NovelToon NovelToon
Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Noda Kopi Di Jaket Abu-abu

Status: sedang berlangsung
Genre:Persahabatan / Romansa
Popularitas:878
Nilai: 5
Nama Author: BOCCI

Selena Victoria, siswi SMA 16 tahun yang egois dan kadang menjengkelkan, tapi memiliki hati yang lembut. Hidupnya berubah drastis setelah insiden kopi tumpah ke jaket cowok paling ditakuti di sekolah. Dengan bantuan bestie-nya Rora, juara olimpiade sains dan matematika yang nyentrik, Selena harus menghadapi konsekuensi aksinya dan belajar tentang empati. 😐

baca yuk Novel aku "Noda Kopi di Jaket Abu"!

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon BOCCI, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

beban selena

Rora yang duduk di kursi belakang benar-benar tidak bisa menahan diri. Dia sudah lama tahu kalau Leon itu "Manusia Kalkulator" yang omongannya lebih irit daripada kuota paket data darurat. Tapi mendengar Leon bertanya "Gue ini apa di hidup lo?" dengan nada datar tapi menusuk itu, membuat jiwa julid Rora meronta-ronta.

"Ehem! Aduh, kok tiba-tiba AC mobilnya jadi panas ya?" celetuk Rora sambil mengibas-ngibaskan tangannya ke wajah, matanya melirik nakal ke arah spion tengah agar bisa melihat ekspresi Leon.

"Rora, diem deh," bisik Selena sambil menyikut kursi belakang, mukanya sudah merah padam.

"Eh, Sel! Gue nggak nyangka ya," lanjut Rora dengan nada bisik-bisik tetangga tapi sengaja dikeraskan. "Si Kulkas Dua Pintu yang biasanya cuma ngomong 'ya', 'nggak', 'oke', sekarang bisa nanya filosofis gitu. 'Gue ini apa di hidup lo?'... Wah, Leon! Lo habis makan buku puisi atau gimana? Biasanya kan lo cuma nanya 'Password Wi-Fi apa?'"

"Ngaco" sahut leon.

Leon tetap fokus menyetir, tapi rahangnya terlihat mengeras. Dia tidak membalas, tapi suasana dingin di dalam mobil malah makin terasa "membeku" gara-gara Leon yang menahan malu.

"Sel, lo denger nggak tadi? Bener kok! Hahaha!" Rora tertawa tertahan sambil memukul bantal lehernya. "Kalau Zeus itu gardunya, Leon itu Wi-Fi-nya. Berarti hidup lo penuh dengan gelombang elektromagnetik ya? Awas loh nanti mandul gara-gara radiasi cinta mereka!"

"RORA! Mulut lo gue plaster ya!" ancam Selena, benar-benar gemas.

Selena kemudian melirik Leon yang masih diam seribu bahasa. Dia merasa tidak enak karena Leon sudah baik hati menyelamatkannya tapi malah jadi bahan olokan Rora. Selena menyentuh lengan Leon pelan—hanya ujung jarinya—mencoba menenangkan.

"Sabar ya, Yon... Rora emang gitu. Efek kurang asupan wortel dari kelincinya, jadi otaknya rada konslet," ucap Selena lembut.

Leon melirik jari Selena di lengannya, lalu kembali menatap jalan. "Gue udah biasa sama gangguan sistem kayak dia. Nggak masalah."

"Tuh kan! 'Gangguan sistem' katanya! Gue dibilang virus dong!" protes Rora lagi. "Tapi serius Yon, lo kalau cemburu sama Zeus jangan diem-diem bae. Nanti kabel Wi-Fi lo diputus sama dia, nangis lo!"

Mobil akhirnya memasuki area kompleks rumah Selena. Dari kejauhan, sosok tinggi besar yang bersandar di motor hitamnya sudah terlihat. Zeus berdiri tepat di bawah lampu jalan, helmnya ditaruh di atas tangki motor, dan matanya langsung terkunci pada mobil Leon yang mendekat.

"Waduh... Pak Bos sudah menunggu dengan aura api unggun," gumam Rora. "Siap-siap ya, Yon. Sinyal Wi-Fi lo bakal di-jamming sama Gardu Listrik!"

Leon menghentikan mobil tepat di depan Zeus. Dia mematikan mesin, lalu menoleh ke Selena. "Turunnya bareng gue. Jangan lari ke dia sendirian."

Selena menelan ludah. "Oke... tapi tolong, jangan ada yang berantem ya? Mama gue di dalem lagi masak rendang. Kalau kalian ribut, rendangnya bisa jadi gosong!"

Suasana makin panas! Zeus sudah pasang muka "siap tempur" begitu melihat Selena keluar dari mobil Leon, apalagi melihat Leon yang protektif banget.

Rora yang merasa atmosfer di depan rumah Selena sudah selevel dengan medan perang dingin, langsung membatalkan niatnya untuk ikut campur lebih jauh. Apalagi setelah melihat ekspresi Zeus yang seolah-olah bisa mengeluarkan petir dari matanya.

"Waduh, Sel... Gue rasa sinyal di sini mulai gangguan. Orang rumah barusan nge-chat, katanya bokap nyokap gue udah di rumah. Gue balik duluan ya!" seru Rora sambil buru-buru menyambar tasnya dari kursi belakang.

Selena melotot. "Loh, Ror! Tadi katanya mau nginep?!"

"Nggak jadi! Nyawa gue lebih berharga daripada dengerin kalian debat analogi listrik dan Wi-Fi! Dah, Selena! Dah, Leon! Zeus... jangan galak-galak ya!" Rora langsung lari terbirit-birit menuju ojek pangkalan yang kebetulan lewat, meninggalkan Selena sendirian di antara dua pangeran Thunder yang sedang saling lempar tatapan tajam.

Setelah Rora pergi, suasana mendadak senyap. Hanya ada suara mesin motor Zeus yang masih panas. Leon keluar dari mobil, berdiri tegak di samping Selena, sementara Zeus melangkah maju sampai jarak mereka hanya tersisa satu meter.

"Lama banget sampainya," ucap Zeus, suaranya rendah dan penuh tekanan. Matanya tidak beralih dari tangan Leon yang tadi sempat hampir menyentuh bahu Selena.

"Gue ambil jalur aman. Lucas naruh banyak mata-mata di jalan utama," jawab Leon tenang, tidak gentar sedikit pun dengan aura intimidasi sang ketua.

Zeus mendengus, lalu beralih ke Selena. Dia langsung menarik pergelangan tangan kanan Selena yang memakai jam perak itu.

"Eh, Zeus! Sakit tau!" protes Selena.

"Gue cuma mau cek log sistemnya," dalih Zeus (padahal aslinya cuma mau mastiin Selena nggak kenapa-kenapa setelah berduaan sama Leon). "Kenapa jam lo sempat kedip hijau lama banget tadi? Lo ngobrolin apa sama Leon?"

Selena mengerjapkan mata, teringat soal analogi Wi-Fi tadi. "Itu... itu cuma bahas soal koneksi, Zeus! Nggak usah posesif gitu deh!"

Belum sempat Zeus membalas, pintu rumah kembali terbuka. Wangi bumbu rendang yang sangat menyengat langsung menyeruak ke jalanan.

"Loh, kok masih di depan? Itu temen-temen kamu, Sel?" Mama Selena muncul dengan celemek yang masih menempel. Beliau melihat Leon yang rapi dengan mobilnya, lalu melihat Zeus yang garang dengan motornya.

"Iya, Ma... ini mamah udah tau zeus kan, terus ini Leon yang tadi nemenin aku begadang pas kemping," jelas Selena kikuk.

Mata Mama Selena langsung berbinar begitu melihat Leon. "Oh, ini yang namanya Leon? Yang nemenin anak saya begadang biar nggak takut setan itu? Sopan banget mukanya, beda sama yang satunya..." Mama melirik Zeus sekilas.

Zeus yang merasa tersindir langsung berdehem keras. "Tante, saya juga jagain Selena."

"Iya, iya, Tante tahu. Udah, mumpung rendangnya baru matang  kalian berdua masuk! Makan malam bareng! Anggap aja ini syukuran Selena pulang kemping dengan selamat tanpa dibawa penghuni pohon beringin," perintah Mama Selena mutlak.

Kini, Zeus dan Leon terjebak di satu meja makan yang sama. Zeus duduk di sebelah kiri Selena, Leon di sebelah kanan. Papa Selena duduk di kepala meja, menatap kedua cowok itu dengan tatapan menginterogasi khas seorang ayah.

"Jadi," mamah Selena memulai sambil mengambil nasi. "Siapa di antara kalian yang jabatannya paling tinggi di... apa ya  kata selena namanya? Perusahaan Listrik Negara Cabang Sekolah?"

Selena langsung tersedak rendang. "Mah! Itu cuma candaan!"

Zeus langsung menegakkan punggungnya. "Saya ketuanya, tante."

Leon menyahut pelan sambil mengambil kerupuk. "Saya yang menjalankan sistemnya, Tan. Tanpa saya, ketuanya cuma bisa marah-marah."

Selena hanya bisa menelungkupkan wajahnya di meja makan. Gue mau pindah planet aja sekarang juga!

"Oh ya ayah lo mana?"tanya zeus ke selena.

"Hmm...Tante single parent jadi...?"mamah selena menghentikan ucapannya.

Suasana di meja makan mendadak hening setelah Mama Selena tanpa sengaja menyinggung soal masa kecil  Selena yang tumbuh tanpa sosok ayah. Selena yang biasanya paling berisik, tiba-tiba meletakkan sendoknya dengan suara denting yang pelan namun terasa menyakitkan.

"Aku udah nggak lapar. Mau ke kamar," ucap Selena singkat. Matanya yang tadi berbinar kini meredup, ada gurat luka yang coba ia sembunyikan di balik wajah datarnya.

Mama Selena tersentak, menyadari kalimatnya barusan melukai perasaan putrinya. "Sel, sayang... Mama nggak maksud—"

Tapi Selena sudah berdiri dan berjalan cepat menaiki tangga tanpa menoleh lagi.

Mama Selena tertunduk lesu di meja makan. "Maaf ya, Zeus... Leon... Tante malah bahas itu. Selena memang sensitif sejak tante cerai sama ayahnya waktu dia masih kecil. Dia nggak suka kelihatan lemah, makanya dia selalu pasang tembok tinggi dengan jadi 'Ibu Dirut' yang galak."

Zeus dan Leon saling pandang. Mereka berdua paham sekarang kenapa Selena begitu keras kepala ingin menjadi "pemimpin". Itu adalah cara dia melindungi dirinya sendiri agar tidak ada lagi yang bisa menyakitinya atau meremehkan keluarganya yang tidak utuh.

"Tante nggak salah," ucap Leon lembut, suaranya yang tenang sedikit menenangkan suasana. "Selena cuma butuh waktu buat reboot perasaannya."

Zeus mengepalkan tangannya di bawah meja. Sebagai cowok yang juga tumbuh di lingkungan keras, dia tahu rasanya ingin melindungi satu-satunya orang tua yang tersisa. "Tante tenang saja. Selena nggak sendirian lagi sekarang."

Zeus dan Leon meminta izin untuk naik ke lantai atas. Mereka berdiri di depan pintu kamar Selena yang tertutup rapat. Dari dalam, tidak ada suara teriakan, hanya keheningan yang menyesakkan.

Leon mengeluarkan ponselnya, lalu mengirimkan sebuah file audio ke jam tangan perak Selena. Detik kemudian, jam tangan di dalam kamar bergetar lembut.

"Sel," panggil Zeus dari balik pintu, suaranya rendah dan dalam. "Gue nggak pinter susun kata-kata kayak Leon. Tapi gue cuma mau bilang... di Thunder, kita nggak peduli siapa yang pergi dari hidup lo. Yang penting adalah siapa yang berdiri di samping lo sekarang."

"Leon udah kirim sesuatu ke jam lo. Dengerin," tambah Zeus.

Di dalam kamar, Selena yang sedang memeluk bantalnya perlahan membuka jam tangannya. Ada pesan suara dari Leon:

"Sistem yang paling kuat adalah sistem yang pernah retak tapi diperbaiki dengan kode yang lebih tangguh. Lo bukan broken home, Sel. Lo itu fondasi utama rumah lo sendiri. Dan gue... gue bakal jadi antivirus yang jagain fondasi itu dari kejauhan."

Pintu kamar perlahan terbuka sedikit. Selena muncul dengan mata yang agak sembab tapi sudah tidak ada tangisan. Dia melihat Zeus yang berdiri gagah di depannya dan Leon yang bersandar di tembok sambil menatapnya dengan teduh.

"Kalian ganggu aja tahu nggak," gumam Selena, mencoba kembali ke persona-nya yang galak meski suaranya masih serak.

Zeus mengacak rambut Selena pelan—sebuah gerakan yang sangat jarang dia lakukan. "Makan rendangnya habisin. Kalau nggak, gue suruh anak-anak Thunder demo depan rumah lo sekarang juga."

Selena tersenyum tipis, sangat tipis. "Makasih ya... Gardu Listrik, Wi-Fi."

Skip.....

Setelah suara motor Zeus menjauh dan mobil Leon sudah tidak terlihat lagi di tikungan jalan, suasana rumah jadi sangat sunyi. Selena duduk di meja makan, menatap piring rendangnya yang tinggal setengah. Mama Selena masuk dari dapur, membawakan dua gelas teh hangat, lalu duduk di hadapan putrinya.

Selena mengaduk tehnya pelan. "Ma..."

"Iya, Sayang?"

"Kenapa sih Mama tadi bahas soal itu?" tanya Selena lirih. "Mama tahu kan aku nggak suka bahas soal 'dia' di depan orang lain? Apalagi di depan Zeus sama Leon."

Mama Selena menghela napas panjang, menggenggam tangan Selena yang dingin. "Mama minta maaf, Sel. Mama tadi cuma terlalu senang lihat ada orang-orang hebat yang jagain kamu. Mama reflek cerita karena Mama merasa... akhirnya kamu nggak perlu nanggung semuanya sendirian lagi."

Selena terdiam sebentar, lalu menatap Mamanya dengan mata yang berkaca-kaca. "Dulu... pas aku masih kecil banget, aku cuma ingat Papa pergi bawa koper. Aku nggak ngerti kenapa. Aku pikir aku nakal makanya ditinggal. Baru pas aku gede, aku sadar kalau ternyata hidup nggak sesimpel itu."

"Kamu nggak pernah nakal, Sel," potong Mamanya lembut. "Keadaan yang memaksa kita buat cuma berdua. Mama tahu kamu jadi 'Ibu Dirut' di sekolah, jadi ketua geng yang galak, itu semua karena kamu takut kalau kamu kelihatan lemah, orang bakal ninggalin kamu lagi kayak Papa dulu, kan?"

Selena mengangguk pelan. "Aku cuma mau punya 'kekuasaan'. Biar nggak ada yang bisa buang aku sembarangan."

Mama Selena tersenyum tipis. "Tapi kamu lihat tadi? Zeus itu,  dia paham cara menghormati kamu. Leon yang pendiam itu, dia tahu cara nenangin kamu tanpa harus banyak bicara. Mereka nggak melihat kamu sebagai anak yang 'kurang', Sel. Mereka melihat kamu sebagai Selena."

Selena teringat pesan di jam tangannya tadi. Lo itu fondasi utama rumah lo sendiri.

"Aku cuma takut mereka bakal pergi juga kalau tahu aku sensitif begini, Ma," bisik Selena.

"Kalau mereka pergi cuma karena tahu kamu punya luka, berarti mereka bukan 'gardu listrik' atau 'Wi-Fi' yang bagus buat kamu," canda Mama mencoba mencairkan suasana. "Udah, sekarang tidur besok jangan telat sekolah. Dirut nggak boleh matanya bengkak!"

Sebelum tidur, Selena mengecek jam tangannya lagi. Ada notifikasi baru masuk, tapi bukan dari Leon atau Zeus.

Unknown Number: "Gue tahu kenapa lo sedih malam ini. Jangan tutup pintu hati lo rapat-rapat, Kecil. Kadang, orang yang paling 'rusak' justru yang paling bisa ngertiin lo. Sleep tight. - L"

Selena terbelalak. Lucas. Cowok itu entah bagaimana bisa tahu apa yang terjadi di dalam rumahnya. Selena langsung mematikan lampu kamar, menarik selimut sampai ke telinga, dan mencoba memejamkan mata.

Malam ini dia sadar, hidupnya bukan lagi soal dia dan Mamanya saja. Ada tiga cowok dengan cara berbeda yang sedang mencoba masuk ke dalam dunianya yang retak.

Bersambung...

1
aytysz
Semangat yaa kak-- kalau kakaknya ada waktu luang, boleh dong berkunjung ke profil ku -- di sana ada cerita sederhana yang mungkin kakaknya suka ♡
bochi to the light: thanks suportnya ya 😊 btw cerita kamu bagus banget loh
total 1 replies
bochi to the light
minta dukungan nya ya biar aku lebih banyak up nya😊
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!