NovelToon NovelToon
Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Reinkarnasi Dokter Forensik Sebagai Putri Terbuang Di Era Mataram

Status: sedang berlangsung
Genre:Reinkarnasi / Cinta Istana/Kuno / Mengubah Takdir
Popularitas:11.4k
Nilai: 5
Nama Author: INeeTha

Di Era Mataram kuno, kematian bisa dibeli.

Seorang gadis lima belas tahun ditemukan terbakar.

Semua menyebutnya kecelakaan.

Hanya satu orang yang berani berkata,

“Ini pembunuhan.”

Raden Ajeng Sawitri Setyaningrum.

Putri yang dibuang.

Gadis ringkih yang dianggap tak berguna.

Tak ada yang tahu…

Jiwanya adalah dokter forensik dari masa depan.

Dengan pisau bedah dan akal dingin, ia menyeret pembunuh ke cahaya.

Satu demi satu rahasia Kadipaten terkuak, kehamilan tersembunyi, racun warangan, wasiat palsu, jarum maut di tulang leher.

Semakin tinggi ia naik, semakin besar musuhnya.

Ketika pembunuhan demi pembunuhan mengguncang Kadipaten, ketika para bangsawan saling menjatuhkan.

Ketika seorang Pangeran tampan mulai terobsesi pada kecerdasannya.

Dan ketika ayahnya sendiri menjadikannya alat aliansi militer,

Sawitri hanya tersenyum.

Karena ia tak pernah berniat selamat.

Ia berniat menang.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon INeeTha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

2. Titisan Dewi

Cahaya pelita bergoyang tertiup angin malam yang menyusup dari celah bilik bambu.

Sawitri bersandar di dipan kayu jati yang berderit pelan.

Napasnya masih terasa berat, menyisakan rasa amis darah di pangkal tenggorokan.

"Ndara Ayu, kulo mboten tega," isak Nyi Inggit, jemarinya yang keriput mengusap lengan Sawitri yang sedingin es.

"Seandainya Raden Ayu Kinanti masih ada, Ndara tidak akan dibuang ke pesanggrahan reot ini."

Mata tua itu meneteskan air mata, meratapi nasib putri majikannya yang terbuang.

Tumenggung Danurejo, ayah kandung Sawitri, membuangnya karena desakan selir muda.

Alasannya klise, Sawitri dituduh membawa sial sejak lahir.

Sawitri menatap langit-langit anyaman daun jati dengan sorot mata datar.

"Menangis tidak akan mengubah nasib kita, Nyi."

Suaranya pelan namun setajam sembilu.

"Mulai detik ini, pesanggrahan ini adalah wilayahku. Tidak ada yang boleh menginjakkan kaki tanpa izinku."

Ndari yang sedang mengaduk sisa jamu paitan menatap majikannya dengan mata membulat.

"Ndara... Ndara sungguh berbeda sekarang," cicit gadis batur itu ragu.

"Aku hanya lelah menjadi korban, Ndari."

Sawitri memejamkan mata, membiarkan pikirannya menganalisis kondisi fisiknya sendiri.

"Malnutrisi kronis dan kelelahan ekstrem," batin Sawitri menilai detak jantungnya yang tidak beraturan.

Tubuh gadis delapan belas tahun ini terlalu ringkih untuk jiwa seorang spesialis forensik berusia awal tiga puluhan.

"Aku butuh istirahat. Besok, carikan aku akar alang-alang dan daun sambiloto di pinggir hutan."

"Nggih, Ndara Ayu," jawab Ndari cepat, menyelimuti kaki Sawitri dengan kain lurik tua.

Dua minggu berlalu semenjak malam itu.

Pesanggrahan terpencil di tepi alas Mataram itu kini terasa lebih hidup.

Sawitri duduk di tepi aliran Kali Opak yang beriak tenang.

Jarik batiknya yang memudar ditarik sedikit ke atas, menghindari cipratan air.

Dua keping uang kepeng perunggu tergeletak di telapak tangannya.

Di sebelahnya, sebuah tenggok bambu berisi ubi jalar dan seikat daun singkong teronggok bisu.

Itulah bayaran yang ia terima setelah mengobati demam anak seorang petani pagi ini.

"Praktik medis dibayar dengan ubi," gumam Sawitri, sudut bibirnya berkedut tipis membentuk senyum sinis.

Ia menatap pantulan wajahnya di permukaan sungai yang jernih.

Gadis beralis bulan sabit, berhidung bangir, dengan kulit pucat yang mulai menunjukkan rona kemerahan.

"Fisik ini perlahan mulai pulih," batinnya sambil mengikat rambut panjangnya yang mulai terawat dengan seutas akar wangi.

Tiba-tiba, suara langkah kaki yang terseret dan terburu-buru memecah keheningan hutan bambu.

"Ndara! Ndara Ayu!"

Ndari berlari tergopoh-gopoh, kembennya nyaris melorot saking paniknya.

Di belakangnya, seorang pria tua bertelanjang dada mengikuti dengan napas memburu.

"Ada apa, Ndari?" Sawitri bangkit, seketika insting dokternya mengambil alih.

"Gusti Pangeran... tolong kulo, Ndara..." Pria tua itu jatuh berlutut di atas tanah berlumpur.

"Istri anak kulo, Karyo... dia terpeleset jatuh ke kedung sungai!"

Mata Sawitri memicing tajam.

"Kondisi korban?" tanyanya cepat, nadanya berubah menjadi sangat otoriter.

Pria tua itu kebingungan dengan istilah 'korban', tapi Ndari segera menyela.

"Mbakyu Karti sedang hamil tua, Ndara! Delapan bulan!"

Jantung Sawitri berdegup. Waktu adalah segalanya sekarang.

"Bawa aku ke sana. Sekarang!"

Sawitri setengah berlari menembus rimbunnya ilalang, meninggalkan tenggok ubi jalarnya begitu saja.

Pikirannya berpacu, menghitung estimasi waktu tenggelam dan sisa oksigen di dalam rahim.

Di hilir sungai, kerumunan warga desa sudah berkumpul membentuk lingkaran.

Suara raungan dan tangis histeris menyayat langit sore yang mulai menguning.

Kang Karyo duduk bersimpuh di tanah, memeluk tubuh istrinya yang basah kuyup dan terbujur kaku.

"Minggir! Beri jalan!" teriak Ndari sambil membelah kerumunan.

Sawitri menerobos masuk tanpa permisi.

Mata forensiknya langsung bekerja, memindai tubuh wanita malang itu dalam hitungan detik.

Kulit wajah jenazah sudah membiru.

Sawitri berjongkok, meletakkan dua jarinya di leher mendiang.

Nihil. Tidak ada denyut nadi.

Ia menempelkan telinganya ke dada jenazah. Hening. Tidak ada detak jantung.

"Istriku... istriku sudah tiada, Ndara," raung Kang Karyo, memukul-mukul tanah dengan putus asa.

Sawitri tidak mengacuhkan tangisan pria itu.

Tangannya dengan cepat meraba perut buncit wanita itu yang terbalut kebaya basah.

Ada pergerakan yang sangat lemah di dalam sana.

"Asfiksia mematikan ibunya, tapi suplai darah di plasenta masih menyimpan sedikit waktu," analisis Sawitri dalam monolog batinnya.

"Janinnya sedang mengalami fetal distress hebat. Aku punya waktu kurang dari tiga menit."

Sawitri mendongak, menatap Kang Karyo dengan sorot mata sedingin malaikat maut.

"Berhenti menangis! Kau mau anakmu ikut mati?!" bentaknya tajam, membuat seluruh warga desa terdiam ngeri.

Kang Karyo tersentak, air matanya berhenti mengalir.

"A-anakku? Anakku masih hidup?" tanyanya terbata.

"Ndari! Buat pemisah untuk menutupi kami!" perintah Sawitri cepat.

Ndari langsung bergerak gesit, dibantu beberapa ibu-ibu desa membentangkan kain jarik mereka.

Mereka membentuk bilik darurat di pinggir sungai, menyembunyikan Sawitri, jenazah Karti, dan Kang Karyo dari pandangan umum.

"Kang Karyo, berikan aku pisau belatimu. Yang tajam!"

Tangan Sawitri menengadah, wajahnya datar tanpa emosi.

"Pisau? U-untuk apa, Ndara?" Kang Karyo gemetar merogoh saku celana pangsinya.

"Untuk mengeluarkan anakmu. Cepat!"

Mata Kang Karyo membelalak ngeri, tapi sorot mata Sawitri yang mutlak memaksanya menyerahkan belati itu.

Sawitri menerima belati itu, tidak memedulikan absennya kesterilan alat saat ini.

Ini adalah pembedahan darurat di alam liar.

Jika ia ragu sedetik saja, nyawa bayi itu akan melayang.

Dengan gerakan yang terukur, presisi, dan tanpa keraguan, Sawitri menekan ujung belati ke perut jenazah.

"Maafkan aku," bisik Sawitri lirih pada jenazah wanita itu.

Sret!

Satu sayatan panjang membelah lapisan perut dengan sangat akurat.

Darah kental yang mulai gelap merembes keluar, menodai tangan pucat Sawitri.

Kang Karyo menutup mulutnya dengan kedua tangan, nyaris pingsan melihat sang istri dibelah.

Sawitri mengabaikannya. Wajahnya keras seperti pualam.

Jemarinya yang cekatan merobek lapisan pelindung rahim yang mulai kehilangan kelenturannya.

Air ketuban bercampur darah tumpah membasahi tanah berlumpur.

Sebuah tubuh mungil yang membiru terlihat meringkuk di dalam sana.

Sawitri menarik janin laki-laki itu keluar dengan sangat hati-hati namun cekatan.

Bayi itu tidak bergerak, tubuhnya pucat dingin dan lemas.

"Ndara... anakku..." Kang Karyo merintih parau.

"Diam!" tegur Sawitri dingin.

Ia memotong tali pusar dengan belati, mengikat sisa ujungnya dengan robekan kain kembennya sendiri.

Lalu, ia membalikkan tubuh bayi mungil itu.

Sawitri membersihkan sisa air ketuban dari mulut dan hidung bayi itu menggunakan telunjuknya.

Dengan telapak tangannya, ia menepuk punggung bayi itu agak keras. Sekali. Dua kali. Tiga kali.

Hening.

Ketegangan di dalam bilik kain jarik itu terasa begitu pekat hingga membuat napas tercekat.

Sawitri membalik tubuh bayi itu lagi, menggunakan kedua ibu jarinya untuk menekan dada mungil itu secara ritmis.

"Bernapaslah," desis Sawitri, matanya menyipit menatap wajah bayi yang membiru.

Ia memberikan tiupan udara kecil ke mulut dan hidung bayi itu secara bersamaan.

Satu siklus. Dua siklus.

Pada detik kesepuluh, tubuh mungil itu tersentak pelan.

"Oeeeekk! Oeeeeekkk!"

Suara tangisan melengking memecah keheningan senja, mengalahkan suara deburan air sungai.

Warga desa di luar bilik jarik terkesiap, lalu bersorak haru tak percaya.

Kang Karyo menangis sejadi-jadinya.

Sawitri mengusap darah di keningnya dengan punggung tangan.

Ia menyerahkan bayi laki-laki yang menangis kuat itu ke pelukan ayahnya.

"Sembunyikan di balik dadamu. Suhu tubuhnya masih terlalu rendah," perintah Sawitri datar.

Kang Karyo mendekap erat anaknya, menciumi wajah mungil yang berlumuran darah itu.

Sementara itu, tugas Sawitri belum selesai.

Ia menatap jenazah wanita di depannya.

Sebagai dokter forensik, menghormati jenazah adalah kode etik tertinggi.

"Ambilkan jarum dan benang rami," perintah Sawitri pada Ndari yang mengintip dari balik celah jarik.

Dengan tangan telanjang yang masih merah oleh darah, Sawitri menjahit kembali perut jenazah itu.

Jahitannya sangat rapi, rapat, dan profesional, meminimalisir kesan mengerikan pada jasad.

"Selesai. Bersihkan istrimu dan makamkan dengan layak."

Sawitri berdiri, kakinya sedikit kebas karena sisa kelelahan fisik tubuh lamanya, tapi posturnya tetap tegak menantang.

Kang Karyo meletakkan bayinya sejenak di atas kain kering pelindung, lalu bersujud di lumpur dekat kaki Sawitri.

Dahinya dibiarkan menempel di tanah kotor.

"Matur sembah nuwun, Ndara Ayu! Kulo mboten saged balas budi jenengan. Nyawa kulo milik Ndara!" isak Kang Karyo meledak.

"Bangunlah. Aku tidak butuh nyawamu."

Sawitri menarik kakinya perlahan, menatap pria itu tanpa segan apalagi pongah.

"Rawat anakmu. Itu sudah cukup."

Ia berjalan pelan menembus bilik kain jarik.

Sore itu, seluruh warga desa menatapnya dengan pandangan berbeda.

Bukan lagi tatapan kasihan pada putri terbuang, melainkan rasa hormat dan ketakutan yang suci.

Langkah Sawitri di tanah berumput diikuti oleh tatapan memuja penduduk desa.

Ndari berlari kecil menyusul majikannya, wajahnya berseri-seri di balik kepanikan sisa tadi.

"Ndara Ayu! Ndara sungguh luar biasa!" seru Ndari takjub.

"Mereka bilang Ndara ini titisan dewi! Ndara pakai ilmu aji-aji sihir kan untuk menghidupkan bayi itu?"

Sawitri terus melangkah pelan kembali ke pesanggrahan, tanpa menoleh.

"Itu bukan sihir, Ndari," jawabnya sangat datar, mengusap sisa darah di lengannya.

"Itu Caesar."

Ndari mengerjap, langkahnya tertinggal beberapa inci di belakang sang majikan.

"Ce... Cesar ki opo Ndara? Apa itu sejenis aji-aji dari Keraton, Ndara?"

Sawitri hanya mendengus pelan, menatap langit senja Kerajaan Mataram yang mulai dihiasi semburat oranye.

Satu hal yang ia tahu pasti.

Mulai hari ini, namanya akan terdengar sampai ke telinga orang-orang yang membuangnya.

Dan saat waktu itu tiba, Sawitri Setyaningrum sudah harus siap menyambut mereka.

1
SENJA
ada anak tiri ada anak haram 😄
gina altira
Sukmawati itu dalangnya atau masih ada dalang yang lebih besar lg
SENJA
jadi ngebunuh perlahan? atau malah jadi kebal racun?
SENJA
adiknya juga jahat kok yowes biar aja 🤣
SENJA
wakaaka wandira cuma buat bayar utang 🤭
Betharia Anggita Dominique
mantap👍👍👍👍
Betharia Anggita Dominique
maksud?
Betharia Anggita Dominique
seru nih👍
fredai
Hadir Thor semangat 💪
gina altira
yang diperebutinnya lempeng ajahhh,,
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dua pangeran saling merebut sang tabib 🤣
SENJA
lu berdua debat mulu kadang hal ga penting di debatin berdua😤
SENJA
pusing hidup penuh intrik 😅
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
keren banget ceritanya
Allea
aku ga ngudeng bahasa Jawa Thor 😑🤭
SENJA
udah sih biar aja kan sudara tiri dan mereka jahat sama kamu 😤
SENJA
kalian malah debat hadeeh 😤
Dewiendahsetiowati
setan aja kalah sadisnya sama Sukmawati
RJ §𝆺𝅥⃝©💜🐑
dasar laki laki gilaa😤
SENJA
sukur lu 😌
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!