NovelToon NovelToon
Midnight Blue In Paris

Midnight Blue In Paris

Status: sedang berlangsung
Genre:Cintamanis / Teen School/College / Bad Boy
Popularitas:470
Nilai: 5
Nama Author: Ike Diva

​Felysha Anindhita hidup dalam keteraturan, sampai sebuah botol parfum hancur di gang gelap Paris dan mengubah segalanya. Di sana, ia bertemu Mahesa Praditya—pria misterius yang menyeretnya ke dalam pelarian berbahaya melintasi negara.

​Dikejar oleh masa lalu yang mengancam nyawa, Felysha terpaksa meninggalkan dunianya yang rapi demi pipa drainase yang kotor dan kabut dingin Isle of Skye. Di samping Mahesa, ia mulai menyadari satu hal: hidup yang indah tidak harus selalu memiliki garis yang lurus.

​Saat persembunyian berakhir, akankah Felysha kembali pada hidupnya yang kaku, atau memilih menetap bersama pria yang telah menjadi poros dunianya?

​"Terkadang, kita harus kehilangan arah untuk benar-benar menemukan jalan pulang."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ike Diva, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 19

Logam kunci di tangan Felysha Anindhita terasa jauh lebih berat daripada biasanya saat ia mencoba memasukkannya ke dalam lubang kunci pintu unit apartemennya. Tangannya masih sedikit gemetar, menciptakan bunyi denting kecil yang beradu dengan plat besi pintu. Ia harus menarik napas panjang, menahan oksigen di paru-parunya selama beberapa detik, sebelum akhirnya berhasil memutar kunci itu hingga terdengar bunyi klik yang solid. Begitu pintu terbuka, kesunyian apartemen mewah itu menyambutnya seperti sebuah pelukan yang dingin dan hampa.

Felysha tidak langsung menyalakan lampu ruang tamu. Ia membiarkan dirinya berdiri di kegelapan sesaat, hanya ditemani oleh cahaya lampu jalanan yang menyelinap masuk melalui celah tirai yang tidak tertutup sempurna. Ia menyandarkan punggungnya pada permukaan pintu yang keras, membiarkan tubuhnya merosot perlahan hingga ia terduduk di atas lantai marmer. Dingin lantai itu langsung menembus celana jinsnya, memberikan sensasi yang membuat bulu kuduknya berdiri, namun ia tidak peduli. Rasa letih yang luar biasa tiba-tiba saja tumpah, melumpuhkan seluruh ototnya.

Ia menyentuh lehernya. Saputangan milik Mahesa masih di sana, kini sudah terasa kaku karena darah yang mengering sempurna. Felysha melepaskan kain itu perlahan, merintih sedikit saat serat kain yang kering sempat menarik kulit di sekitar lukanya. Ia menatap kain putih yang kini dinodai bercak merah gelap itu di bawah keremangan cahaya. Ia tidak tahu siapa Mahesa sebenarnya. Pria itu muncul begitu saja dari kegelapan taman, membantunya tanpa banyak bertanya, lalu menghilang kembali ke dalam malam Paris tanpa meninggalkan jejak apa pun kecuali selembar saputangan ini.

Ia tidak tahu nama lengkap pria itu. Ia tidak tahu di mana pria itu tinggal, atau apa yang dilakukannya tengah malam di bangku taman. Mereka berpisah begitu saja di depan pagar gedung, seperti dua orang asing yang hanya kebetulan berbagi satu momen mengerikan. Felysha meremas saputangan itu di telapak tangannya. Ada rasa sesak yang aneh saat menyadari bahwa kemungkinan besar ia tidak akan pernah bertemu pria itu lagi untuk sekadar mengucapkan terima kasih yang lebih layak.

Felysha memaksa dirinya untuk berdiri. Langkah kakinya terseret lemas saat ia berjalan menuju kamar mandi. Ia menyalakan lampu, dan cahaya neon yang putih tajam seketika membuat matanya perih. Ia menatap pantulan dirinya di cermin besar di atas wastafel. Wajahnya sangat pucat, dengan lingkaran hitam di bawah mata yang tampak lebih jelas dari biasanya. Rambutnya berantakan, dan di lehernya, sebuah luka goresan panjang berwarna merah keunguan tampak kontras dengan warna kulitnya yang putih.

Ia mengambil kapas dan cairan antiseptik dari lemari kecil di balik cermin. Tangannya bergerak sangat pelan saat meneteskan cairan bening itu ke atas kapas. Begitu kapas basah itu menyentuh lukanya, rasa perih yang menusuk-nusuk membuat Felysha memejamkan mata kuat-kuat. Ia menggigit bibir bawahnya, menahan suara agar tidak keluar dari tenggorokannya. Ia harus membersihkan luka ini sampai benar-benar bersih. Ia tidak ingin infeksi, dan ia lebih tidak ingin Julian melihat bekas luka yang tidak bisa ia jelaskan.

Setelah lukanya tertutup plester transparan, Felysha berjalan menuju meja makan. Ia meletakkan tas selempang cokelatnya di atas meja, lalu mengeluarkan isinya satu per satu. Paspor hijau, dompet yang kini kosong tanpa uang tunai, kunci cadangan, dan bingkai foto kecil ayahnya. Ia memegang bingkai foto itu, mengusap permukaan kacanya dengan ibu jari. Rasa lega karena barang ini tidak hilang hampir membuat air matanya jatuh kembali. Ia menarik napas panjang, mencoba menenangkan detak jantungnya yang masih tidak beraturan.

Getaran di atas meja kayu membuat Felysha tersentak. Ponselnya menyala, menampilkan panggilan video masuk. Julian.

Felysha menatap layar itu dengan perasaan mual yang mendadak muncul di ulu hatinya. Ia melirik jam di dinding; sudah lewat tengah malam di Paris, yang berarti sudah subuh di Jakarta. Julian benar-benar tidak pernah melepaskan pengawasannya. Felysha segera merapikan rambutnya, menarik kerah sweternya setinggi mungkin untuk menutupi plester di lehernya, lalu menarik napas dalam-dalam sebelum menekan tombol terima.

Wajah Julian muncul di layar, tampak segar meski di Jakarta hari masih sangat pagi. Pria itu mengenakan kemeja santai, duduk di beranda rumahnya yang megah. "Kenapa wajahmu pucat sekali, Fely?" suara Julian terdengar sangat jernih di telinga Felysha, namun nadanya tetap penuh dengan tuntutan.

"Aku baru saja selesai mengerjakan tugas studioku, Julian. Agak melelahkan hari ini," jawab Felysha dengan suara yang diusahakan terdengar normal. Ia meremas jemarinya di bawah meja, berharap Julian tidak menyadari getaran di suaranya.

"Sudah kubilang jangan terlalu memaksakan diri. Andre bilang dia mengantarmu jam tujuh malam, tapi dia melihat lampu studionya masih menyala lewat jendela apartemenmu sampai jam sembilan. Kenapa kamu tidak langsung istirahat?"

Felysha tertegun. Ia lupa bahwa posisi apartemennya memungkinkan orang dari trotoar melihat cahaya dari jendela tertentu. "Aku hanya ingin menyelesaikan satu bagian kecil saja. Setelah itu aku langsung mandi."

"Istirahatlah. Aku tidak ingin calon istriku jatuh sakit hanya karena sepotong kain," Julian menyesap minumannya, matanya masih menatap tajam ke arah kamera ponsel. "Oh ya, aku sudah memesankan tiket untuk ibumu dan adikmu berkunjung ke rumah minggu depan. Aku ingin mereka merasa nyaman saat kamu tidak ada."

Lagi-lagi, Julian menggunakan keluarganya sebagai alat untuk mengingatkan Felysha tentang posisi mereka. Felysha hanya bisa mengangguk pelan. "Terima kasih, Julian. Itu sangat baik darimu."

"Tidurlah. Aku akan menghubungimu lagi besok pagi. Dan Fely... jangan lupa kunci pintumu dengan benar. Paris tidak seaman yang kamu pikirkan."

Julian mematikan sambungan secara sepihak. Felysha perlahan menurunkan ponselnya, lalu menjatuhkan kepalanya di atas meja makan. Ia tertawa getir. Paris tidak seaman yang kamu pikirkan. Julian benar dalam hal itu, tapi ia tidak tahu bahwa bahaya yang sesungguhnya sudah baru saja terjadi, dan Felysha berhasil selamat berkat bantuan orang asing yang bahkan tidak ia ketahui namanya.

Felysha berjalan menuju tempat tidurnya, namun ia tidak langsung tidur. Ia mengambil saputangan Mahesa yang tadi ia letakkan di pinggir wastafel. Ia membilas kain itu di bawah air mengalir, memperhatikan bagaimana noda darah merah itu perlahan luntur dan menghilang ke dalam lubang pembuangan. Ia mengucek kain itu pelan dengan sabun cair, meraba tekstur kainnya yang halus. Setelah bersih, ia menjemurnya di gantungan handuk.

Ia merebahkan tubuhnya di atas kasur yang luas, menatap langit-langit kamar yang tinggi. Pikirannya melayang kembali ke gang gelap itu, ke suara langkah kaki Mahesa, dan ke cara pria itu menolak ucapannya untuk membalas budi. Di tengah kemewahan yang diberikan Julian, selembar saputangan bersih dari orang asing justru terasa lebih berharga dan lebih nyata bagi Felysha. Ia memejamkan mata, membiarkan kantuk yang berat menyeretnya ke dalam tidur yang gelisah, sambil bertanya-tanya apakah suatu saat nanti ia akan punya kesempatan untuk mengembalikan saputangan itu kepada pemiliknya.

1
TriAileen
ne beda crta pa gmn Thor. kok seigt q bab 1 ny bukan ne y awl q baca
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!