NovelToon NovelToon
One Night Stand With Mafia Boss

One Night Stand With Mafia Boss

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / One Night Stand / Psikopat itu cintaku / Mafia / Roman-Angst Mafia / Menyembunyikan Identitas
Popularitas:2.4k
Nilai: 5
Nama Author: Ririnamaku

Bijaklah dalam memilih bacaan.
Cerita ini hanya fiksi belaka!
-------------------------

Megan Ford, seorang agen elit CIA, mengira ia memiliki kendali penuh saat menodongkan pistol ke pelipis Bradley Brown, bos mafia berdarah dingin yang licin.

Namun, dalam hitungan detik, keadaan berbalik. Bradley,seorang manipulatif yang cerdas menaklukkan Megan dalam sebuah One Night Stand yang bukan didasari gairah, melainkan dominasi dan penghancuran harga diri.
Malam itu berakhir dengan kehancuran total bagi harga diri Megan.

Bradley memiliki bukti video yang bisa mengakhiri karier Megan di Langley kapan saja. Terjebak dalam pemerasan, Megan dipaksa hidup dalam "sangkar emas" Bradley.
Mampukah Megan dengan jiwa intelnya melarikan diri dari tahanan Bradley Brown?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ririnamaku, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab.13

Bradley masih terdiam saat Megan kembali bertanya. “Apa kau keberatan Brad? Atau kau takut aku kabur padahal kau sudah menggenggam nyawaku?”

Bradley tertegun. Ia menatap Megan dengan tatapan yang sulit diartikan. "Bukankah meskipun kau tidak menikah denganku, kau tetap tidak bisa menikah dengan putra Bibi Sarahmu itu? Kau sudah memilih si pecundang Sean."

"Jika aku menikah dengan Sean pun, aku tetap akan pergi ke makamnya untuk meminta maaf pada Bibi Sarah karena tidak bisa memenuhi permintaannya!" Megan menatap Brad dengan mata berkaca-kaca. "Kau tidak tahu seberapa besar arti dia bagiku."

"Kau sepertinya begitu menyayanginya, Meg," gumam Brad, suaranya merendah hampir seperti bisikan.

"Aku tidak harus berbagi cerita hidupku denganmu."

Bradley mengusap wajahnya kasar, "Baiklah. Akan kupikirkan. Aku tidak bisa janji, Meg. Situasinya sedang sangat tidak aman untukmu."

“Tidak aman untukmu, Brad! Bukan untukku. Aku tidak punya masalah hukum di Negara manapun, satu-satunya masalahku adalah kamu,” tunjuk Mega di depan wajah Bradley.

Baik," ucap Bradley akhirnya. "Aku akan membawamu ke sana."

Megan sedikit terkejut dengan jawaban Brad. Namun, sebelum ia sempat merasa lega, Bradley melanjutkan kalimatnya dengan nada yang membuat bulu kuduk Megan meremang.

"Bersiaplah, Meg. Kita akan Virginia. Tapi jangan pernah menyesal... karena setelah mengunjungi makam itu, tidak akan ada lagi jalan pulang bagimu.”

***

Bradley duduk termenung di ruang kerjanya yang luas. Sesekali matanya menatap hampa ke luar jendela, di mana butiran salju tipis mulai menutupi hamparan rumput Surrey. Pikirannya melayang jauh pada permintaan Megan tadi pagi.

Bukan karena ia takut Megan akan melarikan diri, ia punya seribu cara untuk menyeret wanita itu kembali namun ia takut pada dirinya sendiri.

Ia takut tidak bisa mengontrol monster di dalam dadanya saat kakinya kembali menginjakkan kaki di tanah itu lagi. Virginia. Tempat di mana seluruh dunianya pernah hancur menjadi abu, tempat yang menyimpan ribuan kenangan yang ia kubur dalam-dalam.

Bradley mengusap wajahnya dengan kasar. Amarah yang tiba-tiba meluap membuatnya meraih pistol di dalam laci meja. Tanpa ragu, ia membidik sebuah bingkai foto di ujung ruangan yang sudah lama ia tandai sebagai target.

DOOOORRR!

Suara tembakan itu menggelegar, memecah kesunyian rumah besar itu dan merambat hingga ke kamar Megan.

Megan tersentak dari istirahatnya. Jantungnya berpacu liar. "Apa lagi yang bajingan itu lakukan di tengah malam begini? Apa dia sedang membunuh orang di dalam rumah?"

gumamnya penuh amarah bercampur ngeri.

Dengan langkah waspada, Megan berjalan keluar. Ia menyusuri koridor temaram hingga langkahnya berhenti di depan sebuah ruangan kerja yang pintunya sedikit terbuka.

Di sana, ia melihat pemandangan yang ganjil. Bradley tampak kacau, rambutnya berantakan, dan auranya memancarkan frustrasi yang sangat pekat.

"Peter!" panggil Bradley, suaranya berat dan parau.

Megan segera bersembunyi di balik pilar besar saat melihat Peter melintas cepat di depannya.

"Ya, Tuan?" Peter berdiri tegak di depan meja Brad.

"Siapkan dokumen perjalanan untuk Megan. Kita akan ke Virginia dalam dua hari."

Peter tertegun. "Virginia? Anda yakin, Tuan? Risiko di sana sangat…"

"Lakukan saja! Pastikan dokumen itu legal. Buat identitas baru atas nama Nora Alexander."

"Untuk Agen Ford, Tuan?"

"Tidak ada lagi Megan Laurencia Ford," desis Bradley sambil menatap lubang peluru di dinding. "Megan Ford sudah hanyut dan membusuk di dasar Sungai Thames. Nama Megan hanya untuk administrasi Negara selebihnya tidak ada."

Peter sedikit ragu. Ia menelan ludah, menatap punggung bosnya dengan ngeri. Bagaimana mungkin Bradley mengambil risiko sebesar ini hanya demi mengabulkan permintaan seorang tawanan? Bradley seolah sedang menantang maut di kandang musuhnya sendiri. "Ini gila," batin Peter.

"Apa yang kau pikirkan, Pet?" tanya Bradley tanpa menoleh, seolah bisa merasakan keraguan asistennya.

"Tidak ada, Tuan. Baiklah, akan segera saya laksanakan."

Di balik pilar, rahang Megan mengeras hingga giginya berkerit. Ia mengepalkan tangannya kuat-kuat sampai kuku-kukunya memutih.

"Bradley keterlaluan... dia benar-benar ingin melenyapkan identitasku sepenuhnya," batinnya penuh kebencian. Megan menyadari bahwa perjalanan ke Virginia ini bukan sekadar ziarah, melainkan babak baru dari penjara yang dibangun Bradley untuknya.

***

Siang itu, koridor utama markas besar Langley tampak sibuk. Alice melangkah anggun di samping Arthur Ford, tepat setelah mereka menyelesaikan rapat panjang dengan Divisi Kontra-Intelijen.

Di depan para agen senior, Alice adalah potret sekretaris yang sempurna, cekatan, profesional, dan selalu bisa diandalkan. Tak ada satu pun pasang mata yang menyadari bahwa di balik setelan kerjanya yang rapi, Alice sedang menyembunyikan bisa yang mematikan.

Begitu pintu ruang Direktur yang luas itu tertutup rapat dan terkunci otomatis, topeng profesionalitas itu luruh. Alice berubah menjadi predator yang menyamar sebagai kelinci yang siap diterkam.

Tanpa aba-aba, Arthur menyambar pinggang Alice, menariknya dengan sentakan kasar hingga berkas-berkas di tangan Alice berhamburan ke lantai marmer.

"Alice, aku merasa ada yang aneh," bisik Arthur, suaranya parau dan penuh selidik.

Alice menahan napas sejenak, namun ia tetap mempertahankan senyum tipisnya. "Aneh? Apa maksudmu, Sayang?"

"Aku merasa setiap kali kita menghabiskan malam bersama, aku selalu bangun dengan ingatan yang kosong. Aku tidak ingat kapan aku tertidur atau apa yang terjadi sebelum aku kehilangan kesadaran," Arthur menatap mata Alice, mencari kejujuran di sana.

Alice tidak membiarkan rasa paniknya terlihat. Dengan gerakan sensual, ia melingkarkan lengannya di leher Arthur, jemarinya meraba dada bidang pria itu di balik jas hitamnya. Ia memberikan sentuhan yang membuat logika Arthur perlahan menguap.

"Sayang... itu karena kau terlalu hebat," bisik Alice dengan suara serak yang menggoda, beralih menyentuh rahang Arthur dengan lembut. "Kau memberikan segalanya hingga kau kelelahan dan langsung jatuh terlelap. Bahkan aku pun kewalahan dan merasa tak bisa mengimbangimu. Wajar jika otakmu memilih untuk beristirahat setelah malam panas kita."

"Sungguh? Aku sehebat itu?" Ego Arthur mulai terpancing, keraguan di matanya perlahan digantikan oleh binar damba.

"Tentu saja. Kau adalah Arthur Ford, kau selalu dominan dalam segala hal," Alice memberikan kecupan singkat di sudut bibir Arthur, sebuah umpan yang sempurna.

"Aku menginginkanmu sekarang, Alice," geram Arthur. Ia mendorong Alice hingga wanita itu tersudut di ujung meja jatinya yang besar.

Arthur mulai mencium leher Alice dengan posesif, menghirup aroma parfumnya yang memabukkan. Namun, tepat saat Arthur hendak melangkah lebih jauh, dering ponsel Alice memecah keheningan yang panas itu.

"Sayang, tunggu sebentar. Aku harus mengangkat ini," Alice menahan dada Arthur dengan telapak tangannya, memberikan tatapan memohon yang manja.

Arthur mendengus frustrasi, mengusap wajahnya dengan kasar sambil memberikan ruang bagi Alice. Ia membiarkan sekretarisnya itu melangkah keluar ruangan untuk menerima panggilan tersebut.

"Terima kasih, Pet. Kau menelepon di saat yang sangat tepat," batin Alice sebelum menggeser tombol accept.

Alice melangkah menjauh dari pintu ruang kerja Arthur, memastikan jaraknya cukup aman agar suaranya tidak terdengar oleh pria yang sedang frustrasi di dalam sana.

Begitu ia menekan tombol accept, suara Peter yang dingin langsung menyapa indra pendengarannya.

"Alice," ucap Peter tanpa basa-basi. "Lusa, Tuan Brown akan mendarat di Virginia. Dia membawa agen Ford."

Alice menarik napas tajam, matanya menyapu koridor Langley yang sibuk. "Lusa? Kau bercanda? Dia benar-benar gila membawa Megan kembali ke sini sekarang."

"Ini bukan soal kegilaan, Alice. Ini soal permintaan calon istrinya ," sahut Peter di seberang sana. "Dia tidak takut pada Arthur, kau tahu itu. Tapi dia tidak ingin Arthur melihat Megan sebelum semua bidak catur kita berada di posisinya.

Alice mengepalkan tangannya pada gagang telepon. "Aku mengerti. Aku akan memastikan Arthur tetap dalam jangkauanku. Aku akan 'mengikatnya' agar dia tidak punya waktu untuk kemana-manam

"Bagus. Pastikan dia tetap sibuk denganmu, atau buat dia tertidur lebih lama jika perlu. Tuan ingin semua ini berjalan tenang tanpa gangguan siapapun"

"Tenang saja, Peter. Aku tahu apa yang harus aku lakukan,”

"Baiklah, lakukan tugasmu, Alice. Sampai bertemu di Virginia."

Alice mematikan ponselnya. Ia merapikan sedikit kerah blusnya dan mengatur ekspresi wajahnya kembali menjadi sekretaris yang manis dan penuh damba.

“Sayang, kau terlalu lama mengabaikanku” Tangan Arthur sudah melingkar di perut Alice, dan kini ia sudah menjelajahi leher jenjang Alice diri belakang, membuat Alice harus memikirkan cara bagaimana harus lepas dari laki-laki itu.

***

Megan melangkah perlahan menuju dapur, tempat Bibi Marta sedang sibuk menata peralatan makan. Wajah Megan masih pucat, namun matanya memancarkan tekad yang aneh.

"Kau butuh sesuatu, Meg? Biasanya kau hanya mengurung diri di dalam kamar," sapa Marta dengan senyum tulus yang selalu berhasil mencairkan sedikit kekakuan di hati Megan.

"Aku rasa aku butuh udara segar, Bi. Dan... aku menginginkan sesuatu sekarang juga," ucap Megan, suaranya sedikit menuntut.

Marta menghentikan kegiatannya, ia mendekat dan mengusap lengan Megan lembut. "Katakan saja, Nak. Apa pun itu."

"Aku mau mangga muda," Megan menjeda kalimatnya, matanya berkilat penuh dendam. "Tapi aku ingin Bibi yang mengatakannya pada Bradley sialan itu. Aku mau dia yang mencarinya dan membawakannya untukku. Sekarang juga."

Marta menggelengkan kepala pelan, sedikit terkejut dengan permintaan itu. "Kenapa kau tidak mengatakannya langsung padanya?

"Aku tidak sudi bicara dengannya, Bi."

Marta menarik napas panjang, wajahnya tampak ragu. "Aku tidak yakin bisa menemukannya di London musim ini, Meg. Kau tahu sendiri, itu buah tropis. Sangat sulit dicari di tengah salju seperti ini."

"Aku tidak peduli! Bradley Brown harus pulang membawakan itu untukku” ucap Megan penuh dendam.

Marta menatap Megan dengan tatapan yang sulit diartikan, lalu sebuah senyum kecil muncul di bibirnya.

"Mungkin benar kata orang, buah jatuh tidak jauh dari pohonnya. Dia benar-benar anak tuan Brown. Itulah sebabnya dia menginginkan buah tropis… Negara asal neneknya."

DEGH!

Jantung Megan seolah berhenti berdetak. Darahnya mendesir hebat hingga ke ujung jari. Ia terpaku di tempatnya berdiri, menatap Bibi Marta dengan mata yang membelalak lebar.

"Neneknya?" suara Megan hampir habis, tertahan di kerongkongan. "Maksud Bibi... Ibu Bradley?"

Marta hanya tersenyum tipis tanpa menjawab lebih jauh. Ia segera berbalik kembali ke meja dapur, meninggalkan Megan yang kini berdiri mematung dengan seribu pertanyaan yang menghujam otaknya.

Negara asal neneknya? Tropis? Indonesia?

Pikiran Megan terbang kembali ke aroma jahe hangat yang dibuatkan Bradley tempo hari. Segala kebetulan ini mulai terasa seperti benang merah yang mencekik lehernya. Siapa sebenarnya Bradley Brown?

1
Senja
eh kali ini bener kata Bradley
Senja
sekarang aja udah stress mala jadi ibu dari anak2, katanya 😔 bener kata Matthew& Clara, emang gila Bradley 😭
Senja
Aduh😭😭😭😭
Bintang Kejora
wah gila sih Arthur Ford... beneran megan menyelamatkam kehormatan ayahnya dengan memgorbankan dirinya
😔
Bintang Kejora
kayak nonton film action hollywood 🤭
Bintang Kejora
Tuh kan bener jadi begini kan? Bradley ga tau megan mempertaruhkan nyawanya demi mencari jawaban tapi bradley tetap ga mau kasih tahu. teka teki banget sih thor
Bintang Kejora
Nekat amat Megan. memilih nyelamitin bradley dari pada Bayinya 😪
Senja
Astaga... Megan benar2 benci sama Bradley sampe2 dia ga mikirin nyawanya sendiri. lebih baik mati 😭
Senja
Apalah Bradley selalu punya cara buat ngikat Megan...😔
Senja
ya ampun ini dari drama ngidam mangga muda sampe ngidam rawon... rawon go international 🤭😄 Anaknya Brad emang agak lain..
Senja
😄😄😄 Hantu London takluk sama mangga muda...
Senja
Ayo kesempatan kabur Megan 😄
Senja
Jadi gadis yang ada di bayangan Bradley itu, Alice kah? Tadi Alice nangis juga di rumah Arthur... benangnya kusut banget. Aku beneran ga bisa nebak. 🤭
Mawar Berduri
kamu itu sebenarnya siapa nya Megan sih Brad? kadang kalem kadang garang🤔🤔
Mawar Berduri
Megan mati❎
Megan hamil ✅
🤭🤭
Bintang Kejora
Ihh Bradley ini siapa sih? misterius banget. kamu kenal megan?
SarSari_
baca juga ceritaku ya kak, suamiku ternyata janji masa kecilku.🙏
Mawar Berduri
Wah ada apa dengan Bradley? kenapa mendadak berubah setelah mendengar cerita Megan?
Senja
Alpha Male si Bradley, bagus aku suka novel dengan genre mafia psikopat. Semoga ke depan lebih menantang.
Mawar Berduri
Bagus untuk openingnya, melibatkan Agen dan Mafia. Lanjut author untuk aksi menegangkan di next chapter. Semangat.
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!