NovelToon NovelToon
Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Terjebak Cinta Anak Duda Kaya

Status: sedang berlangsung
Genre:Menikah Karena Anak / Trauma masa lalu / Keluarga / Diam-Diam Cinta / Romantis / Ibu Pengganti
Popularitas:16k
Nilai: 5
Nama Author: Shalema

Kanara, enam tahun, memilih diam dan takut pada cermin.

Nura datang hanya untuk menolong, tapi malah terikat pada Elang, ayah Kanara, duda kaya yang menyimpan luka dan penyesalan.

Di antara tangisan dan kasih yang tumbuh perlahan, cinta hadir tanpa rencana. Namun saat masa lalu mulai terkuak, Nura harus memilih, pergi untuk melindungi diri atau bertahan mencintai dua hati yang sama-sama terluka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Cinta, Duka dan Konfrontasi

Pagi itu datang dengan tenang. Sinar matahari tipis menyeruak masuk melalui celah gorden, menyentuh wajah Nura yang masih bersandar di lengan Elang. 

Semalam, setelah badai emosi yang menguras energi itu mereda, Elang seolah  enggan menjauh dari Nura. Dengan suara yang sangat rapuh, ia meminta izin untuk tetap di sana. “Ra, boleh aku di sini sebentar lagi?” 

Awalnya Nura ragu, namun Elang meyakinkannya kalau dia hanya ingin ditemani dan berjanji tidak akan melakukan apa pun. Mereka akhirnya  tidur berdampingan, saling berhadapan di atas ranjang itu. 

Sebelum terlelap, Elang sempat  menumpahkan semua kecurigaannya tentang kejanggalan bukti kasus Pak Hendra dan  beberapa orang yang mulai ia waspadai. Nura mendengarkan dengan sabar, sesekali berkomentar menenangkan. Keduanya terus bicara hingga tidak sadar tertidur.

Nura mengerjap, perlahan membuka matanya. Saat menyadari posisinya yang begitu intim dengan Elang, semburat merah langsung muncul di pipinya. Ia hendak beranjak pelan, namun tangan Elang justru semakin erat memeluk pinggangnya, menahannya untuk tetap di sana.

“Jangan ke mana-mana dulu, Ra,” gumam Elang dengan suara serak khas bangun tidur, matanya bahkan masih terpejam.

“Sudah pagi, Pak,” cicit Nura pelan, nyaris tidak terdengar. 

Elang membuka setengah matanya, mendapati wajah Nura yang sudah semerah kepiting rebut. Sebuah senyum kecil tersungging di sudut bibirnya. Ia menyunggingkan senyum kecil. “Kalau lagi berdua begini, jangan panggil ‘Pak’. Aku tidak mau merasa sedang menjadi  majikanmu.”

Nura terdiam, lidahnya mendadak kelu. Ia bingung harus memanggil pria itu dengan sebutan apa. Elang yang menyadari keraguan itu mengusap lembut rambut Nura, lalu mengecup pucuk kepalanya.  “Panggil nama saja…”

Mata Nura membelalak tak percaya. “Mana bisa? Bapak kan usianya jauh di atas usiaku.”

Elang mengendurkan pelukannya sedikit, menatap Nura dengan binar jenaka. “Betul kah? Memang berapa usiamu?”

“Dua puluh empat.” 

Elang terkekeh kecil, lalu justru kembali mengetatkan dekapannya. “Berarti aku beruntung bisa mendapatkan daun muda.”

Nura menunggu beberapa saat, berharap Elang akan melepaskannya. Tapi pria itu sepertinya masih ingin berlama-lama. “Pak… aku ingin ke kamar mandi.”

“Aku bilang jangan panggil ‘Pak’,” Elang menggesekkan dagunya dengan manja di atas kepala Nura, sengaja menggodanya. 

Nura menarik napas panjang dan memejamkan mata sesaat, mencoba mengumpulkan keberanian. “Hmm… Mas… aku ingin ke kamar mandi.”

Mendengar sebutan itu, Elang langsung menurunkan pandangannya, menatap Nura dengan binar yang lebih hangat. Ia mengecup ujung hidung Nura sebagai tanda persetujuan sebelum melepaskannya. “Nah, begitu lebih enak didengar.”

Setelah Nura keluar dari kamar mandi, Elang bangkit dan duduk di tepi ranjang. Wajahnya yang tadi jenaka perlahan berubah serius namun tetap lembut. “Ra, aku ingin kamu ikut ke pemakaman Pak Hendra hari ini. Aku butuh kamu di sampingku untuk menghadapi orang-orang itu.”

Nura baru akan menjawab saat pintu penghubung diketuk pelan. Kepala kecil Kanara menyembul dari balik pintu dengan mata ngantuk yang lucu. “Kak Nura?” Mata kecilnya membesar ketika melihat sosok sang ayah. “Ayah Elang…?”

“Selamat pagi, Sayang,” sapa Elang hangat, seolah menemukan dirinya di kamar Nura adalah hal yang biasa. 

Kanara berlari kecil, ia tertawa bahagia menemukan dua orang favoritnya kembali dalam ruangan yang sama. 

Kanara melompat ke atas ranjang, mendarat tepat di pelukan Elang yang langsung menyambutnya dengan tawa rendah. Bagi Kanara, pemandangan ini adalah arti aman sebenarnya, Ayahnya yang kuat dan Kak Nura yang lembut dalam satu bingkai. 

Nura, yang masih berdiri di depan pintu kamar mandi dengan wajah yang sepenuhnya belum kembali ke warna normal, hanya bisa tersenyum kaku. Ia merasa seperti tertangkap basah, meski yang menangkapnya adalah seorang gadis kecil berusia enam tahun yang belum mengerti apa-apa. 

“Ayah… Kak Nura… main?” tanya Kanara sambil manarik-narik kaos Elang.

“Iya… tapi sebentar saja ya Sayang, Ayah dan Kak Nura harus pergi sebentar. Kanara nanti ditemenim Bu Yati dulu,” jawab Elang sambil mengacak rambut Kanara. 

Kanara mengangguk ceria.

**********

Di dalam mobil menuju pemakaman, Elang terus menggenggam tangan Nura. Bukan genggaman posesif, melainkan genggaman seseorang yang mencari pegangan agar tidak semakin hanyut oleh kesedihan dan tekanan.

Udara di area pemakaman itu terasa berat, seolah awan mendung sengaja berhenti di atas nisan Pak Hendra. Elang melangkah pelan. Di sampingnya Nura berjalan dalam diam, tangannya masih dalam kaitan jemari Elang, sebuah gesture yang meski sederhana, menjadi alasan satu-satunya Elang tidak ambruk saat itu juga. 

Begitu mereka mendekati area liang lahat, suasana mendadak senyap. Tatapan penuh duka dari para pelayan berubah menjadi tatapan penuh selidik. Di sana, berdiri keluarga pak Hendra yang tampak hancur, terutama sang istri yang terus memeluk foto suaminya dengan tangan gemetar. 

Elang melepas genggamannya pada Nura sesaat untuk mendekat. Ia membungkuk dalam di hadapan istri Pak Hendra.

“Ibu… saya… saya tidak tahu harus bicara apa. Saya benar-benar minta maaf,” suara Elang pecah. 

Istri pak Hendra mendongkak. Tidak ada sorot marah, hanya kehampaan yang ada dalam matanya. “Pak Hendra sangat menyayangi Anda, Nak Elang. Bahkan, di surat terakhirnya dia tidak menyalahkan Anda. Dia hanya takut… dia hanya ingin melindungi cucunya."

Kalimat itu seperti sembilu yang menyayat dada Elang. Rasa bersalahnya membuncah, membuat matanya kembali memanas. Ia hanya bisa mengangguk, kemudian berlalu mengambil tempat di belakang kerumunan.

Selesai prosesi tabur bunga, Bu Sofia mendekat ke tempat Elang dan Nura berdiri. Tatapannya yang tajam ke arah Nura membuat bulu kuduknya meremang. Sejak turun dari mobil tadi, Nura bisa merasakan tatapan Bu Sofia mengunci padanya. 

Ia mengenakan pakaian hitam yang elegan, kacamata hitam besar menutupi matanya, namun bibirnya melengkung sinis menatap sosok di samping anaknya. 

“Saya pikir kamu cukup pintar untuk mengerti peringatan saya waktu itu, Nura,” ujarnya pada Nura dengan suara tenang yang mematikan. “Berada di samping Elang dalam acara seperti ini… Apa menurutmu itu pantas? Kamu hanya seorang pengasuh.”

Nura merasakan jemarinya mendingin. Ia hendak melepaskan genggaman tangan Elang agar tidak memperkeruh suasana, namun Elang justru mengunci jemari mereka lebih erat. 

“Bu, cukup,” potong Elang dengan nada rendah tapi penuh penekanan. “Nura di sini karena aku yang memintanya. Aku yang membutuhkannya.”

“Kamu membutuhkannya karena kamu sedang lemah, Elang!” suara Bu Sofia naik satu oktaf, membuat beberapa pelayat menoleh. “Jangan campur adukkan simpati dengan kenyataan. Dia hanya seorang gadis muda yang kebetulan ada saat kamu terpuruk.”

Bu Sofia kembali beralih pada Nura, memberikan tatapan menelanjangi. “Lihat orang-orang di sekelilingmu. Apa yang akan mereka pikirkan melihat pewaris Wiratama menggandeng seorang pelayan.”

Nura menunduk diam, tangannya meremas ujung blus hitamnya. Rasa ‘tahu diri' yang tadi pagi sempat ia singkirkan, kini kembali menghantamnya dengan kekuatan penuh. 

“Aku… aku sebaiknya tunggu di mobil saja, Mas,” bisik Nura, suaranya bergetar.  Ia hendak berbalik,  namun Elang dengan cepat menahan tangannya. 

“Tetap di sini, Ra,” perintah Elang tegas. Ia lalu menatap ibunya dengan mata menyala. “Ibu bicara soal nama baik? Nama baik perusahaan ini sedang dipertaruhkan karena ada ‘iblis’ yang bermain di dalamnya, dan Ibu lebih peduli soal siapa yang berdiri di sampingku?”

“Elang!” Bu Sofia mendesis. “Jangan mempermalukan keluarga kita lebih jauh. Suruh dia pergi sekarang atau aku yang akan menyeretnya keluar dari rumahmu. Tidak peduli dengan Kanara!”

Situasi mulai memanas, beberapa pelayat mulai berbisik-bisik, mengalihkan perhatian dari prosesi doa. Nura bisa merasakan tatapan menghakimi dari orang-orang di sekitar Bu Sofia.

“Maaf, Bu,” Nura akhirnya angkat bicara, meski suaranya kecil namun stabil. Ia menatap mata Bu Sofia dengan sedih namun tidak lagi ketakutan. “Saya tahu posisi saya. Saya datang ke sini bukan untuk mencari perhatian, tapi untuk menguatkan Mas Elang…”

“Apa katamu?! Mas…?” Bu Sofia mendelik. “Berani kamu memanggil atasan–”

Sebelum Bu Sofia sempat menyelesaikan kalimatnya, Elang melangkah maju, memposisikan dirinya tepat di depan Nura, melindunginya dari tatapan tajam ibunya.

“Jika Nura pergi, aku juga akan pergi,” ucap Elang dingin. “Dan jangan harap aku akan menginjakkan kaki di kantor atau rumah besar itu lagi sampai Ibu belajar cara menghargai orang yang kupilih untuk di sampingku.”

“Ayo, Ra. Kita pamit pada keluarga Pak Hendra, lalu kita pulang.”

1
Meee
Yeay, selamat kepada Elang dan Nura 🥳 akhirnya Kanara punya Ibu, hihi.
Alfatia🌷
Paniknya Kanara sama sakitnya Ayah Elang, nembus layar banget.
Alfatia🌷
Ayah Elang gimana sih, Kanara masih tahap pengobatan, kenapa dibiarin sekolah. Nggak ambil home schooling dulu apa.
GreenForest
panas banget kalau othor budak bikin kaya gini mah 🤭
GreenForest
gak jadi nikah siri berarti ya
Rivella
kayaknya Elang mulai suka sama Nura deh🤭
Icha sun
selamat ya Nura, moga bahagia terus
Icha sun
gitu dong Ra, harus jadi wanita kuat jgn gampang nyerah
Icha sun
ortunya Elang nih egois bgt deh
Icha sun
rasa bersalah itu jauh lebih menyakitkan ya Ra
Icha sun
Nura aslinya sayang bgt sama kalian😢
suryani duriah
jangan2 mentari n aditya mencurigakan bgt🤔🤔lanjuut👍👍
imel
tiba tiba banget Barra 🤭
Nuri_cha: hahahaha.... salah novel. makasih kak udah detail
total 1 replies
WDY
lho kenapa gak nikahi di KUA aja dulu. kenapa harus siri si pak elang
WDY
Wah... elang otw halalin Nura dok🤭🤭🤭
WDY
ya Allah thor kasihan banget sama Kanara😭😭😭
WDY
Oalaaa.... Siska Siska dasar edan. bisa bisa nya lu 😤😤😤😤
D'Mas0712
mantap... lanjutkan bro halalin
D'Mas0712
waduh kasian kanara. syo sadar kak nura uda dateng
D'Mas0712
siska wanita edan.. elang ringkus aja tuh dia
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!