Cover by me.
Saat SMP Reani Sarasvati Ayuna pernah diam-diam jatuh pada Kadewa Pandugara Wisesa, sahabat kakaknya—Pramodya yang di ketahui playboy. Tapi bagi Kadewa, Rea cuma adik dari temannya, bocah kecil yang imut dan menggemaskan.
Patah hati saat Kadewa masuk AAL sambil menjalin cinta pada gadis lain dan kali ini cukup serius. Rea melarikan diri ke Jakarta, untuk melanjutkan kuliah dan setelahnya menetap dan berkarir disana sebagai encounter KAI, berharap bisa menjauhkan dirinya dari laut dan dari...
Kadewa..
Tujuh tahun berlalu, takdir menyeretnya kembali. Kadewa datang sebagai Kapten TNI AL yang lebih dewasa, lebih mempesona, dan lebih berbahaya bagi hatinya.
Rea ingin membuktikan bahwa ia sudah dewasa dan telah melupakan segalanya. Namun Kadewa si Paus yang tak pernah terdeteksi dengan mudah menemukan kembali perasaan yang telah ia tenggelamkan.
Mampukah cinta yang terkubur tujuh tahun itu muncul kembali ke permukaan, atau tetap menjadi rahasia di dasar samudra?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Chika cha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Ada Yang Salah
Ada yang salah.
Pram merasakannya sejak Senin pagi. Joshua pun sama. Biasanya, sejauh apa pun Kadewa dipingit oleh Mas Panji, dia tidak akan pernah melewatkan sekolah tanpa kabar. Apalagi ini adalah hitungan mundur dua minggu menuju Ujian Nasional.
Tapi bangku di sebelahnya kosong. Sudah dua hari.
“Nggak diangkat, Pram,” gumam Joshua, matanya tertuju pada layar ponsel yang menampilkan deretan panggilan tak terjawab ke nomor Kadewa, entah sudah yang keberapa. “Hp nya mati. Masak iya dia pingsan gara-gara kebanyakan belajar?”
Pram menggeleng, wajahnya keruh. "Kadewa itu bandel, tapi dia nggak pernah semisterius ini kalau soal sekolah." katanya lirih. “Kalau pun bolos, dia pasti kabarin kita.”
Joshua menoleh. “Apa dia masih di Jakarta?” tebaknya pada akhirnya. Lalu Joshua menyandarkan punggung ke kursi, menghembuskan napas panjang. “Tapi bener sih katamu, biasanya juga dia bakal nge chat, minimal ke kamu. Kadewa itu tipe kalau kabur pun bakal laporan ke kita.”
Nah, itu yang membuat Pram makin gelisah.
Kadewa itu punya satu kebiasaan yang sudah Pram hafal betul di luar kepala, yang mana jika Kadewa benar-benar kelelahan, dia akan mengeluh banyak. Dengan setengah bercanda, setengah serius. Dan biasanya, Pram yang jadi tempat sampah keluhannya.
"Pram!"
Spontan dua laki-laki yang tengah tenggelam dalam pikiran itu mendongak bersamaan.
Di depan mereka berdiri tiga orang perempuan. Salah satunya langsung menarik perhatian Pram, rambutnya tergerai rapi, wajahnya tampak tegang, matanya jelas menyimpan kekhawatiran.
Pacar Kadewa.
“Bela?” panggil Pram, alisnya mengerut.
Dan dari cara Bela menatap mereka, Pram tahu satu hal pasti bahwa bukan cuma mereka yang merasa ada yang salah.
Bela tidak langsung menjawab. Ia justru menatap bangku kosong di sebelah Pram, seolah berharap Kadewa tiba-tiba muncul sambil nyengir seperti biasa, membawa lelucon receh.
Tapi bangku itu tetap kosong.
“Kalian tahu Kadewa ke mana?” akhirnya Bela bertanya. Suaranya pelan, dijaga tetap terdengar biasa, meski ada kecemasan yang sangat jelas dari intonasinya.
“Aku nggak bisa hubungi dia dua hari ini.”
Joshua dan Pram saling pandang.
Tatapan singkat itu cukup untuk saling memahami bahwa mereka juga mau menanyakan hal yang sama pada perempuan yang belum ada seminggu Kadewa pacari itu.
Pram menghela napas lebih dulu. “Kami juga nggak tahu, Bel,” katanya jujur. “Hp-nya mati. Dia udah gak masuk dari kemarin.”
Bela menelan ludah. Ia mengigit bibir bawahnya. Gelisah. “Dia terakhir chat aku Malam senin,” katanya pelan. “Tapi nggak bilang apa-apa. Cuma chat biasa… kayak nggak ada apa-apa.”
Kalimat terakhir itu justru membuat suasana semakin berat.
Bel berbunyi. Murid-murid lain mulai masuk kelas, riuh, menyeret kursi, bercanda soal-soal try out yang katanya lebih kejam dari ujian hidup. Tapi bangku Kadewa tetap kosong.
Sementara Bela dan dua temannya kembali ke kelas mereka.
Pram lagi-lagi menatap kursi di sampingnya itu lama. Kali ini Kadewa benar-benar berbeda seperti ada yang tidak beres.
“Aku mau ke ruang BK habis ini,” katanya akhirnya. “Atau ke wali kelas. Minimal nanya, ada izin apa nggak.”
Joshua mengangguk cepat. “Aku ikut.”
Jam pelajaran berjalan lambat. Terlalu lambat. Nama Kadewa disebut sekali saat absensi, dijawab sunyi, lalu dilewati begitu saja oleh guru.
____________
Nyatanya, sampai jam sekolah berakhir, kabar Kadewa tetap nihil. Tidak ada surat izin. Tidak ada konfirmasi dari pihak sekolah. Wali kelas malah menyarankan mereka mencoba menghubungi Kadewa lagi, atau kalau perlu datang langsung ke rumahnya. Ujian Nasional tinggal dua minggu lagi, katanya, tak bisa main-main.
Tapi masalahnya disini, Pram dan Joshua sama-sama tahu, datang ke rumah Kadewa berarti berhadapan dengan Mas Panji.
Dan Mas Panji jauh lebih menakutkan daripada guru BK mana pun ketika sedang murka.
Bahkan sejak kelas tiga, intensitas Kadewa main ke rumah Pram menurun drastis. Dulu, hampir seminggu dua atau tiga kali. Sekarang? Sebulan paling satu atau dua kali. Itu pun karena berhasil kabur dari jadwal Mas Panji dan tentu saja dengan wajah lelah dan mata yang seolah meminta tolong, sementara mulutnya sudah menyumpah serapahi kakaknya.
Dan sekarang, Kadewa bahkan tak muncul sama sekali.
Itu yang paling menakutkan.
Hujan turun deras saat Pram akhirnya pulang sekolah dan sampai rumah malam itu. Maklum, menjelang ujian nasional, jadwalnya semakin padat. Umma dan Baba memang mengatur banyak les tambahan untuknya, hampir setiap hari, tanpa jeda.
Apalagi setelah lulus nanti, Pram sudah punya tujuan yang jelas yaitu masuk jurusan kedokteran.
Mimpi itu menuntut lebih dari sekadar nilai bagus. Ia harus konsisten, disiplin, dan yang paling berat siap kehilangan banyak waktu istirahat dan kebebasan.
Tapi ini semua murni karena kemauannya sendiri tanpa paksaan dari kedua orangtuanya seperti Kadewa.
Dan hari itu, di tengah kepala yang penuh rumus dan hafalan, satu hal justru terus mengusik pikirannya.
Kadewa.
Entah kemana perginya sahabatnya itu.
Begitu memasukkan motor langsung ke garasi, ruangan itu masih lenggang tak ada mobil Umma dan Baba disana tanda jika keduanya belum pulang dan adiknya sendirian di rumah.
"REMPONG AMBILIN HANDUK, MAS KEHUJANAN!!" Teriakan Pram menggema dari dekat pintu masuk yang ada di garasi yang temus langsung ke ruang tengah. Ia berharap suaranya sampai ke lantai dua, ke kamar adiknya.
Ia menunggu.
Beberapa menit
Tak ada langkah kaki. Tak ada sahutan.
"REANI!!" Teriak Pram lagi memanggil nama adiknya.
Tapi masih sunyi.
Pram pun berdecak. “Ya allah… anak masih muda udah budek,” gumamnya. “Apa ketiduran gara-gara hujan?”
“REMPONG!! MAS AMBILIN HANDUK!!”
Pram mencoba kembali berteriak untuk yang terkahir kali.
Kali ini suaranya jauh lebih keras, nyaris seperti sirene darurat. Tapi tetap saja sunyi.
Rea tidak turun sama sekali.
Alis Pram mengerut. Kesabarannya menipis seiring air hujan yang masih menetes dari rambut dan jaketnya, tubuhnya bahkan mulai menggigil.
Dan akhirnya ia menyerah menunggu. Dengan langkah jinjit dan sedikit berlari kecil, Pram bergerak ke arah tangga sambil memeluk tasnya, berusaha tidak membuat lantai makin basah.
Begitu akan menaiki anak tangga pertama...
“Eh! Eh! Eh! Lantainya jadi basah itu, Mas!”
Pram tersentak. Hampir terpeleset saking kagetnya.
Ia menoleh ke arah sofa yang ada di ruang tengah.
Di sana, Rea tergeletak santai di atas sofa. Kaki dinaikkan, komik terbuka di depan wajahnya, ekspresi tampak geli sekaligus jahil, seolah ia sudah mengamati kekacauan itu sejak awal.
Pram melongo. “Lah?!”
Rea menurunkan komiknya sedikit. “Teriak-teriak dari tadi kayak orang kesurupan. Kuping aku masih normal, Mas.”
Pram menatapnya tak percaya. “Kamu di situ dari tadi?!”
“Iya.”
“TERUS KENAPA NGGAK JAWAB?!”
Rea mengangkat bahu santai, sama sekali tanpa rasa bersalah. “Males,” jawabnya singkat, datar, seolah itu penjelasan paling masuk akal di dunia.
Pram menggeram pelan. Tangannya mengusap wajahnya frustasi, air hujan masih menetes dari ujung rambutnya. “Kamu itu ya…” gemas Pram pada adik satu-satunya itu.
Lalu Pram melangkah mendekat, menunjuk lantai yang kini memang basah oleh jejak kakinya sendiri. “Sekarang lantai basah. Siapa yang tanggung jawab?”
Rea bangkit setengah duduk. “Yang kehujananlah.”
“Reani!”
“Mas!” Rea membalas cepat. “Kan Mas yang nekat masuk rumah sambil basah kuyup begitu.”
Pram mendengus. “Mas minta handuk dari tadi!”
“Aku lagi baca,” Rea mengangkat komiknya. “Ini klimaks.”
Pram menutup mata, menarik napas panjang, seolah sedang menahan diri agar tidak menjerit.
Allahuakbar!!
Di titik ini, Pram sudah sampai pada kesimpulan hidupnya sendiri yaitu siapa pun yang ingin punya adik imut tapi nyebelin level dewa, silakan angkat Rea. Bawa pulang sekalian. Nggak apa-apa. Pram ikhlas. Sangat ikhlas.
Rea menurunkan komiknya, lalu menunjuk Pram dari ujung sofa. “Buruan ganti baju, itu lantai diberesin. Bentar lagi Umma pulang.”
Pram melotot. “Loh—”
“Umma udah di jalan,” potong Rea cepat, datar tapi mematikan. “Masih beli makan di luar. Kalau lantai masih basah pas Umma sampai rumah, bisa jadi habis ini Mas jadi pasien yang di outopsi Umma.”
Pram menghela napas panjang, pasrah. “Kamu itu adik apa malaikat pencabut nyawa, sih?”
Lalu sebelah jari telunjuk Rea bergerak ke kiri ke kana. "No, no, no. Aku cuma anak kesayangan Umma sama Baba, bukan malaikat pencabut nyawa,” jawabnya ringan, tanpa dosa.
Pram hanya bisa mendengus. Tanpa membalas lagi, ia berbalik dan melangkah menuju tangga.
“Awas, lantainya jangan tambah basah!” teriak Rea menyusul dari sofa.
“Iya, Ibu pejabat,” balas Pram malas tanpa menoleh.
Akhirnya Pram naik ke lantai atas untuk membersihkan diri dan berganti pakaian. Setelah itu, barulah ia turun lagi untuk mengelap sisa air hujan di lantai.
Sementara itu, Rea sudah kembali cekikikan di atas sofa, puas karena berhasil mengerjai kakaknya. Tak lama kemudian, ia kembali tenggelam dalam komiknya, seolah dunia luar tak ada artinya.
TOK!
TOK!
TOK!
Rea tersentak. Komik di tangannya hampir terlepas ketika suara ketukan pintu yang lebih pantas disebut gedoran menggema keras. Tubuhnya sampai berjengkit di tempat.
“Astagfirullah!” gumamnya pelan, refleks menoleh ke arah pintu.
Siapa?
Bukan Umma. Bukan Baba. Setiap anggota keluarga punya kunci rumah masing-masing. Dan orangtuanya tidak pernah mengetuk pintu seperti hendak merobohkannya seperti itu.
Rea menelan ludah. Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat. Tatapannya beralih ke arah tangga dan di sana Pram sudah muncul, pakaian basahnya telah berganti, rambutnya masih sedikit lembap. Langkahnya tergesa, jelas ia juga mendengar suara gedoran pintu itu makannya buru-buru turun.
“Mas…” desis Rea pelan.
Ia bergegas berlari mendekati kakaknya yang tengah menuruni tangga, lalu refleks melingkarkan lengannya pada lengan Pram, seolah mencari pegangan. Sikap jahilnya tadi seketika lenyap begitu saja, tergantikan wajah waspada.
Pram menoleh sekilas ke arah pintu, lalu ke adiknya. Alisnya mengerut.
“Tenang,” katanya singkat, meski matanya sendiri menyimpanketakutan yang sama.
TOK!
TOK!
TOK!
"PRAM, BUKA PRAM!"
Gedoran itu kembali terdengar, lebih keras, bahkan diiringi dengan teriakan memanggil nama Pram membuat Rea menoleh pada kakaknya.
“Mas punya musuh ya?” bisiknya, setengah takut.
Pram menggeleng pelan. Wajahnya tegang. Jelas dia tidak punya musuh. Pram mungkin terlihat bad boy di mata orang, dengan wajah datar, jarang senyum, tapi dia bukan tipe yang cari gara-gara. Ia bukan anak nakal. Tidak suka ribut. Tidak suka masalah.
Ia anak baik-baik.
Apa lagi background nya adalah seorang anak polisi.
Mana berani dia cari gara-gara.
Belum mulai sudah habis duluan dia di tangan Umma nya.
Lalu… siapa yang meneriakkan namanya dengan sebegitunya?
TOK!
TOK!
“PRAM, BUKA!! JANGAN SEMBUNYIKAN PANDU!!”
Deg!
Darah Pram seakan berhenti mengalir. Rea tersentak, matanya membesar. Nama itu menghantam kesadaran mereka berdua.
Kali ini, Pram tahu siapa orang di balik pintu.
Pram bergerak cepat. Dengan langkah tergesa, ia meraih gagang pintu dan membukanya.
Dan benar saja.
Beberapa orang sudah berdiri di hadapannya. Tubuh-tubuh besar, wajah-wajah tegang. Di antara mereka, satu sosok langsung mencuri perhatian, tinggi, besar, dengan rahang mengeras dan tatapan yang nyaris membakar.
Mas Arjuna Panjiwara Wisesa.
Kakak Kadewa.
Wajahnya merah padam, urat di pelipisnya tampak menonjol. Tanpa menunggu dipersilakan, Panji langsung menerobos masuk, diikuti orang-orangnya. Tatapannya menyapu setiap sudut rumah, tajam dan dingin, seperti radar yang sedang memburu buronan.
“Mana Pandu?” tanya Panji dingin penuh tekanan.
Pram maju satu langkah, mencoba melindungi Rea yang refleks berdiri di belakangnya. “Mas Panji?” katanya, berusaha terdengar tenang. “Kadewa nggak ada di sini.”
“Jangan bohong, Pram!” Panji mendekat, auranya menekan. “Di mana lagi dia kalau bukan di sini? Kalian kan komplotannya!” Telunjuknya menuding tajam. “Dia udah nggak pulang dua hari. HP nya ditinggal di meja makan. Sekarang bilang, dia sembunyi di mana? Kamar atas? Gudang?!”
Sebelah tangan Rea meremas ujung baju tidurnya sebelah lagi semakin erat mencengkram lengan kakaknya, napasnya tercekat. Bentakan Panji membuat tubuhnya kaku. Ini baru kali kedua ia bertemu kakak Kadewa itu, yang pertama dulu, saat Rea masih kelas satu SMP, ketika Panji menyeret Kadewa pulang karena guru les bahasanya sudah menunggu di rumah.
Dan saat itu saja, Panji sudah terasa menakutkan.
Seperti singa mengamuk.
Apa lagi sekarang, auranya berkali lipat lebih mengerikan.
“Sumpah, Mas,” suara Pram terdengar bergetar bukan karena takut, tapi karena kebingungan yang mulai berubah jadi cemas. “Kami justru mau nanya ke Mas Panji. Kadewa nggak masuk sekolah dua hari ini. Kami nggak tahu dia di mana.” Ia menggeleng pelan. “Dia juga udah lama nggak main ke sini.”
Panji terdiam sejenak, menatap mata Pram mencari celah kebohongan. Namun yang ia temukan hanya kejujuran yang polos.
Panji mengatupkan rahangnya. Otot di pelipisnya bergerak tanda ia sedang menahan sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar marah.
“Kalian,” katanya pelan, tapi justru membuat bulu kuduk berdiri, “beneran nggak tahu apa-apa?”
Pram menggeleng lagi. Kali ini lebih tegas. “Kalau kami tahu, Mas, kami nggak akan diem.”
Salah satu pria di belakang Panji, entah ajudan, entah sopir, melirik Panji ragu. “Pak, mungkin—”
“Diam,” potong Panji tanpa menoleh.
Ia kembali menyapu ruangan. Matanya berhenti sejenak di rak sepatu, di dapur kecil, ke lantai atas. Memang tidak ada tanda-tanda Kadewa disana.
Hanya sunyi.
Panji menghembuskan napas kasar, lalu mengusap wajahnya sekali, cepat, gerakan yang jarang, hampir tak pernah ia lakukan di depan orang lain. Amarahnya tidak padam, tapi kini bercampur kegelisahan.
Ia menoleh ke Rea. Tatapannya sempat terhenti di sana lebih lama dari yang perlu. Rea menelan ludah, refleks bersembunyi lebih dalam di balik punggung Pram.
"Kalau dia menghubungi kalian, atau muncul di sini, segera telepon saya. Jangan coba-coba menyembunyikan dia, atau kalian akan tahu akibatnya."
Pram mengangguk. “Iya Mas.”
Setelah itu Panji keluar dari dalam rumah itu suaranya mobilnya terdengar samar menyatu dalam suara curah hujan yang semakin deras.
Rea terduduk lemas di sofa. Tangannya gemetar.
"Mas..." bisik Rea. "Mas Kadewa kemana?"
Pram tidak menjawab. Ia hanya menatap pintu pagar yang masih terbuka lebar. Ia tahu, Kadewa tidak sedang bermain-main kali ini. Kadewa sedang bersitegang dengan mas Panji.
Tidak berapa lama Umma pulang di susul dengan Baba. Rumah kembali terisi suara, sapaan, bunyi piring, aroma makanan hangat.
Tapi baik Rea maupun Pram tak ada yang menceritakan kejadian yang baru saja terjadi.
Makan malam berlangsung tenang. Terlalu tenang.
Pram dan Rea duduk di meja yang sama, menyendok nasi tanpa benar-benar makan.
Pikiran mereka melayang ke tempat yang sama.
Ke seseorang yang sedang pergi entah ke mana perginya dan mungkin tidak ingin ditemukan.
Setelah makan malam usai, baik Pram maupun Rea langsung naik ke kamar mereka.
Rea menutup pintu pelan, seolah takut suara kecil saja bisa memecahkan sesuatu di dalam dadanya. Lampu kamar dinyalakan.
Rea duduk di tepi ranjang beberapa detik, menarik napas yang terasa berat, sebelum akhirnya meraih buku diary dari laci meja belajarnya.
Perlahan ia membuka buku kecil yang hampir isinya tentang Kadewa semua dengan tangan yang masih gemetar.
Dear Diary,
Hari ini Mas Panji datang. Dia kayak raksasa yang marah nyari Mas Kadewa padahal dia udah lama gak main ke sini.
Dan di sini aku baru tahu kalau Mas Kadewa itu hilang.
Dia pergi bawa semua capeknya dan ninggalin semua kemewahannya. Aku nggak tahu dia di mana. Dia pergi kemana.
Mas Paus... kamu berenang kemana?
Samudera mana yang kamu pilih sampai kamu lupa pamit?
Rea menutup bukunya. Di luar, hujan semakin deras. Ia menatap ke arah jendela, membayangkan Kadewa di suatu tempat, sendirian, di bawah langit yang mungkin juga sedang menangis.
Rea baru sadar satu hal bahwa mencintai Kadewa berarti harus siap kehilangan dia kapan saja, karena Kadewa bukan milik siapa-siapa, bahkan mungkin bukan milik dirinya sendiri.
ah pokoknya author is the best lah👍👍👍👍🥰🥰🥰🥰🥰
another story keep in save folder🤭
semangat thor gas pol
buat tmn mnyambut ramadhan
jgn coba" mlarikan diri xa 🤣