Serra Lune, seorang pembunuh bayaran, menemukan targetnya di tempat yang salah. Ethan Hale, seorang pemuda baik pembuat herbal asal desa, diburu hanya karena wajahnya mirip dengan orang lain. Saat Serra memastikan kebenarannya, ia dihadapkan pada pilihan: menyelesaikan misi, atau melindungi orang yang seharusnya mati.
Keputusannya membuat mereka diburu. Dalam pelarian dan hidup sembunyi-sembunyi, dua orang dari dunia yang bertolak belakang belajar bertahan bersama. Bukan hanya karena takdir, melainkan memilih satu sama lain di dunia yang kejam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon aiyuki, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Salah duga
Jalan buntu di belakang area parkir supermarket itu tampak sepi. Lampu neon menggantung redup, memantulkan bayangan panjang di atas aspal yang dingin. Ke lima pria tersebut berdiri tepat dihadapannya, membentuk setengah lingkaran.
Tidak adanya senjata apapun di tangan mereka, membuat Ethan sedikit heran. Rasanya tidak masuk akal, mereka lebih terlihat seperti preman kampung ketimbang orang-orang organisasi. Ethan mulai memasang kuda-kuda, sedangkan Vivian mulai berlari kecil ke sudut lain, lalu naik keatas tumpukan box yang tidak terpakai.
"SERANG!!!."
Tanpa perkiraan ke lima orang tersebut menyerang secara bersamaan. Orang pertama melayangkan pukulan lurus ke wajah Ethan, tapi ia berhasil menangkisnya. Namun sebelum dia sempat melakukan kuncian, seseorang dari arah samping menendang kakinya.
"Ughhh!" Ethan terhuyung.
Dua orang lainnya langsung maju bersamaan seiring dengan pukulan dari kiri dan kanan. Ethan menahan satu serangan, tapi yang lain tetap mengenai tubuhnya.
"Astaga!," Vivian yang menonton dari atas box langsung mengerutkan wajah.
Setelah berhasil mengambil celah, Ethan mulai mundur dua langkah dengan napas terengah. Tubuhnya terasa sakit, ia mulai kewalahan karena melawan banyak orang, hal ini jauh berbeda dengan latihannya yang hanya terfokus pada satu lawan saja.
Seolah tidak memberi waktu untuk berpikir, salah satu pria mencoba meninju kembali, tapi kali ini Ethan refleks menunduk, dan tinju itu meleset.
Ia mencoba membalas dengan pukulan ke arah perut pria tersebut, namun pria lain langsung menarik bahunya dari belakang.
Syung!
Ethan hampir jatuh, Vivian menggeleng seraya menutup setengah wajahnya dengan tangan, ayo kak Ethan kau pasti bisa, batinnya cemas.
Ethan mencoba mengatur napasnya dengan kedua tangan sedikit gemetar, bukan karena merasa takut, melainkan tubuhnya masih mencoba menyesuaikan ritme. Ke lima orang tersebut masih belum puas, mereka kembali menyerang namun kali ini Ethan mulai bisa melawan.
Walaupun gerakan lawannya cukup berantakan, ia mampu mengamati dengan tepat. Hal-hal kecil yang dulu ia pelajari bersama Serra selama latihan, tiba-tiba muncul satu per satu di kepalanya.
Bugh!
Bagh!
Bugh!
Duak!
Pukulan demi pukulan mulai bisa di tangkis, namun tetap saja ada beberapa yang mengenainya. Napas Ethan semakin cepat, seluruh tubuhnya nyeri sekaligus memanas. Lima orang sekaligus benar-benar bukan jumlah kecil.
Vivian yang sedari tadi menonton mulai berdiri tegak, dengan tiba-tiba gadis mungil itu menaruh kedua tangan di mulutnya seperti sedang menggunakan pengeras suara. Ia mulai berteriak dengan suara penuh semangat,
"FOKUS KAK ETHAN!! KAU PASTI BISA!!."
Ke lima orang yang sedang mengepung seketika terdiam sepersekian detik, termasuk Ethan.
"AYO KAK ETHAN! AYO, AYO, AYO!."
Vivian mulai melompat kecil bak pemandu sorak.
Beberapa orang mulai menoleh kearah gadis mungil tersebut, "hey bocah, tutup mulutmu!," bentak salah satunya.
Ethan yang sadar jika lawannya mulai lengah, mulai kembali bangkit dan mulai menyerang kembali.
BUGH!
BRUKKK!
Pukulan keras Ethan tepat mengenai rahang salah satu pria, membuat Vivian langsung bersorak.
"SATU!."
Dua orang pria mulai menyerang kembali dari sisi kiri dan kanan. Ethan berhasil menangkis, lalu menarik kedua lengan lawan mendekat hingga..
DUAKK!
Ke dua pria itu langsung tumbang, karena kedua kepala mereka saling membentur keras. Vivian kembali bersorak seraya menunjuk dua orang yang tumbang.
"DOUBLE KILL!!!."
Ethan mulai memahami ritme serangannya. Kini lawan yang tersisa hanya tinggal dua orang. Mereka kembali menyerangnya secara bersamaan. Pukulan mulai dari arah kanan, tendangan dari depan, dengan mudah ia hindari.
Salah satu orang mulai menarik Ethan dari arah belakang. Namun pria berambut sebahu itu refleks merendahkan tubuhnya, lalu menarik kaki lawan.
BRUKKK!
Tubuh pria itu jatuh dengan posisi terlentang, kepalanya menghantam tanah. Vivian kembali bersorak, tapi kali ini ia tidak sekedar berteriak, gadis mungil itu juga memberi peringatan.
"EMPAT!!, KAK ETHAN DI KIRI MU!!!."
Ethan refleks menoleh, lalu berputar cepat, menarik lengan lawannya. Kemudian..
BRUKKK!
Pria itu jatuh menimpa rekannya, setelah Ethan berhasil menendang keras bagian perut lawan menggunakan lututnya.
"HUWAHH!!! HEBAT!!!."
Vivian kembali bersorak kegirangan, gadis mungil itu mulai menuruni box tempatnya berpijak.
Kelima pria itu terkapar di tanah. Lampu neon berkedip pelan, memantulkan bayangan panjang di sekitar mereka. Napas berat terdengar saling bersahut-sahutan, tidak ada yang pingsan total, namun jelas tak ada yang sanggup melawan lagi.
Ethan berdiri di tengah mereka dengan kedua tangan yang masih mengepal. Dengan napas yang masih memburu, ia menatap keempat pria itu satu per satu. Tatapan yang semula biasa saja tiba-tiba berubah menjadi lebih dingin dan menusuk.
Salah satu pria mencoba merangkak menjauh, namun Ethan melangkah maju dan menginjak tepat pada bagian tengah dadanya. Pria itu meringis kesakitan. Vivian yang semula ingin mendekat, seketika berhenti melangkah.
Ethan mulai menunduk, suaranya terdengar rendah namun cukup mengintimidasi, "siapa yang mengutus kalian?," tanyanya.
Tidak ada jawaban, ia menekan kakinya lebih kuat, "jawab," pria itu mendesis kesakitan, "Erghh.. kami hanya disuruh."
Ethan memiringkan kepala pelan, posisi sepatunya perlahan naik ke leher si pria lalu menekannya kuat, membuat si pria memberontak karena tak bisa bernapas.
"Adrian," akhirnya salah satu dari mereka mulai angkat bicara, karena tak tega melihat rekannya tersiksa.
Nama itu menggantung di udara malam. Ethan tidak menunjukkan reaksi besar. Ia mulai mengangkat kakinya perlahan. Pria itu langsung batuk keras, berusaha menarik napas penuh.
Ethan berdiri tegak kembali, dengan tatapan yang masih menusuk.
"Aku tidak mengenalnya, tapi kalian bisa sampaikan padanya, bahwa dia telah salah memilih lawan."
Ke lima orang itu mengangguk secara bersamaan. Mereka tidak mengira akan mengalami resiko besar. Karena menurut info yang mereka dapat, Ethan hanya warga sipil biasa. Tapi nyatanya tidak seperti yang mereka bayangkan.
Vivian tak berani mendekat, ia merasakan sesuatu yang berbeda pada Ethan. Jujur saja gadis mungil berambut gelombang itu merasa takut. Ethan yang merasa di perhatikan, mulai menoleh. Raut wajahnya tiba-tiba menjadi kosong.
"Vivi, ayo pulang."