Rose Moore, seorang desainer perhiasan elit di Boston yang sukses dan cantik, mendapati dunianya hancur tepat di malam perayaan ulang tahun pernikahannya yang ke-2. Suaminya, Asher Hudson, seorang Direktur Pemasaran terpandang, ternyata telah menikah siri selama tiga bulan dengan wanita bernama Mia Ruller atas paksaan orang tuanya. Alasan keji di baliknya: Rose dianggap "tidak suci" karena masa lalunya yang yatim piatu dan tidak perawan, sementara keluarga Hudson menuntut ahli waris dari darah yang mereka anggap "murni".
Alih-alih menangis dan meminta cerai, Rose yang terluka memilih jalan yang lebih dingin, ia menerima pernikahan tersebut hanya demi mempertahankan status hukumnya. Ia bertekad menyiksa Asher secara mental, menguasai hartanya, dan menghancurkan reputasi keluarga Hudson yang sombong dari dalam.
Namun, rencana balas dendam Rose tergoncang saat ia secara tak sengaja bertemu kembali dengan Nikolai Volkov, kekasih masa SMA-nya dari Texas.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Daeena, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#13
Beberapa minggu berlalu di apartemen mewah Back Bay, dan suasana telah berubah menjadi panggung teater yang aneh. Rose Moore telah mengasah kemampuan aktingnya hingga ke tingkat yang tidak terbayangkan. Baginya, setiap pagi bukanlah lagi siksaan, melainkan sebuah pertunjukan komedi hitam yang ia tonton sambil menyesap kopi terbaiknya.
Pagi itu, cahaya matahari musim semi menyelinap masuk, menyinari meja makan yang penuh dengan hidangan mewah. Mia Ruller duduk di sana, tampak begitu rapuh seolah tulang-tulangnya terbuat dari kaca. Kehamilannya yang masih sangat muda telah ia jadikan senjata untuk melumpuhkan fungsi motorik tangannya sendiri.
"Asher, Sayang... aku mual melihat omelet itu. Bisakah kau menyuapiku potongan buah saja?" suara Mia mendayu-dayu, manja yang dibuat-buat hingga level yang memuakkan.
Asher, dengan pengabdian seorang pria yang merasa telah berhasil membuktikan kejantanannya, tersenyum lebar. Ia memotong sepotong kecil melon dengan sangat hati-hati. "Tentu, Sayang. Apapun untukmu dan jagoan kecil kita."
Rose, yang duduk di seberang mereka dengan gaun satin sutra berwarna emas, hanya mengamati dengan senyum manis yang permanen di wajahnya. Ia tidak lagi merasa mulas melihat mereka. Sejak pertemuannya dengan Nikolai, ia merasa memiliki perisai baja. Ia menganggap pasangan gila di depannya sebagai hiburan pagi yang jauh lebih menarik daripada acara bincang-bincang di televisi.
"Wah, Mia," Rose menyela dengan nada yang sangat ramah, hampir terdengar tulus. "Melihatmu begitu manja dan pilih-pilih makanan, firasatku mengatakan bayimu sepertinya perempuan. Biasanya anak perempuan membuat ibunya ingin terus dimanjakan dan terlihat cantik, bukan?"
Wajah Mia langsung berubah masam. Di keluarga Hudson, anak laki-laki adalah segalanya, penerus takhta dan warisan. Mengatakan anaknya perempuan adalah hinaan terselubung bagi Mia.
"Ini laki-laki, Rose. Aku merasakannya," jawab Mia ketus, lalu kembali bersandar pada Asher.
"Oh, tentu saja. Apapun jenis kelaminnya, yang penting dia sehat," Rose terkekeh pelan, menyesap kopinya dengan anggun. "Asher, kau luar biasa. Aku tidak pernah tahu kau punya bakat menjadi pelayan yang begitu telaten. Mungkin dua tahun bersamaku kau terlalu sibuk, jadi kau menebusnya sekarang ya?"
Asher tersenyum canggung. Ia merasa Rose benar-benar telah menerima keadaan ini. "Aku hanya ingin yang terbaik, Rose. Aku harap kau tidak merasa terabaikan."
"Terabaikan? Sama sekali tidak, Asher. Aku justru merasa... bebas," jawab Rose dengan kilat misterius di matanya yang hijau.
Suasana pagi yang "harmonis" itu pecah ketika bel pintu apartemen berbunyi. Tak lama kemudian, sosok Arthur dan Eleanor Hudson melangkah masuk dengan aura otoritas yang kaku. Mereka datang tanpa pemberitahuan, seolah-olah tempat itu adalah properti yang bebas mereka masuki kapan saja.
"Ayah, Ibu! Kalian datang?" Asher berdiri menyambut mereka dengan antusias.
Mia segera mencoba duduk tegak, memasang wajah pucat yang dramatis agar mendapatkan simpati. Sementara Rose tetap duduk di kursinya, meletakkan serbetnya dengan tenang, lalu berdiri dan memberikan anggukan hormat yang sopan.
"Pagi, Ayah, Ibu," sapa Rose dengan senyum 'menantu teladan'.
Eleanor hampir tidak melirik Rose. Matanya langsung tertuju pada perut Mia yang masih rata. Ia melangkah mendekat dan mengelus perut itu seolah sedang menyentuh harta karun nasional.
"Bagaimana keadaan calon cucuku hari ini? Mia, kau harus banyak istirahat. Jangan biarkan pikiran-pikiran negatif atau orang-orang yang 'tidak berguna' mengganggu ketenanganmu," ucap Eleanor, sindirannya jelas mengarah pada Rose.
Arthur Hudson duduk di kepala meja, menatap Rose dengan tatapan menilai. "Rose, aku harap kau menjalankan perannya dengan baik. Berita di media sudah mulai tenang karena narasi yang kita bangun. Pastikan kau tidak melakukan kesalahan yang bisa merusak citra Asher lagi."
"Tentu saja, Ayah," Rose menjawab dengan suara lembut yang mematikan. "Aku bahkan tadi mengatakan pada Mia, sepertinya bayinya perempuan karena dia sangat manja. Bukankah akan sangat manis jika ada gadis kecil di rumah ini?"
Wajah Arthur mengeras. "Keluarga Hudson butuh penerus laki-laki, Rose. Sesuatu yang gagal kau berikan selama dua tahun."
"Ah, benar sekali," Rose mengangguk paham, seolah tidak terluka sedikit pun. "Mungkin memang benar kata Asher, intensitas mereka jauh lebih tinggi. Aku ikut bahagia untuk kalian semua. Sungguh."
Eleanor kemudian duduk di samping Mia, memberikan kotak perhiasan kecil. "Ini untukmu, Mia. Hadiah karena kau sudah membawa berkah bagi keluarga ini. Bukan seperti wanita yang hanya tahu cara menghabiskan uang untuk karier desainnya tapi rahimnya gersang."
Mia membuka kotak itu—sebuah kalung mutiara yang cantik—dan menatap Rose dengan tatapan penuh kemenangan. "Terima kasih, Ibu. Aku akan menjaganya dengan baik. Aku berjanji akan memberikan Hudson kecil yang sehat, bukan noda masa lalu."
Rose tertawa kecil, suara tawa yang jernih namun membuat bulu kuduk Asher merinding. "Mutiara yang cantik, Ibu. Tapi Mia, hati-hati memakainya. Kadang mutiara bisa berubah kusam jika pemakainya menyimpan terlalu banyak rahasia atau kepalsuan."
"Apa maksudmu, Rose?" Asher bertanya, mulai merasa ada yang aneh dengan ketenangan istrinya.
"Maksudku? Oh, tidak ada. Aku hanya teringat pada salah satu desain perhiasanku," Rose mengibaskan tangannya santai. Ia melirik jam tangannya yang mahal. "Maaf semuanya, aku harus pergi ke studio. Ada kolega bisnis penting yang menungguku."
Rose melangkah mendekati Eleanor dan Arthur, mengecup pipi mereka satu per satu dengan gerakan yang sangat sopan, membuat kedua orang tua yang membencinya itu terpaku karena tidak bisa menemukan alasan untuk memarahinya.
"Asher, suapi Mia sampai kenyang ya? Dia butuh tenaga untuk menjaga 'penerus' laki-laki itu," bisik Rose di dekat telinga Asher sebelum ia mengambil tas tangannya.
Begitu Rose melangkah keluar dan pintu apartemen tertutup, ia menarik napas panjang. Ia mengeluarkan ponselnya dan melihat pesan dari pengacaranya, Marcus, yang menyatakan bahwa data keuangan rahasia Arthur Hudson sudah mulai bocor ke tangannya.
Rose tersenyum miring. Di dalam sana, mereka sedang merayakan kehamilan yang mereka anggap sebagai kemenangan. Mereka tidak tahu bahwa "wanita mandul" yang mereka hina itu sedang menyiapkan sebuah ledakan yang akan menghapus nama Hudson dari peta sosialitas Boston.
Dan di ujung jalan, sebuah mobil hitam metalik sudah menunggu. Nikolai Volkov ada di sana, siap menyambut Rosemary-nya setelah ia selesai bermain peran di rumah gila itu.
"Bagaimana pertunjukannya pagi ini, Sayang?" tanya Nikolai saat Rose masuk ke dalam mobil.
"Sangat menghibur, Nik," Rose menyandarkan kepalanya di bahu Nikolai, menghirup aroma maskulin yang nyata. "Mereka sedang memuja rahim Mia. Mereka pikir mereka sudah menang."
Nikolai mengelus rambut Rose, matanya menatap tajam ke arah gedung apartemen Hudson. "Biarkan mereka berpesta di atas pasir hisap. Saat mereka menyadarinya, mereka sudah tenggelam terlalu dalam untuk bisa meminta tolong."
Rose memejamkan matanya, merasa aman. Ia tidak peduli disebut mandul atau tidak suci oleh orang-orang di dalam sana. Karena baginya, kemenangan sesungguhnya bukan tentang memiliki anak untuk keluarga Hudson, tapi tentang melihat kehancuran mereka sambil digenggam erat oleh pria yang mencintainya tanpa syarat.
🌷🌷🌷
Happy reading dear 🥰