NovelToon NovelToon
Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Rahasia Di Balik Perpustakaan: Cinta Tanpa Izin

Status: sedang berlangsung
Genre:Teen School/College / Kehidupan di Sekolah/Kampus / Harem / Dark Romance
Popularitas:326
Nilai: 5
Nama Author: Khang Adhie

Kesempurnaan adalah ilusi.
Dan Tasya Andarini hidup dari ilusi itu.

Sebagai mahasiswi teladan dengan masa depan yang sudah tersusun rapi, Tasya percaya bahwa disiplin dan kendali adalah segalanya. Sampai dosen pembimbing memaksanya berpasangan dengan Dimas Ramadhan—playboy kampus dengan reputasi buruk, kecerdasan tersembunyi, dan masa lalu yang tak pernah benar-benar ia tinggalkan—untuk mengerjakan skripsi eksperimental yang menentukan kelulusan mereka.

Sejak awal, mereka saling membenci.
Tasya muak dengan sikap Dimas yang sembrono, tatapan tajam yang terlalu berani, dan cara bicaranya yang selalu menguji batas.
Dimas, sebaliknya, terganggu oleh sikap Tasya yang dingin dan perfeksionis—namun tak bisa mengabaikan ketegangan yang muncul setiap kali ia berdiri terlalu dekat.

Di antara deadline, aturan, dan hasrat yang tak lagi bisa disangkal, Tasya harus memilih: mempertahankan kesempurnaan yang rapuh, atau mempertaruhkan segalanya demi cinta tanpa izin.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Khang Adhie, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Chaos Di Kampus

“Mau sampai kapan lo nutupin masa lalu lo dari dia?” Rendi menyeringai, sudut bibirnya terangkat samar sambil menggerakkan dagunya ke arah Tasya.

“Dimas sama Andreas itu punya sejarah yang buruk,” sambung Reza, sengaja memanaskan suasana. “Harusnya lo sadar, kenapa orang tua lo mati-matian mindahin lo ke Surabaya.” Senyumnya mengembang, dingin dan penuh perhitungan.

“Sampai kapan lo bertahan dengan ego lo?” Rendi melanjutkan, lalu memperlihatkan sebuah foto—potret lama mereka di perusahaan yang pernah mengangkat nama Dimas, menjadikannya sosok yang disegani di kalangan penagih utang dan para kepala preman ibu kota.

“Gue nggak akan pernah balik,” pekik Dimas tegas, tubuhnya menegang dalam posisi siaga. Sedetik pun ia tak berani lengah. Ia tahu betul, target Reza bukan hanya dirinya—melainkan Tasya.

Beberapa bayangan muncul dari balik pilar gedung. Satu per satu mendekat, mengepung. Dua orang berlari lebih dulu, menyerang tanpa aba-aba.

“Argh!”

Sebuah pukulan datang dari samping. Dimas refleks mendorong Tasya untuk menjauh. Tinju itu menghantam dahinya telak.

“Brengsek!” Dimas mengumpat. Ia menendang kaki salah satu penyerang hingga oleng, lalu menarik tubuhnya dan  bogem mentah mendarat di wajah pria itu. Darah segar langsung mengalir dari hidungnya.

Serangan berikutnya datang dari belakang. Melenceng tipis. Dimas membungkuk cepat, lalu melamcarkan uppercut. Tubuh lawannya ambruk seketika.

Namun Reza tak tinggal diam. Tendangannya menghantam tubuh Dimas hingga terjungkal. Kepalanya nyaris membentur paving block.

Rendi memanfaatkan celah itu. Ia menarik tubuh Dimas dan mengunci lehernya dari belakang.

“Harusnya gue nggak perlu sampai kayak gini, Dim,” bisik Rendi, menekan kunciannya lebih dalam.

“DIMAS!” teriak Tasya panik.

Tangan Dimas terangkat setengah, memberi isyarat agar Tasya tetap di tempat.

“Tenang, Tasya.” Reza melangkah mendekat ke hadapan Dimas. “Gue cuma butuh tanda tangan dia.”

Ia mengeluarkan selembar kertas. “Habis itu, giliran gue nganterin lo ke bokap lo—yang dari tadi siang udah nunggu di bandara.” Di kertas itu tertera pengakuan bahwa Dimas telah membawa kabur Tasya dari rumah sakit.

“Maaf, Na… gue ngecewain lo.”

Tanpa aba-aba, Tasya berlari. Tas berisi laptop diayunkannya sekuat tenaga ke arah kepala Reza.

BRAK!

Reza tersungkur. Tasya kembali menarik tasnya dan mengayunkannya ke arah Rendi. Pria itu menangkis cepat, namun kunciannya mengendur sesaat—cukup bagi Dimas untuk menyundul wajah Rendi.

“Bajingan!” pekik Rendi saat darah muncrat dari hidungnya.

Dimas tak memberi waktu. Pukulan kanannya mendarat telak di wajah Rendi. Tubuh itu roboh tak bergerak.

Belasan anak buah Reza muncul dari arah gerbang, menerobos masuk ke area kampus.

“MALING!” teriak Tasya spontan.

“MALING! TOLONG!”

Orang-orang yang melintas berhenti. Kepanikan menyebar.

“Mas, cepet telepon polisi! Mereka mau ngerampok kampus ini!” teriak Tasya sambil menunjuk para pemotor.

Motor-motor itu terus melaju, menarik perhatian penghuni parkiran.

“Percuma lo nyuruh mereka nelpon polisi, Sya,” bisik Dimas sambil mundur perlahan, menarik tangan Tasya.

Reza bangkit tertatih, memegangi kepala belakangnya. Wajahnya mengeras.

“Gue pastiin lo berdua bakal tanggung akibatnya,” ucapnya sambil menunjuk mereka, memberi aba-aba untuk menyerang.

Namun suara sirene memotong ancaman itu. Petugas keamanan berhamburan masuk, disusul dua mobil patroli polisi. Anak buah Reza langsung kocar-kacir, melarikan diri ke segala arah.

“Urusan kita belum selesai,” dengus Reza sebelum menarik tubuh Rendi, memaksanya bangkit dan kabur sebelum mereka diringkus.

Tasya terduduk lemas, tangannya masih menggenggam tas yang berisi laptop. Napasnya tersengal ketika ia membuka ritsleting dan memeriksa isinya. Beruntung, laptop milik Nina terhimpit dua tesis dan satu buku tebal, sehingga benturannya tak sampai merusak bagian vital.

“Kalian nggak apa-apa?” tanya salah seorang petugas kampus yang mendekat.

“Kami baik-baik aja, Pak,” jawab Tasya sambil menarik napas dalam-dalam, mencoba menenangkan diri.

Pandangan matanya menangkap selembar kertas yang tadi dibawa Reza, tergeletak begitu saja di tanah. Dengan gerakan cepat, Tasya mengambilnya dan membaca isinya saksama.

“Kalian bener-bener tega,” desisnya lirih, rahangnya mengeras.

Belum sempat ia bereaksi lebih jauh, Dimas sudah merenggut kertas itu dari tangannya dan langsung merobeknya menjadi beberapa bagian.

“Kenapa lo robek, Dim?” Tasya bangkit, suaranya meninggi.

“Nggak penting,” jawab Dimas singkat, nyaris tak beremosi. “Sekarang gue anterin lo pulang.”

“Tapi gue udah nggak tinggal di apartemen lagi,” Tasya menunduk, suaranya meredup.

“Nina udah ngabarin gue. Lo tinggal sama dia sementara,” balas Dimas.

Namun Tasya menahan langkahnya, mengangkat tas di pundaknya. “Gue harus cek laptop Nina dulu.”

Dimas menghela napas, lalu mengangguk pelan. Meski enggan, ia tetap membawa Tasya ke kostannya. Ada rasa waswas yang mengendap—takut jika Andreas atau anak buahnya mengintai. Sesampainya di sana, Dimas langsung melepas kausnya begitu saja.

Tubuh atletisnya terlihat jelas di hadapan Tasya. Tato bunga dahlia menghiasi punggungnya, sementara sebuah liontin panjang menggantung di dadanya, berayun pelan.

“Pipi lo, Dim,” ucap Tasya refleks, menunjuk ke arah wajahnya.

Dimas menoleh ke cermin di samping pintu, lalu meraih handuk. “Gue bersih-bersih dulu. Lo kunci pintunya dari dalem,” katanya sebelum melangkah ke kamar mandi.

Tasya mengangguk cepat dan segera mengunci pintu. Tangannya sedikit gemetar saat ia mengeluarkan laptop Nina dan menyalakannya. Bezel di bagian ujung tampak retak tipis.

Tak lama, terdengar ketukan. Tasya membuka pintu. Dimas berdiri di sana dengan handuk melingkar di leher, rambutnya masih basah.

“Laptopnya gimana?” tanyanya sambil mengusap rambut.

“Ini bukan punya gue,” jawab Tasya, memperlihatkan retakan di sudut layar.

Dimas langsung mengambil laptop itu dan mengeluarkan beberapa peralatan kecil dari laci. Tangannya cekatan membuka bagian belakang perangkat tersebut. Tasya memperhatikannya diam-diam dari belakang, sesekali tatapan mereka bertemu lewat pantulan cermin.

“Dim,” suara Tasya sedikit bergetar, “maaf kalau gue lancang. Kenapa mereka tiba-tiba muncul dan mau nurutin kemauan papi?”

Dimas terdiam sejenak. “Ceritanya panjang,” ujarnya akhirnya. “Intinya, gue masih punya utang sama mereka. Tahun lalu, karena gue kabur dari tugas nagih duit dari konglomerat sialan itu.”

Ia menutup kembali bagian belakang laptop. “Gue punya sejarah buruk sama bokap lo, Sya. Tapi gue bukan tipe orang yang nyeret orang lain ke masalah gue.”

Laptop itu ia sodorkan kembali. Kondisinya tampak jauh lebih baik.

“Pipi lo… biar gue obatin,” kata Tasya spontan, tangannya terangkat dan menyentuh wajah Dimas dengan lembut.

Dimas membeku. Tatapan mereka saling bertaut, terlalu dekat untuk sekadar kebetulan. Ada sesuatu yang mengalir di antara mereka—hangat, berbahaya, dan tak terucap. Perlahan, jarak itu menyempit, napas mereka saling bersinggungan, hingga bibir keduanya hampir bertemu.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!