Bela tidak pernah berniat mencari masalah. Ia hanya ingin melarikan diri sejenak dari rumah yang penuh pertengkaran, dari hidup yang terasa terlalu berat untuk dipikul sendiri. Bersama dua temannya, ia masuk ke sebuah klub malam—tanpa tahu bahwa malam itu telah disiapkan untuknya.
Kepercayaan berubah menjadi pengkhianatan.
Kesadaran berubah menjadi kehilangan kendali.
Sementara itu, seorang pria yang tak dikenalnya juga sedang lari dari hidupnya sendiri—dari tekanan keluarga, tuntutan pernikahan, dan masa depan yang terus dipaksakan. Malam itu hanyalah pengalihan baginya. Bagi Bela, malam itu adalah awal dari segalanya.
Takdir mempertemukan dua orang asing dalam cara yang salah.
Dan dari kesalahan itu, lahir konsekuensi yang tak bisa dihindari.
Sebuah kisah tentang pilihan, manipulasi, dan bagaimana satu malam dapat mengikat dua jiwa—hingga bertahun-tahun kemudian, ketika rahasia itu kembali menuntut jawaban.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ranti Septriharaira M.T (202130073), isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 4 : Jejak yang Terputus
Dua bulan berlalu tanpa pernah benar-benar memberi kesempatan pada Bela untuk bernapas dengan tenang.
Waktu berjalan seperti biasa bagi orang lain, tetapi tidak bagi tubuhnya. Ada sesuatu yang berubah perlahan, diam-diam, seolah tubuhnya menyimpan rahasia yang belum siap ia pahami. Setiap pagi Bela bangun dengan rasa berat di dada—bukan karena mimpi buruk, melainkan karena kesadaran samar yang selalu menggantung, sebuah ancaman tanpa nama.
Ruang arsip Politeknik Penerbangan tetap sama seperti sebelumnya. Rak-rak tinggi berderet rapi, map-map tebal disusun berdasarkan kode, dan udara dingin dari pendingin ruangan menjaga semuanya tetap awet dan sunyi. Bela bekerja di tempat itu sudah cukup lama untuk hafal setiap sudutnya. Ia tahu lemari mana yang engselnya berderit, rak mana yang sedikit miring, dan jeda tertentu ketika lorong arsip terasa seperti ruang kosong yang memisahkannya dari dunia luar.
Bela menyukai pekerjaan ini secara khusus. Pekerjaan yang tidak menuntut banyak bicara. Sebagai staf arsiparis, Bela hanya perlu memastikan dokumen tersimpan benar, tercatat rapi, dan tidak hilang. Tidak ada yang mengharuskannya tersenyum lama atau menjelaskan hidupnya kepada siapa pun.
Pagi itu, Bela berdiri di depan rak bagian kerja sama institusi, membawa sebuah map abu-abu. Tangannya berhenti di udara. Pandangannya tiba-tiba berkunang-kunang. Bau kertas yang biasanya netral terasa menusuk hidungnya, membuat perutnya bergejolak.
Ia menelan ludah.
“Kenapa lagi ini…,” gumamnya pelan.
Rasa mual datang mendadak, membuat dadanya terasa sesak. Bela menutup map itu, menempatkannya kembali, lalu melangkah cepat menuju lorong kecil di ujung ruangan. Langkahnya sedikit goyah, tetapi ia memaksa tubuhnya bergerak.
Di toilet, begitu pintu tertutup, ia muntah. Tubuhnya membungkuk, satu tangan mencengkeram pinggiran wastafel, tangan lain menahan perut yang berkontraksi hebat. Tidak banyak yang keluar, tetapi rasa perih di tenggorokan membuat matanya berair.
Ia berdiri lama setelahnya. Bernapas pelan. Mencuci wajah, menghindari pantulan dirinya sendiri di cermin. Wajahnya tampak pucat, bibirnya kering, dan matanya terlihat lebih besar karena kelelahan.
“Kamu cuma kecapean, Bela,” katanya pada bayangan itu, meski suaranya terdengar tidak sepenuhnya yakin.
Ketika kembali ke ruang arsip, beberapa rekan kerja meliriknya. Tidak terang-terangan, namun cukup untuk membuat Bela sadar bahwa tubuhnya mulai gagal menyembunyikan sesuatu.
“Kamu kenapa, Bel?” tanya seorang staf administrasi yang kebetulan lewat.
“Masuk angin, mungkin,” jawab Bela singkat sambil duduk di kursinya.
Ia menyalakan komputer, membuka sistem pencatatan arsip. Jarinya bergerak otomatis, mengikuti kebiasaan yang sudah tertanam. Namun pikirannya melayang. Ada sensasi asing di perut bagian bawah—bukan sakit, hanya rasa tidak biasa, seperti sesuatu yang tidak seharusnya ada di sana.
Sudah hampir dua minggu ini semuanya terasa berbeda. Pagi hari membuatnya lemas. Bau makanan tertentu memicu pusing. Bahkan kopi yang dulu selalu ia habiskan kini hanya ia sentuh, lalu ditinggalkan dingin.
Siang itu, televisi di ruang staf menyala tanpa suara keras. Berita diputar sebagai latar, namun gambar di layar cukup mencuri perhatian. Nama besar terpampang jelas di bawah wajah seorang perempuan yang berdiri di depan mikrofon.
Dr. Ratna Prameswari.
Rektor Politeknik Penerbangan Negeri.
Beberapa orang berhenti bekerja sejenak. Ada gumaman pelan, bisik-bisik singkat. Bela tidak menoleh. Ia menunduk, berpura-pura fokus pada layar komputer, meski jantungnya berdebar lebih cepat dari biasanya.
Ia tidak perlu melihat untuk mengetahui isinya.
Berita itu menyebar cepat. Perceraian. KDRT. Nama besar. Institusi terseret. Di tengah semua itu, ibu bela berdiri tenang, berbicara seolah hidupnya tidak sedang dibedah oleh banyak mata.
Bela menggigit pelan bibirnya. Ia tahu ibunya kuat. Selalu begitu. Terutama ketika dunia merasa berhak ikut campur.
“Bel, kamu yakin nggak mau istirahat?” suara lain menyadarkannya.
“Nanti saja. Masih bisa,” jawabnya.
Namun tubuhnya tidak sepakat.
Sore itu, sebelum pulang ke rumah, Bela tidak langsung menuju halte. Ia duduk di bangku semen di sudut halaman kampus, ponselnya di tangan, layar menyala tanpa disentuh selama beberapa detik.
Nama pertama ia ketik perlahan.
Luna.
Tidak ada foto profil. Tidak ada status terbaru. Pesan terakhir yang Bela kirim hampir dua bulan lalu masih bertanda terkirim, tidak pernah dibaca.
Ia menekan nama kedua.
Cika.
Nomor itu sudah tidak aktif.
Dadanya terasa semakin sesak, bukan karena lelah, melainkan karena rasa bersalah yang mengendap. Dua orang itu—yang malam itu tertawa keras, menarik tangannya ke lantai dansa, memaksanya minum sambil berkata “hidup jangan kaku amat, Bel”—menghilang begitu saja. Seolah malam itu tidak pernah terjadi. Seolah Bela sendirian yang masih mengingat.
Ia membuka mesin pencari, mengetik ulang alamat yang hanya tersisa sebagai potongan ingatan—lagi. Bukan alamat pasti, melainkan gabungan nama jalan, kawasan, dan arah yang ia susun dari sisa-sisa malam itu. Rumah tempat ia dibawa oleh temannya, disimpan semalam tanpa penjelasan, lalu diminta pergi keesokan paginya.
Tidak ada apa pun yang benar-benar mengarah ke sana.
Yang ia ingat hanya serpihan: gerbang besi hitam yang tertutup rapat, halaman terlalu sunyi untuk disebut rumah tinggal, dan bau alkohol yang menempel di kulitnya hingga pagi. Ia mencoba menautkan semuanya, berharap ingatan itu cukup untuk membentuk satu titik yang bisa dicari.
Ia beralih ke satu detail yang sejak awal mengganggunya—mobil yang terparkir di depan rumah itu. Warna gelap. Badannya bersih dan terawat, terlalu rapi untuk kendaraan pribadi yang parkir di rumah sewaan. Pelatnya berbeda, tidak seperti pelat sipil yang biasa ia lihat. Ada kode yang tidak ia kenali, dan sebuah emblem kecil yang sekilas tertangkap matanya ketika pintu dibuka.
Berhari-hari kemudian, dengan ingatan yang tidak utuh itu, Bela mencoba menelusurinya. Ia membandingkan gambar, membaca forum, menyusun potongan-potongan ciri. Perlahan, satu kemungkinan muncul berulang—mobil dinas. Milik Angkatan Laut.
Kesimpulan itu tidak memberinya jawaban. Justru sebaliknya. Mobil dinas berarti institusi, berarti sistem, berarti sesuatu yang terlalu besar untuk ia datangi sendirian. Ia menutup layar, menyadari bahwa seluruh pencariannya berdiri di atas ingatan sesaat yang rapuh, sementara jejak-jejak nyata seolah sengaja tidak pernah disisakan.
Tidak ada hasil yang pasti.
Kenapa Luna menghilang?
Kenapa Cika tidak pernah menanyakan kabarnya?
Kenapa hanya dia yang membawa semua ini?
Beberapa hari lalu, Bela sempat mencoba menelepon nomor lama Luna dari ponsel kantor. Sambungan terputus sebelum berdering. Seolah nomor itu memang sengaja dihapus dari dunia. Bela juga pernah mengunjungi kos Cika maupun kediaman rumah tantenya Luna namun hasil tetap nihil.
Di dalam bus, Bela duduk memeluk tasnya. Pemandangan di luar jendela berlalu tanpa benar-benar ia lihat. Ingatannya kembali ke malam itu—ke lantai dingin, suara pintu yang tertutup, dan pagi yang datang terlalu cepat dengan tubuh yang terasa asing.
Ia tidak tahu alamat rumah itu. Tidak tahu siapa pemiliknya. Yang ia tahu hanya satu hal: ketika ia terbangun, ia sendirian. Dilucuti bukan hanya dari pakaiannya, tetapi dari rasa aman yang selama ini ia rawat dengan hati-hati.
Sampai di rumah, Bela bersandar lama di balik pintu yang tertutup. Kamar itu sunyi. Terlalu sunyi.
Ia duduk di tepi ranjang, menunduk, menatap lantai. Napasnya terasa pendek, seolah ada beban kecil yang terus menekan dadanya. Tangannya refleks bergerak ke perutnya, lalu berhenti—seakan ia sendiri terkejut oleh gerakan itu.
“Ada yang salah,” bisiknya.
Bukan kalimat penuh. Hanya pengakuan kecil yang nyaris tidak berani ia ucapkan dengan suara normal.
Malam turun perlahan. Bela berbaring tanpa benar-benar tidur. Di langit-langit kamar, pikirannya berputar, mencoba menamai rasa takut yang terus tumbuh tanpa bentuk.
“Aku belum siap,” katanya lirih.
Namun tubuhnya tidak menjawab.
Ia hanya diam—seolah menyimpan sesuatu yang suatu hari akan menuntut untuk dihadapi.