Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Titik temu
Langkah kaki Ethan terdengar berat ketika pintu apartemen akhirnya tertutup di belakang mereka.
Tidak ada kantong belanjaan, malam itu mereka kembali dengan tangan kosong. Vivian berdiri beberapa langkah di belakang Ethan. Mata gadis itu terus menatap punggung Ethan, ia bahkan tak berani mengajaknya bicara. Sejak mereka meninggalkan tempat itu, Vivian melihat sesuatu yang belum pernah dia lihat sebelumnya. Ethan yang biasanya, berubah menjadi seseorang yang agak menakutkan.
Ethan berjalan melewati ruang tamu tanpa berkata apa-apa lalu berhenti di depan kamar mandi. "Aku mandi dulu," katanya singkat. Tanpa menunggu jawaban, ia langsung masuk dan menutup pintu.
Vivian berdiri beberapa detik, lalu menghela napas panjang, "ya ampun, apa yang kupikirkan. Dia seperti itu karena habis bertarung," ia menutup wajahnya sebentar, mencoba berpikir logis.
Srashhh!
Beberapa menit kemudian suara air terdengar dari dalam kamar mandi. Vivian akhirnya bergerak, ia menaruh tas kecilnya, lalu berjalan ke dapur. Tubuh mungil itu mulai menggeser kursi lalu menaikinya. Ia mulai membuka lemari obat yang jarang dipakai. Kini ditangannya sudah ada perban, alkohol, dan salep luka.
Tak lama kemudian pintu kamar mandi terbuka.
Ethan keluar dengan rambut masih basah dan hanya mengenakan celana panjang sederhana. Sekarang luka-lukanya jadi terlihat lebih jelas. Luka memar di bagian rusuk, bahu, dan sudut bibir, tak hanya itu pelipisnya pun lecet, namun tidak terlalu parah.
Vivian yang sudah duduk di sofa ruang tamu langsung berdiri, "duduk," suaranya terdengar serius.
Ethan mengangkat alis, ia melihat beberapa obat pertolongan pertama di atas meja, "tidak perlu, aku akan langsung tidur," tolaknya halus.
"Duduk dulu, sebelum aku berubah jadi dokter yang galak," paksa Vivian.
Tanpa banyak bicara, akhirnya Ethan duduk di sofa. Vivian mulai mendekat lalu membersihkan luka di pelipis Ethan. Begitu alkohol menyentuh,
"Argh!," Ethan meringis, tangannya refleks menepis.
Vivian mendengus, "kau bisa melawan lima orang sendirian, tapi apa ini? baru terkena alkohol sedikit saja sudah drama."
Ethan menatapnya datar, "itu nyeri," sahutnya.
Tanpa banyak bicara, Vivian tetap mengobati luka-luka Ethan dengan teliti. Walaupun telinganya terganggu oleh suara erangan menyebalkan dari pria berambut sebahu itu.
Setelahnya, Ethan berdiri di depan meja ruang tamu, yang kini berubah fungsi jadi meja strategi. Peta digital terbuka di laptop Vivian, di dalamnya sudah ada beberapa titik yang diberi tanda merah.
"Kini bukan hanya anggota organisasi yang mengincar mu, tapi Adrian juga mulai bergerak. Entah apa yang dia inginkan darimu, tapi yang pasti cepat atau lambat, dia akan mengirim lebih banyak orang untuk menangkap mu," jelas Vivian.
Ethan mengangguk, ia tidak lagi menyangkal kenyataan itu, "berarti kita yang harus bergerak lebih dulu."
Keputusan dibuat tanpa banyak drama, karena kali ini mereka sudah tidak boleh lengah lagi.
...----------------...
Keesokan paginya, apartemen itu berubah seperti markas darurat. Koper dibuka, mereka memilah, memastikan jika hanya barang-barang penting yang akan mereka bawa. Seperti pakaian netral, dokumen cadangan, perangkat elektronik yang sudah di reset. Tak lupa beberapa tanaman langka tetap Ethan bawa, karena itu adalah satu-satunya harta yang ia punya.
Vivian duduk di lantai, memotong kartu identitas lamanya menjadi beberapa bagian kecil, "sudah siap," katanya santai, "sekarang namamu Daniel Hayes dan aku Lylia Hayes, kita anak dan ayah."
Ethan yang sedang minum segelas air hampir tersedak, "huk-- anak?!, aku bahkan belum tiga puluh tahun."
Vivian menunjuk ke wajah Ethan, "hey, ini akan lebih mudah, lagipula sedari awal kau sudah berperan sebagai ayahku," dengus Vivian.
Ethan mulai memijit pelipisnya, tentu saja, hal ini harus kembali terjadi kepadanya. Setelah ia menjadi Lucas Moore, seorang suami dari Jane Moore, kini ia harus menjadi Daniel Hayes, ayah dari seorang anak bernama Lylia Hayes. Sebenarnya ia merasa muak, namun harus tetap mengikuti peran agar tidak dicurigai.
Beberapa jam kemudian, mereka turun membawa koper. Di lorong tangga, tetangga sebelah kebetulan keluar rumah, "Wah, bawaan kalian banyak sekali, mau liburan ya?," tanya seorang wanita paruh baya.
Ethan berhenti sepersekian detik, Vivian langsung menyenggol lengannya, lalu tersenyum manis. "Kami akan pindah nyonya, ayah sudah memiliki pekerjaan baru," Vivian beralasan.
Ethan mengangguk, "benar, ada pekerjaan baru."
Wanita paruh baya itu tersenyum lebar, "wah, apa penghuni lain sudah diberitahu, biasanya akan ada acara perpisahan, Maryn yang akan mengatur semuanya," ujarnya.
"Kebetulan nyonya Maryn sudah kami beritahu, lagi pula pekerjaan ayah sangat mendadak jadi kami tidak bisa berlama-lama disini," Vivian kembali beralasan.
"Baiklah kalau begitu, kalian hati-hati ya."
BRAK!
Begitu pintu mobil tertutup, Vivian menahan tawa, "ayah punya pekerjaan baru, besok aku akan minta dibelikan gulali hihi," nada Vivian terdengar meledek.
Ethan melirik tajam, "sekali lagi kau berkata seperti itu..," Ethan tak melanjutkan kalimatnya, rasanya percuma saja berbicara dengan gadis mungil yang tak akan berhenti berbicara sebelum puas mengatakan sesuatu itu. Ia kembali berpangku tangan menoleh ke arah pintu apartemen lantai dua, tempat penuh kenangannya bersama Serra.
Vivian yang ingin terus meledeknya seketika berhenti, ia menoleh ke arah Ethan, tatapan pria berambut sebahu itu terasa memilukan. Dan entah mengapa gadis kecil itu merasa de javu. Ia seperti melihat versi dirinya yang lama dalam raut wajah Ethan.
"Hoaahm.. kak Ethan aku ngantuk," Vivian pura-pura menguap, lalu menyandarkan kepalanya disisi kaca jendela.
Ethan sempat terheran, sudah lama ia merasa jika mood gadis mungil itu terbilang cepat berubah. Namun kali ini tidak seperti biasanya, setelah terus meledeknya, Vivian langsung tertidur, itu terlalu cepat.
BRUMMM!
Mobil sewaan yang diambil menggunakan identitas palsu, nomor kontak sekali pakai, serta pembayaran tunai itu melaju dengan kecepatan sedang. Pengemudi yang hanya berbekal SIM palsu tersebut tak lagi canggung berkendara. Lagi-lagi Ethan berhasil melakukannya, pria berambut sebahu itu selalu cepat belajar dalam melakukan apapun. Satu minggu, bukanlah waktu yang lama untuknya belajar berkendara. Namun hal itu mampu ia buktikan pada perjalanan kali ini.
Rute perjalanan tidak langsung menuju tujuan.
Mereka memutar arah dua kali, berganti jalur, bahkan berhenti di rest area hanya untuk memastikan agar tidak ada kendaraan yang mengikuti.
Tujuan mereka adalah Kota Ironfall. Perjalanan menuju Ironfall memakan waktu tempuh hampir setengah hari. Hingga ketika mereka sampai, kota itu tampak berbeda dengan ekspetasi di awal.
Gedung-gedung menjulang tinggi dengan angkuh.
Namun di balik tingginya gedung-gedung tersebut, banyak pula daerah dengan gang sempit dibawahnya. Hal itu menunjukkan jika Ironfall adalah kota yang terlalu sibuk untuk peduli pada kehadiran mereka. Dan yang lebih penting dari semua itu, wilayah tersebut dekat dengan titik organisasi tempat Serra bekerja.
Mobil berhenti di perbatasan kota, tepat di depan sebuah ruko kosong dua lantai, saat matahari hampir tenggelam. Vivian menarik napas pelan, "selamat datang di tempat yang salah untuk ditinggali," ujarnya ramah.
Ethan menatap sekeliling, ruko kosong itu berada di deretan bangunan lama yang sudah lama tidak dipakai. Catnya mengelupas, kaca jendelanya pun tampak berdebu. Tapi struktur bangunan ruko itu masih terlihat kokoh.
"Aku telah menyewanya beberapa bulan, kurasa itu sudah lebih dari cukup," Vivian mulai membuka pintu mobil, lalu melangkah kearah pintu. Tangan mungilnya meletakkan kartu identitas palsu pada sebuah kotak yang merupakan alat scan otomatis, "masih berfungsi dengan baik," gumamnya.
...----------------...
Malam pertama berada di tempat baru, tentu tak ada hal yang menarik untuk dilakukan, kecuali membersihkannya lebih dulu. Karena sudah lama tidak dihuni, debu dan kotoran tampak menyebar di setiap ruangan. Setelah hampir dua jam lebih bekerja sama, akhirnya tempat itu terasa layak untuk ditinggali.
Lantai atas adalah kamar yang Vivian pilih, kasur lipat digelar seadanya, laptop mulai dinyalakan.
Sembari menunggu mi instannya mengembang, Vivian mulai membuka peta jaringan organisasi.
"Lokasi Serra ada di sini," katanya menunjuk layar, tidak jauh dari perbatasan."
Ethan menatap titik itu, sejenak ia merasa tidak yakin, namun tekadnya sudah bulat, kali ini ia akan terus maju apapun itu resikonya.
...----------------...
Di sisi lain kota, suasana jauh lebih tegang. Serra berdiri di ruang briefing yang remang dengan tatapan tajam ke arah laptop, sementara Riven tepat berdiri di sebelahnya dengan tangan terlipat. Duo profesional itu, mulai sedikit mengalami kesulitan.
Adrian Vale, target yang sedang mereka cari bukanlah lawan yang mudah. Pria itu terlalu licin, terbukti dari setiap jejak yang mengarah pada jalan buntu, informasi yang didapat pun terasa setengah. Untuk pertama kalinya dalam waktu lama, mereka merasa selangkah tertinggal.
"Jika ini tidak berhasil, kita bisa pakai cara lama," ujar Riven, "tekan informan mereka, paksa bicara."
Serra menggeleng tipis, "jika kita pakai cara itu, dia akan tahu, lalu posisi kita makin terdesak."
Riven terdiam, sebagai rekan ia cukup profesional.
Ia pun menghormati keputusan Serra. Namun jauh di dalam sana, ada sesuatu yang mengganggu.
Bagaimanapun juga ia pernah dikecewakan. Dan sebagian dirinya ingin naik dengan caranya sendiri, tentunya tanpa menunggu persetujuan dari siapa pun. Tapi ia ingat satu hal, yaitu perjanjian mereka. Tidak ada lagi jalan pintas maupun langkah impulsif.
Drrrt! drrrt! drrrt!
Ponsel Riven bergetar pelan, ada email masuk secara anonim. Pria berjambang tipis itu mulai membukanya. Isi pesan sangat singkat,
Aku Ethan Hale, ada yang harus kita bicarakan. Mari bertemu di sini —lokasi disematkan, dan jangan beritahu siapapun.
Tidak ada detail tambahan, hanya koordinat waktu dan lokasi yang diusulkan. Riven menatap layar beberapa detik. Entah mengapa ia merasa jika timingnya terlalu tepat.
Serra yang penasaran pun mulai menoleh, "apa ada info baru?", tanyanya.
Riven mengangkat bahu serta alisnya tipis, lalu menyandarkan tubuh di kursi. Sejenak ia menatap Serra seraya menyunggingkan senyum. Menarik, ini sangat menarik, batinnya.
Dari luar jendela gedung itu, malam di Ironfall baru saja dimulai. Dan tanpa Serra sadari, Ethan dan Vivian sudah berada di kota yang sama dengan rencananya masing-masing.