Su Ran terbangun ketika mendengar suara melengking keras dan tangan kasar yang mengguncangnya..
Heh~ Apakah ini layanan Apartemennya, kenapa begitu kasar pijatannya?
Lalu, kenapa kedap suaranya sangat jelek?
Begitu sadar, ia ternyata masuk kesebuah era dinasti Ping yang tidak tercatat dibuku sejarah manapun.
Hee.. ingin menantangku soal bertani? dan menjual barang?
Jangan panggil aku Su 'si marketer andalan' jika tidak bisa mendapat untung apapun!!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon bubun ntib, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
12
Butuh waktu beberapa menit untuk menenangkan lidah Koki Feng yang tersengat ‘cabai’. Su Ran sampai harus menahan tawa ketika melihat ekspresi kepedasan tetapi menahan rasa nikmat yang dikeluarkan oleh Koki Feng.
“ Huhh Haaah.. Sebenarnya apa itu, Xiao Ran? Rasanya sangat menyengat, lidahku langsung mati rasa. Tetapi seketika keinginan untuk terus memakannya muncul. Pedas yang sedikit asing bagiku. Rasanya sangat berbeda dengan pedas dari lada,” tanya Koki Feng panjang lebar.
Paman Jiang dan pelayan A Ming langsung menarik tangan mereka yang sudah menjulurkan sumpit ketika melihat reaksi keras dari koki Feng. Mereka diam – diam memiliki kesepahaman yang aneh, sebaiknya mereka menunggu penjelasan dari pemuda Ran ini!
“ Paman Feng, Paman Jiang. Benda eh bukan tanaman ini adalah Cabai, aku ‘menemukan’nya di kedalaman hutan di desa tempat tinggalku,”
“ Awalnya aku membawanya dengan santai, lalu menguji apakah bisa dimakan dengan memberikannya kepada ayam terlebih dahulu. Melihat ayam itu masih energik, aku memastikan jika tanaman ini bisa dimakan,” ( tentu saja Bohong 😊)
“ Saat mencobanya, ternyata rasanya pedas. Pedas yang unik, yang berbeda dengan lada seperti yang paman Feng bilang,”
“ Tanaman ini sungguh ‘bumbu’ yang ajaib. Baik, baik. Aku tidak akan banyak ngomong lagi. Silahkan coba, ini adalah ayam bumbu balado, lalu capcay sayur pedas dan juga tumis ikan pedas,” Su Ran menjelaskan nama – nama hidangan yang telah ia buat.
“ Hati – Hati, cukup cicipi terlebih dulu dalam takaran kecil, jika terasa nyaman dan lidah bisa menerima, baru ambil yang banyak,” peringat Su Ran membuat Koki Feng tersipu sambil melotot kepada Su Ran.
“ Lao Feng, Xiao Ran belum sempat memberikan ucapan apapun tadi, bukankah karena kamu yang terlalu tidak sabaran?” kekeh Paman Jiang sambil menerima semangkuk nasi dari A Ming.
“ It .. Itu, bukannya karena aku sangat penasaran? Lihatlah, aku berani jamin jika kau dan A Ming tadi juga hampir meneteskan air liur melihat tampilan awal semua hidangan ini,” dengus Koki Feng.
“ Siapa yang tidak tergoda, paman? A Ming bahkan juga sudah hampir menjulurkan sumpit jika tidak melihat paman yang kepedasan,” A Ming angkat suara menyelamatkan situasi panas yang mulai tercipta. Ia sudah sangat terbiasa dengan perdebatan sayang antara dua sahabat lama ini.
“ Baiklah, silahkan makan terlebih dahulu. Lalu berikan komentar kalian,” Su Ran senang dengan bentuk kepedulian diantara ketiganya. Terlihat sangat kompak dan solid.
Terlihat saling mengejek tetapi Su Ran melihat adanya selipan kepedulian satu sama lain, membuat suasana menjadi sangat harmonis.
Jiang Ran memulai dengan meminum seteguk sup lobak. Rasa kuah yang berkaldu ditambah dengan rempah yang begitu berani membuat rasa kuah semakin segar. Hiang Ran mengamati lobak putih yang dipotong bentuk dadu, terlihat sedikit berbeda dengan lobak lainnya. Ia menggigit dalam gigitan kecil lalu mulai meresapinya.
Kunyahan lambat menjadi cepat kemudian ia dengan enggan menelannya. Matanya terpejam, begitu menikmati.
‘ Apa ini? bukankah ini hanya lobak? Kenapa begitu enak dan segar?’ batin Jiang Ran. Ia membuka matanya dan melihat jika Feng Yu tengah berebut potongan lobak di dalam mangkok besar.
“ Hei, sisakan untukku,” Jiang Ran segera masuk kedalam pertempuran sumpit. Su Ran ingin sekali mengatakan jika bukan hanya ada sup di meja tetapi dirinya tak kuasa.
Biarlah, biarlah mereka bertarung sampai puas.
“ Apa bumbunya, Xiao Ran? Kenapa sup ini begitu enak?” koki Feng segera sadar dari pertarungan dan mulai mengobrol dengan Su Ran. Ia juga tampaknya kembali berani mengarahkan sumpitnya pada capcay sayur yang sudah ‘menghajarnya’ diawal penampilannya tadi.
“ Juga, sayuran ini, cap.. apa namanya?”
“ Capcay, Paman,” sahut Su Ran dengan cepat.
“ Ya ya ya, Capcay ini juga tak kalah enak. Meskipun semuanya adalah sayuran, tetapi rasanya sungguh luar biasa. Tetapi jujur saja, sepertinya aku kurang bisa makan cabai ini,” ucapnya sambil melirik ngeri kearah cabai berwarna merah.
“ Paman Feng, ada beberapa jenis cabai yang tidak terlalu pedas. Ambil contoh dalam satu pohon, cabai merah ini masih harus menjalani tahap dari warna hijau, lalu oren baru berubah menjadi warna merah yang terang,”
“ Pada tahapan warna hijau, cabai masih dibilang muda. Rasanya tidak pedas malah cenderung pahit. Lalu pada tahap Oren, cabai sudah mulai matang dan sudah terasa pedas meski belum pada tahap sangat pedas,” Su Ran dengan sabar menjelaskan kepada koki Feng. Jiang Ran dan A Ming mendengarkan dari samping.
( Mohon koreksi jika ada yang salah yaa.. )
“ Tetapi, meskipun paman Jiang dan kakak A Ming suka pedas, jangan terlalu banyak mengkonsumsinya. Bisa berbahaya pada lambung. Perut akan terasa sakit bahkan bisa menyebabkan diare dan gejala lainnya,” Su Ran tidak lupa menambahkan peringatan.
“ Paman Feng, paman bisa mencoba ayam balado ini. aku menggunakan sedikit gula sehingga pedasnya tidak terlalu menyengat,” Su Ran mengambilkan potongan paha berlumuran bumbu balado ke mangkuk Feng Yu.
Feng Yu sedikit takut, tetapi aroma dari bumbu balado nyatanya menggugah seleranya. Akhirnya, ia menggertakkan giginya dan mulai memotong bagian kecil terlebih dahulu dan memasukkannya ke dalam mulut.
“ In.. Ini sangat enak. Warnanya memang merah, tetapi tidak terlalu pedas. Dipadukan dengan nasi putih hangat semakin menambah rasa nikmatnya,” Feng Yu langsung bersorak kegirangan. Jiang Ran dan A Ming tidak lagi sungkan dan mulai menggerakkan kembali sumpit mereka.
Kali ini A Ming meraih piring berisi tumis ikan pedas, lalu mencuilnya menggunakan sumpitnya.
“ Kakak Ran, ikan ini sama sekali tidak berbau amis dan tidak terasa aroma tanah. Bagaimana bisa?” pertanyaan A Ming membuat Jiang Ran dan Feng Yu yang berebut potongan ayam menjadi berhenti.
Perlu diketahui, hidangan ikan seringkali tidak disukai karena aroma amis dan rasa tanah yang kuat. Bahkan koki sekelas Feng Yu sedikit kewalahan jika ada yang memesan hidangan ikan.
Feng Yu langsung bersikap seperti seorang siswa yang hendak belajar serius, menatap Su Ran dengan tajam membuat Su Ran sedikit malu.
“ Aku menggunakan irisan jahe saat menumisnya. Sebelumnya juga aku menggunakan irisan jeruk peras saat memarinasinya,”
“ Lalu, untuk bau tanahnya. Aku menggunakan kunyit. Selain menghilangkan bau tanah, kunyit juga membuat warna ikan akan kuning keemasan saat digoreng, sangat cantik,” jelas Su Ran.
“ Benar – benar berpengetahuan. Aku sungguh banyak belajar darimu, Xiao Ran,” Feng Yu sama sekali tidak pelit dalam memberi pujian.
“ Ah, ini karena kami terbiasa memasak ikan dari sungai desa jadi mungkin lebih tahu,” jawab Su Ran merendah.
Jiang Ran dan Feng Yu semakin suka dengan karakter pemuda di depannya.
Ketiganya lalu makan dengan gembira hingga mangkuk – mangkuk benar – benar tandas. Bahkan kuah tumis ikan langsung disiramkan pada semangkuk nasi hangat!
“ Lao Jiang.. Hidangan enak apa yang kau sembunyikan .....”