NovelToon NovelToon
GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

GLOW UP : SAYONARA GADIS CUPU! (MISI MEMBUATMU MENYESAL)

Status: sedang berlangsung
Genre:Sistem / Crazy Rich/Konglomerat / Mengubah Takdir / Aplikasi Ajaib
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Kde_Noirsz

Hancurnya Dunia Aluna Aluna Seraphine, atau yang akrab dipanggil Luna, hanyalah seorang siswi SMA yang ingin hidup tenang. Namun, fisiknya yang dianggap "di bawah standar", rambut kusut, kacamata tebal, dan tubuh berisi, menjadikannya target empuk perundungan. Puncaknya adalah saat Luna memberanikan diri menyatakan cinta pada Reihan Dirgantara, sang kapten basket idola sekolah. Di depan ratusan siswa, Reihan membuang kado Luna ke tempat sampah dan tertawa sinis. "Sadar diri, Luna. Pacaran sama kamu itu aib buat reputasiku," ucapnya telak. Hari itu, Luna dipermalukan dengan siraman tepung dan air, sementara videonya viral dengan judul "Si Cupu yang Gak Tahu Diri." Luna hancur, dan ia bersumpah tidak akan pernah kembali menjadi orang yang sama.

Akankah Luna bisa membalaskan semua dendam itu? Nantikan keseruan Luna...

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kde_Noirsz, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 28 : SEDINGIN BERLIAN

Satu bulan telah berlalu sejak hari kelulusan yang berdarah di SMA Pelita Bangsa. Nama Aluna Seraphine kini menghiasi tajuk utama setiap media bisnis di Asia. Foto dirinya yang mengenakan gaun hitam dengan tatapan mata sedingin es menjadi simbol kekuatan baru di jagat korporasi. Namun, di balik pintu emas kantor pusat Seraphine Global, suasananya justru mencekam.

Luna duduk di belakang meja mahoni besar yang dulu milik Madam Celine. Ruangan itu kini terasa lebih luas, lebih sunyi, dan jauh lebih dingin. Ia sedang meninjau dokumen penyitaan aset keluarga Paman Hendra. Tidak ada keraguan di jarinya saat ia membubuhkan tanda tangan yang akan membuat Valerie dan ayahnya hidup di jalanan selamanya.

Tok, tok, tok.

Xavier masuk. Ia mengenakan setelan jas hitam yang sempurna, namun aura di sekelilingnya telah berubah. Ia tidak lagi bicara kecuali jika ditanya. Ia adalah bayangan yang patuh, tepat seperti hukuman yang dijatuhkan Luna sebulan lalu.

"Nona, laporan pengasingan Madam Celine sudah masuk," suara Xavier datar, hampir tanpa emosi. "Beliau sudah berada di villa Zurich. Semua akses komunikasi telah diputus sesuai perintah Anda."

Luna tidak mendongak. "Apakah dia mencoba melawan?"

"Tidak. Beliau hanya menitipkan satu pesan: 'Hati-hati, Aluna. Berlian yang terlalu keras akan mudah pecah.'"

Luna berhenti menulis. Ia menarik napas panjang, merasakan sesak di dadanya yang kian hari kian berat. "Dia masih mencoba mengguruiku, bahkan setelah aku membuangnya. Xavier, siapkan mobil. Aku ingin mengunjungi Bibi Siti."

"Bibi Siti menolak untuk pindah ke mansion, Nona. Beliau memilih tetap di rumah kontrakannya yang lama," jawab Xavier pelan.

Luna akhirnya mendongak. Matanya yang tajam menatap Xavier dengan kilatan amarah yang tertahan. "Dan kamu membiarkannya? Aku adalah pemilik Seraphine! Aku bisa membeli seluruh lingkungan itu!"

"Beliau bilang... beliau tidak mengenali gadis yang berdiri di atas panggung hari itu, Nona," bisik Xavier.

Hantaman itu lebih sakit daripada tamparan Valerie. Luna terdiam, tangannya yang memakai cincin stempel Seraphine sedikit gemetar. Ia memiliki dunia di tangannya, tapi ia kehilangan satu-satunya orang yang mencintainya dengan tulus.

Malam itu, Luna bersikeras pergi ke rumah kontrakan Bibi Siti di pinggiran Jakarta, namun ia tidak turun dari mobil. Ia hanya menatap dari balik kaca jendela limusin yang gelap. Ia melihat Bibi Siti sedang menjemur pakaian di bawah lampu jalan yang remang-remang, pemandangan yang dulu sangat akrab baginya.

Tiba-tiba, sesosok pria muncul dari kegelapan gang. Itu adalah Kevin.

Luna mengernyit. Kevin, yang kakinya masih sedikit pincang, membantu Bibi Siti mengangkat bak pakaian. Mereka tampak berbincang akrab, bahkan Bibi Siti memberikan senyum hangat yang sudah lama tidak Luna lihat.

"Kenapa Kevin ada di sana?" tanya Luna dingin pada Xavier yang duduk di kursi depan.

"Kevin bekerja di toko komputer dekat sana, Nona. Sepertinya dia sering membantu Bibi Siti sejak kejadian di sekolah. Dia merasa berhutang nyawa pada Anda, dan cara dia membayarnya adalah dengan menjaga satu-satunya keluarga Anda yang tersisa," jelas Xavier.

Luna merasakan kecemburuan yang aneh. Ia yang memiliki segalanya, justru merasa iri pada Kevin yang bisa berada di dekat Bibinya. Ia ingin turun, ia ingin memeluk Bibinya, tapi ia takut. Ia takut jika Bibinya melihat "Seraphine" yang kejam, bukan "Luna" yang malang.

"Jalan," perintah Luna singkat. "Bawa aku ke bar paling sepi di kota ini."

"Nona, Anda ada rapat dewan direksi besok pagi pukul tujuh," Xavier mengingatkan.

"Xavier," Luna mencondongkan tubuhnya ke depan, suaranya berbisik tepat di telinga Xavier. "Ingat hukumanmu? Kamu adalah bayanganku. Bayangan tidak punya suara untuk melarang. Jalankan mobilnya."

Xavier mengepalkan tangannya di atas kemudi. "Baik, Nona."

Bar itu terletak di lantai paling atas sebuah hotel mewah, namun kosong karena Luna telah menyewa seluruh tempat itu. Ia duduk sendirian dengan segelas wiski mahal yang tidak ia sentuh. Xavier berdiri beberapa langkah di belakangnya, setia seperti anjing penjaga.

"Kemarilah, Xavier," panggil Luna. "Duduk dan minum denganku."

"Saya sedang bertugas, Nona."

"Ini perintah."

Xavier akhirnya duduk di depan Luna. Ia menatap wajah Luna yang kini terlihat sangat lelah di bawah lampu remang-remang bar. Topeng ketangguhan itu mulai retak.

"Kenapa kamu tidak membenciku, Xavier?" tanya Luna tiba-tiba. "Aku menghukummu untuk menjadi budakku seumur hidup. Aku membuang Madam Celine yang membesarkanmu. Kenapa kamu tetap di sini?"

Xavier menatap langsung ke mata Luna. "Karena sepuluh tahun yang lalu, saat saya pertama kali menemukan Anda di selokan, saya melihat sesuatu yang tidak dimiliki Madam Celine. Saya melihat cahaya. Dan tugas saya bukan hanya menjaga tubuh Anda, Nona... tapi menjaga agar cahaya itu tidak benar-benar padam oleh kegelapan yang Anda pilih sekarang."

Luna tertawa sinis, matanya mulai berkaca-kaca. "Cahaya itu sudah mati, Xavier. Valerie dan Reihan membunuhnya. Nenekku menguburnya. Yang tersisa hanyalah Seraphine yang akan menghancurkan siapa pun yang berani menghalangi jalannya."

Luna berdiri, berjalan terhuyung menuju balkon bar yang menghadap ke kerlap-kerlip lampu Jakarta. Ia merasa seolah-olah seluruh kota ini berada di bawah kakinya, namun ia merasa seperti sedang berdiri di tepi jurang yang sangat dalam.

"Besok, aku akan meresmikan penutupan permanen SMA Pelita Bangsa," ucap Luna membelakangi Xavier. "Tempat itu akan dihancurkan dan dibangun menjadi panti asuhan atas nama ibuku. Itu adalah tindakan terakhirku sebagai 'Luna'."

Tiba-tiba, ponsel Xavier bergetar. Ia membacanya dan wajahnya berubah pucat. "Nona... kita harus pergi sekarang."

"Ada apa lagi?"

"Valerie. Dia melarikan diri dari tahanan rumah sakit jiwa saat dipindahkan sore tadi. Dan dia tidak pergi sendirian. Dia membawa dokumen rahasia yang bisa menghancurkan saham Seraphine besok pagi."

Luna berbalik, senyum dingin kembali terukir di wajahnya. "Dia ingin bermain lagi? Bagus. Aku butuh hiburan untuk membuktikan bahwa berlianku tidak akan pernah pecah."

Suasana di dalam limusin yang melaju kencang dari hotel menuju kantor pusat terasa mencekam. Suara ketikan jari Xavier pada laptop taktisnya menjadi satu-satunya bunyi yang memecah kesunyian. Di kursi belakang, Luna menggenggam erat gelas kristalnya hingga buku jarinya memutih.

"Bagaimana mungkin dia bisa kabur?!" desis Luna. Suaranya rendah namun penuh ancaman.

"Dia dibantu oleh sisa-sisa pengikut setia Paman Hendra yang masih berada di luar jangkauan hukum kita, Nona," lapor Xavier tanpa mengalihkan pandangan dari layar. "Mereka mencegat ambulans saat pemindahan ke Rumah Sakit Jiwa di Jawa Barat. Valerie tidak hanya membawa dokumen, dia juga membawa daftar pemegang saham yang selama ini tidak puas dengan kepemimpinan Anda yang dianggap terlalu otoriter."

Luna tertawa sinis. "Otoriter? Mereka hanya takut karena aku tidak bisa disuap seperti Nenek. Di mana posisi terakhirnya?"

"Sinyal ponsel yang diduga milik Valerie muncul di daerah perumahan lama di pinggiran kota. Dekat dengan sekolah yang sedang kita bongkar," jawab Xavier.

Mata Luna berkilat. "Dia kembali ke sana? Dia ingin menghancurkan tempat yang menjadi awal kehancurannya. Xavier, arahkan tim pengamanan ke sana sekarang. Tapi jangan tangkap dia dulu. Aku ingin bicara dengannya secara pribadi."

"Nona, itu terlalu berisiko. Valerie tidak punya apa-apa lagi untuk dipertaruhkan. Orang seperti itu adalah yang paling berbahaya," Xavier memperingatkan.

"Lakukan saja, Xavier! Jangan sampai aku harus mengingatkanmu lagi siapa yang memegang kendali di sini!" bentak Luna.

Gedung SMA Pelita Bangsa yang dulu megah kini tampak seperti kerangka raksasa di bawah sinar bulan. Setengah dari dinding depannya sudah roboh akibat alat berat. Di tengah puing-puing aula tempat "Penobatan Berdarah" terjadi, sesosok wanita dengan rambut berantakan dan pakaian lusuh berdiri menunggu.

Valerie. Ia memegang sebuah map tebal di tangan kirinya dan korek api di tangan kanannya.

Luna melangkah masuk ke area reruntuhan, diikuti oleh Xavier yang memegang senjata dengan waspada di belakangnya. Cahaya lampu mobil menyorot dari kejauhan, memberikan efek dramatis pada bayangan mereka yang memanjang di atas puing-peting.

"Kamu datang juga, Aluna," suara Valerie terdengar parau dan gila. "Atau haruskah aku memanggilmu 'Si Penjual Air Mata'?"

"Berikan dokumen itu, Valerie. Kamu hanya mempercepat kematianmu sendiri," ucap Luna dingin.

"Mati? Aku sudah mati sejak kamu mengambil rumahku, ayahku, dan namaku!" teriak Valerie. Ia mengangkat map itu tinggi-tinggi. "Di dalam sini ada bukti bahwa Madam Celine tidak hanya mengusir ibumu, tapi dia juga secara aktif mendanai kampanye hitam untuk menghancurkan keluarga para pesaingnya. Jika ini tersebar, saham Seraphine akan hancur menjadi debu dalam satu malam!"

Luna tersenyum tipis, melangkah maju selangkah demi selangkah. "Lakukan saja. Bakar dokumen itu atau sebarkan. Kamu pikir aku peduli pada saham? Aku sudah menghancurkan Nenekku sendiri. Kamu pikir aku takut perusahaan itu hancur?"

Langkah Luna terhenti tepat tiga meter di depan Valerie. "Tapi jika kamu melakukannya, kamu tidak akan punya daya tawar lagi. Kamu akan membusuk di penjara tanpa ada orang yang ingat namamu. Tapi jika kamu menyerahkannya padaku... aku mungkin akan memberimu satu tiket keluar dari negeri ini."

Valerie tampak bimbang. Tangannya yang memegang korek api gemetar hebat. Kegilaan di matanya mulai tergantikan oleh ketakutan yang murni. Ia menatap ke sekeliling, menyadari bahwa ia sudah dikepung oleh puluhan pengawal berbaju hitam yang muncul dari balik kegelapan reruntuhan.

"Kenapa... kenapa kamu masih mau memberiku kesempatan?" tanya Valerie terisak.

"Bukan karena aku kasihan padamu," jawab Luna, suaranya kini melunak namun tetap tegas. "Tapi karena aku tidak ingin kotoran sepertimu mengotori tangan ibuku di surga. Dia tidak pernah mengajarkanku untuk menjadi pembunuh."

Valerie jatuh berlutut, menangis tersedu-sedu. Ia melempar map itu ke arah kaki Luna. "Ambil... ambil semuanya. Aku hanya ingin pergi dari sini. Aku benci tempat ini! Aku benci menjadi Seraphine!"

Luna menatap map itu, lalu menatap Xavier. "Bawa dia. Pastikan dia sampai di bandara dan jangan biarkan dia kembali ke negara ini selamanya."

Saat Xavier menyeret Valerie pergi, Luna berdiri sendirian di tengah aula yang sudah hancur itu. Ia membuka map tersebut, namun matanya terbelalak saat melihat isi sebenarnya. Dokumen itu bukan tentang Madam Celine.

Dokumen itu adalah surat wasiat asli dari ibunya yang selama ini disembunyikan. Di sana tertulis "Aluna, jika suatu saat kamu membaca ini, jangan biarkan kebencian memakanmu. Kekayaan keluarga ini adalah kutukan. Pergilah dan temukan kebahagiaanmu sendiri."

Luna jatuh terduduk di atas puing-puing. Air matanya jatuh membasahi kertas tua itu. Ternyata, selama ini ibunya tidak ingin dia membalas dendam. Ibunya ingin dia lari.

"Maafkan aku, Ibu..." bisik Luna di tengah isak tangisnya. "Aku sudah melangkah terlalu jauh ke dalam kegelapan ini."

Tiba-tiba, suara tepuk tangan terdengar dari kegelapan di atas balkon aula yang belum roboh. Sesosok pria misterius muncul dari balik bayang-bayang. Bukan Xavier, bukan pengawalnya.

"Sangat menyentuh, Nona Seraphine. Tapi sayangnya, permainan baru saja dimulai."

Luna segera berdiri, menghapus air matanya dengan kasar. Suara tepuk tangan itu bergema di aula yang kosong, terdengar begitu tajam dan mengejek. Dari balik pilar beton yang retak di lantai dua, pria itu melangkah perlahan menuju sorotan lampu.

Dia mengenakan setelan jas abu-abu perak yang tampak berkilau di bawah cahaya bulan. Wajahnya tampan namun matanya memiliki kedinginan yang bahkan melampaui Madam Celine.

"Siapa kamu?!" Luna berseru, tangannya secara insting mencari belati kecil di balik jasnya.

"Perkenalkan, namaku adalah Aris Seraphine," pria itu membungkuk dengan gaya aristokrat yang sempurna. "Aku adalah sepupu jauhmu dari cabang London. Seseorang yang selama sepuluh tahun ini menunggu Madam Celine melakukan kesalahan fatal... dan kesalahan itu adalah memilihmu sebagai ahli waris."

Xavier yang baru saja kembali dari mengantar Valerie, langsung melesat ke depan Luna, menodongkan senjatanya ke arah Aris. "Berhenti di sana! Tidak ada nama Aris dalam daftar keluarga inti!"

"Tentu saja tidak, Xavier," Aris tertawa ringan. "Madam Celine menghapus namaku saat aku mencoba memperingatkan dewan direksi bahwa ibunya Aluna tidak gila. Aku diasingkan, tapi aku tidak diam. Aku membangun kekuatanku sendiri di Eropa. Dan sekarang, setelah Aluna menghancurkan reputasi keluarga melalui drama sekolah dan pengasingan Madam, dewan direksi memintaku untuk 'membersihkan' kekacauan ini."

Aris menunjukkan sebuah dokumen elektronik di pergelangan tangannya. "Aluna, saat ini juga, mayoritas pemegang saham telah menandatangani mosi tidak percaya padamu. Kamu dianggap terlalu emosional dan tidak stabil untuk memimpin Seraphine Global. Besok pagi, kamu bukan lagi pemilik perusahaan ini."

Luna merasa dunianya kembali berguncang. Ternyata, kemenangan yang dia raih hanyalah pembuka bagi pemangsa yang lebih besar. Aris bukan seperti Reihan yang bodoh atau Valerie yang emosional. Aris adalah produk dari sistem Seraphine yang paling murni: cerdas, licik, dan tanpa belas kasihan.

"Kamu pikir aku akan menyerahkan perusahaan ini begitu saja?" desis Luna.

"Kamu tidak punya pilihan, Aluna. Kamu baru saja membuang satu-satunya orang yang bisa melindungimu secara legal, yaitu Madam Celine," Aris berjalan menuruni tangga reruntuhan dengan tenang. "Sekarang kamu sendirian. Hanya ditemani oleh seorang asisten yang kamu perlakukan seperti budak."

Aris menatap Xavier dengan pandangan meremehkan. "Xavier, kamu adalah talenta yang luar biasa. Kenapa harus tetap bersama gadis yang membencimu? Bergabunglah denganku. Aku akan memberimu posisi yang layak, bukan sebagai bayangan, tapi sebagai tangan kananku."

Xavier terdiam. Luna bisa merasakan ketegangan dari tubuh Xavier yang berdiri tepat di depannya. Pikiran Luna berkecamuk. Benarkah Xavier akan pergi? Setelah semua hukuman yang kuberikan padanya?

"Xavier..." Luna berbisik, ada nada ketakutan yang tulus dalam suaranya untuk pertama kali.

Xavier tidak menoleh. Ia justru menurunkan senjatanya sedikit. "Tuan Aris, Anda benar. Nona Aluna telah memperlakukan saya dengan sangat buruk belakangan ini. Dia penuh kebencian dan egois."

Hati Luna serasa dicabut dari tempatnya. Namun, Xavier melanjutkan kalimatnya.

"...tapi dia adalah satu-satunya orang yang memiliki hak atas nama Seraphine di mataku. Karena hanya dia yang berani menghancurkan sistem busuk yang kalian banggakan. Jadi, jawaban saya adalah tidak. Dan jika Anda ingin mengambil takhtanya, Anda harus melangkahi mayat saya dulu."

Aris menghela napas panjang, tampak kecewa. "Sangat disayangkan. Loyalitas yang buta adalah penyakit."

Aris melambaikan tangannya, dan tiba-tiba, titik-titik laser merah dari penembak jitu muncul di dada Xavier dan kening Luna. Aris tidak datang sendirian; dia membawa tentara bayaran elit internasional.

"Malam ini akan dicatat sebagai kecelakaan konstruksi," ucap Aris dingin. "Dua orang tewas akibat runtuhan bangunan. Sangat tragis."

Di tengah maut yang mengintai, Luna justru merasa sebuah ketenangan yang aneh menyelimutinya. Ia teringat surat ibunya. Jangan biarkan kebencian memakanmu.

Luna melangkah maju, berdiri sejajar dengan Xavier, menepis tangan Xavier yang mencoba melindunginya.

"Aris!" teriak Luna. "Kamu ingin perusahaan ini? Ambil! Aku akan menandatangani pengunduran diriku sekarang juga. Tapi dengan satu syarat: Biarkan semua orang yang ada di pihakku pergi dengan aman. Xavier, Bibi Siti, dan Kevin. Jangan pernah sentuh mereka."

Xavier terbelalak. "Nona, apa yang Anda lakukan?! Jangan menyerah!"

"Aku tidak menyerah, Xavier," Luna menatap Xavier dengan mata yang kini penuh dengan air mata kelegaan. "Aku baru saja membebaskan diriku. Takhta ini... perusahaan ini... adalah penjara yang membunuh ibuku. Aku tidak ingin mati di dalamnya."

Luna menatap Aris. "Aku akan memberimu kuncinya, Aris. Tapi ingat, apa yang didapat dengan darah akan berakhir dengan darah juga. Apakah kamu siap menanggung beban itu?"

Aris terdiam. Ia tidak menyangka Luna akan melepaskan segalanya dengan begitu mudah. Bagi orang seperti Aris, kekuasaan adalah segalanya, dan melihat seseorang membuangnya demi keselamatan orang lain adalah sesuatu yang tidak masuk akal.

Luna menarik napas dalam, menatap reruntuhan sekolahnya. Malam ini, ia kehilangan hartanya, namun untuk pertama kalinya sejak sepuluh tahun lalu, ia merasa benar-benar bebas.

Call of Action:

Luna melepaskan takhta Seraphine! Sebuah keputusan gila yang mempertaruhkan segalanya demi keselamatan Xavier dan Bibinya. Apakah Aris akan menepati janjinya, ataukah ini adalah jebakan maut lainnya? Dan bagaimanakah nasib Luna tanpa nama besar Seraphine di belakangnya?

🔥 LIKE jika kalian bangga dengan keputusan Luna yang mengutamakan nyawa Xavier daripada harta!

💬 KOMEN : Apakah Luna sudah melakukan hal yang benar? Atau dia seharusnya melawan Aris sampai titik darah penghabisan?

📢 SHARE penutup update hari ini! Perjuangan Luna memasuki babak yang benar-benar baru!

1
azka aldric Pratama
hadir
Noirsz: hai kakak
total 1 replies
Noirsz
hihihi maafkan ya kakak🤭🤭
Panda
ada apa dengan nama dirgantara 😄

banyak yang pake ya nama itu di novel indo ..

titip jejak ya thor
Ayu Nur Indah Kusumastuti
😍😍 xavier
Ayu Nur Indah Kusumastuti
semangat author
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!