Nirmala Dizan tak pernah menyangka bahwa ia akan mendapatkan ujian yang begitu besar dan tak terduga. Ia harus menghadapi kenyataan bahwa kedua orang tuanya meninggal dunia dalam sebuah kecelakaan dan kemudian ia harus menghadapi kekejaman dunia bisnis yang penuh intrik sendirian. Di saat dirinya putus asa terbitlah sebuah asa, pertemuan dengan Aleandra Nurdin seorang mahasiswa yang mampu mengubah hidup Nirmala yang kelam.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Serena Muna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bu Haji Baik
Ale menerobos kerumunan itu, pasang badan di depan Nirmala. Ia menatap tajam satu per satu warga desanya sendiri. "Apa yang kalian lakukan?! Apa kalian sudah kehilangan akal sehat?!"
"Ale! Kamu jangan membela pezina ini!" teriak Bu Endang, melangkah maju dengan wajah yang memerah. Suaranya yang cempreng melengking tinggi, memprovokasi massa. "Dia sudah mengotori desa kita! Kamu membawa perempuan ini ke rumahmu, tidur satu atap, apa namanya kalau bukan zina?!"
Ale menatap Bu Endang dengan tatapan menghunus. "Kami tidak pernah melakukan apa pun yang kalian tuduhkan! Nirmala tidur di kamar saya, dan saya tidur di sofa ruang tamu atau di beranda! Ibu saya saksinya! Apakah kalian lebih percaya pada mulut berbisa perempuan ini daripada pada kejujuran keluarga saya yang sudah puluhan tahun tinggal di sini?"
Nirmala memegang ujung celana Ale, jemarinya gemetar. Ale merendahkan tubuhnya sejenak, membisikkan kata-kata penenang, lalu kembali berdiri tegak menantang massa.
"Sofa di rumah saya itu keras, Bapak-bapak! Setiap malam saya berjaga di luar untuk memastikan tidak ada orang asing yang menyakiti tamu saya!" seru Ale. "Jangan biarkan fitnah menghancurkan persaudaraan kita!"
Namun, Bu Endang tidak tinggal diam. Ia seperti kompor yang meledak, menyemburkan api kebencian yang lebih besar. "Halah! Bohong! Mana ada laki-laki normal satu rumah dengan perempuan cantik begitu tapi tidak menyentuh? Jangan mau dibohongi, warga! Mereka ini bersandiwara supaya desa kita tidak mengusir mereka! Lihat saja baju perempuan itu, mahal! Pasti dia ini simpanan yang kabur, dan Ale disogok pakai uang!"
"Bakar saja rumahnya!" teriak salah satu pemuda yang terhasut.
"Usir! Usir mereka berdua!" sahut yang lain.
Situasi kembali kacau. Ale mengepalkan tinjunya, menyadari bahwa logika tidak lagi berguna di depan massa yang sudah dibutakan oleh fitnah yang terstruktur dari mulut Bu Endang.
****
Sementara itu, di Jakarta, atmosfer di dalam ruang rapat keluarga Suteja terasa lebih dingin daripada suhu AC yang disetel maksimal. Januar Suteja duduk di kursi utama, namun ia merasa seperti terdakwa di pengadilan tinggi. Di sekelilingnya, paman, bibi, dan sepupu dari klan Suteja menatapnya dengan penuh kecaman.
"Kau sudah gila, Januar?!" bentak salah satu paman tertuanya, seorang pria berambut putih dengan wibawa yang kini terkoyak. "Lima puluh persen saham?! Kau memberikan separuh nyawa perusahaan keluarga kita kepada wanita gila itu! Kepada Dizan Holding!"
"Aku tidak punya pilihan!" jawab Januar, suaranya parau. "Perusahaan akan bangkrut dalam hitungan hari jika aku tidak mengambil dana talangan itu!"
"Dan sekarang? Kau hanya menjadi Direktur Utama di atas kertas!" sahut sepupunya dengan nada menghina. "Internal keluarga tidak akan memaafkan ini. Kau telah menjual harga diri Suteja demi menambal kesalahanmu sendiri dalam mengelola krisis!"
Kecaman itu seperti ribuan jarum yang menusuk ego Januar. Ia tahu, posisinya kini sangat rapuh. Ia tidak hanya kehilangan kendali atas perusahaan, tapi ia juga mulai kehilangan dukungan dari darah dagingnya sendiri. Di mata keluarga besar Suteja, Januar bukan lagi sang penyelamat, melainkan pengkhianat yang membuka gerbang bagi musuh.
****
Di saat keluarga Suteja sedang saling gigit, Rini Susilowati justru sedang menikmati jamuan kemenangannya. Ia duduk di ruang rapat direksi Suteja Group—ruangan yang kini sudah sah menjadi wilayah kekuasaannya. Di sampingnya, Elias Dizan duduk seperti patung, sementara Rini memegang daftar nama-nama pejabat penting di perusahaan tersebut.
"Tuan Hartono, Direktur Keuangan... coret," ucap Rini sambil menggoreskan pena merahnya dengan kasar di atas dokumen. "Dia orang kepercayaan Januar. Saya tidak butuh orang setia, saya butuh orang yang takut."
Liana, asistennya, mencatat setiap perintah dengan cepat. "Lalu bagaimana dengan posisi Manajer Operasional, Nyonya?"
"Ganti dengan orang-orang kita dari Dizan Holding," jawab Rini. Ia menyandarkan tubuhnya, lalu perlahan menarik selendang sutranya untuk menutupi bibirnya yang mulai bergetar.
"Mmph... Hmph... Hahahaha!"
Tawa itu meledak lagi. Sebuah tawa yang penuh kemenangan, bergema di ruangan yang dulu menjadi kebanggaan keluarga Suteja. Rini tertawa hingga bahunya berguncang, air mata bahagianya membasahi kain sutra yang ia pegang.
"Lihat ini, Elias!" seru Rini sambil menunjuk kursi-kursi kosong di meja rapat. "Satu per satu, anjing-anjing Januar akan kutendang keluar. Aku punya hak veto sekarang. Aku punya kuasa untuk menggusur siapa pun yang berani menatap mataku dengan tidak sopan!"
Rini menyeka ingusnya dengan tisu, matanya berkilat penuh kegilaan yang murni. "Januar pikir dia bisa menggunakan uangku untuk bangkit? Tidak. Uang itu adalah racun yang akan melumpuhkannya. Dan dalam waktu singkat, aku akan memastikan tidak ada satu pun orang bermarga Suteja yang berani menginjakkan kaki di gedung ini lagi!"
Ia kembali tertawa, tawa histeris yang tidak terbantahkan oleh siapa pun di ruangan itu. Di bawah pengaruh kekuasaannya, Suteja Group kini sedang dibersihkan dari akarnya, digantikan oleh kaki tangan Rini yang siap menjalankan segala perintah sadisnya.
****
Kembali ke Sukabumi, massa mulai merapat ke arah Ale dan Nirmala. Bu Endang terus berteriak, memprovokasi warga untuk mengambil tindakan fisik.
"Ale, bawa Neng Nirmala masuk!" teriak Ibu Nurdin dari ambang pintu, namun Ale tahu jika mereka masuk, warga akan membakar rumah itu.
Ale memeluk Nirmala dengan satu lengan, sementara tangan satunya ia angkat tinggi-tinggi. "Jika kalian ingin menyentuh dia, kalian harus melangkahi mayat saya dulu! Tapi ingat, jika tuduhan Bu Endang salah, kalian semua adalah pembunuh!"
Nirmala menengadah, menatap wajah Ale yang tegar di bawah siraman cahaya obor yang bergoyang. Di tengah kehinaan dan fitnah yang luar biasa, ia merasakan sesuatu yang tidak pernah ia dapatkan dari kemewahan Dizan Holding: perlindungan yang tulus tanpa harga saham sebagai jaminannya.
Namun, suara Bu Endang yang cempreng kembali membelah malam. "Jangan dengerin! Seret mereka! Sidang mereka di tengah lapangan!"
Massa mulai bergerak maju. Ketegangan memuncak di ujung tanduk. Di Jakarta, Rini merayakan takhta barunya, sementara di desa, Nirmala bersiap menghadapi penghakiman paling kejam dalam hidupnya.
****
Malam di Balai Desa Sukamaju kian memanas, udara terasa sesak oleh bau minyak tanah dari obor yang menari-nari liar. Massa sudah berada di titik didih, tangan-tangan kasar sudah mulai menjangkau kerah jaket Ale, dan Nirmala hanya bisa memejamkan mata, memasrahkan nasibnya pada kegelapan. Namun, tepat sebelum amuk massa pecah menjadi kekerasan fisik, sebuah suara yang berat, tenang, namun penuh wibawa membelah kericuhan itu.
"Istighfar... Istighfar kalian semua! Apakah setan sudah benar-benar menetap di hati kalian?!"
Seorang wanita tua dengan gamis putih bersih dan kerudung besar yang anggun melangkah masuk ke tengah lingkaran massa. Ia adalah Bu Haji Karim, tokoh agama yang paling dihormati di desa itu, pemilik pesantren yang menjadi pilar moral warga. Langkahnya tenang, namun setiap hentakan sandalnya di semen balai desa seolah memberikan tekanan yang membungkam teriakan warga.