Sepuluh tahun yang lalu, sebuah ledakan di tepi Sungai Adige menghancurkan kejayaan keluarga Moretti dan meninggalkan Elena Moretti sebagai satu-satunya pewaris yang menanggung noda pengkhianatan. Kini, Elena kembali ke Verona bukan untuk menuntut warisan, melainkan untuk mengubur masa lalunya selamanya.
Namun, Verona tidak pernah melupakan.
Langkah Elena terhenti oleh Matteo Valenti, pria yang kini merajai langit Verona. Matteo bukan lagi pemuda yang dulu pernah memberikan mawar di balkon rumahnya; ia telah berubah menjadi sosok berdarah dingin yang memimpin bisnis gelap di balik kemegahan kota kuno itu. Bagi Matteo, kembalinya Elena adalah kesempatan untuk menuntaskan dendam keluarganya.
Elena dipaksa masuk ke dalam kehidupan Matteo—sebuah dunia yang penuh dengan aturan tanpa ampun, pertemuan rahasia di gedung opera, dan darah yang tumpah di atas batu jalanan yang licin. Namun, saat "gema" dari masa lalu mulai mengungkap kebenaran yang berbeda tentang kematian orang tua mereka,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon SHEENA My, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Operasi Salju di Zurich
Zurich menyambut mereka dengan suhu udara yang anjlok drastis dan kabut tipis yang menyelimuti Danau Zurich. Kota ini adalah antitesis dari Verona yang hangat dan penuh gairah; Zurich adalah kota yang dibangun di atas keheningan, rahasia perbankan, dan ketepatan waktu yang mengerikan. Saat jet pribadi mereka mendarat di terminal eksklusif, Elena Moretti segera merasakan perbedaan atmosfernya. Di sini, musuh tidak akan menyerang dengan senapan mesin di jalanan, melainkan dengan tanda tangan di balik pintu kayu mahoni yang kedap suara.
Elena keluar dari pesawat dengan mengenakan mantel wol panjang berwarna krem yang elegan, namun di balik keanggunan itu, terdapat sabuk taktis yang menampung peralatan peretas terkini. Matteo Valenti berjalan di sampingnya, mengenakan setelan jas abu-abu gelap yang membuatnya tampak seperti pengusaha muda yang sukses daripada seorang penembak jitu. Mereka tidak lagi membawa senjata besar; di Swiss, senjata terbaik mereka adalah identitas palsu yang diberikan oleh Marco: Signor dan Signora Rossi, pasangan kolektor seni dari Milan.
"Maksud dari Karl Vogel mengundang kita—secara tidak langsung—ke pesta gala malam ini adalah untuk melihat apakah kita punya keberanian untuk menginjakkan kaki di tanahnya," bisik Matteo saat mereka memasuki mobil limusin yang sudah menunggu.
Elena menatap keluar jendela, ke arah deretan bangunan bank yang berjejer di Bahnhofstrasse. "Dia ingin mengintimidasi kita dengan kekuasaannya, Matteo. Dia ingin kita tahu bahwa di sini, hukum Moretti tidak berlaku. Tapi dia lupa satu hal: hukum Moretti tidak pernah bergantung pada geografi."
Hotel Dolder Grand yang megah, yang bertengger di atas bukit menghadap kota, menjadi lokasi pesta gala amal yang diadakan oleh Karl Vogel. Tempat ini adalah sarang bagi para elit global, tempat di mana keputusan-keputusan yang mengubah nasib negara seringkali dibuat di sela-sela tegukan sampanye.
Di dalam kamar hotel mereka, Matteo membantu Elena mengenakan gaun malam berwarna biru tua yang terbuka di bagian punggung—posisi yang strategis untuk menyembunyikan alat komunikasi tipis di balik rambutnya. Elena melihat bayangan Matteo di cermin; pria itu tampak tenang, namun tangannya sedikit tegang saat mengunci pengait kalung Elena.
"Kau sangat cantik, Elena. Terlalu cantik untuk pekerjaan kotor seperti ini," puji Matteo lembut. Matteo mengecup bahu Elena, memberikan ketenangan yang sangat dibutuhkan istrinya—atau lebih tepatnya, kekasihnya yang baru saja memulai hidup baru ini.
"Ingat rencana kita," Elena berbalik, menangkup wajah Matteo. "Kau akan mengalihkan perhatian Vogel di meja baccarat. Aku akan menyusup ke ruang kerja pribadinya di lantai atas. Kita hanya punya waktu lima belas menit sebelum sistem keamanan melakukan pemindaian retina ulang."
"Hati-hati, Bellissima. Vogel bukan amatir seperti Sergio Donati. Dia punya pengawal dari unit pasukan khusus Swiss yang sudah pensiun," pesan Matteo.
Lantai dansa Dolder Grand dipenuhi oleh aroma parfum mahal dan denting gelas kristal. Elena bergerak dengan keanggunan seorang bangsawan, menyesuaikan diri dengan sempurna di antara para tamu. Sementara itu, Matteo segera menuju area permainan tinggi. Dengan kecerdikan dan karisma alaminya, Matteo berhasil menarik perhatian Karl Vogel—seorang pria paruh baya dengan kacamata berbingkai emas dan senyum yang tampak seperti sayatan pisau.
"Signor Rossi, saya dengar Anda memiliki ketertarikan pada seni Italia abad ke-17," ucap Vogel sambil memutar cerutunya.
Matteo tersenyum miring, memasang taruhan besar di atas meja. "Saya lebih tertarik pada hal-hal yang memiliki nilai sejarah yang... belum terungkap, Tuan Vogel. Seperti dokumen-dokumen yang tersimpan di brankas tua."
Tatapan Vogel menajam sejenak, namun ia tertawa. "Anda pria yang menarik."
Memanfaatkan momen saat semua mata tertuju pada permainan taruhan tinggi Matteo, Elena menyelinap keluar melalui pintu samping menuju koridor sayap timur. Dengan bantuan instruksi Luca melalui earpiece, Elena menghindari kamera pengawas dengan perhitungan waktu yang sangat presisi.
Elena tiba di depan pintu ruang kerja Vogel yang menggunakan kunci biometrik ganda. Elena mengeluarkan alat kecil dari tas genggamnya—sebuah pemindai panas yang bisa mendeteksi residu panas dari sidik jari yang baru saja ditekan pada keypad.
"Luca, aku masuk," bisik Elena saat pintu terbuka dengan bunyi klik halus.
Ruangan itu sangat luas, dipenuhi dengan rak buku tua dan sebuah meja kerja dari batu granit hitam. Elena segera menuju komputer utama, memasukkan perangkat peretasnya. Namun, sesuatu yang aneh terjadi. Saat data mulai terunduh, sebuah folder tersembunyi terbuka secara otomatis. Folder itu berisi foto-foto Marcella Moretti yang diambil dari jarak jauh di Verona... hari ini.
Jantung Elena berdegup kencang. Maksud dari Karl Vogel bukan hanya membekukan aset; dia sudah mengirim tim pemantau ke vila mereka di Verona sebagai jaminan.
"Matteo! Keluar dari sana sekarang! Ini jebakan!" Elena berteriak melalui komunikator.
Namun, di telinga Elena hanya terdengar suara statis. Sinyal mereka telah diputus. Tiba-tiba, lampu di ruang kerja itu menyala terang. Karl Vogel berdiri di ambang pintu, namun kali ini dia memegang sebuah tablet yang menampilkan siaran langsung dari meja baccarat—tempat Matteo kini dikelilingi oleh empat pria bersenjata.
"Kau tahu, Elena Moretti," Vogel melangkah masuk dengan tenang. "Di Swiss, kami sangat menghargai privasi. Dan kau baru saja melanggar privasiku yang paling berharga."
Elena menarik napas panjang, mencoba menguasai amarahnya. "Lepaskan Matteo, Vogel. Kau sudah mendapatkan apa yang kau inginkan. Kau sudah membekukan rekeningku."
Vogel tertawa dingin. "Uang itu hanya bonus, Nak. Maksud dari majikanku yang sebenarnya adalah untuk memastikan bahwa rahasia tentang 'Proyek Albatros' yang dikelola ayahmu tetap terkubur. Dan cara terbaik untuk mengubur rahasia adalah dengan mengubur orang-orang yang mengetahuinya."
Tiba-tiba, sebuah ledakan kecil terdengar dari arah balkon. Matteo muncul dari kegelapan, melompat masuk setelah berhasil meloloskan diri dari area baccarat dengan bantuan granat asap yang ia sembunyikan di dalam sepatu jasnya. Matteo segera berdiri di depan Elena, menodongkan pistol ke arah Vogel.
"Jangan bergerak, Vogel!" bentak Matteo. Wajahnya penuh dengan noda asap, namun matanya memancarkan api pelindung yang luar biasa.
"Matteo! Ibu dalam bahaya! Mereka punya orang di Verona!" teriak Elena.
Situasi menjadi sangat kritis. Di satu sisi, mereka memiliki Vogel sebagai sandera, namun di sisi lain, keselamatan Marcella di Verona menjadi taruhan utama. Vogel tampak tidak gentar sama sekali, seolah dia sudah memprediksi semua ini.
"Tembak saja aku, Matteo," tantang Vogel. "Dan dalam lima detik, ponsel di saku pengawal di Verona akan bergetar, memberikan perintah untuk membakar vila Moretti."
Tangan Matteo gemetar karena amarah. Ini adalah situasi yang belum pernah mereka hadapi sebelumnya: dilema antara membalas dendam atau menyelamatkan satu-satunya keluarga yang tersisa.
Elena menatap Matteo, lalu menatap Vogel. Di tengah tekanan itu, Elena menyadari sesuatu. Ia melihat sebuah simbol kecil di jam tangan Vogel—simbol yang sama dengan yang ada di liontin ayahnya, namun dengan tambahan satu garis silang.
"Proyek Albatros..." bisik Elena. "Itu bukan tentang uang Moretti. Itu tentang senjata biologis yang coba dihancurkan ayahku, bukan?"
Wajah Vogel berubah pucat untuk pertama kalinya. Rahasia yang lebih besar dari sekadar mafia Italia baru saja terungkap di ruang kerja yang dingin itu.
"Kita tidak akan membunuhmu, Vogel," Elena berkata dengan nada yang sangat rendah dan mematikan. "Tapi kita akan membuatmu berharap kau tidak pernah lahir."
Elena menekan sebuah tombol di perangkat peretasnya yang kini telah berhasil mengunggah folder 'Albatros' ke server rahasia milik Marco. "Jika vila itu terbakar, seluruh dunia akan tahu apa yang Swiss sembunyikan selama tiga puluh tahun ini. Kau punya sepuluh detik untuk memerintahkan orang-orangmu mundur dari Verona."
Ketegangan di ruangan itu mencapai puncaknya. Jam dinding berdetak dengan suara yang seolah mengejek mereka semua. Vogel menatap Elena, mencari keraguan di mata wanita itu, namun yang ia temukan hanyalah tekad baja seorang Moretti yang siap menghancurkan dunia jika perlu.
"Mundur," desis Vogel ke arah jam tangannya yang berfungsi sebagai alat komunikasi. "Batalkan operasi Verona. Sekarang."
Elena dan Matteo tidak menurunkan kewaspadaan. Mereka tahu bahwa ini hanyalah kemenangan kecil di tengah perang besar yang baru saja dimulai. Mereka telah memasuki wilayah spionase internasional, dan musuh mereka sekarang bukan lagi sekadar mafia, melainkan bayang-bayang negara yang jauh lebih kuat.
Matteo menarik Elena untuk segera keluar melalui balkon saat pasukan keamanan mulai mendobrak pintu depan ruang kerja. Mereka harus menghilang ke dalam salju Zurich sebelum seluruh kota ditutup.
"Kita harus ke Verona," ucap Matteo saat mereka meluncur turun menggunakan tali ke arah taman hotel.
"Tidak," jawab Elena sambil menatap tabletnya yang masih memproses data Albatros. "Kita harus ke Jenewa. Jawaban aslinya bukan di rumah kita, Matteo. Jawaban aslinya ada di markas besar mereka."
Perjalanan baru saja dimulai. Di bawah rintik salju Zurich, Elena dan Matteo berlari bukan lagi untuk sembunyi, tapi untuk menyerang jantung konspirasi yang telah merusak hidup mereka selama satu dekade.