NovelToon NovelToon
I Love You, Mas Kades

I Love You, Mas Kades

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu
Popularitas:7.8k
Nilai: 5
Nama Author: Nadhira Ramadhani

Niat hati menjalani KKN dengan tenang, Mikayla (25) malah mencatat skor buruk di hari pertama: memaki pria berjaket denim yang ternyata adalah Alvaro (30), sang Kepala Desa Asih yang dingin dan otoriter.
Bagi Mika, Alvaro adalah penghambat kelulusannya yang sangat menyebalkan. Bagi Alvaro, Mika hanyalah mahasiswi kota manja yang terlalu banyak bicara. Namun, di antara riset perairan dan debu jalanan desa, arus perasaan mulai mengalir di luar kendali. Di Desa Asih, mampukah Mika menaklukkan kerasnya hati Pak Kades, atau justru ia yang tenggelam dalam pesonanya?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nadhira Ramadhani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20

Malam di Desa Asih kali ini terasa jauh lebih gerah dari biasanya. Meskipun hari sudah menunjukkan pukul sepuluh malam, hawa panas seolah masih terperangkap di antara pepohonan jati. Di dalam posko, Siti dan Asia sudah terlelap pulas setelah lelah bergotong royong seharian. Mika, di sisi lain, hanya menatap langit-langit kayu dengan gelisah. Pikirannya terus melayang pada sentuhan Alvaro di telapak tangannya tadi siang.

Tiba-tiba, ponselnya bergetar di atas lantai. Sebuah pesan singkat masuk.

Alvaro: "Alatnya sudah berjalan sempurna. Ingin lihat hasilnya sekarang? Saya tunggu di ujung jalan."

Jantung Mika mencelos. Tanpa pikir panjang, ia bangkit, merapikan rambutnya yang sedikit berantakan, dan hanya mengenakan daster satin tipis berwarna hitam yang dilapisi jaket hoodie kebesaran agar tidak terlalu mencolok. Ia mengendap-endap keluar posko, beruntung Siti tidak terbangun oleh suara pintu yang berderit.

Di ujung jalan yang gelap, sosok tinggi Alvaro bersandar pada motor Ninjanya. Pria itu hanya mengenakan kaos singlet hitam yang memperlihatkan lekuk otot lengannya yang kokoh dan celana pendek kargo. Begitu melihat Mika, Alvaro tidak tersenyum, namun matanya yang gelap berkilat penuh arti.

"Naik," perintahnya rendah.

Mika naik ke boncengan, dan kali ini, ia tidak lagi ragu untuk melingkarkan tangannya di pinggang Alvaro. Ia bisa merasakan panas tubuh pria itu menembus kain tipis dasternya.

Mereka sampai di tepi sungai yang jauh dari pemukiman warga. Suasana di sana sangat sunyi, hanya ada suara gemericik air yang melewati filter baru mereka dan suara serangga malam. Cahaya rembulan yang keperakan memantul di permukaan air, menciptakan pemandangan yang magis sekaligus intim.

"Lihat," Alvaro menunjuk ke arah sensor digital yang baru mereka pasang. Lampu indikatornya menyala hijau stabil. "Parameter airnya stabil. Berkat keras kepalamu, desa ini punya air yang lebih bersih sekarang."

Mika melangkah mendekati bibir sungai, menatap alat itu dengan bangga. "Kita berhasil, Al. Ternyata bener kata Ibu Ratna, kalau sabar nanamnya, hasilnya bakal manis."

Alvaro berjalan mendekat hingga ia berdiri tepat di belakang Mika. Hawa panas dari tubuh pria itu seolah menyelimuti punggung Mika. "Hanya alatnya saja yang berhasil? Bagaimana dengan... kita?"

Mika berbalik perlahan. Jarak mereka kini tak lebih dari sepuluh sentimeter. Di bawah naungan pohon beringin besar dan sinar bulan yang temaram, wajah Alvaro terlihat begitu tampan dan dominan. Tekanan udara di sekitar mereka seolah meningkat, membuat napas Mika terasa berat.

"Al... bapak jangan mulai lagi," bisik Mika, suaranya bergetar.

Alvaro tidak menjawab. Ia justru meraih kedua tangan Mika, menempatkannya di pundaknya yang lebar. Kemudian, kedua tangan besar Alvaro turun perlahan, melingkar di pinggang Mika dan menarik gadis itu hingga tubuh mereka benar-benar merapat tanpa celah.

Mika bisa merasakan detak jantung Alvaro yang kuat beradu dengan detak jantungnya sendiri yang kacau. Alvaro menunduk, hidungnya bersentuhan dengan hidung Mika. Napas mereka saling memburu, menciptakan uap hangat di antara bibir mereka.

"Kamu tahu seberapa keras saya menahan diri sejak pertama kali kamu menangis di dada saya kemarin?" suara Alvaro serak, penuh dengan desakan emosi yang selama ini ia kunci rapat di balik sikap kaku kepalanya.

"Al..."

"Panggil saya lagi," bisik Alvaro, bibirnya kini menyapu sudut bibir Mika dengan lembut namun menuntut.

"Al..." rintih Mika pelan.

Alvaro tidak bisa menahan diri lagi. Ia menangkup wajah Mika dengan kedua tangannya, lalu memiringkan kepalanya dan menyatukan bibir mereka dalam sebuah ciuman yang dalam dan lapar. Bukan lagi ciuman dahi yang lembut, tapi sebuah ciuman yang penuh dengan rasa kepemilikan dan gairah yang sudah lama terpendam.

Mika terengah, ia meremas kaos singlet Alvaro, menarik pria itu semakin dekat. Rasa manis dan panas menjalar ke seluruh sarafnya. Ciuman itu berpindah ke rahang, lalu turun ke leher jenjang Mika, membuat gadis itu mendongakkan kepala dan mengeluarkan lenguhan halus yang tertahan.

Alvaro mengangkat tubuh Mika dengan mudah, mendudukkan gadis itu di atas kap mesin motornya yang masih hangat. Tangan Alvaro masuk ke balik jaket hoodie Mika, menyentuh kulit pinggang Mika yang halus. Sentuhan tangan kasar khas pekerja lapangan itu memberikan sensasi terbakar yang nikmat bagi Mika.

"Kamu wangi sekali, Mikayla... bau vanilla dan hujan," bisik Alvaro di ceruk leher Mika, napasnya yang panas membuat Mika merinding hebat.

Mika membelai rambut Alvaro yang sedikit basah karena embun malam. Di tempat yang tersembunyi ini, tidak ada lagi Kepala Desa Fir'aun atau mahasiswi pembangkang. Hanya ada dua insan yang sedang terbakar oleh perasaan yang tak bisa lagi didefinisikan oleh kata-kata.

Alvaro menghentikan aksinya sejenak, ia menatap mata Mika yang sayu dan berkaca-kaca. Ibu jarinya mengusap bibir Mika yang sedikit bengkak karena ulahnya.

"Maaf... saya terlalu kasar?" tanya Alvaro dengan nada yang sangat lembut, sangat jauh dari karakter aslinya.

Mika menggeleng pelan, ia menarik kepala Alvaro agar kembali mendekat. "Jangan berhenti... Al. Aku nggak mau malam ini selesai."

Alvaro tersenyum tipis, sebuah senyuman yang penuh kemenangan sekaligus kasih sayang. Ia mengecup dahi Mika lama, seolah sedang mematri sebuah janji di sana.

"Tiga puluh hari lagi, Mikayla. Setelah itu, saya tidak akan membiarkan kamu kembali ke Jakarta tanpa membawa saya di dalam pikiranmu setiap detiknya," ucap Alvaro tegas.

Mika menyandarkan dahinya di dahi Alvaro, berusaha mengatur napasnya yang masih berantakan. "Bapak beneran mau tanggung jawab ya?"

Alvaro terkekeh, suara tawanya yang dalam bergema di kesunyian sungai. "Saya sudah bilang, tanggung jawab adalah makanan saya. Dan menjaga kamu... adalah tugas paling menyenangkan yang pernah saya terima sebagai Kepala Desa."

Malam itu, sungai Desa Asih menjadi saksi bisu. Bahwa di balik ketegasan dan kekakuan, ada cinta yang mengalir lebih deras dari arus air. Dan bagi Mika, perjalanannya ke desa terpencil ini bukan lagi sekadar mencari nilai A, melainkan menemukan rumah di dalam dekapan sang Kepala Desa yang dulu paling ia benci.

Mereka tetap berada di sana, saling mendekap di bawah sinar rembulan, sementara air yang telah tersaring jernih mengalir tenang di bawah kaki mereka—sebersih perasaan yang baru saja mereka akui.

1
Chusnul Chotimah
itulah klo lagi kasmaran,dunia terasa hampa tanpa hadirnya...cuit..cuittt.alvaro sama Mika mau melepas rindu,,reader boleh tutup telinga tapi tak boleh tutup mata
yulia annisa
lanjut kaaaanbthooor
Lola Maulia
🥰🥰🥰🥰
Chusnul Chotimah
lanjut Thor,,semangat ya💪.
Chusnul Chotimah
mulai sedikit tersepona ya Mik sama mas kades🥰😄
Chusnul Chotimah
semangat Mik,tunjukin kamu bisa.taklukkan hati penguasa desa
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!