NovelToon NovelToon
Bayang Rembulan

Bayang Rembulan

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Fantasi
Popularitas:787
Nilai: 5
Nama Author: Fadhil Asyraf

Di tengah kekacauan lima klan bela diri yang saling berebut pengaruh dan rahasia kuno, lahirlah sebuah organisasi bernama bayangan kegelapan. Mereka adalah sekelompok pembunuh bayaran yang dilatih untuk menjadi mesin kematian tanpa emosi, sering kali ditugaskan untuk menghabisi para petinggi klan yang dianggap mengganggu keseimbangan atau menyimpan kekuatan terlarang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fadhil Asyraf, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 2 - ARENA PECERAHAN DARAH

Aula Pengasahan itu luas, namun terasa lebih menyesakkan daripada sel batu yang ditinggalkan Kaelan. Bau dupa murahan yang tajam mencoba menutupi bau anyir yang menguar dari tubuh para pemuda yang baru saja dikeluarkan dari lubang. Cahaya dari ratusan lilin yang menempel di dinding marmer hitam memantul di mata Kaelan, membuatnya terus berkedip karena rasa sakit yang menusuk saraf otaknya.

Di tengah aula, Kaelan melihat dua sosok lain. Mereka berdiri dengan jarak yang sangat berjauhan, saling mengawasi dengan insting binatang liar. Salah satunya adalah seorang pemuda bertubuh tegap dengan bekas luka bakar di lehernya, sementara yang lain adalah seorang gadis dengan rambut kusut yang menutupi separuh wajahnya. Dari tiga ratus anak yang diculik tujuh tahun lalu, hanya mereka bertiga yang tersisa di unit ini.

"Lihatlah sisa-sisa ini," suara Tuan Besar bergema. Pria tua itu berjalan perlahan, tangan di balik punggung, menatap mereka seperti seorang kolektor yang sedang menilai barang antik yang rusak. "Kalian telah melewati tahap Rahim Batu. Kalian telah memakan racun, kegelapan, dan kesepian. Tapi itu hanyalah fondasi. Sebuah pedang tidak berguna jika hanya keras; ia harus tajam."

Tuan Besar berhenti di depan Kaelan. Ia mencengkeram dagu Kaelan yang pucat, memaksa mata merah remaja itu menatapnya. "Subjek 07... kau yang paling tenang. Apakah kau merasa marah karena hidupmu dicuri?"

Kaelan tidak menjawab. Bibirnya yang pecah-pecah tetap terkatup rapat. Di dalam kepalanya, ia tidak merasakan marah. Kemarahan adalah emosi yang membuang energi. Yang ia rasakan hanyalah kekosongan yang dingin, sebuah ruang hampa yang hanya ingin diisi dengan satu hal: penyelesaian.

Tuan Besar tertawa kecil, suara yang terdengar seperti gesekan tulang kering. Ia memberi isyarat kepada penjaga bertopeng perak. Tiba-tiba, tiga bilah belati pendek dilemparkan ke lantai tepat di tengah-tengah mereka. Suara dentingan logam itu seolah-olah menjadi sinyal yang memicu ledakan ketegangan di udara.

"Hanya ada satu tempat untuk posisi 'Bayang Pertama'. Dua lainnya akan menjadi pupuk bagi tanaman di kebun belakang sekte ini," ucap Tuan Besar dengan santai, seolah sedang membicarakan cuaca. "Mulailah."

Hening sejenak.

Pemuda dengan luka bakar di lehernya bergerak lebih dulu. Dengan raungan parau yang lebih mirip gonggongan serigala, ia menerjang ke arah belati terdekat. Gadis dengan rambut kusut itu juga bergerak, gerakannya lebih licin dan rendah, seperti ular yang merayap di rumput.

Kaelan tetap diam. Ia tidak mengejar belati itu.

Pemuda luka bakar berhasil meraih satu belati dan tanpa ragu langsung menebaskannya ke arah leher sang gadis. Gadis itu menghindar dengan memutar tubuhnya, membiarkan ujung belati hanya merobek kain bajunya yang sudah compang-camping. Mereka bergelut di lantai, saling cakar dan gigit, menggunakan teknik bertarung kasar yang mereka kembangkan selama bertahun-tahun di dalam sel.

Darah mulai memercik ke lantai marmer yang dingin. Jeritan kesakitan bergema, tetapi Kaelan hanya berdiri, mengamati. Matanya yang telah beradaptasi dengan kegelapan total kini bisa melihat setiap celah kecil, setiap keraguan dalam gerakan lawan-lawannya. Ia melihat bagaimana pemuda itu terlalu mengandalkan kekuatan ototnya yang lelah, dan bagaimana si gadis terlalu takut untuk memberikan serangan fatal.

Saat pemuda luka bakar itu berhasil menindih sang gadis dan bersiap untuk menghujamkan belati ke dadanya, Kaelan bergerak.

Ia tidak berlari. Ia meluncur.

Langkah kakinya hampir tidak bersuara, sebuah kebiasaan dari berburu ular di dalam gua yang sunyi. Sebelum pemuda itu bisa menurunkan lengannya, Kaelan sudah berada di belakangnya. Dengan tangan kosong yang jarinya telah mengeras seperti cakar elang, Kaelan menghujamkan dua jarinya ke titik saraf di pangkal tengkorak pemuda itu.

*Krak.*

Suara patah yang halus. Pemuda bertubuh tegap itu tiba-tiba lemas, belatinya jatuh sebelum menyentuh targetnya. Tubuhnya ambruk ke samping seperti karung gandum yang pecah.

Gadis di bawahnya terengah-engah, matanya membelalak ketakutan saat melihat Kaelan berdiri di atasnya. Ia segera merangkak mundur, mencoba meraih belati yang jatuh tadi. Namun, Kaelan lebih cepat. Ia menginjak tangan gadis itu dengan kekuatan yang sanggup meremukkan jemari.

"Jangan," bisik Kaelan. Itu adalah kata pertama yang ia ucapkan sejak bertahun-tahun. Suaranya dingin, tanpa kebencian, hanya sebuah pernyataan fakta.

Kaelan membungkuk, mengambil belati itu sendiri. Ujung logamnya terasa dingin di kulitnya. Ia menatap gadis itu—seorang anak yang mungkin dulu memiliki nama, orang tua, dan masa depan. Namun di sini, di bawah panji Sekte Gerhana Biru, ia hanyalah penghalang.

Tuan Besar memperhatikan dengan mata berbinar. "Lakukan, 07. Selesaikan penempaanmu."

Kaelan menatap belati itu, lalu menatap bayangannya yang terpantul di marmer. Rambut putihnya tampak seperti mahkota salju di bawah cahaya lilin. Ia tidak ragu. Dengan satu gerakan yang efisien dan bersih, ia mengakhiri penderitaan gadis itu. Tidak ada jeritan. Hanya suara napas terakhir yang keluar dengan lembut.

Kaelan berdiri di tengah aula yang kini berserakan mayat dua rekannya. Darah merah pekat meresap ke dalam celah-celah marmer, membentuk pola yang aneh di bawah kakinya. Ia tidak merasa menang. Ia hanya merasa... selesai.

"Luar biasa," Tuan Besar bertepuk tangan pelan. "Kau memiliki ketenangan seorang algojo sejati. Mulai hari ini, namamu adalah Kaelan—Sang Bayang Rembulan. Kau akan dilatih dalam seni tertinggi sekte kami: Teknik Pernapasan Bulan Dingin. Bersiaplah, karena pembantaian yang sebenarnya baru saja dimulai."

Kaelan menjatuhkan belati yang berlumuran darah. Ia menatap ke arah pintu aula yang terbuka, di mana bulan purnama yang asli tampak menggantung di langit malam. Untuk pertama kalinya dalam tujuh tahun, ia melihat bulan. Dan dalam hati kecilnya, ia berjanji bahwa suatu hari nanti, bulan itu akan menjadi saksi saat ia meruntuhkan seluruh dunia ini.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!