Namaku Aluna Putri Sagara, panggil saja Aluna. Aku memiliki keluarga yang sangat bahagia. Ayahku seorang PNS dan ibuku memiliki usaha jahit yang cukup terkenal di Semarang. Aku sendiri adalah seorang honorer di sekolah dasar. Aku mempunyai kakak laki-laki bernama Sultan, dia bekerja sebagai PNS seperti ayah di instansi yang sama. Aku juga memiliki Adik perempuan yang bernama Alika yang saat ini masih sekolah. Namun, hidupku berubah drastis ketika ayah meninggal dunia.Langit seolah runtuh dan kebahagiaan yang kami dapat selama ini ikut hilang bersama dengan Ayah. Ibu sakit-sakitan, Kak Sultan dan istrinya Mbak Nisa mulai berubah dan menjauh, Alika yang butuh biaya untuk kuliah nanti.
Begitu banyak beban yang aku tanggung setelah Ayah tiada. Awalnya aku kerja sebagai guru honorer kini banting setir menjadi Wanita Panggilan seorang CEO pemilik klub tempatku bekerja.Marko Bumi Ferdinand. Nama itu adalah pemilik diriku sekarang. Dia butuh anak untuk mewarisi perusahaannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Noona Rara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Aluna vs Renata
Sarapan pagi itu berakhir dalam diam yang lebih menusuk daripada pertengkaran terbuka. Piring-piring sudah kosong, gelas-gelas sudah dipinggirkan tetapi hawa tegang masih menggantung di atas meja makan seperti serabut asap yang tak mau pecah.
Renata duduk paling anggun di ujung meja, padahal sorot matanya sejak tadi bukan lagi sekadar menilai tapi meremehkan. Beberapa kali tatapannya melesat ke arah Aluna, naik turun seperti mengukur seberapa rendah standar harus ia turunkan untuk menerima kehadiran menantu baru yang datang dari dunia yang mungkin menurutnya tak bermartabat.
Amar sendiri tampak ingin bertanya banyak hal, tetapi lelaki itu tahu waktunya tidak tepat. Ada sesuatu yang menahan setiap kata di tenggorokannya. Terlebih setiap kali ia melihat ekspresi Marko tenang, rapi tapi dengan aura sedingin paku baja yang baru keluar dari brankas es.
Marko hanya makan dengan ritme teratur namun gelombang dingin dari dirinya membuat udara di sekitarnya terasa berat.
Saat sarapan selesai, Amar berdiri dan membersihkan tanggorokannya. “Marko.” katanya pelan tapi tegas. “Ke ruang kerja Papa sebentar.”
Marko mengangguk. Sebelum pergi, ia menatap Aluna. Sorot matanya datar tapi ada sesuatu di balik itu, sesuatu yang membuat Aluna menegang tanpa sadar.
“Jangan kemana-mana." katanya lirih namun penuh tekanan. “Dan jangan bicara dengan siapa pun.”
Aluna mengangguk pelan. “Iya.”
Ia duduk di ruang tamu ketika semua perlahan meninggalkan area makan. Rumah itu besar, tapi keheningan yang muncul malah terasa seperti gua dingin yang menelan suara. Ia meremas jemarinya sendiri, mencoba mengatur napas.
Namun ketenangan itu tidak bertahan lama.
Renata datang dengan langkah yang terdengar halus tapi menyerupai ancaman. Ia duduk di samping Aluna tanpa diminta tanpa senyum.
“Sudah selesai main sandiwara?” tanyanya santai tapi begitu menusuk.
Aluna menelan ludah, tetap diam.
“Saya sudah tahu, perempuan seperti kamu hanya mengincar harta anak saya.” Nada Renata lembut, hampir terdengar seperti petuah seorang ibu. “Kamu… sangat tidak pantas bersanding dengan Marko.”
Kata-katanya bergerak menyayat, bukan karena keras tapi karena disampaikan begitu teratur. Renata mulai menyinggung banyak hal dari status Aluna sebagai perempuan biasa, latar belakang keluarganya, pekerjaannya, bahkan cara Aluna berbicara dan membawa diri.
Awalnya Aluna memilih diam, tak mau terpancing. Ia mengingat apa yang ia baca semalam. Hubungan Marko dan ibu tirinya buruk sejak awal. Bahkan saat sarapan pun, Renata seolah sengaja memancing. Mengetahui itu membuat Aluna mencoba bersikap cuek.
Tapi Renata belum selesai.
“Begini saja.” katanya tiba-tiba dengan nada bisnis. “Saya akan memberikanmu uang dalam jumlah besar. Tinggalkan Marko.”
Aluna menatap perempuan itu. Senyum tipis muncul, bukan karena ia senang tetapi karena ia sungguh tak percaya betapa lancangnya tawaran itu.
“Maaf bu.” katanya pelan tetap sopan. “Tapi saya tidak bisa meninggalkan suami saya. Saya mencintai suami saya apa adanya bukan karena hartanya seperti yang ibu tuduhkan.”
Alis Renata terangkat. “Alaahh munafik. Kamu ternyata licik juga ya. Pasti kamu punya rencana yang lebih besar di keluarga ini, makanya kamu tidak mau pergi.”
“Rencana?” Aluna memiringkan kepala sedikit. “Rencana apa yang ibu maksud? Atau… apa ibu sedang membahas diri ibu sendiri?”
Renata mendengus. “Apa maksudmu?”
Aluna menatapnya lurus. “Ibu hanya mama tiri Mas Marko. Wajar kalau saya juga mempertanyakan maksud ibu di keluarga ini. Benar begitu kan?”
Wajah Renata berubah, dadanya naik turun menahan emosi.
“Ku… kurang ajar kamu. Saya bukan perempuan matre seperti kamu. Saya tulus di keluarga ini. Makanya saya tidak mau Marko salah pilih pasangan.”
Aluna menatap lurus ke depan, bukan lagi ke Renata. “Ibu tenang saja. Saya pastikan Mas Marko tidak salah pilih.”
Renata berdiri, melontarkan satu kata terakhir. “Dasar kampung.”
Ia pergi sambil mendengus.
Aluna mengembuskan napas panjang, bahunya merosot. Sesuatu di dadanya seperti diremas. Ia hanya menunggu dengan sabar berharap Marko cepat menyelesaikan urusannya.
Suara langkah ringan terdengar. Seorang pria muda, tampan dengan rambut disisir rapi dan pakaian santai yang berkelas masuk dengan senyum miring.
Arvino.
Keponakan tiri Marko dari pihak Renata.
Begitu melihat Aluna, matanya berbinar seolah menemukan mainan baru.
“Hai...." katanya sambil duduk tanpa diundang. “Siapa gadis cantik ini? Aku Arvino.”
Aluna mengangguk tak berniat berbicara.
Arvino tersenyum miring, mengamati wajahnya Aluna lama matanya bergerak dari ujung rambut hingga ke jemari. Tatapannya bukan cuma penasaran, ada godaan samar yang membuat kulit Aluna merinding ketidaknyamanan.
“ Dia istri Marko.” kata Renata yang kembali ke ruang tamu.
“What??? Kok baru sekarang aku ketemu kamu?” tanyanya sok akrab. “Cantik juga ya… Marko hoki banget.”
Nada suaranya ramah, tapi ada ujung licik yang tidak bisa disembunyikan.
Renata terus mengeluh soal sikap Marko pagi tadi. Ia menyalahkan Aluna atas semua hal, seolah keberadaan Aluna adalah sumber masalah internal keluarga.
Arvino hanya mendengarkan sambil sesekali melirik Aluna, menilai, menganalisis seperti sedang menghitung sesuatu di kepalanya.
Aluna berusaha menjaga ekspresinya tetap netral. Ia tetap duduk anggun, meniru apa yang Marko ajarkan. Jangan tunjukkan kelemahan di depan orang yang membencimu.
Namun tekanan itu terasa menghimpit dari dua sisi, Renata yang membenci, Arvino yang menatap dengan intensitas yang salah.
Suara langkah Marko terdengar dari ujung rumah. Ketika ia muncul di ruang tamu, wajahnya jauh lebih gelap dibanding sebelum masuk ke ruang kerja ayahnya.
Mata Marko langsung tertuju pada Aluna dan pada kenyataan bahwa ia sedang dikelilingi oleh Renata dan Arvino.
Rahang Marko mengeras.
Tanpa sepatah kata pun, ia menurunkan dirinya sedikit, memegang lengan Aluna dan menariknya berdiri.
Arvino berseru, setengah tertawa. “Weitsss… bener nih, Mas? Aluna ini istri Mas? Cantik juga ya. Nemu di mana? Jangan dibawa dulu lah, aku masih mau ngobrol.”
Marko menghentikan langkahnya, tatapannya berubah tajam seperti baja mengiris.
“Saya tidak suka istri saya dikelilingi orang yang penuh racun.”
Renata terdiam. Arvino mengangkat kedua alisnya.
“Kamu terlalu protektif, Mas.” katanya sambil tersenyum kecil. “Aku cuma ingin mengenal kakak iparku.”
Marko menatapnya lama, dingin, mengancam seakan mengingatkan bahwa ada batas yang tidak boleh dilanggar.
Aluna melihat api kecil di mata suaminya , kemarahan yang diseret turun paksa.
**
Marko menarik Aluna keluar dari rumah keluarga Ferdinand tanpa kata tambahan. Langkahnya cepat, napasnya berat. Begitu mereka masuk mobil, Marko menancap gas dengan hentakan yang membuat tubuh mereka terdorong ke belakang.
Tak ada kata keluar dari keduanya.
Aluna menatap keluar jendela, pikirannya kalut. Ia ingin menangis tapi menahannya, karena Marko tidak suka kelemahan ditunjukkan di waktu yang salah.
Di kepalanya hanya ada satu harapan, ibunya. Bagaimana kondisinya pagi ini?
Beberapa menit kemudian, akhirnya Marko membuka suara, nadanya rendah dan gelap.
“Papa mempertanyakan pernikahan kita.”
Ia menatap lurus ke jalan. “Dia ingin bukti kalau kita benar menikah…Awalnya dia ingin kita mengumumkan pernikahan di media tapi aku menolak. Dan dia juga menuntut kita segera memberi dia cucu jika kita benar adalah pasangan suami istri.”
Aluna pucat seketika.
Marko meliriknya. Wajahnya keras tapi ada frustrasi yang menyelinap.
“Mulai hari ini." katanya, mendekat sedikit. “kamu harus memainkan peranmu dengan sempurna, Aluna. Jika kita bertemu mereka lagi, beraktinglah lebih baik sebagai istri. Dan ingat, kamu harus siap ketika aku ingin meminta jatahku. Karena aku juga ingin segera memberi papa cucu.”
Napas Aluna ketat. “I...Iya…”
“Dan hati-hati dengan mama tiri saya dan Arvino. Mereka licik. Mereka bisa menjadikanmu target untuk menjatuhkanku.”
Ia hanya mengangguk kecil.
Tangan Aluna saling menggenggam, dingin. “Pak…” suaranya lirih. “Apa saya bisa ke rumah sakit? Saya ingin melihat keadaan ibu.”
Marko menaikkan satu alis. “Untuk dihina keluargamu lagi?”
“Saya tidak peduli, Pak.” Aluna menatapnya memohon. “Yang saya khawatirkan sekarang hanya ibu… saya mohon.”
Marko mengembuskan napas kasar. “Hhaa… baiklah. Aku akan mengantarmu.”
Lalu ia menambahi. “Nanti makan siang, kamu akan dijemput Renaldi dan dibawa ke kantorku.”
Aluna menatapnya bingung. “Untuk apa, Pak?”
“Patuh saja, Aluna.” Nada Marko menajam. “Tidak usah bertanya.”
Mobil melaju cepat, membawa mereka menuju satu hari yang akan jauh lebih berat dari pagi yang baru saja mereka lewati.