NovelToon NovelToon
Target

Target

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Mengubah Takdir / Fantasi
Popularitas:189
Nilai: 5
Nama Author: Rick Tur

Fred Tucker, mahasiswa kedokteran diparis, penampilan biasa, agak gempal dan bukan pusat perhatian. satu kali menjadi dirinya menjadi target pembunuh bayaran. Dia harus melarikan diri tanpa tahu penyebabnya. bukan miliarder, bukan siapa-siapa, orang tua biasa saja namun menjadi target mati. hidupnya hancur, orang tua nya mati. Untuk mengetahui apa yang terjadi hidupnya maka Fred harus menjadi pembunuh bayaran. berlatih dan menjadi kuat Dia harus ke berbagai negara sebagai Assassin

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rick Tur, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Mercer - Obelix - Docem

Subuh datang, tapi rumah itu tidak ikut bangun.

Lampu ruang praktik masih menyala di balik pintu yang tertutup rapat. Dari luar, Fred bisa mendengar dengung pelan alat-alat medis—sesekali diselingi bunyi bip yang konsisten, seperti metronom yang mengatur hidup seseorang.

Mercer belum keluar.

Fred tidak tidur.

Ia duduk di sofa dengan jaket menutupi bahunya, menatap jam dinding yang bergerak lambat. Setiap menit terasa seperti satu jam. Kadang ia berdiri, berjalan ke pintu ruang praktik, menempelkan telinga. Kadang ia kembali duduk, menatap kosong. Ia tidak menangis. Ia bahkan tidak bisa menangis. Semua air mata seolah sudah habis di rumah orang tuanya—atau di panggung yang ia kira orang tuanya.

Saat azan subuh terdengar samar dari ponsel yang ia putar pelan—kebiasaan kecil yang tersisa dari masa hidup “normal”—Fred merasakan sesuatu yang pahit: dunia masih punya jadwal, meski hidupnya sudah tidak punya kepastian.

Jam bergeser.

06:00.

07:12.

08:30.

Dan akhirnya, ketika jarum jam mendekati 09:00, pintu ruang praktik terbuka.

Mercer keluar.

Bukan berjalan santai. Tapi juga bukan tergesa. Lebih seperti orang yang baru saja menahan napas berjam-jam, lalu akhirnya boleh menghembuskan sedikit.

Wajahnya pucat. Mata merah. Baju dokternya ternoda di beberapa titik, dan lengan bajunya digulung. Rambutnya berantakan—hal yang jarang terjadi pada Mercer. Ia tampak lebih tua sepuluh tahun daripada kemarin.

Ia menatap Fred sejenak, lalu berkata dengan suara serak:

“Tolong buatkan aku kopi.”

Fred langsung berdiri, seperti mendapat perintah hidup. “Iya.”

Ia berlari kecil ke dapur, menyalakan mesin kopi, tangan gemetar tapi cepat. Ia menuang, menambahkan sedikit gula karena Mercer tampak seperti butuh sesuatu yang manis agar tubuhnya tidak runtuh. Ia membawa cangkir itu kembali dengan dua tangan, seolah kalau ia tumpah, dunia akan makin kacau.

Mercer mengambilnya tanpa terima kasih panjang. Ia menyesap sekali, memejamkan mata sebentar.

Fred tidak tahan lagi.

“Bagaimana?” tanya Fred, suara pelan tapi penuh tekanan. “Maëlle… gimana?”

Mercer tidak menjawab dengan kata “baik” atau “selamat.” Ia hanya menghela napas panjang, lalu merogoh saku baju dokternya dan mengeluarkan selembar kertas yang kusut dan lecek, seperti sudah diremas berkali-kali.

Ia meletakkannya di meja di depan Fred.

“Baca,” kata Mercer.

Fred mengambil kertas itu dengan hati-hati, membukanya perlahan. Tulisan di dalamnya pendek—tiga kata yang terlihat seperti kode:

“Mercer, Obelix, Docem.”

Fred mengernyit. “Apa ini?”

Mercer menyesap kopi lagi, lalu menjawab seperti orang yang terlalu lelah untuk berbasa-basi.

“Itu ada di tangan Maëlle,” kata Mercer. “Dia masih menggenggamnya saat aku mengangkat dia dari gerobak sampah. Dia tidak melepaskan.”

Fred menatap kertas itu lagi, mencoba memahami.

Mercer mulai menjelaskan, satu per satu, suaranya makin stabil seiring kopi bekerja.

“Mercer,” katanya, menunjuk kata pertama. “Itu kafe Mercer di London.”

Fred menelan ludah.

“Obelix,” lanjut Mercer. “Itu bar di Frankfurt.”

“Dan Docem,” Mercer menunjuk kata terakhir. “Diskotik di Milan.”

Fred mematung. “Kenapa Maëlle menulis ini?”

Mercer menatap Fred, tajam.

“Karena itu tiga titik pemesanan.” Mercer mengetuk meja pelan. “Mereka semua Broker fungsinya sama seperti Café Mercer: tempat perantara untuk menyewa pembunuh bayaran. Tempat agen memesan, tempat kontrak dibagikan, tempat kurir dipilih.”

Fred merasakan dingin menyusup lagi. “Jadi… ada jaringan tempat-tempat seperti ini.”

Mercer mengangguk. “Jaringan yang tidak ditulis di peta.”

Fred menelan ludah, lalu bertanya pelan, “Dan hubungannya dengan aku?”

Mercer menatap Fred lebih lama, seolah memastikan Fred siap mendengar kalimat berikutnya.

“Agen yang ada di London, di kafe Mercer, cuma satu,” kata Mercer. “Fox.”

Fred membeku. Nama itu teringat di dinding bawah tanah.

Mercer melanjutkan, suaranya rendah namun tegas:

“Itu artinya Fox yang memakai Mercer. Dan bukan cuma Mercer.”

Mercer menunjuk kertas itu.

“Fox juga memakai Obelix dan Docem.”

Fred merasakan jantungnya memukul keras. “Maksudmu… Fox menyewa pembunuh di tiga kota untuk membunuhku?”

Mercer mengangguk sekali.

“Kau termasuk target penting,” katanya sederhana.

Kalimat itu menghantam Fred lebih keras daripada semua teori “anak haram raja” yang Maëlle lempar kemarin.

Fred duduk perlahan, seperti kakinya tiba-tiba hilang tenaga.

“Aku…” suara Fred kecil. “Aku cuma mahasiswa. Aku culun. Aku… nggak masuk akal jadi target internasional.”

Mercer menatapnya, tidak mengejek. “Itu yang membuatmu hidup sampai sekarang.”

Fred mengernyit, tapi sebelum ia bisa bertanya, Mercer menambahkan:

“Maëlle terluka saat dia ke Fox.”

Fred menelan ludah. “Dia… ke Fox?”

Mercer mengangguk. “Dia mengejar jawabannya langsung ke sumber. Dan mereka menyiapkan sambutan.”

Fred memejamkan mata, membayangkan Maëlle sendirian di tempat yang penuh orang yang ingin membunuhnya.

“Jadi… kalau aku mau cari siapa yang memesan kontrak… aku harus ke Fox?” tanya Fred, suaranya bergetar.

Mercer mengangguk. “Untuk mencari pembunuhmu, ya. Jejak paling kuat ada di Fox.”

Fred memegang kertas itu sampai kusut. “Kenapa Maëlle nggak bilang? Kenapa dia pergi sendiri?”

Mercer tidak menjawab langsung. Matanya turun ke cangkir kopi, seolah memikirkan jawabannya tapi terlalu lelah untuk menjelaskan.

Fred menahan napas, lalu bertanya hal yang paling ia takutkan:

“Maëlle… gimana keadaannya?”

Mercer menatap Fred.

Lama.

Lalu akhirnya ia menjawab, datar, jujur, tanpa gula:

“Parah.”

Fred merasa dadanya tersedot.

“Tiga peluru masuk ke tubuhnya,” kata Mercer. “Hampir mengenai alat vital. Rusuknya patah.”

Fred menahan napas, menunggu kelanjutannya yang paling buruk.

Mercer menyelesaikan kalimat itu seperti vonis:

“Sekarang koma.”

Fred menatap Mercer, mulutnya terbuka, tidak bisa bicara. Dunia berputar sedikit. Ia memegang tepi meja.

“Koma…?” suara Fred pecah. “Tapi… kamu—kamu melakukan operasi?”

Mercer menatapnya, ada sedikit iritasi lelah di matanya. “Kamu pikir aku bawa dia ke rumah sakit?”

Fred menelan ludah. “Harusnya…”

“Tidak mungkin,” potong Mercer. “Rumah sakit berarti identitas. Kamera. Polisi. Catatan. Dan kalau ada satu hal yang pasti… Fox punya orang di tempat-tempat seperti itu.”

Fred memejamkan mata. Kepalanya pusing.

Mercer menghela napas, menyesap kopi lagi, lalu berdiri pelan. Tubuhnya sedikit goyah, tapi ia menahan.

Fred menatapnya, dan satu pertanyaan yang sejak awal menempel di kepalanya akhirnya keluar, penuh tekanan:

“Mercer… siapa sebenarnya kamu?”

Mercer berhenti. Bahunya naik turun pelan. Ia menatap Fred sejenak, lalu menggeleng kecil.

“Aku terlalu capek,” kata Mercer.

Fred hendak protes, tapi Mercer mengangkat tangan.

“Ceritanya panjang,” Mercer melanjutkan, suaranya serak tapi tegas. “Nanti saja kuceritakan.”

Fred menatapnya, frustrasi. “Nanti kapan?”

Mercer berjalan ke arah pintu ruang praktik, lalu menoleh setengah.

“Ketika kamu sudah berhenti berharap dunia ini masuk akal,” katanya.

Kemudian Mercer masuk kembali ke ruang praktik dan menutup pintu pelan.

Fred duduk diam di meja, memegang kertas itu seperti memegang kompas yang menunjuk pada bahaya.

Mercer. Obelix. Docem.

Tiga titik.

Satu agen.

Fox.

Dan Maëlle—orang yang selama ini berdiri di antara Fred dan maut—sekarang terbaring koma karena mengejar jawaban itu.

Fred menatap tangannya sendiri.

Tangan yang dulu cuma memegang buku, stetoskop, dan mi instan.

Sekarang tangan itu memegang kode yang bisa membawanya ke jaringan pembunuh internasional.

Ia menelan ludah.

Untuk pertama kalinya, Fred tidak lagi bertanya, kenapa aku?

Pertanyaan itu terlalu kecil.

Sekarang pertanyaannya berubah menjadi sesuatu yang lebih gelap dan lebih nyata:

Apa yang harus aku lakukan… kalau Maëlle tidak bangun?

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!