NovelToon NovelToon
The Price Of Fate

The Price Of Fate

Status: sedang berlangsung
Genre:Pengganti / Action / Romansa
Popularitas:579
Nilai: 5
Nama Author: Bunga Neraka

​"Benarkah keberuntungan selalu berbanding lurus dengan kebahagiaan? Dan apakah nasib buruk adalah sinonim mutlak bagi kesengsaraan?
​Pertanyaan-pertanyaan itu terdengar sederhana, namun memiliki daya hancur yang cukup untuk membuat manusia memalingkan wajah dalam penyangkalan. Secara insting, kita telah terprogram untuk memuja hal-hal baik sebagai satu-satunya sumber kepuasan. Sebaliknya, saat nasib buruk mengetuk pintu, manusia cenderung mendustakannya—bahkan dengan keras mendoktrin diri bahwa itu adalah 'kesialan' yang tidak seharusnya ada.

​Namun, apakah persepsi umum tersebut adalah sebuah kebenaran universal?
​Mungkin bagi sebagian besar orang, jawabannya adalah iya. Namun bagi mereka yang memahami cara kerja semesta, pandangan itu sungguh disayangkan.

Sebab di balik setiap keberuntungan yang kita rayakan, selalu ada harga yang tersembunyi. Dan di balik setiap kesialan yang kita benci, mungkin tersimpan satu-satunya jalan menuju sesuatu yang tidak kita bayangkan."

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bunga Neraka, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Tidak Berguna...

Dengan derit rem yang memekakkan telinga, mobil itu akhirnya berhenti tepat di depan gerbang rumah Sheila. Andersen tidak membuang sedetik pun. Ia membuka pintu dengan paksa, merangsek keluar dari kabin mewah itu.

Jemarinya yang berlumuran darah bergerak lincah, mengambil dua pistol yang ia rebut dari mayat musuhnya.

Tanpa menunggu, ia mendorong pintu rumah yang ternyata sudah terbuka sebagian. Di hadapannya, beberapa sosok bayangan berdiri kaku, siluet pasukan bersenjata itu langsung menoleh ke arahnya, moncong senjata mereka mulai terangkat.

Namun, di antara para penjaga itu, tatapan Andersen terpaku pada sebuah siluet lain...

Siluet seorang gadis yang tergeletak tak berdaya di lantai. Sebuah kilatan memori masa lalu menyambar kesadarannya, mengulang adegan yang sama, kesalahan yang tak termaafkan.

"Terlambat, lagi-lagi aku terlambat," erang Andersen dalam benaknya, sebuah bisikan keputusasaan yang lebih menyakitkan daripada luka-lukanya.

Dunia seolah berhenti. Pasukan itu segera mengacungkan senjata mereka, jari-jari di pelatuk mulai menegang. Mereka berSiap memuntahkan rentetan timah panas yang mematikan.

Namun, Andersen bergerak lebih cepat. Lebih cepat dari reaksi, lebih cepat dari amarah, bahkan lebih cepat dari takdir itu sendiri.

DOR! DOR! DOR!

Dua pistol di tangannya menyalak brutal. Tanpa ragu, tanpa jeda, ia melepaskan peluru-peluru panas itu dengan presisi mematikan, menjatuhkan setiap musuh satu per satu.

Masing-masing terjungkal, lubang di kepala mereka menjadi saksi bisu kecepatan dan kemarahan seorang lelaki yang telah kehilangan segalanya, sekali lagi.

Namun, maut tidak pernah membiarkan korbannya pergi dengan mudah. Di sela detik-detik kejatuhan mereka, naluri purba para musuh itu masih sempat memicu mekanisme pelatuk AK47 di tangan mereka.

Moncong senjata itu menyalak dalam kepanikan, memuntahkan rentetan peluru yang merobek udara ruang tamu yang sempit itu.

Secara insting, Andersen menekuk kedua lengannya di depan dada... sebuah benteng daging yang rapuh. Berusaha mati-matian melindungi organ-organ vital di rongga dadanya agar jantungnya tidak berhenti berdetak sebelum ia mencapai gadis didepannya.

RATATATA!

Hantaman itu datang bertubi-tubi. Timah panas merobek bahu, menghunjam pinggang, dan mengoyak paha dengan kekuatan kinetik yang mengerikan.

Semburan merah kembali pecah, merusak balutan kasa yang baru saja ia lilitkan dengan penuh perjuangan, membuat kemeja sutranya kini berubah warna sepenuhnya menjadi merah kelam.

Tubuh Andersen tersentak-sentak hebat di bawah terjangan peluru, layaknya sebuah boneka yang tali-talinya baru saja diputus paksa.

Namun, di tengah badai logam itu, ada sesuatu yang menolak untuk menyerah. Meski kakinya gemetar dan fondasi tubuhnya runtuh, ia menolak untuk tumbang.

Ia tetap berdiri tegak, melawan hukum alam yang seharusnya sudah menjatuhkannya ke lantai. Di mata lelaki itu, rasa sakit bukan lagi musuh... ia telah menjadi bagian dari dirinya, sebuah harga yang harus dibayar demi menebus keterlambatannya sekali lagi.

Tepat saat itu, bayangan-bayangan baru muncul dari balik lorong rumah—gelombang musuh yang tak ada habisnya. Pemandangan itu adalah tetes terakhir yang meluapkan ember kesabaran Andersen. Dalam sekejap, sesuatu di dalam dirinya pecah. Batas kewarasannya yang telah terkikis oleh rasa sakit dan frustrasi kini runtuh sepenuhnya.

"BAJINGAANNN! MENGAPA KALIAN TIDAK MEMBIARKANKU TENANGGGGG!"

Raungan Andersen mengguncang seluruh dinding rumah, sebuah jeritan murni yang lahir dari dasar jiwanya yang telah hancur.

Di bawah pengaruh amarah yang tak terkendali, ia bergerak seperti badai yang baru saja terlepas dari sangkarnya. Kedua pistol di tangannya menyalak brutal, memuntahkan seluruh isi magasin secara membabi buta.

Kilatan api dari moncong senjatanya menerangi ruangan yang temaram, mengubah bayangan menjadi monster dan kegelapan menjadi medan perang.

Ia mengirimkan maut kepada setiap orang yang berani berdiri di hadapannya, tak peduli formasi atau taktik. Magasin kosong berdentang jatuh di lantai kayu, beradu dengan suara gedebuk tubuh-tubuh musuh yang ambruk berserakan.

Keringat bercampur darah menetes dari wajahnya, namun Andersen tidak peduli. Ia hanya ingin semua ini berakhir, agar ia bisa mencapai Sheila tanpa gangguan lagi, meski harus mengorbankan setiap sisa nafas dan kewarasannya di pertempuran terakhir ini.

Tanpa memedulikan raga yang kini tak lebih dari sekadar rumah bagi luka-luka menganga, Andersen menyeret langkahnya.

Setiap inci pergerakannya menyisakan jejak merah segar di atas lantai kayu, namun matanya hanya tertuju pada satu titik... Seila. Ia jatuh berlutut di samping gadis itu, Sebuah gerakan yang meremukkan sisa-sisa tulang penyangga tubuhnya.

Jemarinya yang gemetar hebat menyentuh pipi Seila yang telah kehilangan rona, namun hanya rasa dingin yang menyambutnya.

Tidak ada respon.

Tidak ada helaan napas yang membelah sunyi.

"Tidak... jangan sekarang," bisiknya dengan suara yang pecah di pangkal tenggorokan. Sebuah permohonan yang sia-sia di hadapan takdir yang tuli.

Dengan sisa kekuatan yang melampaui batas logika manusia, Andersen merengkuh tubuh Sheila yang lunglai ke dalam pelukannya. Ia mengangkat beban itu dengan serat-serat otot yang bergetar hebat akibat kehabisan darah.

Sambil terhuyung-huyung, ia memaksakan kaki-kakinya melangkah keluar dari rumah yang kini dipenuhi aroma kematian yang pekat. Di luar sana, mobil Margarette masih terparkir, mesinnya menderu rendah layaknya raungan duka yang menunggu kepulangan mereka.

Kesialan. Satu kata yang seolah menjadi kutukan abadi yang menjerat setiap tarikan napas Andersen. Sebuah garis takdir yang selalu menariknya kembali ke titik nol setiap kali ia hampir menyentuh kemenangan.

TRIIIIINNNNN!

Suara klakson itu membelah malam, tajam dan menyakitkan, seolah menjadi penanda bahwa badai baru saja dimulai kembali, atau mungkin...

"sebuah pengingat bahwa waktu yang dirinya miliki telah habis."

1
BoimZ ButoN
anak SMA main pistol ga ada kronologis nya dlu
Ahmad Fauzan: kecuali, ada backspace yang lumayan dan sangat mempengaruhinya.
total 2 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!