Keinginan Zella, dia ingin tetap menjalani kehidupan tenang dan damainya dengan status janda. Namun hal itu terbentur oleh keadaan yang memaksanya harus menjadi istri kedua pria yang tak dia kenal. Zella dipaksa keadaan masuk dalam rumah tangga orang lain.
Hal ini sangat Zella benci, biduk rumah tangganya dulu hancur karena orang ketiga, namun kini dirinya malah jadi yang ketiga. tapi Zella tak berdaya menolak keadaan ini.
Akankah kehidupan damai berpoligami bisa Zella jalani dengan keluarga barunya? Ataukah malah masuk ke dalam sebuah neraka yang tak berdasar? Ataukah ada keajaiban yang membuka jalan pilihan lain untuk Zella, agar tak masuk dalam paksaan itu?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon heni, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
21. Dia Alasanku
Melihat istrinya begitu antusias membaca profil Abi, Arfa mengambil laptopnya dari Alea.
"Ayank, aku belum selesai baca ...."
"Udah cukup bacanya, pikiranmu makin sesat!"
"Aku janji ayank, aku nggak sesat kok." Alea kembali membaca informasi tentang Abi.
"Beneran nggak sesat?"
"Janji ayank ...."
Arfa menyerahkan lagi laptopnya pada Alea. Alea begitu bahagia dan kembali membaca artikel yang memuat informasi tentang Abi.
Menikah dengan seorang gadis bernama Fatma, dikaruniai 1 orang anak, namun kecelakaan menimpa Abi, membuatnya harus duduk di kursi roda. Demi menjaga bisnis Abi agar tetap berjalan, Fatma menikahkan Abi dengan seorang gadis bernama Anjani. Fatma memberi keterangan dia ingin fokus menjaga kerajaan bisnis Abi, namun butuh seseorang yang menjaga Abi.
"Busyet! Poligami!" Alea berdecak kesal karena apa yang dia baca.
Fatma rehat sejenak dari dunia bisnis saat kehamilan keduanya. Namun 2 tahun setelah Fatma melahirkan, Fatma kembali ke dunia bisnis. Namun saat itu keadaan bisnis Abi kian merosot. 1 tahun Fatma berjuang tetap tak bisa menyelamatkan beberapa perusahaan yang bangkrut hingga di akuisisi pihak lain.
Perjuangan Fatma terhenti saat kecelakaan maut yang dialaminya hingga merenggut nyawanya. Tak berselang lama dari kecelakaan yang Fatma alami, istri kedua Abi yang bernama Anjani juga mengalami kecelakaan dan membuatnya harus duduk di kursi roda.
"Jadi-- Zella akan menjadi istri kedua?" ucap Alea tak percaya.
"Bisa jadi. Karena tak ada kabar Abi bercerai dari Anjani istri kedua yang kini jadi istri satu-satunya."
"Apa ada sesuatu yang membuat Zella terpojok hingga harus menjadi istri kedua?"
"Sudah, sudah. Apa pun keputusan Zella menikah dan jadi yang kedua. Itu urusan dia!" Arfa langsung mengambil laptopnya dari Alea.
***
Sekembalinya ke Rumah Sakit, Zella hanya turun seorang diri membawa belajaan yang dia beli sebelumya. Abi beralasan ada pekerjaan bersama Miko hingga dia tak bisa kembali ke ruang perawatan Rayhan. Zella memaklumi hal itu. Dia akan memikirkan alasan yang bisa diterima oleh kedua anak itu ketika melihat Ayah mereka tak kembali bersama Zella.
"Hai, maaf ya tante lama." Zella masuk ruang perawatan Rayhan sambil menenteng kantong belanjaan.
"Ayah mana tante?" tanya Rihana.
"Ayahmu sama om Miko ada pekerjaan, jadi mereka harus pergi. Maafin Ayah kalian ya. Ayah kalian juga kerja keras buat kebahagiaan kalian."
"Tante santai aja, aku dan adek udah biasa ditinggal kerja oleh semua orang, dari Nenek, om Thom, almarhumah ibu juga sibuk kerja."
"Oh iya, tante sudah dapat izin Ayah kalian buat ziarah ke makam ibu kalian!"
"Beneran tante?"
"Wajah tante ada aura-aura pembohongnya gitu?"
"Enggak lah, wajah tante cantik! Dan aku suka!" Rihana berlari kearah Zella dan mencium wajah wanita itu.
"Aku juga mau cium tante cantik boleh?" ucap Rayhan.
"Boleh, kamu anak kebanggaan kita semua." Zella memeluk Rayhan dan mempersilakan bocah 5 tahun itu menciumnya.
"Kapan kita ziarah ke makam ibu Fatma?" tanya Rihana
"Tunggu adik kamu sehat gimana? Kita ziarah bertiga!"
"Ide bagus. Terima kasih tante." Rihana memeluk Zella.
"Sudah main peluknya. Nanti ice cream adik kamu meleleh, dan jus kamu juga makin encer kalau kelamaan."
"Oh iya. Aku lupa." Rihana langsung membuka kantong belanja yang Zella bawa, memberi ice cream pada adiknya, sedang dia menikmati jus yang dia inginkan.
"Buah potong pesanan kamu, tante simpan di kulkas ya."
"Iya tante, makasih banyak udah mau kita repotin."
Zella tersenyum menatap kedua anak itu. Seketika rasa rindunya pada Tifa semakin kuat. Apa daya dirinya harus berada di kota ini sampai proses hukum yang menjerat Ayahnya selesai.
"Itu roti apa?" Rayhan mengisyarat roti yang masih ada dalam tas belanja.
"Ini?" Zella memperlihatkan roti yang ada di tangannya.
"Iya."
"Roti manis kesukaan tante, tante beli buat ganjel perut. Mau?" Zella mengambil satu roti lagi dan membawanya pada Rayhan. "Ice cream pakai roti enak loh." Zella merobek bagian roti dan mengoleskan ice cream pada roti itu. Lalu memberikannya pada Rayhan.
"Gimana?" tanya Zella.
"Enak tante. Aku suka. Boleh lagi?"
"Boleh dong." Zella memberikan roti itu pada Rayhan.
"Adek, nanti kita nginep di rumah Ayah. Biar kita punya banyak waktu main sama tante Zella."
"Iya kak. Aku mau."
***
Mobil Abi perlahan meninggalkan area Rumah Sakit, di dalam mobil yang melaju Abi fokus menyimak video rekaman yang diberikan Miko. Di sana terlihat 1 orang begitu tersiksa sambil memegangi perutnya. Tak jauh dari pria pertama ada seorang pria yang kejang-kejang.
"Seperti permintaan Pak Abi. Pelaku harus menerima rasa sakit yang sama namun berlipat ganda sebagai peringatan. "
"Sekarang mereka di mana?"
"Mungkin sudah diantar ke Rumah Sakit, tentu Rumah Sakit dengan layanan terburuk sebagai tempat merawat mereka."
"Bagus. Aku malas melawan langsung majikan mereka. Aku lebih suka membalas langsung orang suruhannya sebagai efek jera para penerima tugas. Menyiksa mereka sedemikian rupa semoga menjadi pertimbangan yang lain sebelum menerima pekerjaan yang merugikan aku."
"Semoga saja ada efek jera. Namanya otak kriminal, saat perbuatan jahat mereka dibalas. Mereka nggak mikir buat jera. Mereka hanya mikir buat membalas kembali."
"Terserah mereka. Yang jelas aku tidak akan mengusik siapa-siapa. Namun siapa saja yang mengusikku, akan ku balas dengan berkali-kali lipat!"
"Sejauh ini taktik Pak Abi berhasil membuat preman mereka berpikir ulang jika menerima pekerjaan yang merugikan Pak Abi. Karena mereka tahu Pak Abi tidak akan mencari dalang, untuk membalas. Tapi membalas langsung pada peng eksekusi dengan balasan yang berkali-kali lipat. Mungkin yang mencelakai Rihana dan Rayhan kemaren orang baru di dunia mereka, makanya mereka mau menerima tugas itu."
"Untuk sekarang pantau dulu. Kalau mereka mau membalas baru kasih pelajaran."
"Siap Pak Abi, sekarang kita mau ke mana?"
"Mau urus pabrik roti kita yang selama ini kita abaikan. Saatnya bantu pabrik roti itu bangkit, buka lowongan pekerjaan untuk pria yang banyak tanggungan juga janda-janda yang berjuang menghidupi anak mereka."
"Apa??" Miko sungguh terkejut dengan permintaan majikannya, selama ini Abi tak peduli lagi dengan bisnis-bisnis yang dulu dia bangun.
"Sekalian urus pemindahan pemilik pabrik itu. Pindahkan kepemilikan pabrik itu atas nama Zella."
"Baik." Miko mengulum senyuman, kini dia mengerti mengapa ada semangat dalam diri Abi untuk membangun kembali bisnis yang diambang kematian.
"Zella menyukai roti itu, aku menjanjikan roti itu sebagai hadiah pernikahan. Dia mengira aku akan memberinya roti, padahal niatku ingin memberinya pabrik roti itu."
"Wah-wah sepertinya Pak Abi beneran suka sama calon Nyonya baru."
"Bukan hanya suka, dia alasanku untuk bangkit. Dia alasanku untuk menguatkan kembali bisnis-bisnis yang jatuh karena ketidak pedulianku. Dia alasanku untuk tetap hidup sebagai Rakha Abimayu."
"Aku bahagia lihat Pak Abi bersemangat seperti ini. Dan aku sangat bahagia Pak Abi membatalkan rencana mematikan sosok Rakha Abimayu."
"Sekarang ada yang ingin aku bahagiakan dengan segala hal yang aku punya, termasuk menjamin kehidupan mereka." ucap Abi.
Miko segera melajukan mobil yang dia kemudikan menuju pabrik roti yang Abi maksud. Kedatangan mereka kali ini untuk membangkitkan kembali pabrik roti yang diabaikan pemiliknya.
Semoga kebangkitan pabrik roti ini awal buat kebangkitan bisnis lainnya. Harapan Miko.