"Apa? Anak perempuan lagi? Jika begini terus, maka kamu harus kembali hamil dan melahirkan anak laki-laki untuk ku."
"Tapi.."
"Tidak ada tapi-tapi. Sebagai seorang istri yang baik, kamu harus menuruti semua perkataan suami mu ini."
"Ya. Baiklah."
Nasib baik tidak berpihak pada seorang wanita yang bernama Seruni. Ia di tuntut untuk terus melahirkan anak oleh suami nya. Di karenakan, ia belum bisa melahirkan anak laki-laki. Suami nya sama sekali tidak pernah membantu nya. Dengan lima anak perempuan yang masih kecil, wanita itu berjuang sendirian. Hingga akhir nya anak ke 6 lahir dan malapetaka itu pun terjadi. Seruni menyerah. Ia pergi dengan anak-anak nya meninggalkan sang suami yang sibuk dengan wanita lain.
Bagaimana kah perjalanan Seruni dan anak-anak nya?
Jangan lupa berikan komentar supaya author nya tambah semangat.
Terima kasih dan selamat membaca.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Uul Dheaven, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 19
Adelia dan Mama nya panik. Satu menu yang akan mereka hidangkan ternyata basi. Entah apa yang menyebabkan itu terjadi. Saat itu mereka tidak sempat mencari penyebab nya. Masih banyak hal yang harus mereka lakukan supaya mereka tidak malu karena sudah mengundang banyak tamu.
"Kan sudah aku bilang, Ma. Kalau bukan masakan nya Kak Runi, pasti gini. Mama sih, terlalu percaya sama orang."
"Ya Mama kan nggak tahu. Mama cuma kasihan aja sama pemilik rumah makan ini. Maka nya Mama coba."
"Jadi, sekarang bagaimana, Ma? Walaupun kekurangan satu menu, tapi tetap aja tidak enak."
Mereka berdua pun teringat dengan Seruni yang saat itu ada di sana. Dengan cepat Adelia meminta saran pada wanita itu.
"Ada apa, Adek? Kenapa kamu panik seperti ini?"
"Kak Runi, tolong aku. Salah satu menu yang kami pesan basi."
"Basi? Ayo biar kakak lihat."
Dengan cepat Seruni mengikuti Adelia ke sebuah ruangan. Seruni mencium aroma yang tidak sedap ketika sampai di sana.
"Lihat lah, Kak. Bagaimana ini?"
Seruni merasa kasihan saat melihat wajah Adel. Memang hanya satu jenis menu. Hanya saja, tetap akan ada kekurangan nya jika menu itu tidak di ganti dengan yang lain. Adelia yang sedang hamil muda pasti akan kepikiran.
"Hmmm, kamu bisa sabar? Suguhkan dulu para tamu dengan cemilan. Kakak akan mencoba untuk menghubungi teman-teman di rumah yang sedang mengerjakan orderan untuk orang lain. Semoga saja mereka bisa mengerjakan nya dengan cepat. Tapi, tidak bisa dengan menu ini."
"Baik Kak Runi. Yang penting menu nya bertambah. Aku tidak masalah walaupun hanya lauk sederhana."
"Kalau begitu, tunggu saja di sini. Minta tolong beberapa orang yang kamu percaya untuk ke rumah kakak. Mereka harus bersiap di sana."
"Baik."
Kebetulan tidak lama setelah Seruni berangkat, ada seseorang yang memesan nasi kotak. Semua tetangga Seruni sudah bersiap dengan alat dan juga daging ayam yang sudah di bersihkan. Biasa nya Seruni memang melebihkan beberapa kilo ayam untuk jaga-jaga.
Seruni meminta tolong pada teman-teman nya untuk membantu Adelia. Jika sebelum nya menu yang sudah basi itu adalah soto daging sapi, tapi kali ini di ganti dengan kari ayam.
Entah memang Adelia beruntung atau pun semua itu terjadi secara kebetulan. Seruni menyetok banyak ayam dan perbumbuan di rumah nya. Niat nya, ia tidak perlu berbelanja lagi. Tapi, hal itu malah menolong Adel dari kecemasan nya.
Adelia masih saja mondar mandir dan sulit untuk duduk. Para tamu undangan sudah banyak yang hadir. Nama Adelia pun di sebut oleh si pembawa acara dan kemudian, wanita cantik itu pun langsung duduk.
Entah apa yang terjadi selanjutnya, Seruni tidak lah tahu. Ia sedang video call dengan orang-orang yang saat ini sedang berjuang di rumah nya, demi Adelia.
Jika biasa nya, tidak semua tetangga yang bekerja, tapi kali ini, semua nya harus menolong Seruni. Bahkan kedua orang tua nya pun ikut membantu.
Mereka memasak di beberapa tempat yang banyak. Karena jika di satukan semua nya, takut nanti akan lama masak nya. Seruni juga melihat langsung proses memasak itu sampai masakan itu siap untuk di bawa ke tempat acara.
"Syukur lah. Untung saja ayam nya cepat matang sebagian. Nanti sebagian lagi, baru di antar setelah nya, ya Bu." Ucap Seruni pada salah satu tetangga nya.
"Baik, Seruni. Tinggal menunggu beberapa menit lagi. Pasti semua nya matang dan enak."
Orang-orang nya Adel, sebagian langsung membawa makanan itu dengan segera. Para tamu undangan, masih menyicipi cemilan yang di hidangkan.
Lalu tidak lama kemudian, menu utama pun mulai di hidangkan. Walaupun banyak yang berbisik-bisik karena merasa heran dengan menu utama yang terlambat.
Walaupun begitu, mereka tidak ada yang berani berbicara secara langsung. Adapun orang-orang yang membawa menu-menu itu, berjalan perlahan sambil menunggu menu yang terakhir mereka datang.
"Kak Runi, bagaimana?"
"Tenang saja. Mereka sedang di dalam perjalanan. Semoga saja mereka bisa tiba tepat waktu."
Seruni terus berdoa supaya orang-orang kepercayaan Adel bisa datang tepat waktu dan tidak terjadi apa-apa di jalan. Dan beruntung lah wanita itu. Ia selalu di beri kan pertolongan di saat yang tepat.
"Bu, makanan nya sudah tiba."
"Alhamdulillah." Mereka pun mengucapkan syukur.
Kari ayam buatan Seruni langsung di hidangkan dengan asap yang masih mengepul. Semua mata dan hidung para tamu undangan, mencium aroma yang sangat menggugah selera.
Setelah di persilahkan makan, mereka langsung menyerbu meja hidangan. Hanya sebagian kecil tamu yang mengambil menu lain. Semua nya terpaku dan berniat untuk memakan kari ayam yang masih panas itu.
Dalam sekejap, kari ayam itu hampir saja ludes. Adelia dan juga Seruni, semakin was-was saja. Bagaimana tidak, para tamu hanya menyentuh kari ayam buatan Seruni. Sedangkan kari ayam yang sebagian masih belum matang itu, masih belum bisa di bawa ke sana.
Adeli kembali memprotes pada Mama nya. Ia benar-benar kesal karena hal itu. Ia sampai menangis karena ia takut makanan itu banyak yang masih tersisa.
"Adelia, kamu sedang hamil muda. Tidak baik bicara seperti itu dengan Mama mu. Adel, tenang saja. Kakak akan usahakan yang terbaik untuk acara mu hari ini. Kalau pun nanti makanan itu banyak yang tersisa, bagaimana kalau di bagikan saja pada para pengemis? Kecuali, kalau sudah tidak layak makan."
"Baiklah, Kak Runi. Aku akan mendengar kan saran kakak." Adelia pun menurut. Ia tidak lagi ngambek dan marah-marah dengan Mama nya.
Adapun Mama nya Adelia, begitu salut pada Seruni yang mampu menenangkan anak nya dengan penuh kelembutan. Pantas saja, ke empat anak-anak kandung nya itu begitu baik dan pengertian. Ada Ibu hebat yang membesarkan mereka.
bersinar 😮