Seri ke-satu
Clara Ayudita tak pernah menyangka bahwa perpisahan tiba-tiba akan menjadi awal dari kehilangan terbesar dalam hidupnya. Noel Baskara laki-laki yang selama ini menjadi rumah, sandaran, dan tempat segala rencana masa depan bermuara tiba-tiba menghilang tanpa penjelasan.
Satu pesan singkat dan senyum palsu di hari perpisahan menjadi kenangan terakhir yang ia punya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ms.Una, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jadi sorotan
Aku bisa bantu kamu buat dapetin beasiswa ucap Clara pelan namun tegas.
Viola terdiam sambil memainkan gantungan ponsel di jarinya, ekspresinya tak lagi judes seperti tadi di jalan. Ia nampak benar-benar berpikir.
“Kamu mau masuk jurusan apa?” tanya Clara lembut.
“Cita-citaku mau jadi seorang analis bisnis kak.”
Clara sedikit tertegun. Analis bisnis bukan cita-cita sembarangan. Itu butuh logika yang kuat, matematika yang matang, kemampuan membaca data, dan keberanian mengambil keputusan. Ia tidak bisa menganggap remeh keinginan itu. Seorang analis bisnis harus kuliah di jurusan yang kuat secara hitungan—manajemen, ekonomi, bahkan matematika terapan.
Clara tersenyum kecil. “Keren loh itu. Kamu gak mau coba?”
“Mau sih kak… tapi kasian ibu. Ibu sudah tua, masih harus kerja buat biayain hidup aku sama Dina.”
Suara Viola kali ini tidak terdengar keras. Ada rasa bersalah di dalamnya.
Clara memandang Viola cukup lama. Ia tahu rasanya kehilangan orang tua. Ia tahu rasanya tidak punya pilihan. Tapi ia juga tahu rasanya diberi kesempatan kedua.
“Yasudah kalau itu pilihan kamu,” ucap Clara akhirnya lembut, “tapi kalau suatu hari kamu berubah pikiran, kamu bisa hubungi aku, biar aku bantu nyiapin nilai ujian buat daftar beasiswa. Banyak jalannya, Vi. Gak semua harus bayar mahal.”
Viola mengangguk pelan. “Iya kak.”
Belum sempat percakapan berlanjut, ponsel Clara berbunyi. Notifikasi dari aplikasi hijau muncul. Kemarin siang ia mengirim pesan pada Thalia menanyakan keadaan neneknya, tapi pesan itu belum dibaca. Baru sekarang balasan masuk.
Clara membuka pesan itu.
“Clara, mungkin aku tidak pulang dalam satu minggu ini. Nenekku tadi malam meninggal.”
Clara terdiam. Jemarinya menegang. Hatinya langsung ikut sesak. Ia tahu betul bagaimana rasanya ditinggalkan orang tersayang. Seheboh dan seceria apa pun Thalia, kehilangan tetaplah kehilangan. Dan ia tidak berada di sana untuk memeluk sahabatnya.
Ia segera membalas.
“Aku turut berduka cita. Maaf aku tidak bisa ikut melayat. Aku akan mendoakan yang terbaik untuk nenekmu. Jaga dirimu baik-baik Thal.”
Pesan terkirim. Clara menarik napas pelan lalu menyimpan kembali ponselnya.
“Kak Clara… ini beneran kakak?” suara Viola tiba-tiba membuat Clara mengernyit.
“Apa?”
Viola menyodorkan layar ponselnya tepat di depan wajah Clara.
“Ini kakak kan?”
Di layar, video dirinya saat membaca esai di acara Forrer Pharmaceutical Indonesia sedang diputar. Potongan videonya diedit rapi dengan backsound lembut. Sorot lampu panggung, wajahnya yang tegang namun tenang, suara yang stabil saat membaca tentang waktu dan harapan.
Clara terpaku.
“Gila sih kak, komentarnya hampir satu juta,” ucap Viola dengan mata membulat.
Clara ikut membaca komentar yang terus bergerak naik.
“Merinding dengernya.”
“Serius ini cuma iklan farmasi? Kena banget.”
“Lagi galau buka ini malah nangis.”
“Yang baca siapa sih? Cantik banget.”
“Sudah hampir sejuta yang komen kak,” lanjut Viola. “Ini bukan cuma viral biasa.”
Clara tersenyum kaku. Ia tidak pernah membayangkan wajahnya, suaranya, lukanya akan disaksikan sebanyak itu orang. Ia menulis untuk menyelamatkan dirinya sendiri, bukan untuk menjadi tontonan.
“Itu,” gumam Clara pelan
Viola tertawa kecil. “Kak Clara sekarang terkenal.”
Clara menggeleng pelan, pipinya menghangat. “Biasa aja, Vi. Itu mungkin cuma lewat di beranda orang.”
“Tapi banyak banget yang save kak. Lihat nih.”
Clara memandang angka-angka di layar. Ratusan ribu. Jutaan tayangan. Dunia seakan tiba-tiba menoleh padanya.
Di dalam dadanya, ada perasaan aneh. Bangga. Takut. Terharu. Dan sedikit nyeri yang belum sepenuhnya hilang.
Ia menatap Viola yang kini terlihat lebih bersemangat dari sebelumnya.
“Mungkin ini bisa jadi bukti kalau tulisan itu punya kekuatan,” ucap Clara pelan.
“Kalau kamu serius mau jadi analis bisnis, kamu juga bisa. Asal kamu mau berjuang.”
Viola terdiam sesaat, lalu menatap Clara dengan sorot mata berbeda, bukan lagi sekadar kakak kelas waktu SMP, tapi seseorang yang benar-benar ia kagumi.
“Kak… kalau aku mau masuk kuliah, tolong bantuin ya”
Clara tersenyum hangat. “Iya.”
Di tempat lain, tepatnya di sebuah kamar apartemen yang berada di lantai tinggi, Noel berdiri di balkon dengan satu tangan bersandar pada pagar kaca. Di bawah sana, Jakarta berkilau oleh lampu-lampu malam yang tak pernah benar-benar padam. Ia menyalakan rokoknya dengan gerakan tenang, lalu menghisapnya perlahan. Asap tipis keluar dari bibirnya, menyatu dengan udara malam yang lembap. Wajahnya tetap datar, dingin, seperti patung yang terlalu lama berdiri di musim dingin. Tidak ada senyum, tidak ada emosi yang mudah dibaca. Seolah-olah ia hidup di ruang yang membeku, membuat bibirnya lupa bagaimana caranya membentuk lengkungan hangat.
Beberapa menit berlalu. Rokok itu masih setengah, tapi ia sudah kehilangan minat. Ia mematikannya di asbak kaca dengan gerakan singkat, tegas, seolah bahkan bara kecil itu pun mengganggunya. Ia melangkah masuk ke ruang tamu apartemennya yang luas dan minimalis. Lampu temaram menyinari interior bernuansa abu-abu dan hitam, dingin seperti pemiliknya.
Noel menjatuhkan tubuhnya ke sofa, bersandar, satu tangan terkulai di sandaran, satu lagi meraih remote dan layar besar menyala didepannya.