dan sangat familiar. Suara yang seharusnya membusuk di penjara Prancis. "Hendrick hanyalah lalat yang mengganggu. Sekarang, lalat itu sudah mati. Dan arena ini... akhirnya hanya menyisakan kita."
"Papih?" Zerya mengepalkan tangannya hingga kukunya memutih. "Bagaimana bisa—"
"Jangan tanya 'bagaimana', Zerya. Tanyalah 'apa selanjutnya'," Aldric terkekeh pelan.
"Javian berpikir dia menang karena dia mengamankan aset domestik. Tapi dia lupa satu hal. Dunia finansial tidak punya negara. Uang yang kau sita hanyalah sisa makanan. Pemilik asli Vanguard sedang menuju Jakarta sekarang. Dan mereka tidak datang untuk bernegosiasi."
"Siapa mereka?" gertak Zerya.
"Orang-orang yang bahkan Julian Vane pun takut untuk menyebut namanya," Aldric merendah. "Saran saya, Nona CEO... jangan pernah tidur dengan lampu mati mulai malam ini. Karena kau baru saja mencuri mainan milik orang-orang yang tidak suka berbagi."
Klik. Sambungan terputus.
Zerya menatap ke luar jendela. Langit Jakarta mendadak berubah gelap, mendung tebal mulai menutupi cakrawala. Di kejauhan, ia melihat iring-iringan mobil hitam memasuki kawasan SCBD—mobil-mobil yang tidak memiliki plat nomor diplomatik, namun bergerak dengan presisi militer.
Zerya berdiri, merapikan setelan putih gadingnya yang kini terasa seperti zirah perang. Ia mengambil ponselnya, mengetik satu pesan singkat untuk tim keamanannya yang baru.
"Lockdown gedung sekarang. Jangan biarkan siapa pun masuk tanpa sidik jari saya. Perang yang sebenarnya baru saja dimulai."