"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."
Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..
Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.
Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 17. Perubahan Sikap
Bab 17: Perubahan Sikap
Pagi itu, kediaman Wijaya terasa dingin, lebih dingin dari biasanya. Kabut tipis sisa hujan semalam masih menggantung di halaman luas, menyelimuti pos-pos keamanan baru yang didirikan Bram pasca-insiden gudang. Bram sedang dalam mode paranoia penuh; penemuannya tentang teknik pembunuhan profesional di mayat-mayat penyusup telah membuatnya memerintahkan audit total terhadap seluruh staf, termasuk pelayan. Dan yang paling Bram incar adalah Kenzi.
Di lantai dua, koridor menuju kamar Alana sunyi mencekam. Kenzi berdiri di sana, punggungnya bersandar kaku pada dinding. Ia mengenakan kemeja taktis hitam baru, kancing teratas terbuka sedikit, menyingkap sebagian kecil tato organisasi yang telah ia samarkan. Wajahnya tidak beralih dari pintu kamar Alana, namun pikirannya sedang bergejolak.
Laporan Forensik Internal Bram (Audit Staf): Probabilitas pengidentifikasian tato sebagai simbol organisasi gelap level 4: 72% dalam 24 jam. Bram sedang mencari konfirmasi intelijen internasional.
Dokumen rahasia "Proyek Serra" yang ia temukan semalam telah mengubah segalanya. Dendam yang selama belasan tahun ia kunci rapat, kini mendidih kembali, menuntut balasan. Wijaya bukan sekadar target finasial organisasinya; Wijaya adalah pembunuh orang tuanya secara sosial.
Namun, di tengah gelombang kebencian itu, ada sebuah noda kecil yang mengusik kalkulasi logikanya: Alana. Bayangan Alana yang menatap foto ayahnya dengan air mata menggenang, Alana yang menutupi kebohongannya di depan Bram, Alana yang membalut luka di punggungnya di safe house—semua itu adalah bug yang harus segera ia eliminasi. Kelembutan yang sempat muncul tadi malam adalah kelemahan yang mematikan.
Analisis Target (Alana): Variabel emosional terdeteksi sebagai gangguan operasional level 3. Jika tidak dinetralkan, risiko kegagalan misi sabotas mencapai 50%. Harus dilakukan recalibration fokus.
Kenzi menarik napas perlahan, menekan bug emosional itu ke sudut tergelap jiwanya. Ia tidak boleh melunak. Ia adalah mesin dendam, dan Alana... Alana hanyalah aset yang harus ia amankan, sekaligus putri dari monster yang harus ia hancurkan.
Pintu kamar Alana terbuka perlahan. Alana melangkah keluar dengan ragu. Ia mengenakan blus putih sederhana dan celana jins, wajahnya masih pucat dan matanya sedikit bengkak karena kurang tidur. Ia berhenti saat melihat Kenzi.
Mata mereka bertemu.
Alana mencoba mencari Kenzi yang tadi malam—pria yang suaranya melembut, pria yang membiarkannya memegang jantungnya yang stabil, pria yang sejenak menunjukkan sisi manusianya. Namun yang ia temukan adalah Kenzi pada hari pertama ia bekerja. Dingin. Kaku. Kekosongan total.
"Nona Alana, Anda terlambat 15 menit dari jadwal pagi," suara Kenzi terdengar kaku, kehilangan nada kemanusiaan yang sempat Alana rasakan tadi malam.
Alana tertegun. "Jadwal? Kenzi, kita baru saja... tadi malam—"
"Tadi malam adalah anomali taktis yang terjadi akibat kegagalan perimeter Bram," Kenzi memotong ucapan Alana, nadanya kasar dan penuh penekanan. "Saya di sini untuk memastikan keselamatan aset Proyek Phoenix. Jika Anda tidak bisa mengikuti protokol, sebaiknya Anda tetap di kamar."
Kata-kata Kenzi menghantam Alana seperti tamparan. Ia melangkah mendekat, matanya berkilat karena campuran kekecewaan dan kemarahan. "Kenapa kau bicara seolah-olah apa yang terjadi tadi malam tidak berarti apa-apa? Kau menunjukkan dokumen itu... foto ayahmu... kau bilang aku satu-satunya yang tidak bau busuk!"
Kenzi tidak bergeming. Ia merapikan lengan kemejanya yang kotor karena audit fisik sebelumnya. "Emosi adalah komoditas yang mahal bagi orang seperti saya, Nona. Dan Anda... Anda tidak mampu membayarnya. Kebenaran yang menyakitkan adalah ayah Anda menghancurkan hidup saya. Itu adalah fakta. Penyelamatan Anda tadi malam... itu hanyalah mekanisme pertahanan kontrak. Jangan salah tafsirkan efisiensi sebagai kepedulian."
Alana terkesiap. Hatinya terasa seperti teriris. Kepercayaan yang mulai ia bangun, pengakuan di balik safe house baja, semuanya hancur berkeping-keping oleh kekejaman kata-kata Kenzi.
"Kau menakutkan, Kenzi," bisik Alana, air mata mulai menggenang. "Tapi kali ini, ketakutan itu bukan karena bahaya di luar... melainkan karena kehampaan di dalam dirimu."
"Fokuslah pada keselamatan Anda sendiri, Nona," jawab Kenzi dingin, matanya kini memandang lurus ke depan, mengabaikan Alana yang mulai terisak. "Ayo. Tuan Wijaya menuntut laporan kemajuan dalam satu jam."
Kenzi melangkah pergi, membiarkan Alana tertinggal di belakangnya. Di rubanah kediaman, Bram sedang menanti dengan tim intelijen gelapnya. Perang dingin baru saja dimulai, dan Kenzi harus memastikan bahwa dalam setiap langkah taktisnya, tidak ada lagi ruang untuk 'bug' kemanusiaan yang bisa membahayakan misinya.
Ia harus kembali menjadi mesin. Ia harus ingat mengapa ia ada di sini.
Misi utama: Sabotase total Proyek Phoenix. Dendam Proyek Serra harus terbalas.
Status: Terkalibrasi ulang. Variabel Alana dinetralkan.
Di koridor atas, Alana berdiri sendirian, menatap punggung Kenzi yang menjauh. Ia menyadari sebuah kebenaran yang pahit: Bahaya terbesar bukanlah orang-orang bertopeng yang mendobrak pintunya, melainkan pria yang ia biarkan masuk ke dalam hatinya—pria yang baru saja membuktikan bahwa hatinya benar-benar dingin sekeras es.