Afnan tahu dia adalah penjahat, demi mendapatkan Dareen yang menjadi obsesinya sejak lama, Afnan tega menghancurkan kebahagiaan Jeslyn, sahabat sekaligus wanita yang dicintai Dareen.
Satu jebakan licik darinya, sebuah penghianatan yang membuat Dareen kehilangan dunianya dan mulai menanam kebencian mendalam pada Afnan.
Namun, Afnan belum puas.
Melalui skenario malam yang kotor, Afnan akhirnya berhasil menyeret Dareen ke altar pernikahan, ia mendapatkan status, ia mendapatkan raga pria itu, tapi ia tidak pernah mendapatkan jiwanya.
"Kau telah menghancurkan hidup Jeslyn, dan sekarang kau menghancurkan hidupku, Afnan. Jangan pernah bermimpi untuk dicintai di rumah ini."
Di tengah dinginnya pengabaian Dareen dan bayang-bayang Jeslyn yang masih bertahta di hati suaminya, Afnan tetap bertahan dengan segala tingkah centil dan nekatnya untuk membuat sang suami bertekuk lutut.
Akankah cinta yang berawal dari penghianatan ini akan menemukan titik terang?
#KOMEDIROMANSA
#KONFLIKRING
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bertepuk12, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 28
Lampu-lampu kota berpendar cepat di balik jendela mobil saat Dareen memacu kendaraannya membelah jalanan malam, jemarinya mencengkeram kemudi begitu kuat hingga kukunya memutih.
Rasa gugup sedikit menyelimuti hatinya, Dareen mengusap pelipisnya gusar, entah omelan apa yang akan ia dapatkan setelah menginjak tanah mansionnya.
Gerbang kediaman Dareen mulai terlihat, pria itu masuk dan memarkirkan mobil di dalam garasi, wajahnya nampak lesu.
"Aku telat dua jam, tebak apa yang sedang Mommy lakukan? Memarahiku? Menyumpah serapahiku?" Seru Dareen turun.
Begitu Dareen menginjakkan kaki di teras mansion, keberanian yang ia kumpulkan sepanjang jalan mendadak menguap. Pintu utama terbuka bahkan sebelum Dareen sempat merogoh kunci.
Di sana, berdiri sosok Mommy Renala dengan dress sutra mewahnya dan tangan yang bertengger di pinggang, wajahnya yang awet muda tampak memerah, menunjukkan amarah yang sudah mencapai ubun-ubun.
"Bagus! Akhirnya Tuan Besar kita ingat jalan pulang! Dari mana saja kamu, Dareen?" Suara Mommy Renala menggelegar di aula depan yang sunyi, membuat para asisten rumah tangga yang masih terjaga langsung menunduk dalam.
Dareen menghela napas, mencoba tetap tenang meski kepalanya mulai berdenyut, "Mom, ini sudah larut, tentu saja aku baru selesai bekerja."
"Bekerja atau berjudi bersama teman-teman tidak bergunamu itu?!" Mommy Renala melangkah maju, menunjuk dada Dareen dengan jari telunjuknya.
"Kamu tahu tidak, istrimu ini sudah seperti orang kehilangan arah! Dia menangis sampai matanya bengkak karena suaminya menghilang tanpa kabar setelah rapat."
Dareen melirik ke arah sofa di ruang tengah, tepat di sana, Afnan duduk bersimpuh, bahunya sedikit bergetar, wajahnya disembunyikan di balik kedua telapak tangan.
Isak tangis kecil yang terdengar pilu sesekali lolos dari bibir wanita itu, rambutnya sedikit berantakan, dan gaun navynya tadi pagi kini tertutup oleh kardigan tipis. Benar-benar citra seorang istri yang terabaikan dan hancur berkeping-keping.
"Dia bukan anak kecil, Mom." Balas Dareen dingin, merasa bahwa Afnan tengah membuat sandiwara.
"Dia istrimu, Dareen! Bukan sekadar orang asing!" Mommy Renala kembali berteriak, suaranya naik satu oktav.
"Lihat dia! Dia begitu mencintaimu sampai ketakutan setengah mati pikirannya liar membayangkan kamu kecelakaan atau apa, dan kamu masih bersikap seperti es kutub?"
Dareen memijat pelipisnya, dari pada itu bukankah Afnan sudah bertemu dengan Algio? Selingkuhnya? Lantas mengapa masih terus merecoki ia dengan cara membuat masalah?
"Mom please, Afnan memang orang asing, jangan hanya karena wanita itu menangis, Mommy mengabaikanku." Dareen berkata pelan. Memelas.
Kening Mommy Renala terangkat tajam, "Oh My God, sebenarnya aku ini melahirkan anak semacam apa? Apa kau ini keluar dari batu, heh?"
"Jika aku keluar dari batu, tentu saja akan menjadi anak batu, bukan anak manusia." Dareen menjawab cepat, menundukan kepala.
"Oh tidak-tidak, batu terlalu bagus untuk mendeskripsikan sifat tak berempatimu, kau lahir dari setan sepertinya." Mommy Renala berkata julid.
Sejenak Dareen mengerjakan netranya, "Jika aku anak iblis berarti Mommy ibu iblis?"
"DAREEN!"
"Mom? Aku salah?"
"DIAM KAU ANAK JAHANAM!" Mommy Renala melototkan matanya, "Dasar anak kurang ajar!"
"Tap-"
Mommy Renala tidak memberi ruang untuk protes, ia menyambar lengan Dareen dengan kekuatan yang mengejutkan, menyeret putra sulungnya itu menuju tangga lantai dua.
"Mommy tidak mau tahu, malam ini Mommy akan menginap di sini untuk memastikan kalian benar-benar menjalankan fungsi sebagai suami istri! Mommy sudah muak melihat kalian tidur di kamar terpisah seolah-olah rumah ini adalah kos-kosan!"
Dareen terbelalak, harga dirinya seolah runtuh di depan tangga rumahnya sendiri.
"Apa maksud Mommy? Ada banyak kamar tamu di sini, Mommy bisa tidur di mana saja, tapi jangan mengatur privasiku!"
"Privasi apa? Kamu itu suaminya! Tidak ada privasi di antara suami istri!" Mommy Renala berhenti di depan pintu kamar utama.
"Malam ini, kamu dan Afnan harus tidur di sini, satu ranjang! Mommy sendiri yang akan memastikan pintu ini terkunci jika kamu mencoba pergi."
Dareen mendengus frustrasi, wajahnya yang biasanya garang kini terlihat memelas menatap sang ibu, "Mom, aku masih memiliki banyak tetek bengek pekerjaan."
"Pekerjaan bisa menunggu, tapi keharmonisan rumah tangga tidak! Afnan, ayo naik, Sayang. Jangan menangis lagi di sana." Panggil Mommy Renala dengan nada yang tiba-tiba melembut 180 derajat saat berbicara pada menantunya.
Afnan berdiri perlahan dari sofa, ia berjalan menaiki tangga dengan langkah gontai, sesekali menyeka ujung matanya.
Saat melewati Dareen, Afnan tidak berani menatap wajah suaminya, ia terus menunduk seolah-olah ia adalah korban paling menderita di dunia ini. Padahal, berbeda dengan isi hatinya yang sudah cukup puas.
"Terima kasih, Mommy maaf sudah membuat Mommy khawatir dan repot-repot datang malam begini." Suara Afnan terdengar serak, menambah kesan dramatis yang sempurna.
Dareen hanya bisa pasrah saat dipaksa masuk ke dalam kamar utamanya sendiri, begitu punggungnya melewati ambang pintu, Mommy Renala menutup pintu itu dengan keras.
"Jangan berani-berani keluar sebelum matahari terbit! Mommy akan berjaga di depan televisi ruang keluarga, jadi jangan coba-coba memanjat jendela!" Teriak sang Momny dari balik pintu sebelum langkah kakinya terdengar menjauh.
Keheningan mendadak menyelimuti kamar yang luas itu, Dareen mematung di tengah ruangan, menatap pintu yang terkunci dengan perasaan campur aduk antara amarah, malu, dan lelah.
Lantas Dareen berbalik, hendak melampiaskan kekesalannya pada Afnan karena telah melibatkan ibunya ke dalam drama ini.
"Afnan, kau benar-"
Reflek, kata-katanya terhenti di tenggorokan.
Afnan tidak lagi menangis, wanita itu kini berdiri di dekat ranjang king size, merapikan kardigannya dengan santai seolah tidak pernah terjadi badai air mata di bawah tadi.
Begitu mata mereka bertemu, sebuah senyum tipis yang provokatif muncul di bibir ranum Afnan, rasa sedih, sayu, dan rapuh yang tadi ia tunjukkan di depan Mommy Renala tak meninggalkan bekas.
"Wajahmu lucu sekali kalau sedang memelas begitu, Kak." Bisik Afnan pelan, suaranya kembali normal, bahkan terdengar sedikit mengejek.
"Kau-!" Dareen melangkah maju, suaranya rendah dan penuh ancaman, "Kau sengaja melakukan ini, kan? Akting menangis di depan Mommy agar dia menyeretku pulang dan mengunci kita di sini?"
Afnan tidak membantah, iaa justru terkikik pelan, sebuah tawa merdu yang sangat kontras dengan isak tangis memilihkan beberapa menit lalu.
Perlahan Afnan berjalan mendekati Dareen yang masih berdiri kaku, dengan gerakan berani, ia melingkarkan lengannya di leher Dareen, menghirup aroma maskulin yang bercampur dengan bau asap rokok tipis.
"Menangis itu memang melelahkan, Kak. Tapi jika hasilnya bisa membuat suamiku yang sombong ini terkunci di kamar bersamaku tanpa jalan keluar, rasanya sepadan, bukan?" Afnan berjinjit, membisikkan kata-kata itu tepat di telinga Dareen yang kini memerah padam.
Dareen ingin sekali mendorong wanita ini menjauh, namun bayangan Mommy Renala yang berjaga di luar membuatnya tertahan, pria itu merasa terjebak.
"Lepaskan." Desis Dareen, mencoba mengembalikan otoritasnya.
Afnan justru mempererat pelukannya, menikmati ekspresi frustrasi di wajah tampan suaminya.