Hani Ravenna Arclight memiliki IQ 278 dan hidup dengan dua wajah. Di balik layar dunia digital, ia dikenal sebagai The Velvet Phantom, hacker profesional yang bergerak tanpa jejak. Di dunia nyata, ia menyembunyikan identitasnya dan menjalani hidup sederhana di sebuah kampung, menutupi masa lalu dan nama besar keluarganya.
Pertemuannya dengan Darren Maximilian Vireaux mengguncang ketenangan yang ia bangun. Darren memaksanya kembali menghadapi dirinya sendiri bukan sebagai bayangan, melainkan sebagai Hani Ravenna Arclight yang sesungguhnya.
Di antara rahasia dan pilihan, Hani harus menentukan: tetap bersembunyi, atau berani kembali ke cahaya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon woonii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bodoh
"Kau tidak akan pernah lari lagi dibawah kekuasaan ku Velvet, aku akan membuat mu tunduk kepadaku" ucap Steven dengan senyum licin nya. Di dunia bawah sering kali Hani dipanggil sebagai Velvet karena tidak ada yang mengetahui identitas aslinya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Malam menggantung rendah di kampung halaman Hani, sunyi seolah ikut menahan napas. Di rumah lama yang menyimpan terlalu banyak kenangan, ia duduk tenang menatap layar, memantau gerak anak buah Steven yang berputar-putar tanpa arah. Kebodohan mereka terasa nyaris menyedihkan.
Setelah The Velvet Phantom menghilangkan jejaknya hingga ke akar, mereka justru berusaha menemukannya kembali bukan untuk memburu, melainkan mengajak bekerja sama. Mereka tak pernah benar-benar mengenalnya. Hani tak pulang untuk berdamai. Langkah awal penghancuran telah ia lepaskan, dan virus asing yang melumpuhkan perusahaan utama Steven hanyalah salam pembuka. Malam ini, ia tak bersembunyi—ia menunggu.
"Bodoh" ucap Hani datar.
Hani memulai strategi baru nya untuk mengecoh para anak buah Steven, ia memasukkan alamat IP milik The Velvet Phantom di beberapa negara secara bergantian, alamat IP itu akan berpindah posisi letak alamat negara selama 3 jam sekali.
"Finished, have a good game with me steven" (Selesai, selamat bermain main dengan ku Steven) ucap Hani sembari menyandarkan punggung kecil nya ke kursi.
'Ayah, ibu aku akan membalaskan semua ini. Walaupun kalian bukan lah orang tua kandung ku tetapi aku sangat menyayangi kalian, kalian telah menjaga ku dengan baik selama bertahun-tahun ini.' batin Hani tersenyum samar, ia sadar bahwa ikatan batin dengan orang tua angkat nya itu cukup kuat sehingga ia bisa merasakan firasat buruk sewaktu kejadian kecelakaan mereka.
Dreett... drettt
Dering ponsel diujung meja membuyarkan lamunan Hani, dengan malas ia meraih ponsel itu dan menatap layar yang sedang menyala.
"Ck dia terlalu berisik hari ini" ucap Hani malas ketika melihat bahwa yang menghubungi nya adalah Darren.
"Halo sayang, kamu tidak merindukan ku?" ucap Darren semangat ketika Hani sudah mengangkat sambungan telepon itu.
Hani sedikit jijik mendengarkan nada bicara Darren, seorang mafia yang terkenal kejam dan dingin kini berubah menjadi alay menurutnya. "Tidak sama sekali" ucap Hani datar tidak periang seperti biasanya, karena dia sedang pada mode dewasa bukan anak-anak.
Dahi Darren berkerut bingung mendengar nada bicara Hani yang terdengar ketus dan tidak ramah. "Apa Raven mengambil alih dirimu sayang?" tanya nya.
"Tidak" jawab Hani yang masih sama singkatnya.
"Lalu?" tanya Darren ambigu.
"Jangan mengganggu ku malam ini, atau akan ku penggal kepala mu itu Darren" ucap Hani tegas, untuk pertama kalinya ia berani memanggil langsung nama Darren tanpa sebutan yang seperti biasanya, ia langsung mematikan sambungan telepon setelah mengucapkan hal itu.
tutt
Darren semakin tidak mengerti mengenai sikap Hani yang tiba-tiba berubah tanpa alasan. Tepat beberapa menit kemudia Jack masuk ke dalam ruangan pribadi Darren di markas nya yang berada di Indonesia untuk memberikan informasi mengenai pendistribusian senjata legal milik Vireaux Dominion.
"Tuan, pendistribusian malam ini berjalan dengan lancar walaupun tadi ada beberapa kendala dari penjaga pelabuhan tapi kami sudah berhasil mengatasi nya, dan saat ini senjata senjata pesanan sudah tiba di Meksiko" ucap Jack yang langsung memberikan informasi.
"Bagus, aku ingin menanyakan satu hal padamu Jack" ucap Darren.
"Ya tuan?" jawab Jack, ia menduga bahwa tuannya ini akan menanyakan mengenai calon nyonya nya.
"Mengapa sikap perempuan berubah-ubah, bahkan gadisku sekarang bersikap cuek padaku. Dulu ketika aku dengan j*lang itu dia hanya mementingkan uang ku saja, tetapi apakah menurutmu gadisku juga sama seperti itu?" ucap Darren yang sudah seperti isi curhatan hati.
Jack sedikit melongo akan ucapan Darren tetapi ia buru buru menetralkan ekspresi nya. "Sepertinya mood nyonya sedang buruk tuan, dan saya rasa nyonya Hani tidak seperti masa lalu anda, terlebih lagi nyonya Hani suka berbagi dengan sesama dan tidak boros seperti perempuan lain diluaran sana" jelas Jack menurut pendapat nya.
Darren menatap sinis ke arah Jack. "Mengapa kau sangat paham mengenai wanita? apa kau sudah pernah mencoba berhubungan dengan wanita diluaran sana?" tanya Darren dengan tatapan menyelidik.
Glukk
Jack menelan ludahnya dengan susah payah karena melihat tatapan Darren yang mencurigai nya. "Tidak pernah tuan, saya hanya menebak nebak saja" ucap nya cepat, karena memang ia tidak berbohong akan hal itu.
Darren menghela nafas kasar. "Jadi kau menyukai gadis ku hah?!" duga Darren.
'Aku akui memang nona Hani itu cantik, tetapi mana mungkin aku berani menyukai nya' batin Jack. "Tidak tuan, karena nona Hani milik anda seorang" jawab Jack.
Darren mengangguk anggukan kepalanya, merasa puas akan jawaban Jack. "Bagus, kau harus paham akan hal ini" ucapnya.
Jack hanya menunduk sedikit hormat. "Tentu tuan" ucapnya dan masih berada pada posisinya yang berdiri di sebelah Darren.
ting
Dua notifikasi masuk pada ponsel Darren, dan yang mengirimkan pesan adalah sang gadis pujaan hati nya yaitu Hani sehingga membuat Darren secara tidak sadar menyunggingkan senyuman nya tanpa ia tahan tahan.
Jack sedikit terkejut ketika dapat melihat raut bahagia dari tuan nya, terlebuh lagi Darren yang terkenal datar dan dingin kini sedang tersenyum sembari memandangi ponsel nya. Jack yakin bahwa Darren sedang membaca notifikasi pesan dari calon nyonya kecil nya itu.
"Mungkin untuk beberapa hari ini anak buah Steven akan mencari tahu siapa dalang dari kekacauan yang terjadi diperusahaan nya, dan mereka juga akan segera melakukan semua cara untuk membuat saham saham yang berada pada genggaman mu agar dapat kembali ke tangan Steven. Jadi aku ingin kau untuk tetap mempertahankan saham saham itu dibawah kekuasaan mu, dan suatu saat aku akan membantumu untuk membuat Steven mau menyerahkan kembali saham 5% diperusahaan mu itu sesuai perintah dari mendiang kakekmu" Pesan yang Hani kirimkan pada Darren, karena Hani tidak ingin usaha nya dalam menjatuhkan Steven tidak berguna.
Darren tampak berfikir sejenak setelah membaca pesan dari Hani. 'Dari mana dia mengetahui tentang perintah kakek untuk membuat pria brengsek itu menyerahkan kembali saham perusahaan keluarga ku, aku bahkan tidak pernah membicarakan hal itu secara sembarangan. Dia selalu membuatku semakin penasaran akan siapa dirinya ' pikir Darren.
"Baiklah sayang, aku akan selalu menuruti permintaan mu" jawab Darren singkat.
Beberapa saat kemudian Hani membalas pesan dari Darren yang membuat pria dingin itu terkekeh. "Stop memanggilku dengan sebutan SAYANG, aku bukan pacarmu!!!!!!!!" tulisnya.
"Jadi kau mau dipanggil apa hm? princes, baby, queen, my love, sweetie, atau apa?" jawab Darren semangat hingga melupakan bahwa Jack masih memperhatikan nya.
"Dasar om om kutub nyebelin, itu terlalu alay tau. DAN SAYA TIDAK INGIN BERHUBUNGAN DENGAN ANDA!" ketik Hani setelah beberapa saat menerima balasan chat dari Darren.
Darren hanya membaca pesan yang menurutnya sangatlah lucu itu tanpa berniat membalasnya, karena ia tahu akan berdebat sepanjang malam dengan pujaan hatinya itu jika menuliskan satu kata yang salah.
...****************...
Pagi dikampung Hani selalu datang dengan cara yang lembut, seolah waktu pun tahu diri untuk melangkah perlahan. Kabut tipis masih menggantung diantara batang-batang pohon, menyentuh atap rumah kayu dan ladang yang basah oleh embun. Udara sejuk menyelinap melalui celah jendela, membawa aroma tanah, rumput, dan sisa hujan malam yang belum sepenuhnya pergi. Ayam-ayam berkokok bersahutan, sementara suara langkah kaki warga yang mulai beraktivitas terdengar samar, tenang, teratur, dan jauh dari hiruk-pikuk dunia yang pernah Hani tinggalkan.
Dirumah sederhana diujung jalan itu, pagi terasa seperti jeda. Sebuah ruang aman tempat Hani bisa bernafas tanpa harus menoleh ke belakang. Kampung ini tidak banyak berubah; ia masih menyimpan kenangan yang sama tentang tawa yang sederhana, tentang sunyi yang jujur. Dan tanpa disadari disinilah namanya kembali berdenyut, pelan namun pasti, dibenak seseorang yang berada jauh dari sana.
Darren berdiri di depan jendela apartemen nya, menatap kota yang bar mu saja terbangun. Cahaya pagi memantul di gedung-gedung tinggi, dingin dan asing. Tangan nya menggenggam cangkir kopi yang sudah mendingin, pikiran nya tak lagi berada pada ruangan itu. Ada jarak yang ingin ia tempuh, bukan sekedar lintasan jalan, melainkan batas antara dua dunia dunia yang selama ini ia kuasai, dan dunia Hani yang tenang namun tak pernah benar-benar ia pahami.
Keputusan itu tak lahir dari dorongan sesaat. Ia matang, diam, dan penuh perhitungan. Darren tahu, perjalanan ke kampung Hani bukan sekedar kunjungan. Itu adalah langkah berani untuk mendekat pada sesuatu yang selama ini hanya ia simpan sebagai kekaguman yang tak terucap. Senyum tipis terbit di sudut bibirnya. Pagi ini diantara sejuk kampung yang belum ia lihat dan rindu yang tak pernah ia akui, Darren akhirnya bergerak menuju Hani, sang pujaan hati, dan pada jawaban yang mungkin telah lama menunggunya.
Darren mengeluarkan ponsel nya dari dalam saku, ia memerintahkan Jack untuk mempersiapkan kepergian nya menuju ke kampung pujaan hatinya itu. Entah apa yang membawanya kesana, tapi yang pasti ia sangat merindukan gadisnya sekaligus berencana untuk menanyakan siapa Hani yang sebenarnya.
Hani menggeliat pelan diatas tempat tidur nya, ia terusik akan cahaya matahari yang menyelinap dari sela sela jendela kamar tidurnya. Hani mulai membuka mata dengan perlahan dan menatap langit langit kamar.
"Pagi, dan dunia masih sama. Tenang seperti semula, tetapi dibalik itu ada pergerakan pasti dibalik bayangan yang tak terbantahkan" gumam Hani pada diri sendiri.
Hani memulai kegiatan nya seperti biasa, ia selalu mandi dipagi hari lalu memasak untuk sarapan. Rencananya hari ini ia akan mengunjungi makam kedua orang tua angkat nya yang tak lain ialah Tio Mahendra dan Lilis setiawati.
Hani menyantap sarapan nya seorang diri dapur rumahnya, sesekali pikiran nya kalut pada permasalahan hidupnya yang sampai saat ini belum terselesaikan, ia lelah tetapi tidak ada pilihan lain kecuali bertahan dan bangkit.
"Huh aku sangat merindukan kakek dan juga papa mama, bagaimana kondisi mereka saat ini?" tanya Hani pada dirinya sendiri.
tintinnnn
Suara klakson dari luar rumah memecah pikiran Hani yang sedang kalut pada permasalahan, ia bangkit dari duduknya kemudian membuka pintu rumah belakang. Tampak Mutia sang sahabat sedang duduk diatas motor miliknya dengan senyum manis ala wajah lokal Indonesia nya itu.
"Selamat pagi besti, salam hangat salam sejahtera. Hari ini aku lagi ga ada kerjaan nih makanya aku main kesini" ucap nya sembari turun dari motor dan menghampiri Hani sang sedang berdiri didepan pintu dengan sedikit melongo.
Hani menaikkan satu alisnya. "Kamu ga bantuin ibu mu jualan di pasar?" tanya nya.
Mutia menggeleng cepat mendengar pertanyaan Hani. "Engga ibuku ada karyawan baru kemarin, jadi aku bantu bantu kalau lagi kirim barang aja" jawabnya.
Hani mengangguk paham akan jawaban Mutia. "Kalau begitu nanti kamu temenin aku untuk pergi ke makam kedua orang tua ku" ucapnya.
"Sip, aku ikut deh" jawab Mutia setuju.
Sebelum Hani sempat untuk mengajak Mutia masuk ke dalam rumahnya, suara bariton tegas yang cukup ia kenal mengalihkan konsentrasi nya.
"Kau tidak mengajakku sayang?" ucap orang itu yang tidak lain adalah Darren, setelah menempuh perjalanan selama beberapa jam untuk menemui pujaan hatinya itu, akhirnya ia telah sampai ke lokasi tujuan.