NovelToon NovelToon
Rahasia Dua Bintang Kampus

Rahasia Dua Bintang Kampus

Status: sedang berlangsung
Genre:Diam-Diam Cinta / Idola sekolah / Cintapertama
Popularitas:1.7k
Nilai: 5
Nama Author: Cahaya Tulip

"Jeny? Siapa Jeny? " tanya Gilang dengan kening berkerut.

"Itu, si Karateka cantik kampus kita. Yakin nggak tahu? Atau pura-pura nggak tahu?"

Alis Gilang terangkat sebelah, mencoba menerka perempuan mana yang di maksud Aris, sahabatnya.

"Kamu lagi ngejar dia kan? Jangan mengelak, ada saksi mata yang lihat kamu jalan bareng dia kemarin siang di gang belakang kampus, " ejek Aris lagi terkekeh.

"Oh, cewek itu namanya Jeny? Siapa yang ngejar dia? Kenal juga nggak, " sungut Gilang.

Gilang Putra Candra, mahasiswa semester 4 andalan Universitas Gama dalam setiap lomba karya tulis nasional tak sengaja bertemu dengan Jeny Mau Riska Atlit Karate-Do sabuk hitam yang juga mahasiswi semester 4 Universitas Gama di gang belakang kampus.

Pertemuan tak sengaja itu, perlahan menjadi rumor di kalangan mahasiswa angkatan mereka.

Akankah rumor itu menjadi awal rahasia mereka?

Ikuti kisah mereka dalam RAHASIA DUA BINTANG KAMPUS

Kisah ini hanya fiktif. Kesamaan nama, lokasi hanya kebetulan

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cahaya Tulip, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Rasa Terpendam

TURNAMEN ANTAR KOTA

Setelah berlatih keras selama dua bulan penuh di sela-sela mengurus skripsi dan bekerja di swalayan. Hari ini Jeny bersama beberapa rekan di dojo-nya dipercaya mewakili atlet pemerintah kota untuk mengikuti turnamen yang kebetulan dilaksanakan di kota mereka tinggal.

Sinpei Jery mengumpulkan mereka di sudut gedung untuk memberi arahan. Erwin, Boby, Jeny, Sekar, Rika, Ambar, Bekti, Putri dan Heri serta 6 orang dari sabuk kuning adalah atlet terpilih dari dojo mereka untuk bertanding dalam turnamen itu.

"Kalian pemanasan tiga puluh menit. Latihan tiga puluh menit. Setelah itu akan ada tes doping. Turnamen kali ini sangat ketat pastikan kalian ikuti aturannya. "

"OS Sinpei " sahut mereka serentak.

"Boby..Jeny pandu teman-teman kalian pemanasan, " tambah Jery.

Jery bersama dua orang, satu official dari dojo dan satu pendamping dari instansi terkait, berjalan ke arah meja panitia untuk registrasi ulang peserta.

Boby memberikan arahan pada Jeny untuk mengatur rekan karateka membuat lingkaran, mereka akan berkeliling sebentar sebelum melakukan gerakan pemanasan dan latihan mandiri.

Boby berlari di depan memulai pemanasan, jeny mengiringi di belakang. Jeny dan Boby tak banyak bicara setelah kejadian terakhir mereka.

Boby masih malu untuk berbicara seperti biasa. Selain karena malu sudah melakukan kesalahan yang merusak reputasi Jeny, ia juga malu karena perasaan yang selama ini ia sembunyikan akhirnya diketahui Jeny.

Jeny sendiri merasa canggung. Ia masih ingat mimpinya yang tiba-tiba memeluk Boby. Ia tak menyangka melakukan hal itu, malu ternyata itu bukan mimpi seperti yang ia kira.

Soal perasaan Boby padanya, ia tak ingin mengklarifikasi atau menanggapinya sama sekali. Saat neneknya menceritakan hal itu padanya, Jeny sampai kikuk dan salah tingkah, apalagi menanyakan langsung. Ia tak punya muka berhadapan dengan Boby.

Terpilihnya mereka menjadi atlet perwakilan kota hanya sebuah kebetulan yang tak bisa dihindari.

Setelah sepuluh menit berkeliling di sekitar gedung, mereka berbaris di samping gedung turnamen melakukan pemanasan dan latihan mandiri. Jeny memberi aba-aba di depan barisan. Boby berkeliling memperbaiki posisi rekan-rekannya.

Saat Boby melintas, Sekar tiba-tiba hilang konsentrasi tak mendengar aba-aba. Ia seperti terpaku, pendengarannya mendadak tertutup. Jeny melihat dari kejauhan, ia menghentikan aba-aba nya. Boby heran melihat semua gerakan rekannya terhenti ia menoleh ke belakang.

"Sekar, " panggil Boby.

"Eh.. iya, " sahut Sekar.

"Konsentrasi."

"Os, maaf. "

Sekar buru-buru memperbaiki gerakannya menyamakan dengan yang lain. Jeny melanjutkan aba-abanya hingga lima belas menit berlalu tak terasa.

"Yang bertanding kata dan kumite bisa berlatih kata dulu, Jeny yang akan awasi. Menyusul setelah selesai. Yang kumite saja, ikuti aku. "

Boby berlalu membawa dua pasang hand protector, diiringi rekan karateka yang akan berlatih kumite.

Jeny memberi aba-aba untuk duduk beristirahat.

"Putri, kata satu sampai tiga, " ujarnya memberi perintah.

Yang lain memperhatikan sambil beristirahat.

Ambar mendekat pada Jeny, membagikan botol air mineral.

"Jeny, aku bagikan ke teman-teman ya, " tawarnya.

"Oke," sahut Jeny sambil memperhatikan gerakan Putri.

"Ini punya mu. Sudah ku bukakan tinggal minum." Ambar meletakkan botol mineral disamping jeny.

"Hmm.. Terima kasih. "

"KYAAA."

Putri menyelesaikan latihan kata-nya di akhiri dengan teriakan bersemangat.

"Jaga konsentrasi saat bertanding nanti. Gerakanmu sudah bagus."

"Osh, " sahut Putri.

Putri duduk disebelah rekannya.

"Sekar, kata empat dan lima."

Sekar berdiri di hadapan Jeny.

"Osh." Memberi hormat dan kembali ke posisi bersiap.

"Heian Yondan, Heian GODAN, " teriak Sekar.

Ia memulai gerakan pelan lalu cepat dan kuat.

Riuh tepuk tangan di sudut latihan kumite mengganggu konsentrasinya. Jeny bingung, Sekar melakukan gerakan kata ke lima di tengah kata empat.

"Sekar, " panggil Jeny.

Sekar menghentikan gerakannya, menatap jeny sambil tersengal. Jeny menghampirinya.

"Kamu kenapa? Konsentrasi. Gerakanmu salah. Ulangi dari awal."

"Os."

Sekar mengulangi gerakan kata empat.

"FOKUS!! " teriak Jeny. Ia tak main-main lagi, ia akan tegas meski Sekar teman dekatnya.

Latihan mandiri selesai. Jeny menegak air yang diberi Ambar tadi. "Kenapa rasanya aneh? , " gumamnya sambil melirik botol air itu.

Ia berlalu membawa botol itu masuk ke dalam gedung.

"Jen, " panggil Sekar.

"Kenapa?"

Sekar duduk di sampingnya.

"Aku benar-benar tak bisa konsentrasi. Aku--"

"Apa ada sesuatu denganmu dan Boby? "

Sekar menghela nafas panjang, dan menghembuskan keras.

"Kemarin, aku... Menyatakan perasaanku pada Boby."

"Wah, terus? " tanya Jeny penasaran.

Sekar menggeleng.

"Dia cuma diam, terus tinggalin aku gitu aja. Aku bingung, apa aku dicampakkan? "

"Dia mungkin perlu waktu, itu saja. Tapi... sejak kapan kamu suka dengannya? Kenapa nggak pernah cerita? "

"Sebenarnya sudah lama, Dia pernah bantu aku lawan pembegal."

"Begal??! kurang ajar. Kapan kejadiannya? "

"Tahun terakhir di SMA, makanya aku gabung ke dojo awal kuliah. Selain karena aku rasa memang perlu, aku juga mau kenal dekat dengannya. Untung ada kamu, jadi aku ada teman."

"Sekar, Boby itu bukannya nggak mau. Dia cuma kaget. Kamu juga, kenapa nyatakan perasaan jelang lomba? "

"Aku sudah terlalu lama memendam, tapi aku akui terlalu bodoh nggak lihat waktu yang tepat."

Jeny menepuk pundaknya. "Nggak apa-apa, jangan berlarut dalam perasaan bersalah. Kamu sementara fokus dulu ke turnamen ya. Kalau kamu menang, dia pasti akan tersentuh."

Sekar mengangguk lalu menunduk, pipinya seketika merona.

"Jeny, " panggil Jery.

"Aku samperin sinpei dulu ya."

Jeny berlari kecil menghampiri Jery. Ia mengangguk setelah mendengar arahan Jery lalu kembali ke rekannya.

"Kalian bersiap sebentar lagi giliran kita tes doping. Aku panggil yang lain dulu."

Jeny berlalu keluar gedung memanggil rekannya yang masih di luar berlatih kumite bersama Boby.

Sekar menghela nafas panjang.

'Mungkin Jeny benar, dia cuma kaget. Apalagi mau tanding, ah bodohnya aku. Kenapa juga nggak bersabar sedikit lagi,' batin Sekar.

Setelah melihat Jeny kembali bersama Boby dan rekan lain, Sekar dan teman-temannya yang sudah berada di dalam gedung mengiringi langkah mereka. Jeny mengawal mereka di belakang.

Di depan ruang tes khusus, masing-masing membawa cup kecil untuk menampung urine. Official dojo membantu menulis nama di masing-masing cup supaya sampel urine tidak tertukar.

Jeny dan Boby terakhir di tes.

"Jeny, " panggil Boby setengah berbisik.

"Hmm.. " sahut Jeny dingin.

"Aku minta maaf soal insiden waktu itu."

"Aku sudah maafkan sejak lama. Hari itu juga setelah nenek cerita semua."

Boby terdiam.

"Berarti, nenek juga cerita soal alasan aku melakukan itu? "

"Tentu saja, Kenapa?"

"Aku.. aku tahu kamu menganggapku seperti seorang kakak. Aku yang terlalu berlebihan memahami kedekatan kita. "

"Baguslah kalau kamu sudah tahu, berarti kamu juga tahu kan jawabannya? "

Boby mengangguk kecil.

"Terimakasih sudah menjagaku selama ini, kamu memang selalu mengalah dan pengertian padaku. Maaf...aku tak bisa memenuhi harapanmu. Aku tak mau membohongi hati kecilku, juga kamu. "

Boby mengangguk lagi. "Aku mengerti."

"Tetap jadi kakakku ya," pinta Jeny sambil masuk ke ruangan dengan senyum santai.

Boby tertawa melihat tingkah Jeny barusan. Dia selalu sesantai itu, meski sebenarnya Boby tahu Jeny banyak menahan diri.

Setelah melalui proses tes mereka kembali ke sudut gedung tempat mereka berkumpul. Jeny mengajari rekannya beberapa gerakan kata yang harus dilakukan dengan tekanan dan ekspresi tegas. Mereka memperhatikan dengan sungguh-sungguh.

"Sinpei, " panggil Arlan yang menjadi official dojo sambil bergegas menghampiri Jery yang memberi arahan pada atlet kumite.

Arlan berdiri di samping Jery dan membisikkan sesuatu. Jery terhenyak, menatap Arlan tak percaya.

"Tunggu sebentar."

Jery dan Arlan setengah berlari ke lokasi tes doping tadi.

"Nggak mungkin Jeny melakukannya, Pak. Selama ini di setiap turnamen dia selalu bersih makanya dia bisa bertanding dan mendapat juara."

"Hasil tes tak bisa berbohong pak Jery."

Jery menghampiri petugas tes. "Bisa lakukan tes urine ulang? untuk satu nama ini. Saya masih tak percaya."

"Oke sinpei, hanya sekali. Masih banyak yang belum kami tes."

Jery mengangguk lalu menyuruh Arlan memanggil Jeny.

Arlan berlari cepat ke lokasi rekan dojo-Nya.

"Percaya kami, pak. Ini pasti ada kesalahan."

"Kita lihat saja hasil tes kedua pak Jery, saya juga berharap ini benar kesalahan uji, " ujar perwakilan instansi pemerintah kota itu.

Jery menarik nafas panjang, ia juga gugup. Tak percaya kejadian seperti ini menimpa Jeny. Ia menaruh harapan besar Jeny bisa mendapat medali emas di turnamen membawa nama kota kali ini.

"Ada apa sinpei? " tanya Jeny bingung.

"Hasil tes dopingmu positif."

Jeny terhenyak, "A.. Apa??! nggak mungkin sinpei, saya nggak konsumsi apa-apa."

"Saya percaya kamu Jen, tapi hasilnya tertulis begitu. Kamu tes ulang ya, " titah Jery.

Perwakilan instansi pemerintah itu mengangguk meyakinkan Jeny untuk melakukan ulang.

"Baik, Sinpei."

Jeny menghampiri petugas tes menulis namanya sendiri di cup dan masuk ke dalam ruangan untuk mengambil sampel ulang.

Di kejauhan teman-temannya merasa cemas melihat Arlan buru-buru memanggil Jeny tanpa penjelasan.

"Semoga saja tidak ada yang mengkhawatirkan."

Tak lama, Jeny keluar membawa sampelnya. Ia menunggu di lokasi itu juga bersama Sinpei dan perwakilan instansi pemerintah.

"Kamu makan sesuatu yang tidak biasa sebelum berangkat tadi? " tanya sinpei.

Jeny menggeleng. "Semuanya biasa saja Sinpei, saya juga tak pernah mengkonsumsi seperti itu selama ini. Beli vitamin saja saya berpikir keras, uangnya lebih baik untuk berobat nenek. Apalagi membeli doping."

Jery mengangguk paham.

"Tapi saya memang merasakan air mineral yang saya minum tadi agak aneh."

"Maksudmu? " tanya perwakilan instansi pemerintah.

"Setelah pemanasan tadi saya minum air mineral dari botol yang Bapak bawa tadi. Saya rasa airnya agak aneh, " jelas Jeny.

"Kamu periksa dengan teman lain? "

Jeny menggeleng, "Saya pikir itu normal karena merknya memang yang bagus. Saya biasa beli yang murahan."

"Coba ambil botolnya, " suruh Jery.

Jeny berlalu mengambil bitol mineralnya.

Wajah cemas tak bisa ia tutupi saat bertemu rekannya.

"Ada apa Jen? " tanya Boby.

"Hasil tes ku positif, " jawabnya dingin.

Semua terkejut. Mereka berbisik tak menyangka.

"Tenang saja aku sudah tes ulang, do'akan saja memang salah uji."

Jeny berlalu meninggalkan mereka yang mengangguk penuh harap. Membawa botol mineral yang ia minum tadi.

"Bagaimana? Hasilnya sudah keluar? " tanya Jeny saat kembali ke lokasi tes.

Jery menatap Jeny sedih, di tangannya terbuka hasil tes yang diberikan petugas.

"Masih positif Jen, " jawabnya kecewa.

BUG!!

Jeny terpaku, botol mineral jatuh ke lantai dan berguling ke arah kaki Jery. Rahang Jeny mengeras menahan marah dan kecewa. Matanya memerah. Nafasnya tersengal, dadanya naik turun.

'Siapa yang tega melakukan ini? ' tanyanya dalam hati.

1
falea sezi
lnjut bnyk
Cahaya Tulip: 😁🙏diusahakan kak.. krn up 3 novel baru setiap hari.. Terima kasih sdh mampir🤗🥰🙏
total 1 replies
falea sezi
kkn ne bapak nya mona prestasi mona apaan dah
falea sezi
suka novel yg ada gambar nya gini
Cahaya Tulip: 🥰🙏Terima kasih akak..
total 1 replies
Rian Moontero
lanjuuutt👍👍😍
Cahaya Tulip: Siap kak.. on progress🤗 di up besok ya.. Terima kasih🥰🙏
total 1 replies
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!